
sayang abas tidak bisa melihat sang calon karena di pisah tempat duduknya. acara sudah selesai dan kini abas dan raka ada di halaman pondok putra.
dari tadi dia selalu di goda dengan candaan yang menurutnya panas di kuping. apalagi kini zaki sudah mengiring beberapa senior pondok untuk gabung. sedang abas hanya di temani raka sedang rainal dan Malik sudah pulang dulu bersama rombongan.
malam ini abas akan menginap untuk mengistirahatkan diri agar tidak lelah wara wiri selama acara pernikahan nya besok.
mendengar ocehan para santri senior abas memilih diam dan menyimpan kekesalan akibat ulah mereka. di merasa kesal karena candaan sudah mulai terasa panas .
menurut abas sungguh mengesalkan.
saat ini abas butuh ketenangan tapi kehadiran mereka malah membuat abas semakin grogi.
"ayolah akhi abas ... dari tadi kau hanya diam" tegur tegur kanif seorang senior santri.
"mau bicara apa?" tanya abas polos
"kalian sih....bicara nya keterlaluan" tegur jamil senior yang lain.
dari tadi mereka banyak bertanya tentang pekerjaan kenal ningbci mana kok bisa berjodoh dengan ning zin. tapi semua rasa penasaran mereka di jawab seperlunya oleh abas.
"masak kami cuma tanya dan sedikit bercanda" elak fai senior juga
"akhi abas saja santai" elak hanif.
"sudah malam istirahat sana bas" perintah zaki
"iya.... kak." abad lega zaki datang menyelamatkannya
"raka temani abas" lanjut zaki
"ok gus...."raka hormat. direspon tawa oleh yang lain
abas dan raka menuju kamar di pondok yang di siap kan untuk abas menginap. sampai di dalam kamar abas membanting dirinya di kasur tebal yang di taruh di lantai tanpa dipan.
raka tau kalau sahabatnya itu sedang mengalami sindrom gugup sebelom menikah. Bagaimana pun ini pilihan yang sangat cepat abas ambil. kali ini masalah pekerjaan abas akan optimis menang. tapi ini masalah hati dan kehidupan seorang wanita. abas sendiri belom begitu tau karakter calon istrinya.
"kenapa dari tadi diam abas.?" raka penasaran
"aku hanya gugup" jujur abas
"seorang abas alfian gugup... ha..ha.." ledek raka bercanda kelewat batas.
"tertawa sesukamu saja raka" kesal abas membenamkan kepalanya di bantal.
"Maaf maaf bos.... aku tidak menyangka akan melihat betapa mengemaskan keadaan mu" raka menyesal menertawakan abas
"kamu belom merasakan nya rak.... yang aku rasakan ini membingungkan. aku harus bertanggung jawab atas hidup seoraang wanita.... menjadi seorang imam yang menjaga dunia dan akhirat. ....,tapi yang. aku takutkan adalah perasaannya" omongan abas sangat dalam.
"perasaan. ... perasaan ning zin maksudmu?" raka penasaran.
"iya. ... apa dia juga merasakan hal yang sama terhadap ku" tanya abas .
"banyak lah berdoa bas... ininkan impian mu untuk memiliki seorang istri yang alim..... semoga semua seperti impian dan harapan mu" nasihat dan doa raka.
"amiiiiiin...."
raka ikut berbaring di samping abas. kerana lelah dia sudah tidur dulu . sedang abas di kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan yang belum jelas jawaban nya.
untuk menenangkan diri abas solat sunah beberapa rekaat. Lalu membaca al Quran dengan suara berat dan merdunya. kini dia merasa lebih tenang dan plong. sudah jelas pilihannya mau ning zin suka atau tidak pada nya itu urusan belakangan. yang terpenting sudah dapat restu dan jaddun sendiri memilihnya. walo abad belom tau apa alasan kyai besar itu memilihnya sebagai calon sang cucu.
di kamar yang lain.
zin sedang menggenapi istikharah nya untuk kesekian kali. jawabannya tetap sama. abas adalah jodoynya. kini ada sedokit ketenangan dalam pilihan ya. senang calon imam yang di. sorokkan oleh abi dab jaddun nya. dia tidak akan menyesal lagi dan berusaha menjalani hidup sebagai makmum yang baik.
istikharah cinta.
★☆ bersaksi cinta.....
di atas cinta ......
dalam alunan tasbih ku ini.
menerka hati yang tersembunyi .
berteman di malam sunyi penuh doa.
sebut namaku terukir merdu.
tertulis dalam sajalah cinta.
tetapkan pilihan sebagai teman.
kekal abadi hingga ahir zaman.
memohon petunjukmu.
satu nama teman setia.
naluriku berkata.
di penantian ruahan rasa
teguh satu pilihan
memenuhi separuh nafas ku
dalam mahabahg rindu
bersaksilah. ...
bersaksilah. ...
bersaksilah cinta. ...
bersaksilah
bersaksilah
bersaksilah cinta.....
back to.... ☆★
"YA ALLAH. ....YANG MAHA MENGETAHUI SEGALA NYA.
MUDAHKANLAH URUSAN HATI INI....
HATI YANG MENYANGKUT DUA MANUSIA.
JADIKAN KAMI SALING TERIKAT DALAM SUATU RASA YANG SUNGGUH SUCI.
YAKNI CINTA......
AKU SUDAH YAHKIN DIA YANG KAU PILIH KAN UNTUK KU.
SEBAGAI MAKMUM AKU INGIN SEORANG IMAM YANG BISA MENGERTI AKU DAN TAAT PADAMU YA ALLAH.
TIDAK MULUK MULUK.
AMIN"
airmata zin meleleh membasahi pipinya. rasa haru bahagia kini bercampur aduk jadi satu.
besok dia sudah akan menjadi milik orang lain sekali. tanpa sadar sang umi dan abi melihat air mata itu.
"apa kau ragu nak?" tanya abi.
"kalo kamu ragu dengan nak abas bilang biar umi bisa bantu kamu". dukung umi melas menatap mata sembam sang putri yang sudah bertemudengan pangeran pujaan.
"tidak umi.... zin sudah setuju jadi tidak ragu lagi" jujur zin.
"alhamdulillah"ucab abi dan umi bersamaan.
"lalu kenapa kau menangis?" umi kepon.
"zin hanya sedih setelah menikah zin akan tinggal jauh dari kalian" jawab zin optimis
"oh.... putri umi...." umi memeluk zin rapat
"umi.... zaujah ku.... sudah malam biar zin istirahat"bujuk abi faz manja
"iya abi..... zaujieku" jawab umi zha tak kalah respon di banding umi.
"umi keluar ya nak... minum susu nyaman dan cepatlah tidur!" ujuknsang abu
"iya umi"
umi zha keluar dari kamar sang putri pergi berlalu bersama abi faz masih nampak gagah dan menawan. baik an halus. impian wanita sa zaman nya
.. ..
.
... 8.6. .......
.