ABAS Imamku

ABAS Imamku
belanja



setelah sampai di ruangan abas zin menyiapkan makanan yang dia bawa. zin akan menghangat kan tapi di cegah abas.


"akhi tunjukkan di mana pentrinya... biar saya hangat kan dulu makanan nya?"tanya zin ingin menghangatkan makanan.


"biar.... jangan repot repot ukhti duduk... istirahat" printah abas zin menurut. padahal mama maria bilang kalo abas tidak bisa makan makanan dingin.


"bener... ukhti baru mengalami hal tidak menyenangkan. " raka membenarkan


"ya sudah...." zin duduk manis melihat calon suaminya mulai menikmmati makanan tanpa peduli yang lain


"saya harap kejadian tadi jangan di bilang sama keluarga pondok" mohon raka. karena dia merasa malu.


"kanapa....akhi. malu sama abi" selidik zin senyum di balik cadarnya


"ya begitu lah..." pasrah raka.


"makanya jaga emosimu!" saut abas.


"biasany juga kamu yang tidak bisa jaga emosi... karena ada ukhti zin kamu jag immej" ejek raka pada bosnya.


"tak perlu jaga immej.... semua yang ada padaku memang bagus" abas pede overdos.


"terlalau pede.... ukhti kayaknya perlu berpikir lagi untuk menikah dengan abas!" pinta raka.


"kenapa. ..?" zin cekikik kan melihat tingkah 2 sahabat itu.


"dia pria arogan ..kasar... pendiam. . dan dingin sulit untuk di jangkau" urai raka... di respon dengan tatapan smik abas yang menakutkan


"oh... ya" zin penasaran


"tak percaya ? lihat kita dari tadi ngobrol dia malah asik makan..ngak ajak 2..... he...bagi bagi..." grutu raka.


" enak saja.. kamu tadi ngejek.2" saut abas kesal.


"kamu tega banget. .. calon kakak ipar ngak di ajak makan...." raka mengingatkan.


"ini hari... kamis dia puasa" tebak abas.


"puasa.. benar ukhti" raka tak percaya


"inshaallah.... "


"la kamu tak biasany bolong?"raka mengingatkan


"demi.... biar ada yang makan... keenakan kamu" awab abas absutr melambungkan anagn zin. kini dia mulai faham dengan calon imam nya itu seperti apa.


"kamu habisin bas?" protes raka.


abas tidak mengubris sama sekali kali dia pergi ke toilet untuk wudzu sedang raka menik mati makanan yang di sisakan abas.


"ini masakam umi atau ukhti?" selidik raka.


"sebagian masakan saya dan lain umi" jujur zin.


"mana yang masakan ukti" tanya raka sambil melihat isa rantang dan mengabsen satu satu.


" ayam kecap tapi sudah habis." zin melirik rantang.


"ah.. dia tau mana masakan calon istrinya" dumel raka


" jangn protes masih ada empal daging" saut abas yang baru dari kamar mandi wudzu dia tanpak segar dengan wajah basah.


"sejak kapan makanmu banyak bas.... biasanya cuma makan sekali" protes raka.


"masak..." cicit abas datar.


"ukhti tau malam itu baru pertama lihay dia makan sepiring penuh... mungkin pengaruh jatuh cinta"cerita raka.


"pletaaak... cepat ayo solat"abas memukul kepala raka dengn koran.


"boleh ikut jamaah?"tanya zin


"boleh..." jawab abas dengan seuntai senyum tipis di bibirnya.


zin pergi ke toilet untuk wuzhu. lalu dia keluar setelah pekai cadar nya lagi. saat lihat raka siap wudzu dia ragu bagaimana bisa solat kalo ada dia.


"biar saya jamaah sama raka. nanti ukhti solat sendiri saja." abas melihat keraguan di wajah zin.


"kehilangan 27 drajad dong....biar saya solat di sebelah sana" zin ingin solusi lain


"ya saya janji tidaknakan mengintip..... yang punya saja masih tidak boleh" raka tau kegelisahan zin dan dia berjanji.


"ya sudah ayo....ukhti di luar situ ya" pinta abas.


mereka berjamah. di ruang itu ada kamar pribadi abas yang biasa di gunakan untuk istitahah. abas dan raka solat di dalam kamar sedang zin mengelar sejadah di luar pontu kamar yang menyatu dengan ruang kerja. Setelah selesai zin segera memakai cadarnya lagi.


Mereka segera ganti acara yakkni berbelanja. abas memaksa raka untuk ikut. walo dia tidak mau dan ingin memberi kesempatan 2 sejoli itu menghabiskan waktu bersama untuk saling mengenal. tapi abas ingin menjaga kehormatan zin dan tidak ingin zin merasa tidak nyaman makanya mengajak raka sebagai ajudan.


Selama perjalanan abas masih sibuk dengan hanpone menrlpon kesana kemari sangat sibuk. dia ingin menghabiskan waktu cutinys dengan santai setelah menikah nanti makanya dia ngebut menyelesaikan pekerjaan nya.


dari tadi raka yang ngajak ngbrol zin. abas terkesan dingin dan kaku.sedang raka terkesan santsi dan ramah.


"kamu sibuk sekali dari tadi..... sebenarnya apa yang kamu kerjakan?" raka kesal melihat tingkah bos nya


"proyek dari abi" jawab abas


"abi...." beo zin.


"tapi ngak nyuekin calon istri juga kali" grutu raka.


"siapa yang nyuekin dari tadi lamu nyrocos mulu kapan aku bisa nagjak ngobrol nya" balas abas.


"kalian selalu begitu ya...." zin kagum kedekatan mereka.


"apa?" tanya abas


"akrab... " jawab zin


"sama sia..." lanjut raka.


"tak usah..." tolak abas


"ah... senangnya. ..punya teman dekat. ..." iri zin


"ning tidak ada teman?"tanya abas.


"ada tapi tidak akrab" jawab zin.


mereka sampai di mal terbesar di jakarta. Pertama yang di sambangi adalah butik baju pengantin.


impian zin ingin bisa pakai gaun indah. tapi melihat keluarganya nampaknya tidsk mungkin.


abas menyebut kriteria gaun panjang muslimah. dan pemilik butik langsung membawakan beberpa contoh.


"ning mau coba. .. biar mereka bantu dan kami nunggu dinsini!" kata abas


"tapi....." zin ragu kalo harus menunjukkan lekuk tubuhnyan.


"tak perlu menujkan pada saya. terserah pilihan kamu" abas tau ketaguan di mata zin itu. ini hal baru untuknya.


"baik lah..." zin lega.


"pilih 3 gaun dengan model dan warna beda" printah abas.


"terserah favorit pilihan ukhti" lanjutnya sebelom zin menjawab.


"kalo itu pink" beo zin.


"tidak masalah" abas senyum membuat zin tenang.


zin masuk dengan tenang dan lega. abas duduk dengan raka di hidangkan beberapa kake sebagai servis dari butik. abas masih sibuk kini dengan laptop nya.


"kamu ngoyo banget sih bas..." ingatkan raka pada sahabat nya.


"biar cuti ku tak terganggu" jawab abas


"kamu bener tak mau lihat ning mencoba gaun nya" goda raka.


"tidak perlu kalo dia yang pakai pasti cocok dan cantik" jawab abas tanpa melirik


"kalo yang di pilihan pink" goda raka lagi.


"kan aku bisa pakai jas hitam... atau silver" jawab abas gampang.


"pinter..." puji raka


"dari dulu" abas pede


abad minta untuk mencarikan hijab yang senada dengan gaun yang fi pilih zin. sekaligus cadar. walo harus kerja keras mereka setuju karena abas janji bayar mahal.


setelah urusan gaun selesai mereka yang ke toko perhiasan .abas meminta zin memilih tapi gadis itu binggung.


.


.


.


.