ABAS Imamku

ABAS Imamku
insiden.



umi minta zin mengantarkan makaan siang kekantor abas lalu mereka bisa nelanja untuk kebutuhan pernikahan mereka.


Dengan terpaksa zin setuju dia di antat supir abi karna hati ini abi pergi besama mengepos undangan ke sanak keluargan di jawa. Maka zin pergi sediri karen zoya juga masih sekolah. umi juga aka mulai belanja untuk pesta sederhana.


mobil abi meluncur ke area pusat bisnis di jakarta, karena masihjam 10 lalulintas lumayan lancar . zin membuka tas saat hpnya berbunyi ada beberapa pesan yang masuk. matanya memicing saat lihat kontak dengan nama. CALON...IMAMKU.... bibir tipis itu senyum sendiri


CALON....IMAMKU...


assalamualaikum. ini saya. .. abas.


CALON..IMAMKU...


ning apa umi sudah bilang kita akan pergi belanja"


CALON....IMAMKU.....


saya masih di ruang rapat.... sebentar lagi selesai.


CALON...IMAMKU....


setelah itu saya jemput


zin hanya senyum membaca.baru mau balas sudah masuk pesan lain. sampai tak sadar mobil yang ditumpangi sudah sampai di gedung kantor abas. Dia juga tak tau dapat dari mana kontak calon suaminya tersebut.


CALON...MAKMUMKU.....


waaliikum salam .akhi... tidak usah jemput saya sudah sampai di kantor akhi saya tunggu.


sedang abas masih mendengar beberapa laporan dari para menejer perusahaan. senyum simpul terukir membuat semua yang hadir di sana jadi kagum dan kaget.


Setelah membaca pesan zin. abas mengirim pesan pada raka untuk menjemput zin di lobi.


abas. ...


raka ..tolong jemput calon ipar mu di lobi


raka...


siap bos.


abas. ..


terima kasih


raka...


sama sama bos.


zin keluar pintu dibuka oleh pak ujang sang supir . setelah turun sopir pamit kembali ke pondok.


ini pertama kalinya zin menginjak kan kaki di perkantoran gedung 50 lantai ini cukup tinggi menjulang.


denga anggun zin masuk dan menuju meja resepsionis. menayangkan perihal ruangan abas di mana..tapi tatapan 2 pegawai itu malahan menatap zin dengan tatapan aneh dan curiga. mereka juga tidak merespon dengan cepat pertanyaan zin. Dia merada di abaikan


"mbak saya dari tadi tanya di mana ruangan pak abas...." beberpa kali zin tanya tapi tak di respom malah ke 3 petugas resepsionis itu saling bisik menaruk curiga.


"maaf boleh minta tanda pengenal" pinta seorang resepsionis sampai akhirnya dia bingung


"bilang dari tadi jangan bisik bisik saja. ... pak abas sudah menunggu saya" gerutu zin kesal kata


"maaf itu prosedur"


saat zin sibuk membuka tas dan mencari dompet untuk mencari KTP raka datang. dia tadi yang nampak semangat untuk jumpa zin berubah marah saat lihat zin di periksa intensif di lobi. bahkan makan yang di bawa di periksa beberpa petugas keamanan.


"apaa yang kalian lakukan?" triak raka.


"pak raka ..." satpam 1 kaget.


"ini pak kami memeriksa orang yang mencurigakan pak" tambah satpam 2 melapor tugas


"sabar akhi raka...saya tidak apa apa kok ... tadi yang periksa mbak resepsionis kok" alsan zin


"tapi ini keterlaluan...." raka masihntak terima.


kegaduhan yang di sebabkan kemarahan raka menarik perhatian pegawai lain. Mereka kaget apa gerangan yang membuay jm merka marah besar. Mereka berkerumun.


"akhi. .." pangil zin halus.


"kalian yang beebuat tidak sopan pasa ukhti ziN.akan dapat hukuman.... bahkan pemecatan" ancaman raka.


"akhi raka... jangan membesar besar kan masalah.... kasian.mereka hanya... menjalankan tugas" cegas zin.


"tap tidak begitu caranya kalian tau siapa wanita ini..." raka masih mode marah.


"akhi..."


"beliau calon istri bos kalian. .. CEO kalian" raka tidah peduli kan pangholan zin


semua diam mematung mendengar akan. apa yang di ungkapkan raka barusan. .pantas saja raka marah besar. kalo yang di sini pak abas sendiri bagaimana.


tanpa mereka sadari abas sudah ada di ruangan itu.melihat kemarahan memuncak sahabat nya sekaligus orang kepercayaan nya. zin menatap sendu pada nya seolah olah bicara dan memohon agar dia tidak marah.


"raka. ..aku meminta mu menjemput ukhti zin di lobi tapi kenapa kamu malah marah2?" kata abas sarkastis.


"mereka keterlaluan bos..mer...." abas mencengkeram bahu raka pelan.membisik kan sesuatu.


Lalu abas mendekati zin gadis itu malah senyum manis abas pon membalas. seperti tidak terjadi apa apa


"afwan... ukhti baru datang malah di sambut sesuatu yang tidak menyenangkan" abas mantap zin sayu


"tidak masalah akhi. .. hal seperti ini sudah biasa yang saya khawatir kan akhi raka" jawab zin.


"dia tidak apa apa" abas menenangkan


"afwan ya ukhti. ... saya malah menunjukkan keburukan saya" raka menyesal dia jadi liar untung karate nya belom keluar


"tidak akhi. .. saya tau kamu membela saya" dukung zin.


" pak... kami minta Maaf. kami tidak tau kalo beliau calon istri pak bos.....'' kata resepsionis


"lain kali. ..kalian harus lebih sopan" acam abas.


"baik pak"


"kita jadi belanja,"tanya abas


"nati sekalian habis zhuhur... kita makan dulu...." ajak zin.


"yah... sudah dingin akhi...." zin membereskan rantang Yang tadi di periksa orang.


"tidak apa apa saya suka makanan dingin" alasan abas. zin tau calon imamnya dati dulu. tidh boboh


"ayo kita ke atas di sana bisa sholat dan istirahat. " ajak abas


"iya...."


abas berjalan di tengah zin di kirinya sedang raka di belakang. abas berusaha menyamakan langkah kaki nya dengan zin.. sedang para pegawai yang tadi berkerumun mulai kembali


ke pekerjaan mereka.


.


.


.