
"Papa kok lama nggak pulang?" wajah murung Keysa membuat Al merasa
menyesal telah mengingkari janjinya, tapi permasalahan yang ia alami tidak bisa
ia biarkan.
Al mengelus rambut anaknya, menciuminya berulang.
"Kerjaan papa banyaaak banget, maafkan papa," ujar Al, Diandra
melihat pemandangan di depannya dengan mata berkaca-kaca.
"Ini papa bawa oleh-oleh, Key kan pengen mainan pasir ajaib, sama ini
boneka juga beberapa set baju untuk ganti, dan ini ada juga beberapa cerita
anak, mau?" tanya Al dan bibir Key tertarik ke samping, meski tak
tersenyum lebar setidaknya dia bisa melihat anaknya yang mulai bisa berbinar
meski tak terlalu banyak perubahan.
"Makasih papa?" ujarnya pelan.
Dan terlihat Key yang duduk tak jauh dari Diandra dan Al di ruang tamu,
mulai mengeluarkan boneka serta piranti baju-baju boneka lalu mulai
memainkannya.
"Aku nginep di mama Dice lagi ya Di, nggak boleh aku nginep di
sini?" tanyaAl dan Di menggeleng.
"Jangan Al, apa kata orang-orang nanti?" ujar Di sambil melihat
wajah kecewa Al.
"Kita masih suami istri Di, kamu tidak bisa mengingkari itu, dan
masalah ku, di berita online sudah beres, ternyata orang yang tak aku sangka
yang menjebakku, aku tak tahu apa salahku pada mereka, tapi yang jelas, aku
akan membalaskan sakit hatiku, mereka hampir saja menjatuhkan nama baikku dan
nama baik almarhum papa, mau tidak mau nama Citro Kusumo akan terseret
juga," ujar Al terlihat geram dan marah.
"Tidak bisakah kamu biarkan saja, yang penting masalah selesai, jika
kamu membalas maka akan semakin rumit masalahnya," ujar Di dan Al
menggeleng.
"Mereka tak tahu siapa aku Di, aku tak pernah mengganggu mereka, lalu
apa masalahnya hingga mereka bermain dengan cara kotor?" keluh Al.
"Akan aku buat mereka memohon kepadaku," ujarnya lagi.
"Jangan Al, aku kawatir hal buruk terjadi padamu," ujar Di pelan
dan Al tersenyum melihat kekawatiran di mata Diandra.
"Apakah aku harus celaka dulu baru kau mau kembali padaku?" tanya
Al dan Di hanya menghembuskan napas.
"Bukan begitu, walau bagaimanapun kamu papanya Key" sahut Di merasa
jengah saat Al terus memandangnya dan duduknya semakin dekat dengan Di.
"Kita menikah lagi Di, kau harus mau, demi Key," ujar Al berbisik
di telinga Di.
"Dan jika ternyata anak wanita itu benar anakmu?" Diandra terlihat
sedih.
"Tidak mungkin, dan kalau memang benar aku melakukannya di luar
kesadaranku, aku akan menafkahi anak itu, hanya anak itu, bukan ibunya, aku
hanya mencintaimu Di, tidak yang lain," Al menggenggam tangan Di.
"Dalam keadaan sadar, hanya tanganmu yang memelukku tubuhku, aku tidak
pernah merasakan tangan wanita lain menjamah tubuhku Di, jika memang benar
kemudian ada foto-fotoku dengan wanita lain pasti aku melakukannya tanpa sadar,
atau jebakan, mereka aku tantang untuk memperlihatkan foto-foto atau tayangan
video saat aku sedang melakukan hal seperti itu, ternyata tidak ada foto lain,
selain aku yang tertidur lelap, lalu kau ragu apalagi?" tanya Al sambil
mencium tangan Diandra.
Diandra menunduk dan keduanya kaget saat Key sudah berdiri di hadapan
mereka.
"Ada apa Key?" tanya Diandra berusaha menjauh dari Al.
"Key pengen kayak cerita yang pernah dibacakan mama untuk Key,"
ujar Key.
"Ya kenapa?" tanya Al dan Di bersamaan.
"Di cerita itu, papa, mama dan anaknya hidup serumah, bahkan kalau
anaknya takut mereka tidur bertiga," Key menatap mama papanya yang saling
pandang.
"Key, itu kan hanya cerita," ujar Di.
"Keysa tanya ke Meirza, mama papanya tidur berdua, kadang Meirza ikutan
tidur juga sama mama papanya," sahut Key lagi.
Dan Diandra menghela napas.
"Baiklah Key, malam ini kita tidur bertiga, mama papa dan Key di kamar
itu," ujar Al dan mata Di membulat, Al hanya mengangkat bahu saat Keysa
tiba-tiba memeluk Al.
"Terima kasih papa," ujar Key dan naik ke sofa untuk mencium
papanya.
****
Setelah sholat isyak dan makan malam, Key mulai mengantuk sambil memegang
bonekanya, berkali-kali ia terlihat hampir terjatuh dari kursi.
"Papa, mama, kapan kita tidur?" tanya Key.
"Baiklah, kita tidur bertiga," Al menggendomg Keysa dan mengajak
Di masuk ke kamar dengan gerakan alisnya.
Al merebahkan Key ke kasur dan anak itu segera menarik Al untuk segera
berbaring di dekatnya.
"Mama juga,"
Mau tidak mau Di merebahkan dirinya di kasur.
"Mama, papa, peluk Key," rengek Key lagi.
Di memeluk Keysa dan tangan Al tanpa sengaja menyentuh tangan Diandra.
"Biarlah Di, kita peluk anak kita malam ini,"
Dan Diandra diam saja tak menyahut dan dia biarkan tangan Al sesekali
mengusap lengannya.
****
Jam satu dini hari Al bangun, melihat Di dan Key tidur nyenyak, matanya
berkaca-kaca, ia menyesal komunikasi dengan Di yang kurang baik mengakibatkan
mereka terpisah seperti ini.
wanita.
Al akan berusaha sekuat tenaga agar Di kembali lagi.
Tak lama ia mendengar ponsel Di berbunyi, awalnya ia biarkan namun saat
berbunyi berulang akhirnya ia tak bisa mengabaikan, Al tahu ini tidak benar,
tapi ada apa sampai tengah malam seperti ini berkirim pesan singkat berulang.
Al meraih ponsel Di mulai membuka pesan dan kaget saat ia melihat siapa yang
berkirim pesan pada Di, serta foto-foto dirinya yang selama ini ramai di media
online.
Rahang Di mengeras, Al kaget juga dari mana Di mengenal Saga kakak tirinya.
Dan pesannya pun membuat Al semakin marah.
Kau masih akan melanjutkan perjalanan dengan laki-laki yang seperti ini,
hidupmu akan sakit Di, menjauhlah dari dia...
Al meletakkan ponsel Di pada tempatnya semula, bersamaan dengan Di yang
bangun dan melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.
Belum sampai ke kamar mandi Al melabgkah cepat, menarik Di ke dalam
pelukannya.
"Ada apa Al, kau terlihat gelisah?" tanya Di mendorong dada Al dan
menatap laki-laki yang sangat dicintainya dari jarak dekat.
Al memeluk Di lagi....
"Kita menikah ya Di, kita harus segera menikah," pinta Al.
"Kita bicarakan lagi Al, jangan di saat seperti ini, ada apa?"
tanya Di.
"Di mana kau mengenal Saga?" tanya Al dan mata Di membulat.
"Bagaimana kau mengenal Saga?" tanya Di balik bertanya.
"Dia kakak tiriku," jawab Al singkat dan Di terlihat sangat kaget,
mengingat kembali percakapannya dengan Saga, seolah Saga sangat membenci Al,
bagaimana mungkin pikir Di.
"Bagaimana kau mengenal Saga Di?" tanya Al lagi.
"Kita duduk dulu, aku jelaskan sebentar," Di menarik Al ke sofa
yang ada di dalam kamar.
"Dia sahabat Rengga, dia sudah seperti kakak bagiku Al, dia salah satu
orang yang sangat berjasa bagiku dan Key saat kami jauh darimu, tapi benar dia
saudara tirimu, lalu mengapa kau tanyakan dia, bagaimana kau tahu jika aku
mengenalnya?" tanya Di penasaran.
"Maaf jika aku lancang, buka ponselmu, lihat gambar dan pesan yang dia
kirim," ujar Al, Di menurut, ia buka ponselnya dan kaget melihat foto dan
gambar yang dikirim Saga.
"Dia ingin kita berpisah Di, dia sangat membenciku, padahal aku tak
merasa berbuat salah padanya," ujar Al.
"Lihat foto-foto itu, aneh kan kalau karena foto orang tidur lalu
menjadi bahan gosip, terlalu murahan cara mereka ingin menjatuhkanku, akhirnya
berbalik pada mereka, malah sekarang mereka dituduh hendak memerasku oleh
netizen, jadi boomerang bagi mereka," ujar Al lagi.
"Lalu kau tahu mengapa ia sangat membencimu?" tanya Di pada Al.
"Aku juga baru tahu dari ibu tiriku Di,begini saja, kau kan hendak
sholat tahajutkan, sholatlah dulu, nanti aku akan bercerita lengkap," ujar
Al dan Di menurut.
"Kau tak sholat sekalian? " tanya Di dan Al mengangguk dengan
cepat.
****
Setelah sholat tahajut keduanya terlihat berada di ruang makan dan Di
membuatkan Al kopi plus creamer.
"Ini ada roti, mau aku buatkan roti bakar Al?" tanya Di dan Al
menggeleng.
"Ini sudah cukup, duduklah, kau mau mendengar ceritaku?" tanya Al,
Di duduk berhadapan dengan Al.
"Duduklah di dekatku Di, " pinta Al dan Di menggeleng.
"Aku takut tanganmu ke mana-mana," ujar Di dan Al pindah duduk di
dekat Di.
"Tuh kan tanganmu," Di menepis tangan Al yang melingkar di
bahunya.
"Ah Di, gini aja loh," Al tersenyum dan Di selalu terpana melihat
senyum mahal itu.
"Ayo lah katanya mau cerita Al," pinta Di.
Al menghembuskan napas berat..
"Saga adalah kakak tiriku, saat mama meninggal, papa menikah lagi
dengan mamanya Saga, aku juga tak tahu mengapa mama tiriku sepertinya malah
lebih menyayangiku daripada Saga yang aku pikir awalnya adalah anak kandungnya,
begitu menikah dengan papa, Saga dititipkan ke neneknya yang berada di
Singapura oleh mama tiriku, sayang mama tiriku semakin berkurang padanya saat
adikku lahir, hampir tak pernah mama menghubungi Saga, akhirnya setelah aku
dewasa mama tiriku baru bercerita padaku jika Saga adalah anak suami mama
tiriku dengan wanita lain, mama kandung Saga meninggal dan sejak bayi yang Saga
tahu mamanya adalah mama tiriku, mama tiriku tak bisa berbuat banyak, ia pasrah
karena saat itu ia memang belum juga dikaruniai anak, papanya Saga kan kaya Di,
jadi ya wanitanya banyak kali, begitulah cerita mama tiriku, nah sekarang kamu
bisa mengambil kesimpulan kan, mengapa Saga begitu membenciku, aku tak tahu
menahu masalah ini, aku hanya ada di pusaran itu dan Saga membenciku teramat
sangat," Al kembali meneguk kopinya dan merengkuh bahu Di mencium ujung
kepalanya.
"Kau percaya padaku atau kau lebih memilih Saga?" tanya Al dan
Diandra diam saja.
"Di?" kembali terdengar suara Al.
"Aku percaya padamu Al," sahut Di lirih.
Al memeluk Di, berusaha mendamaikan hatinya meski ia yakin ke depannya
masalah masih sangat berat.
****