
mobil itu melaju kencang.menuju tujuan mereka. kini rasa takut dan kawatir zin sudah hilang berganti rasa malu sungkan dan kaku karena kini dia sedang duduk semobil dengan dua pria yang barusan menolongnya.
sejak masik mobil abas sudah mampak memejamkan matanya. sedanh raka konsen menyetir. zin menyibuk kan diri dengan membongkar isi tasnya mengambil henponenya.
"Maaf mas bisa ikut ngecas hanpone.. saya perlu menghubungi keluarga saya"pinta zin dengan sangat.
"ini pakai saja hp saya uhti!" raka mengulurkan hp nya.
"tidak saya cuma perlu mengcas" tolak zin
"ya sudah... sini saya bantu" rakan mengulurkan tangan meminta hanpone zin . zin pun memberikan sebuah hanpone dengan logo apel
" trimakasih...." zin senyum ramah daru balik cadar nya.
zin duduk menyamankan diri dengan sesekali melihat pemandangan luar. mencoba membuaat dirinya tidak gugup dan canggung.
" oh ya uhti. .. ngomong2 dari tadi kita belom kenalan." raka mengakrapkan.
"eh.. iya..."
"saya... raka dan di samping saya bos san sahabat karib saya abas... nama uhti siapa?" raka memperkenalkan diri.
"saya khozin...panggil saja zin" balas zin. raka mencuri pandang dari kaca dia tau zin senyum dari matanya yang menyempit,
"oh.. uhti khozin... tinggal di mana?"tanya raka.
"saya tinggal di daerah di dekat yayasan al azhar..." jawab zin.
" dekat pesantren besar itu ya" lanjuy raka. pemuda itu memang supel gampang akrab dengan orang.
"mas raka tau?" tanya zin.
" tentu. .. kami juga akan kesana" jawab raka.
"ada perlu kah...?" selidik zin
"iya bosa saya mau... ketemu. ..ca.." kata katak raka terpotong saat abas menimpali.
"kami mau silaturahmi " kat abas tiba tiba.
tiba tiba abas menyaut menatap raka dengan smiknya tajam. ternyata dari tadi dia cuma pura pura tidur memejamkan mata untuk menenagkan diri dan beristirahat karena rasa lelah yang menumpuk.
" aku kira tidur bos" raka cengar cengir hampir saja dia membuka rahasia.
"aku cuma memejamkam mata" jawab abas dingin.
"apa bedanya?" raka mecuit.
"kalian sahabatan sudah lama ya?" tanya zin penasaran melihat ke raka lalu pibdah ke abas keduanya jauh beda. raka supel ramah berbanding terbalik dengan abas yang pendiam dan dingin.
"kami sahatan dari smp...." jawab raka
"tepatnya 13 tahun" tambah raka.
"wah lama ya.... pantas akrab sekali saya jadi iri melihatnya" zin penasaran dan kagum.
"sejak lulus sd saya nyantri di jepara tempat paman dari nenek dan sma si kudus tempat anti dari kakek lalu kuliah di madinnah dan baru kembali 3 bulan lalu jadi tak punya banyak teman di jakarta"cerita zin sedihnya.
"wah... mandiri sekali ya" kata abas.
"bisa di bilang begitu" kata zin sambil melihat pemandangan luar jendela
"kami memang kenal sudah 13 tahun tapi baru ketemu 5tahun. terakir karena setelah smp bos nyantri selam 3 tahun semada sma. ... dan kuliah ke jerman" cerita raka.
"wah.... ahki abas dong pangilnya" goda zin.
" panggil abas saja" pinta abas yang dari tadi hanya menyimak saja.
"wah... kayaknya ngak cocok banget deh..ha..ha..ha.." ledek raka sambil tertawa mengelagak.
"kenapa tidak?" tanya zin
" kehidupan saya sudah jauh dari kata alim.... sekarang sudah. banyak dosa" urai abad jujur entah apa yang buat dia bicara panjang.
"tidak ada kata terlambat akhi.... selama masih ada iman di hati kita... dan kita ingat akan bertobat dan kembali ke jalanNya maka kebaikan akan menyertai..."nasihat zin
"terimakasih ukhti.... pasangan ukhti pastilah sangat beruntung" puji abas ssambil menatap lurus kedepan.
"terimakasih tapi saya belum punya pasangan" tapal zin
" oh.... pasti beruntung yang dapat ukhti" balas raka.
" menurut ukhti... orang seperti kami apa pantas mendapat pasangan seperti ukhti. . mahsut saya wanita berhijab?" tanya abas dengan jelas. itu laj harapan nya selama ini.
"itu justru bagus... tidak semua wanita berhijab itu bodoh.... sekarang banyak dari mereka jadi wanita karir yang tanpa lupa jati dirinya sebagai muslimah dan ibu rumahtangga yang menjadi kodrat mereka" ulas mereka
" jadi tidak masalah. ... syukurlah. jadi keingananku untuk hidup damai tidak salah"kata abas curhat dan senyum. raka sampai terpana melihat pemandangan yang jarang itu.
" jadi bos benar mau cari wanita yang seperti ukhti" selidik raka.
"apa salah nya...?" abas tegas.
"masalahnya akan banyak yang patah hati" canda raka.
"itu urusan mereka" lanjut abas lagi.
zin kagum melihat keakraban itu. sampai tak sadar sudah hapir sampai di tujuan . waktu sudah menunjuk jam 8 malam. dan zin meminta di turunkan di sebuah gang kecil.
.
.
.
.
.