
tingkah raka mengundang yangcanda tawa di ruang itu. sesekali zaki mengoda nya. tapi dengan cuek raka melanjutkan makan
"raka... kamu bilang belom makan besar.... jangn banyak banyak" cegah zaki
"kepalang laper gus." raka kilaf.
"kalo begitu saat makan besar kamu sudah kekenyangan" kata abas.
"apa ada makan besar?" raka menatap zaki.
"ya tentu saja" jawab zaki.
"tamu kami ...pantang pulang sebelom makan" tambah abi
"iya lho nak raka.... nanti setelah ini makan besar!" tambah umi zha.
"iya umi...." raka berhenti.
"hei... itu bekasmun di habiskan!" pint abas.
"udah... manti perutku ngak keisi nasi"
raka tidak mau menyentuh jajanan lagi. kini pikiranya menuju jamuan makan besar. makanan apa yang akan di sediakan keluarga kyai
"abas kenapa kamu diam saja... ayo makan kue ini calon istrimu yang buat!" kata kyai
"iya kyai..." abas mengambil.
"mulai sekarang pangil abi dan umi" pinta kyai.
"baik....."
abad mengambil bolu gulung yang kata umi zha bustan calon istrinya. belom apa apa sudah di sebut calon istri. bahkan abas belom sekalipun melihat ning yang akan jadi istrinya. bahkan kini pikiranya malah melayang ke orang lain.
di sebuah kamar
seorang gadis dari tadi habis solat sibuk membongkar tasnya mencari sesuatu. bebda pipih yang sangat penting tak penting. kejadian mencekam barusan masih lekat diingatan nya. peristiwa yang dulu juga pernah dia alami di luar negri.
dan kesadaran zìn kembalo saat ingat hp nya tertinggal di mobil abas. tadi tidak sempat dia ambil.
"aduh... bagaimana ini.... pasti kakak marah deh...." zin menumpahkan semua isi tasnya.
"kenapa bisa lupa sih...." di acak acak sampai tersebar di kasur.
"ah... pinjam hp kakak moga saja sudah di nyalakan" zin keluar.
zin menuju kamar kakak nya tapi tidak mendapati kakaknya di sana. ahirnya mencari zoya sang adik.
"dek pinjam hanpone?" pinta zin
"buat apa mbk?" zoya malah tanya.
"nelpon no mbak?" jawab zin
"memang hp mbak kemana?" zoya penasaran.
"ketingalan tempat temen mbak mau cek mbk mohon" mohon zin
"ih.... nih .." zoya memberikan.
zin bergarap hpnya sudah di aktifkan. tapi dia juga sedikit merasa khawatir akan sesuatu. dengan harap harap cemas zin menghubungi no telponya.
di lain tempat
saat abas baru mencicipi kue yang dia ambil hanpone yang ada di sakunya berbunyi. dengan nada sambung pribadi yang unik. sebuah rekam suara tartilan yang indah .abas pon pamit untuk mengakat telpon.
zin...
"assalamualaikum"
abas....
"waalaikum salam."
zin....
"ini siapa?"
abas...
"saya abas... ini siapanya pemilik henpon ini?"
zin...
"saya akhi... pemilik hanpon itu"
abas...
"oh... uhti khozin...ada apa?"
zin...
"siapa yang mengaktifkannya"
abas...
"saya"
zin...
"apa akhi raka juga...mel..."
abas... memotong pembicaraan.
"foto walpaiper anda? tidak"
zin....
"syukurlah"
abas... sambil senyum kulum.
"memang kenpa?"
zin...
"jadi saya tau harus minta tangung jawab pada sipa?"
abas... matanya terbelalak.
"tangung jawab maksut uhti?"
"akhi harus tangung jawab menikahi saya"
abas.... suarany meninggi.
"menikah.... tapi saat ini saya sedang menghitbah seseorang"
zin.... ngotot..
"saya tidak mau tau.... saya akan tetap meminta pertangung jawaban akhi abas"
tiba tiba zaki sudah di belakang abas yang masih sibuk bicara santai dengan zin di sebrang sana.
abas .... tersenyum lebar
"baiklah.... kita menikah"
zin.. tak percaya.
"akhi setuju semudah itu"
abas... meyahkinkan.
"iya...."
zin... ragu.
"tapi....?"
abas ....penasaran.
"kenapa tapi?"
zin..... ceramah.
"tapi bagaimana dengan calon istri akhi ... apa akhi tidak memikirkan dia. hany memikirkan prinsip sendiri untuk tanggungjawab"
abas... mengingatkan.
"uhti yang minta.... tapi saya tidak bisa membatalkan khitbahan saya. tidak berani"
zin.. masih binggung.
"lalu kenapa akhi janji tanggung jawab?"
abas ... bercanda dan menahan tawa.
" uhti bisa jadi yang ke dua setelah gadis itu"
zin... teriak memekatkan mat bahkan sampai di lantai bawah suaranya.
"apa......?"
zaki... hape sudah pindah tangan.
"zin.... khozin...jangan triak... malu. lagi pula kamu sudah punya calonsuami kenapa mau merebut calon orang"
zin... kaget saat berubah suara kakaknya.
"kak...kakak...ini kak zaki kan..."
zaki....
"heem...."
zin....
"kenapa kak zaki sama akhi abas"
zaki....
"kamu kenal kenal temanku.... apa hubungan kalian.. kenapa kamu minta tangung jawab pada nya?"
zin.... tak dapat kesempatan menjawab.
"kak.. kenapa nyrocos begitu sih?"
zaki.... mengingatkan.
"kamu mau berhianat sama pilihan abi... kamu bilang sudah setuju... tidsk protes lalu kenapa kini menelpon orang asing dan mint di nikahi.... cepet kamu turun dan temui calon suamimu.... jagan harap minta tangunga jawab abas dengar zin"
zin.....mengakhiri
"iya aak.. assalamualaikum"
zaki dan abas....
"waalikum salam"
sedang abas dan zaki tertawa renyah telah mengerjai zin.pasti saat ini gadis itu sedang kesal.
"kau sudah tau..?"tanya zaki.
"saya baru tau saat lihat profil telpon dan beliau bilang ini no adiknya..itu fito ning zoya" jawab abas.
"pantas kau bilang mau tanggung jawab . tapi kamu berani sekali mengejarnya... mau jadikan dia yang ke 2" zaki masin tertawa.
"gus sih... menggangu permainan.... lalu dari mana gus tau kalo ning yang telpon?"abas penasaran.
"aku tak tau kalo dia yang telpon... tapi aku tau itu hp nya karena itu suaranya sendiri" jawab zaki jujur.
"lalu...."
"raka tadi cerita tentang musibah yang kalian alami.... terima kasih sudah menjaganya.... lagi" lanjut zaki.
"sama sama gus.... mulai sekarang. itu tanggung jawab ku" abas serius.
"kalo begitu ini juga... simpan no mu... sudah aku buka kuncinya.... tangal lahir dia" zaki menyerahkan. ho adiknya lag pada abas.
"baik lah...."
mereka kembali masuk kedalam...
.
.
.
.