
kini abas dan zin sedang berdua di kamar setelah akat. mereka hanya saling diam tidak ada kata yang keluar dari bibir ke duanya. perasaan senang gugup takut semua menyelimuti sanubari abas dan zin. semua sudah meninggalkan mereka sedari tadi untuk solat dan berbicara lebih dekat.
ada perasaan aneh yang mereka berdua rasakan. rasa yang munhkin belom mereka rasakan selama ini.
perasaan apa ini?
apa cinta ?
rasanya terlalu cepat bila bilang ini cinta karena abas baru melihat secara langsung wajah istrinya. sedang zin belom banyak tau tentang suaminya.
tapi kejutan demi kejutan zin dapatkan mengenai sang suami. zin merasa kagum dengan pemcapaian sang suami.
kini abas dan zin sedang duduk berdua di pasolatan. Mereka baru selesai solat 2 rekaat. abas mengucap doa keberkahan.
"boleh akhi membatal kan wudzu uhti?" tanya abas menatap lembut sang istri
"naam akhi...." zin setuju dengan permintaan abas.
abas mengulurkan tangan. zin menerima dan mencium takzim tanggan sang suami dengan hangat. abas tersentuh dengan hal itu. tiba tiba hatinya mengahangat karena sentuhan itu
''assalamualaikum wahai makmumku calon wanita penghuni surga semoga kau akan selalu jadi penyejuk hati ini!" ucap abas dengan seuntai senyum selalu menghiasi wajahnya dan di sana terukir kebahagiaan.
"waalaaikumsalam wahai imanku ku mohon bimbinganmu menuju jannahnya " jawab zin samnil menatap sekilas sang suami tapi tidak lama.
abas tersenyum mendengar jawaban sang istri. lalu abas membaca doa dan meniupkan di ubun ubun sang istri penuh cinta.
mereka di biar kan bersama beberapa saat untuk saling mengenal satu sama lainnya. abas tak henti henti menatap sang istri. sedang zin dari tadi hanya menunduk tidak berani menatap mata hasel sang suami.
mengingat perihal kini zin sudah berubah setatus menjadi seorang istri rasanya tidak percaya sama sekali. mulai kini zin akan memiliki tanggung jawab untuk melayani dan berbakti pada sang suami dengan sepenuh jiwa.
zin merasa ada sesuatu yang aneh. walo duduk berhadapan dengan abas zin tidak berani menatap wajah suaminya sama sekali. rasa gugup dada berdetak kencang gelisah bahkan melebihi rasa nerves menyelimuti seluruh sanubari nya.
"kenapa zaujah hanya menunduk. ... apa ada yang aneh di wajah zaujie" tanya abas abas penuh rasa penasaran. paaalnya sedari tadi zin hanya menunduk di depannya.
"laa... hanya..." zin ragu untuk menjawab karena. dia sebenarnya sangat gugup dan ada getar aneh di dalam dadanya.
"angkat wajahmu wahai zaujahku" pinta abas sambil menaikkan wajah sang istri.
"dengar zaujah .... mulai sekarang kita adalah satu. harus saling melengkapi kekurangan dan kelebihan kita kalo aki ada kesalan kau yang melewati batas kau yang harus menginggatkan dan begitulah sebaliknya. kita jalani mahligai rumah tangga ini dengan penuh kebahagiaan dan jangan ada rahasia di antara kita !" ucap abas penuh harapan bahagia bersama pasangan dunia akhirat nya.
"ana fehimtu. ...." zin berusaha menenangkan perasaan nya.
"dan mulai akhi minta. ukti pangil bang fian atau kak fian!" pinta abas serius.
"boleh mas fian saja." zin menyinggung kan senyum manisnya.
"baiklah. . mari kita keluar!" ajak abas.
"naam.... zin mohon bantu pasang cadangnya akhi" mohon zin.
"mari sini..." abas setuju.
abas membantu zin mengenakan cadar nya lagi. lalu penuh cinta membimbing sang istri keluar untuk menemui para tamu dan.melanjutkan acara selanjutnya.