ABAS Imamku

ABAS Imamku
makan berdua



waktu sudah hampir magrib. tanpa tawar tawar abas memelok kan mobilnya kesebuah restoran. zin yang sudah nampak cemas dari tadi cuma diam tidak berani bicara pada abas agar mereka segera pulang ke rumah. gadis itu tidak sadar sudah sampai di area parkir. entah kenapa dari tadi dia cuma diam tanpa kata.


cekklek....


abas membuka pintu dan keluar. lalu


membuka pintu penumpang agar zin bisa turun. gadis itu nampak bingung saat berada di tempat asing


"kita di mana?" zin binggung mendapati abas membawanya ke tempat asing.


"restoran. ... ukhti harus berbuka sebentar lagi magrib" jawab abas ramah.


"oh....." zin tidak bisa menolak. memang dia sudah sangat lapar


"ayo...." ajak abas


"iya. ..." zin menurut ikut masuk ke dalam.


abas mengiringi zin jalan ke dalam. abas memilih tempat saung biar lebih leluasa saat makan. apa lagi zin yang bercadar pasti butuh prifasi husus.


"uhti mau makan apa di sini terkenal ayam bakar nya?"tanwar abas menuunjuk kan menu.


"iya boleh" zin setuju.


"mau dada apa paha" tanya abas Sambil menunjuk beberpa menu di buku


"paha. .." jawan zin


"hati. .. goreng.... ?" tanya lagi


"boleh. ..." zi setuju pilihan abas.


abas melambai memangil pelayan untuk datang abas meyebutkan pesanan yang mereka inginkan. dari tadi zin memilih diam dan sesekali melihat sekitar sedang abas sedang sibuk menelepon seseorang. dan voice call.


"assalamualaikum gus...." salam abas


"waalaukumsalam adik ipar ada apa?" jawab zaki. ternyata gus yang di hubungi


"afwan belom bisa antar ning pulang" abas minta ijin.


"kalian masih belanja?" tanya abas.


"sudah... tapi perjalanan pulang sudah hampir magrib jadi saya ajak ning berbuka puasa dulu" kawan anas santai.


"jadi kalian lagi makan berdua jangan lupa kita yang di rumah di bungkusin" pinta zaki serius.


"iya.... afwan ya gus... baru bilang takut abi sana umi khawatir..... kalo urusan bungkus gampang nanti kita bawa kan" abas setuju dan minta maaf baru mengabari


"ha..ha..ha.. bawa sekalian pulang saja ke rumahmu ndak usah di balikin... nanti tak matur abi biar nikahin kalian malam ini" ledek dan canda zaki pada calon ipatnya.


"hus... ngawur....." zin ikut bicara walo tidak melihat wajah adik nya yang duduk.di seberang abas.


"hei. .. adik cantik ku... buka saja cadarmu toh 3 hari lagi kalian menikah biar calonmu melihat wajah jelek mu yang menyebalkan itu" gurau anfaidah zaki mengoda asik nya.


"kakak...." gtutu zin kesal. abas menikmati keributan itu dengan senyum


"gus. .. jangan goda calon istri saya ya" bela abas akhirnya.


"oh.. sudah berani ngaku ngaku ya..." protes zaki.


"memang kenyataannya begitu kan. ... kami akan segera menikah" argumen abas


"he... kalian menikah kalo aku ijin kan. .. aku belom mendapati hadiah pelangkah dari kalia kalo aku tak setuju kamu bisa apa?" perkataan zaki membuat abas mendelik


"kak zaki...." beo zin kesal mendengar ucpan kakaknya itu.


"tenang dek... calon suamimu itu kaya raya" celetuk zaki


"ah... iya hampir lupa. ... gus minta apa untuk melancarkan rencana pernikahan kami " tawar abas.


"jangan hawatir... aku cuma butuh sebuah mobil mewah mu satu" pinta zaki tanpa ragu.


"kakak.... jangan akhi" tolak zin


"benar ya....." zaki tertawa penuh kemenaangan.


"iya.... besok aku kirim" abas setuju.


"aku tunggu... aku akan bilang abi da umi kalo kalian pulang agak malam" lanjut zaki.


"iya makasih lho gus" abas senang zaki tidak marah.


"pangil saja kakak mulai sekarang!" pinta zaki.


"iya kak assalamualaikum" abas lega


"waalaukumsalam"jawab zaki.


zin nampak tidak senang dengan permintaan kakaknya dan parahnya abas begitu mudahnya menyetujui begiyu saja permintaan zaki yang tak wajar. tapi bagi abas itu hal yang sangat mudah sekali untuk di kanulkan.


makanan yang mereka pesan datang. semua sudah terjejer rapi di meja. semua lengkap untuk berbuka. abas pun sudah pesan makanan untuk di bawa pulang ke pondok dan rumahnya.


"sudah azhan ning mari silakan mulai buka!" ajak abas.


"iya..... Allahuma laka sumtu wabika ammantu waala rizkika afthortu birohmatikaya arkhamarokhimin......" doa zin


"amin....." abas meng aminkan.


mereka mulai makan. zin agak kikuk dari tadi abas memperhatikan cara dia makan dengan menyibak cadar nya sedikit sambil menendok makanan.


zin sangat berhati hati sekali. entah karna apa dia mengajukan sarat yang aneh pada abas. dan demi apa abas bisa setuju begitu saja dengan permintaan zin yang aneh.


abas memang setuju karena zin itu putri gurunya. apapon permintaan beliau walo itu aneh akan dia lakukan. tapi ALLAH berkehendak lain. walo tidak bisa melihat wajah zin langsung dia sudah lihat dari hanpone milik zin yang memajang walpeper foto dirinya.


"kenapa a akhi melihat nya begitu?" zin kikuk di perhatikan abas dari tadi.


"ah.... afwan jika itu menganggumu?" abas jadi salting.


"tidak masala......" zin senyum


mereka melanjutkan makanya.dan kini abas tidak meu zin merasa tidak enak jadi dia berudaha tidak memperhatikan.


"akhi.... jangan serius dengan permintaan kak zaki" mohon zin


"saya tidak masalah sama sekali....." abas santai.


"tapi saya yang kebetatan" zin merasa tidak enak.


"apa ning tidak ingin menerus kan pernikahan ini?" goda abas sambil menaikkan alis nya.


"bukan begitu akhi..... hanya permintaan kak. zaki....." zin ragu.


"tenang lah.... saya tau kak zaki sedang bergurau mengenai minta sebuah mobil. tapi saya sebagai calon adik yanh baik akan berusaha... mewujudkan permintaan. kerugian saya tidak lah sebesar kesedihannya beliau yang harus kehilangan adik tercintanya" urai abas bergikit dewasa.


"akhi......" cuit zin.


bulir bening memenuhin pelupuk mata indah zin. dia tidak menyangka sedalam itu abas menilai hubungan persausaraa nya dengàn sang kakak.


.


...


........


.


.


.


.


.