A STORY ABOUT LOVE

A STORY ABOUT LOVE
Episode 32



Saga merengkuh kepala Keysa dan menciumnya, tak terasa air mata Saga mengalir dengan deras.


Terima kasih Tuhan kau masih memberiku kesempatan bertemu dengan Keysa....


"Al, boleh Keysa aku pangku?"


"Boleh...boleh, aku bantu," ujar Al, yang meraih badan Keys dan mendudukkan dipanggkuan Saga.


Kesya menatap wajah Saga yang berada di depannya. Saga mencium pipi Keysa.


"Cepat, sembuh ya sayang," ujar Saga lirih dan Keysa mengangguk.


"Keysa mau nikah sama om Saga," ujar Keysa tiba-tiba dan Saga terbelalak. Semuanya tertawa.


"Gini Ga, tadi dia


nanya, nikah itu apa? Dia denger kata nikah karena Al bilang aku mau


nikah sama Silmi ya Al neranginlah ke Keysa kalau nikah itu artinya


selalu bersama,"


Rengga berusaha menjelaskan pada Rengga dan Rengga mengangguk sambil tersenyum.


"Yah, nanti Keysa nikah sama om," ujar Saga sambil mengelus rambut Keysa.


"Om janji?" tanya Keysa.


"Yah, om janji," jawab Saga.


Semua menoleh ke pintu saat petugas kepolisian memberitahu jika waktu telah habis, hanya 15 menit dan tak lebih.


Sekali lagi Saga mencium kening kening dan pipi Keysa.


"Om pulang," ujar Saga dan mata Keysa terlihat berkaca-kaca.


"Key masih kangen," ujar Keysa mulai terisak.


"Nanti Key yang menemui om ya?" pinta Saga dan Keysa mengangguk.


Saga mendudukkan Keysa lagi di kasur dan ia pamit pada semua yang ada di ruangan itu.


****


Malam hari saat Keysa


telah nyenyak ditemani mamanya, Al segera masuk ke kamarnya dan


menemukan istrinya yang telah tertidur, namun yang membuat Al kaget ia


melihat sisa air mata di pipi istrinya.


Al mengusap lembut pipi istrinya, Diandra bergerak perlahan dan membuka matanya.


"Ada apa, mengapa kau menangis?" tanya Al dan Diandra berusaha duduk. Ia tiba-tiba saja menangis. Dan Al terlihat cemas.


"Ada apa? Ada apa sayang?" tanya Al.


"Maafkan aku, jika aku


lancang Al, kau jangan marah, tadi saat kau berbicara dengan Rengga, ada


panggilan di teleponmu berulang, aku lihat tak ada nama di sana, aku


kawatir itu penting, aku angkat ternyata dari...,"


Suara Diandra terputus dan ia kembali menangis.


"Sayang,  siapa? Siapa yang menelepon?" tanya Al kawatir.


"Nesya...saat aku


bilang, aku istrimu, dia langsung mengatakan jika dia adalah Nesya dan


tertawa mengejekku bahwa selama kita jauh kalian sudah sangat dekat,


dekat dalam semua hal, bahkan dia juga tahu jika di dadamu ada tanda


lahir, dia juga bilang jika kalian terbiasa menghabiskan malam-malam


berdua, bahkan setelah kita menikah, lihat ponselmu, dia mengirim


beberapa foto saat kalian makan malam, lalu kapan kau menemui dia?


Apakah saat Key di rumah sakit? Bukankah kau memang sering ke kantor dan


pulang malam bahkan sangat larut,"


Diandra berusaha mengeluarkan apa yang ia pikirkan, Al menatap wajah istrinya. Ia duduk semakin dekat dan merengkuh bahunya.


"Terserah kau percaya


padaku atau tidak, aku lelah meyakinkanmu, Nesya salah satu wanita yang


tak lelah mengejarku, papanya sahabat baik papaku, kami punya kerja sama


hingga dua tahun ke depan, aku tak bisa serta merta memutuskan karena


itu sudah kesepakan sejak beberapa tahun lampau saat papa masih hidup,


terus terang terpaksa kami memang makan malam, tapi tak berdua, aku


selalu bersama dengan sekretarisku,"


"Di foto itu kalian hanya berdua," sahut Diandra lagi. Al menghela napas.


"Mungkin dia memang


sengaja minta tolong foto entah pada siapa saat sekretarisku ijin ke


toilet, ah Diii, bagaimana caraku agar kau percaya?" tanya Al terlihat


lelah.


Diandra diam saja, ia


memilih merebahkan badannya lagi, ia memunggungi Al dan pikirannya


berjalan entah ke mana, ia belum yakin pada penjelaaan Al.


****


"Kau bilang apa pada istriku?" tanya Al marah. Dan Nesya tertawa, saat Al mendatangi kantornya.


"Oh, dia ngadu?" ujarnya santai.


"Memangnya kenapa?" tanyanya lagi.


"Foto apa yang kau kirim? Bukankah itu foto lama?" tanya Al geram.


"Terserah, terserah dia


biar berasumsi sendiri, aku benci dia ngambilmu, harusnya aku yang jadi


istrimu, aku yang seharusnya melakukan yang pertama denganmu," teriak


Neysa marah.


"Ingat jika sampai


marah dan Nesya menarik lengan Al saat hendak keluar, memeluknya dengan


erat.


"Kita pernah sedekat ini Al, kita pernah sedekat ini," Nesya menangis.


Perlahan Al melepaskan pelukan Nesya.


"Itu dulu, duluuu


bertahun-tahun yang lalu sebelum aku melihat Diandra dan jatuh cinta


padanya, aku tak pernah bisa mencintaimu meski aku mencoba," ujar Al


berusaha sabar.


"Artinya dia yang mencurimu dariku,"tangisan Nesya semakin jadi.


"Tidak, aku yang


mengejarnya, malah dia awalnya membenciku, tapi kini kami saling


mencintai, jangan ganggu kami, lagi pula kau sudah bertunangan," ujar Al


mencoba menjaga jarak, ia mulai membuka pintu dan Al tersentak saat


melihat laki-laki yang tingginya hampir sama dengannya berada di luar


pintu.


"Oh, Sean, maaf, aku


akan pulang, aku baru saja memberitahu tunanganmu jika kerja sama kami


hampir berakhir dan aku takkan memperpanjangnya," ujar Al berusaha agar


tidak terjadi kesalahpahaman.


Sean tak menyahut,  ia hanya menatap tajam pada Al, mengangguk dan, lalu menutup pintu dan menguncinya.


Wajah Sean menahan


marah, berjalan mendekat dan menarik dengan kasar Nesya hingga tepat


berada dihadapannya. Nesya terlihat ketakutan. Ia tahu ia akan kesakitan


lagi, tapi ia memang takkan bisa lepas dari laki-laki jahannam ini.


Saat orang tuanya yang terlibat masalah keuangan dan diselamatkan oleh


Sean maka selesai sudah hidupnya.


"Berapa kali aku bilang


jangan pernah hubungi laki-laki itu, kau harus membayar penghinaan ini,


penghinaan yang akan aku ingat terus, karena saat kau merasa nikmat


untuk pertama kalinya, nama laki-laki itu yang kau teriakkan, kini tak


akan lagi aku beri kenikmatan padamu, hanya kesakitan yang akan kau


rasakan seumur hidupmu, mengerti kau jalang? Papamu saja sudah


menggadaikanmu padaku,"


Sean membalik badan


Nesya hingga tersungkur ke meja kerjanya, menaikkan rok Nesya hingga ke


pinggang, lalu menurukan celana dalam Nesya dengan tergesa.


"Kau rasakan ini, jalang, kau akan menikmati siksa ini seumur hidupmu,"


Sean membuka gesper celananya dan Nesya hanya bisa menangis saat merasakan perih itu berulang lagi.


Aku akan berusaha lepas darimu laki-laki jahannam, tolong aku Al, tolong aku, kau pasti takkan menolakku..


****


Al masuk ke rumahnya saat malam telah larut, ia melihat mamanya yang masih duduk di ruang makan.


"Kok malam Al?"


"Banyak kerjaan ma," sahut Al sambil melangkah menuju kamarnya.


"Al," panggil mamanya lagi dan Al menoleh.


"Duduklah mama mau bicara,"


Al melangkah menuju


mamanya duduk, lalu duduk di sebelah mamanya dan menatap wanita paruh


baya yang menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri.


"Ada apa? Mengapa Diandra seperti sedang memikirkan sesuatu?" tanya mama Al.


"Nesya ma, diaaa...,"


"Ah anak itu, dia masih saja mencintaimu, kau tahu tunangannya?"


"Ya tahulah,  siapa yang tak tahu Sean," jawab Al.


"Kasihan dia Al," ujar mama Al.


"Kasihan kenapa? Kan malah enak suaminya kaya raya, kan sejak dulu ia memang mencari laki-laki kaya," sahut Al.


"Ah kau ini, tunangannya


itu banyak wanita mainanya, dan mereka terpaksa menerima Sean saat


meminta Nesya menjadi tunangannya, karena Ellin, mamanya Nesya kan


temanku Al, menangis bercerita padaku, saat ini kan keuangan keluarga


Nesya diujung tanduk dan laki-laki itu yang mengatasi segalanya, papanya


Nesya minta bantuan pada laki-laki yang salah, dan tadi mamanya Nesya


minta tolong padaku, bisakah kau membantu melepaskan Nesya dari


laki-laki itu? Ya aku jawab nggak bisa lah kamu punya istri, yang


mengerikan mamanya Nesya sering melihat lebam-lebam ditubuh anaknya, ih


mama ngeri Al," ujar mama Al sambil mengedikkan bahunya.


"Kok minta bantuannya ke Al ya ma? Mengapa mereka tak berusaha minta bantuan pada orang lain?"


Suara Diandra mengagetkan Al dan mamanya.


****