
Rengga memejamkan matanya sambil menghela napas, perlahan senyumnya mengembang dan mengacak rambut Silmi.
"Nggak jadi."
"Alhamdulillah."
"Memang kenapa, kamu nggak mau kita ber..."
"Nggak mau Pak, ngeri," sahut Silmi menutup bibirnya dengan cepat, sebelum Rengga menyelesaikan kalimatnya.
"Memang kenapa? "
"Nggak tahu, ngeri aja, dan sungkan, mending sikat gigi dulu baru ciuman,"
Rengga tertawanya dan bangkit dari tempat tidur.
"Kelamaan kalau masih ke
kamar mandi Sil, ada-ada saja, nggak kok Sil, aku nggak akan
ngapa-ngapain kamu, bener, nggak papa kan aku nggak jadi nyium kamu? "
"Nggak papa Pak, Bapak
orang baik, coba laki-laki lain wah sudah ngelakuin yang nggak-nggak ke
saya, kalau se kamar kayak gini," ujar Silmi, senyumnya mulai mengembang
dan cintanya pada Rengga semakin besar.
"Makasih Pak,"
"Untuk?"
"Nggak nyium saya,"
Rengga tersenyum namun sebelum ke luar dari kamar, Rengga mencium kening Silmi, Silmi kaget dan wajahnya memerah.
"Ih Bapak, katanya nggak mau nyium?"
"Kan cuman kening Sil, nggak boleh?" tanya Rengga mentap Silmi dari jarak dekat.
"Nggak papa sih Pak, cuman kaget aja sayanya," ujar Silmi malu-malu.
"Boleh sekali lagi?" tanya Rengga menggoda Silmi yang semakin salah tingkah.
"Eeemmmm nggak tahu," sahut Silmi canggung dan Rengga tertawa lagi.
"Tidurlah," Rengga mengusap rambut Silmi dan ke luar kamar lalu menutup pintu dengan rapat.
Silmi memegang dadanya, meredakan jantungnya yang masih saja bertalu-talu.
****
Kondisi Key semakin baik memasuki minggu ke dua, alat bantu pernapasan sudah dibuka, juga alat pemantau jantung.
Satu hal yang membuat
Diandra sakit dadanya, dan terasa sesak, saat pihak pengacara Saga
mengajukan permintaan bahwa Saga ingin bertemu dengan Diandra. Mereka
mengatakan, Saga ingin minta maaf. Namun Diandra tidak menyetujui
permintaan itu.
"Terserah kamu sayang," ujar Al sambil mengusap pipi Diandra perlahan.
"Aku tak sanggup lagi
bertemu dengannya Al, aku tak tahu harus benci atau bagaimana pada
laki-laki itu, dendamnya padamu membutakam segalanya," ujar Diandra
menahan tangis.
"Dan cintanya padamu semakin membuat dia nekad," ujar Al lirih dan mata Diandra membulat karena kaget.
"Apa kau bilang, kak
Saga? Ah tidak mungkin, dia tak akan mempunyai perasaan seperti itu
padaku," Diandra menggelengkan kepalanya pelan.
"Itu diakui Saga pada Rengga," ujar Al menatap wajah istrinya yang semakin bingung.
"Tak mungkin Al, tak mungkin," sahut Di lirih sambil memeluk Al.
"Semua bisa saja
terjadi, kalian begitu dekat selama mengurus Key, dia sering menemuimu,
apa saja bisa terjadi sayang," Al mengusap punggung Diandra.
Diandra masih tak
percaya kata-kata Al, dia ingin bertanya langsung pada Rengga. Rasanya
tak mungkin seorang Saga yang sejak awal melihat wanita hanya sebagai
selingan bahkan sering mengatakan takkan pernah jatuh cinta tiba-tiba
mencintainya.
"Tak usah kau pikir, toh
kamu tidak mencintainya kan?" ujar Al dan Diandra tersenyum, dan
memeluk Al dengan erat. Tiba-tiba Rengga melintas dipikiran Diandra.
"Entahlah Al, kadang aku
merasa berdosa pada Rengga, dia yang menjagaku, menemaniku saat senang
dan susah tapi tak bisa berjalan bersama denganku sampai pada akhir yang
kami inginkan sejak dulu, eh aku malah menikah denganmu dan...,"
"Kau
malah mencintaiku, iya kan?" Al mengangkat dagu Diandra yang wajahnya
tiba-tiba merona. Al tersenyum tipis menyadari perubahan wajah istrinya.
"Kau mesum," bisik Diandra pelan dan Al terkekeh, Diandra kaget karena tak biasanya Al tertawa.
"Dan itu yang perlahan membuatmu jatuh cinta padaku," bisik Al tak mau kalah.
"Ih," Diandra memukul dada suaminya.
"Mamaaa, papaaa...," suara Key mengagetkan keduanya yang langsung beranjak ke sisi Key.
"Apa sayang?" tanya Diandra.
"Key ingin pulang, Key bosan di sini," rengek Key lirih.
"Tapi Key masih belum sembuh sayang," ujar Di lagi.
"Key, kangen om Saga," ujar Key membuat Al dan Diandra terhenyak.
Mata Diandra berkaca-kaca, ia mengusap kepala Key.
"Om Rengga sudah ke sini, tapi om Saga belum," ujar Key lagi.
"Om Saga pindah sayang, ke tempat yang jauh, kapan-kapan dia datang, pasti menemui Key," ujar Al mencoba menghibur Key.
"Kok nggak pamit sama Key?" tanya Key dengan wajah polos.
"Ada nenek yang akan selalu menemani Key," tiba-tiba mama Al datang.
"Wah mama, sama siapa?" tanya Al.
"Sendiri, Almira sibuk."
Mama Al mengeluarkan beberapa boks yang berisi berbagai macam makanan.
Menawarkan puding pada Key, dan Key mengangguk.
Mama Al menyuapi Key yang nampak suka pada puding mangga buatannya.
"Enak, nek," ujar Key.
"Oh yaaa, nanti nenek buatkan lagi."
Mama Al nampak senang cucunya makan puding dengan lahap.
"Kalian tiduran sana, di sofabed, biar rada luas buat berdua, tapi jangan macam-macam Al."
Al tersenyum dan memeluk bahu Diandra.
****
"Kau tak tidur juga Al?
Tidurlah, mama yakin kamu capek, bolak-balik ke sini, perusahaan tiap
hari, kadang masih ke rumah juga," ujar mama Al setelah menidurkan Key.
Sedang Diandra terlihat nyenyak di sofabed.
"Kasihan istrimu, dia
pasti lelah fisik dan batin juga, bagaimana nggak sakit jika orang yang
selama ini dekat dengannya justru menyakiti anaknya," ujar mama Al.
"Yah, Saga gelap mata saat Diandra akhirnya menikah lagi denganku ma, ternyata diam-diam dia mencintai Diandra," ujar Al pelan.
"Ya Allah Al, bagaimana
bisa, setahu mama, dia tak pernah ramah pada wanita, ah tapi mama
menyadari, istrimu itu cantik, juga punya badan yang bagus, secara
tampilan, laki-laki mana yang nggak akan mudah jatuh cinta padanya,
selain itu dia baik, mudah ramah pada siapapun, makanya saat awal
menikah denganmu, mama heran sama kamu kok bisa kaku sama orang cantik,"
ujar mama Al lagi.
Al berdecak dan menatap mamanya dengan wajah bingung.
"Aku sekaku itu dulu ya ma, sama Di?"
"Iya, makanya aku sama
Almira selalu menemaninya saat makan, berusaha agar dia betah di rumah,
karena kau hampir tak pernah mengajaknya bicara, untunglah sekarang kau
bisa mesra pada istrimu, berusahalah lebih memanjakan istrimu Al, tebus
kesalahanmu yang dulu, iiiih mama ngeri kadang pernah dengan aktivitas
ranjangmu, kau pasti kasar padanya, hentikan Al, kasihan istrimu," ujar
mama Al dan wajah Al bersemu merah.
"Apa Mama dulu pernah ngintip?"
"Siapa yang ngintip,
wong kamunya yang lupa nutup pintu, untung pas Almira ke kampus, jerit
tertahan Di dan geraman kamu mengerikan, berhenti, sembuhkan Al, datangi
dokter yang berkompeten dengan penyakitmu," ujar mama Al.
"Mamaaa ini bukan
penyakit, ada-ada saja mama ini, yang penting Di nggak protes ma," ujar
Al jengah karena rahasianya diketahui mamanya.
"Terserah, mama hanya
ngasi tahu, kawatir istri kamu nggak kuat kesakitan, ah Aaal Al,
aneh-aneh saja, mama mau tidur di sofa dekat Key, kamu tidurlah, matamu
sudah memerah Al, berair pula."
Mama Al merebahkan badannya dan merapikan selimut yang menutupi badannya.
****
Keesokan harinya Rengga mengantar Silmi sampai ke rumahnya, memastikan wanita yang ia sebut sebagai pacarnya baik-baik saja.
"Masuklah, aku pulang ya?" ujar Rengga pamit, tapi tangannya mengusap bahu Silmi.
"Ah Bapak, duduk dulu, capek Bapak pasti," Silmi memaksa Rengga duduk.
"Siapaaaa, oh kamu Sil, sama siapa?" ibunda Silmi berjalan tertatih dengan tongkat di tangan kanannya.
"Eh Ibu, ini sama Pak
Rengga, temannya ibu Diandra," Silmi mengenalkan Rengga pada ibunya dan
Rengga meraih tangan keriput itu dengan takzim.
"Ah duduklah nak,
akhirnyaaa," ujar ibu Silmi terlihat matanya berbinar bahagia,
menyilakan Rengga duduk, akhirnya Rengga duduk di rumah mungil nan teduh
itu.
"Akhirnya kenapa Ibu?" tanya Silmi.
"Akhirnya Silmi pulang?" tanya Silmi lagi.
"Bukan, akhirnya kau benar-benar membawa calon suamimu ke rumah ini," ujar ibu Silmi dan Silmi merasa tak enak pada Rengga.
"Ibuuu Pak Rengga ini...,"
"Bukankah kamu pernah
mengatakan pada ibu, bahwa kamu hanya akan membawa laki-laki ke rumah
ini jika itu adalah calon suami kamu, ibu tidak salah ka nak siapa
namanya Rengga ya, benar kan nak Rengga calon suami anak saya?"
****