
Sore hari keduanya jalan mencari makan kegiatan sudah banyak mereka lakukan. abas tak melewati tempat yang membuat sang istri troma lagi. merka pilih lestoran keluarga yang berkamar kamar agar zin bisa makan dengan leluasa. Setelah makan jamaah dan iktikaf di masjid bermunajat, berdoa, dan mengaji di sana.
abas terenyuh menikmati suara indah sang istri yang darus tanpa muskhaf. dia yang duduk agak di depan zin memilih zikir dan tahlil mengirim dia untuk orang orang yang sudah dahulu menghadap Allah dan menunggu kiamat di alam kubur. selepas jam 22.00 mereka putuskan untuk kembali ke hotel karena besok mereka akan kembali ke tanah air menyudahi masa bulan madu mereka. ya walau tidak terjadi apa apa selama 1 minggu tambahan mereka di sana. malah lebih di perbanyak ibadah nya.
"yuk balik hotel. ... kita mesti beres beres barang" ajak abas pada sang istri yang sudah selesai berdoa dan tadsr
"iya mas" zin setuju dah segera berdiri mengapai uluran tangan sang suami.
"sampai di jakarta kita langsung ke kediaman maikel... tidak apa apa kan jamilah" abas bertanya dengan harap harap cemas menunggu persetujuan sang istri.
"kan memang sepakat nya begitu mas" saut zin degan penuh senyum menatap sang suami yang cemas.
"syukur alhamdulillah kalau kamu setuju" abas sedikit tenang.
"kemana pun mas fian pergi. .. zin akan ada di sisimu mas," ungkap zin manis dan manja membuat abas terkesima.
"terima kasih zuujah....." ungkap syukur abas.
selama perjalanan ke hotel abas tidak pernah melepas gandeng an tangan nya. atau sesekali merangkul sang istri. sedikit sedikit rasa sakit yang zin alami juga berangsur berkurang jika bersama sang suami tercinta.
"YA ALLAH SEMOGA HAMBA BISA MENJADI SEORANG ISTRI YANG BAIK BAGI MAS FIAN. .. JADIKAN HAMBA WANITA YANG MERENGKUH SURGA DENGAN JALAN BERIBADAH PADA SUAMI. DIA DATANG LAKSANA SIANG YANG MENGHANGATKAN SANUBARI HAMBA. ... JADI... IZINKAN HAMBA UNTUK MENJADI ISTRI YANG SEINDAH BIDADARI" pinta doa zin dalam hati.
"mas ganti baju gih.... biar adek ngepak pakaian" perintah zin setelah sampai di kamar hotel.
"hm....." abas cuma dehem dan segera ke kamar mandi untuk ganti baju.
zin membuka koper besar miliknya dan abas menata pakaian yang ada di lemari ke dalam koper 2 koper oleh oleh sudah siap dari kemarin. saat membongkar lemari zin menemukan sebuah paper bag yang isinya sesuatu yang selalu zin hindari selama ini. zin menghembuskan napas dan menyembunyikan barang itu di balik gamis nya. baju yang akan mereka gunakan sudah zin pisah di lemari. Mereka pergi dengan masing masing 1 koper dan kini saat pulang akan membawa 5 koper besar dan penuh. bahkan mengingat kebuasan belanja sang suami membuat zin gelang kepala.
abas sudah keluar menenteng baju kotor yang baru dia ganti. Dia nampak santai dengan kostum sarung dan kaos yang di siapkan sang istri. sesuatu yang tadinya jarang abas pakai karena kebiasaan pakai celana tapi setelah menikah abas malah suka pakai kain sarung.
di lihat nya sang istri masih sibuk dengan acara beres beres. Dia mendekat dan memberikan baju kotor pada zin.
"ini taruh mana dek?" abas menunjukkan baju kotor yang di tenteng.
"sini biar adek pisah dari yang bersih" zin meraih nya lalu membungkus sendiri dengan koran dan plastik agar tidak bercampur dengan baju bersih.
"butuh bantuan?" abas menawarkan diri.
"yang itu sudah penuh mas tutup saja koper nya" zin menunjuk koper abas yang sudah penuh.
"baik lah. ...." abas setuju dan segera mengunci koper itu dengan rapi.
degan cekatan mereka membereskan semuanya. dilihatnya jam sydsh sangat malam sudah pukul 23.00. sudah satu jam acara beres berasnya.
"adek ganti gih... biar mas tumpuk di sana!" perintah abas setelah satu jam beres beres koper.
"iya mas. ..." zin setuju.
zin bergegas ke kamar mandi membawa bungkusan yang sejak lama dia hindari. mencuci muka bersiwak dan memakai sedikit wewangian memoles make ap dan menguraikan rambut panjang nya. zin mengenakan baju tidur super mini dengan balutan kimono sebatas lutut. penampilan terbuka yang pernah dia lakukan. malam ini zin bertekat untuk menyerah kan diri pada sang suami setelan 2 bulan menjadi nyonya abas alfian. berpenampilan terbuka tidak pernah sejak kecil hanya keluarganya yang pernah melihat rambut nya.
Setelah menata koper abas berbaring di tempat tidur. meluruskan punggung yang sudah mulai lelah. abas menunggu sang istri sambil memainkan hp nya mengecek pekerjaan dan sibuk buka sosial media.
tok.... tok.... tok....
"assalamualaikum. . layanan kamar" salam seseorang dari luar.
"waalaikumsalam..... adek pesan apa malam malam begini. " jawab abas lalu bergumam sendiri.
bergegas membuka pintu dan melihat siapa yang datang. seorang pria berseragam pegawai hotel membawa nampan berisi segelas susu.
"kok cuma satu gelas" tanya abas
"menurut pesan begitu" pelayanan itu melihat nota catatan pesanan.
" baiklah..... terima kasih" abas menyodorkan tip.
"sudah mas terima?" tanya zin yang baru keluar dari kamar mandi.
"sudah jamilah. ... kok cuma satu?" tanya abas sambil mengunci pintu kamar.
"cukup kan?" tanya zin syahdu mendayu. menarik bibir abas untuk membentuk bulan sabit yang sempurna.
saat abas berbalik tiba tiba dia tersentak kaget. kesadarannya hilang. kepintaran nya tiba tiba turun dari genius menjadi idiot . abas diam membatu dan terkesima melihat bidadari turun dari surga berdiri cantik dan menggoda untuk memanjakan nya.
"mas di minum ya....!" pinta abas.
"mas habisin ya....?" tanya zin manja dan terdengar manis.
"uhuukkk...." mendengar suara merayu zin tersedak karena kaget.
"kenapa mas fian?" zin mendekat dengan anggun menampakkan kaki indahnya yang jenjang wajah nya yang cantik bibir merah menggoda iman.
"panas...." keluh abas menutupi kegugupan. walau setiap hari banyak pegawai di kantor nya berpakaian mini tapi tidak menggoda iman abas seperti zin saat ini.
"sudah habis baru bilang panas...." gerutu zin meminta gelas minum dari gelas itu juga.
"gadis nakal...." abas tersenyum menatap wanita yang menunduk di depan nya.
"cuma sama mas....." bisik zin pelan karena malu sudah berpenampilan menggoda iman.
"adek serius. ..." tanya abas mengangkat dagu zin untuk bisa menatap wajah cantik sang istri.
"inshaallah malam ini zin milik mas seutuhnya...." zin merapat memberanikan diri memeluk sang suami.
"mas tidak akan dapat tendangan lagi kan?" canda abas.
"tergantung mas...." ungkap zin serius.
"baiklah. ... ayo kita mulai.... bismillahirrohmanirrihim...." mereka bersama merapalkan doa bersama sebelum memulai penyatuan.
"aahh.... mas...." triak zin saat abas tiba mengangkat tubuh nya dalam gendongan.
"nikmati saja yang jamilah. ..." bisik abas merayu.
kini zin tidak memberontak lagi. dia benar benar pasrah dan menyerahkan diri seutuhnya pada iman nya.
♥
♡
♡♡
♡
♡
♥