
Saga merengkuh kepala Keysa dan menciumnya, tak terasa air mata Saga mengalir dengan deras.
Terima kasih Tuhan kau masih memberiku kesempatan bertemu dengan Keysa....
"Al, boleh Keysa aku pangku?"
"Boleh...boleh, aku bantu," ujar Al, yang meraih badan Keys dan mendudukkan dipanggkuan Saga.
Kesya menatap wajah Saga yang berada di depannya. Saga mencium pipi Keysa.
"Cepat, sembuh ya sayang," ujar Saga lirih dan Keysa mengangguk.
"Keysa mau nikah sama om Saga," ujar Keysa tiba-tiba dan Saga terbelalak. Semuanya tertawa.
"Gini Ga, tadi dia
nanya, nikah itu apa? Dia denger kata nikah karena Al bilang aku mau
nikah sama Silmi ya Al neranginlah ke Keysa kalau nikah itu artinya
selalu bersama,"
Rengga berusaha menjelaskan pada Rengga dan Rengga mengangguk sambil tersenyum.
"Yah, nanti Keysa nikah sama om," ujar Saga sambil mengelus rambut Keysa.
"Om janji?" tanya Keysa.
"Yah, om janji," jawab Saga.
Semua menoleh ke pintu saat petugas kepolisian memberitahu jika waktu telah habis, hanya 15 menit dan tak lebih.
Sekali lagi Saga mencium kening kening dan pipi Keysa.
"Om pulang," ujar Saga dan mata Keysa terlihat berkaca-kaca.
"Key masih kangen," ujar Keysa mulai terisak.
"Nanti Key yang menemui om ya?" pinta Saga dan Keysa mengangguk.
Saga mendudukkan Keysa lagi di kasur dan ia pamit pada semua yang ada di ruangan itu.
****
Malam hari saat Keysa
telah nyenyak ditemani mamanya, Al segera masuk ke kamarnya dan
menemukan istrinya yang telah tertidur, namun yang membuat Al kaget ia
melihat sisa air mata di pipi istrinya.
Al mengusap lembut pipi istrinya, Diandra bergerak perlahan dan membuka matanya.
"Ada apa, mengapa kau menangis?" tanya Al dan Diandra berusaha duduk. Ia tiba-tiba saja menangis. Dan Al terlihat cemas.
"Ada apa? Ada apa sayang?" tanya Al.
"Maafkan aku, jika aku
lancang Al, kau jangan marah, tadi saat kau berbicara dengan Rengga, ada
panggilan di teleponmu berulang, aku lihat tak ada nama di sana, aku
kawatir itu penting, aku angkat ternyata dari...,"
Suara Diandra terputus dan ia kembali menangis.
"Sayang, siapa? Siapa yang menelepon?" tanya Al kawatir.
"Nesya...saat aku
bilang, aku istrimu, dia langsung mengatakan jika dia adalah Nesya dan
tertawa mengejekku bahwa selama kita jauh kalian sudah sangat dekat,
dekat dalam semua hal, bahkan dia juga tahu jika di dadamu ada tanda
lahir, dia juga bilang jika kalian terbiasa menghabiskan malam-malam
berdua, bahkan setelah kita menikah, lihat ponselmu, dia mengirim
beberapa foto saat kalian makan malam, lalu kapan kau menemui dia?
Apakah saat Key di rumah sakit? Bukankah kau memang sering ke kantor dan
pulang malam bahkan sangat larut,"
Diandra berusaha mengeluarkan apa yang ia pikirkan, Al menatap wajah istrinya. Ia duduk semakin dekat dan merengkuh bahunya.
"Terserah kau percaya
padaku atau tidak, aku lelah meyakinkanmu, Nesya salah satu wanita yang
tak lelah mengejarku, papanya sahabat baik papaku, kami punya kerja sama
hingga dua tahun ke depan, aku tak bisa serta merta memutuskan karena
itu sudah kesepakan sejak beberapa tahun lampau saat papa masih hidup,
terus terang terpaksa kami memang makan malam, tapi tak berdua, aku
selalu bersama dengan sekretarisku,"
"Di foto itu kalian hanya berdua," sahut Diandra lagi. Al menghela napas.
"Mungkin dia memang
sengaja minta tolong foto entah pada siapa saat sekretarisku ijin ke
toilet, ah Diii, bagaimana caraku agar kau percaya?" tanya Al terlihat
lelah.
Diandra diam saja, ia
memilih merebahkan badannya lagi, ia memunggungi Al dan pikirannya
berjalan entah ke mana, ia belum yakin pada penjelaaan Al.
****
"Kau bilang apa pada istriku?" tanya Al marah. Dan Nesya tertawa, saat Al mendatangi kantornya.
"Oh, dia ngadu?" ujarnya santai.
"Memangnya kenapa?" tanyanya lagi.
"Foto apa yang kau kirim? Bukankah itu foto lama?" tanya Al geram.
"Terserah, terserah dia
biar berasumsi sendiri, aku benci dia ngambilmu, harusnya aku yang jadi
istrimu, aku yang seharusnya melakukan yang pertama denganmu," teriak
Neysa marah.
"Ingat jika sampai
marah dan Nesya menarik lengan Al saat hendak keluar, memeluknya dengan
erat.
"Kita pernah sedekat ini Al, kita pernah sedekat ini," Nesya menangis.
Perlahan Al melepaskan pelukan Nesya.
"Itu dulu, duluuu
bertahun-tahun yang lalu sebelum aku melihat Diandra dan jatuh cinta
padanya, aku tak pernah bisa mencintaimu meski aku mencoba," ujar Al
berusaha sabar.
"Artinya dia yang mencurimu dariku,"tangisan Nesya semakin jadi.
"Tidak, aku yang
mengejarnya, malah dia awalnya membenciku, tapi kini kami saling
mencintai, jangan ganggu kami, lagi pula kau sudah bertunangan," ujar Al
mencoba menjaga jarak, ia mulai membuka pintu dan Al tersentak saat
melihat laki-laki yang tingginya hampir sama dengannya berada di luar
pintu.
"Oh, Sean, maaf, aku
akan pulang, aku baru saja memberitahu tunanganmu jika kerja sama kami
hampir berakhir dan aku takkan memperpanjangnya," ujar Al berusaha agar
tidak terjadi kesalahpahaman.
Sean tak menyahut, ia hanya menatap tajam pada Al, mengangguk dan, lalu menutup pintu dan menguncinya.
Wajah Sean menahan
marah, berjalan mendekat dan menarik dengan kasar Nesya hingga tepat
berada dihadapannya. Nesya terlihat ketakutan. Ia tahu ia akan kesakitan
lagi, tapi ia memang takkan bisa lepas dari laki-laki jahannam ini.
Saat orang tuanya yang terlibat masalah keuangan dan diselamatkan oleh
Sean maka selesai sudah hidupnya.
"Berapa kali aku bilang
jangan pernah hubungi laki-laki itu, kau harus membayar penghinaan ini,
penghinaan yang akan aku ingat terus, karena saat kau merasa nikmat
untuk pertama kalinya, nama laki-laki itu yang kau teriakkan, kini tak
akan lagi aku beri kenikmatan padamu, hanya kesakitan yang akan kau
rasakan seumur hidupmu, mengerti kau jalang? Papamu saja sudah
menggadaikanmu padaku,"
Sean membalik badan
Nesya hingga tersungkur ke meja kerjanya, menaikkan rok Nesya hingga ke
pinggang, lalu menurukan celana dalam Nesya dengan tergesa.
"Kau rasakan ini, jalang, kau akan menikmati siksa ini seumur hidupmu,"
Sean membuka gesper celananya dan Nesya hanya bisa menangis saat merasakan perih itu berulang lagi.
Aku akan berusaha lepas darimu laki-laki jahannam, tolong aku Al, tolong aku, kau pasti takkan menolakku..
****
Al masuk ke rumahnya saat malam telah larut, ia melihat mamanya yang masih duduk di ruang makan.
"Kok malam Al?"
"Banyak kerjaan ma," sahut Al sambil melangkah menuju kamarnya.
"Al," panggil mamanya lagi dan Al menoleh.
"Duduklah mama mau bicara,"
Al melangkah menuju
mamanya duduk, lalu duduk di sebelah mamanya dan menatap wanita paruh
baya yang menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri.
"Ada apa? Mengapa Diandra seperti sedang memikirkan sesuatu?" tanya mama Al.
"Nesya ma, diaaa...,"
"Ah anak itu, dia masih saja mencintaimu, kau tahu tunangannya?"
"Ya tahulah, siapa yang tak tahu Sean," jawab Al.
"Kasihan dia Al," ujar mama Al.
"Kasihan kenapa? Kan malah enak suaminya kaya raya, kan sejak dulu ia memang mencari laki-laki kaya," sahut Al.
"Ah kau ini, tunangannya
itu banyak wanita mainanya, dan mereka terpaksa menerima Sean saat
meminta Nesya menjadi tunangannya, karena Ellin, mamanya Nesya kan
temanku Al, menangis bercerita padaku, saat ini kan keuangan keluarga
Nesya diujung tanduk dan laki-laki itu yang mengatasi segalanya, papanya
Nesya minta bantuan pada laki-laki yang salah, dan tadi mamanya Nesya
minta tolong padaku, bisakah kau membantu melepaskan Nesya dari
laki-laki itu? Ya aku jawab nggak bisa lah kamu punya istri, yang
mengerikan mamanya Nesya sering melihat lebam-lebam ditubuh anaknya, ih
mama ngeri Al," ujar mama Al sambil mengedikkan bahunya.
"Kok minta bantuannya ke Al ya ma? Mengapa mereka tak berusaha minta bantuan pada orang lain?"
Suara Diandra mengagetkan Al dan mamanya.
****