
"Eh, Pak Rengga, mari silakan duduk Pak."
Silmi menyilakan Rengga masuk ke ruangan Diandra. Mereka duduk berhadapan.
Silmi menatap wajah tampan di depannya yang terlihat kusut. Bulu-bulu halus di rahangnya dibiarkan tak dicukur.
"Maaf, Bapak sakit?" tanya Silmi melihat wajah Rengga dengan khawatir.
"Tidak, hanya maagku
saja yang kambuh, nanti juga sembuh, eeemm ada kabar, kapan Diandra ke
sini lagi?" tanya Rengga penuh harap.
"Kayaknya, lusa deh,
Pak, mau ngurus kepindahan sekolahnya Key, pasti bareng Pak Al," sahut
Silmi dan terlihat Rengga yang menunduk dan kedua tangannya saling
memegang erat.
"Bapak, Bapak sakit? Tiduran saja Pak di sofa ini, selonjoran, saya buatkan teh hangat ya Pak?"
Silmi terlihat bingung.
Rengga meluruskan badannya, ia terpejam menahan sakit, namun tidak mengeluh sedikit pun. Silmi membukakan sepatu Rengga.
"Makasih Sil, maaf merepotkan, sakit banget, aku tahan dari tadi," ujar Rengga dengan suara lemah.
"Tiduran dulu ya Pak, saya ke pantry dulu."
Silmi menghilang di
balik pintu, bergegas ke pantry, dan menyuruh seorang OB untuk
membelikan roti ke toko yang ada di depan kantornya.
Tak lama Silmi kembali, dan duduk di dekat Rengga.
"Bapak bisa bangun
bentar, minum teh hangat dulu, sama roti, kalau sudah kadung sakit,
Bapak nggak bisa makan banyak dan harus yang lembut-lembut dulu, bangun
yuk Pak."
Rengga menurut, mengernyitkan keningnya dan menerima teh
dari Silmi, saat meraih gelas tanpa sengaja ia memegang tangan Silmi dan
keduanya kaget.
"Maaf."
Ujar mereka bersamaan. Keduanya tampak canggung.
"Bapak duduk dulu, ya
sandaran gitu, ini makan rotinya, maaf, kali ini Bapak nurut ya, biar
nggak sakit, saya juga punya penyakit kayak Bapak, jadi tahu gimana
sakitnya," ujar Silmi.
Rengga menerima roti dari tangan Silmi dan mulai menggigitnya sedikit demi sedikit.
Tiba-tiba terdengar ponsel Silmi berbunyi.
Iya Ibu
Gimana semuanya lancar Sil?
Alhamdulillah ibu, beres semua
Ah syukurlah, aku akan segera menemuimu Sil, jika ada apa-apa hubungi aku ya?
Iya Ibu, eh ini ada Pak Rengga, ibu, nyari ibu, dia sakit, maagnya kambuh
Ck, Rengga selalu gitu kalau ada yang dipikir, lalu gimana dia sekarang?
Tiduran di sofa di ruangan ibu
Iya iya nggak papa, belikan apa gitu Sil
Sudah ibu, sudah saya buatkan teh hangat dan saya belikan roti
Iya bener gitu, rawat ya Sil, laki-laki yang kamu suka, iya kaaan?
Ih ibu, apaan sih
Alaaah ngaku aja, ok deh nanti aku telepon lagi, sana gih jagain si Rengga
Silmi meletakkan ponselnya dan mendekati Rengga lagi.
"Bapak sudah baikan? Mau saya antar pulang?" tanya Silmi.
"Kayaknya aku memang gak kuat bawa mobil, maaf sekali lagi, ngerepotin kamu Sil," sahut Rengga.
"Nggak papa Pak, lagian
ini sudah sore, kerjaan sudah ada yang handle, mari saya antar, Bapak
bisa jalan sendiri kan?" tanya Silmi, melihat Rengga yang masih saja
mengernyitkan keningnya.
"Bisa Sil, bisa."
Rengga bangkit dan berjalan pelan.
"Maaf, boleh aku megang bahu kamu Sil?" tanya Rengga.
"Boleh Pak," jawab Silmi dengan jantung bertalu-talu saat merasakan tangan Rengga di bahunya.
"Kok jadi lucu gini sih, Pak, jadi kayak si buta dari gua hantu yang minta pegangin," ujar Silmi dan Rengga jadi menahan tawa.
****
Sesampainya di unit apartemen Rengga, Silmi menunggu sampai Rengga merebahkan diri dan dia pamit pulang.
"Makasih Sil, sudah bantuin sampe sini," ujar Rengga.
Silmi menatap Rengga kawatir.
"Nanti malam saya ke sini lagi, boleh kan Pak, mau bawa makanan, saya yakin bapak nggak akan ada waktu buat beli."
Silmi melihat Rengga yang tersenyum dan mengangguk.
"Makasih, Sil, maaf, ngerepotin," ujar Rengga dan Silmi menggeleng.
"Nggak papa, saya pamit Pak."
Rengga mengukuti punggung Silmi yang menjauh dengan tatapannya.
****
"Ini malam terakhir kita
di sini, Sayang, aku tidak akan membuatmu capek, aku hanya akan
memeluk, dan menciumimu saja," ujar Al lirih. Ia hanya menggunakan
celana pendek dan bertelanjang dada.
"Tumben bicara agak
panjang dan ngapain kamu nggak pake baju, katanya cuman mau meluk aja?"
tanya Diandra sambil meringkuk dalam pelukan Al.
Terdengar tawa Al.
Diandra mulai merasakan kecupan di leher dan bahunya. Tangan Al mulai
mengusap perut ratanya, dan mulai meraba dadanya yang tak menggunakan
apapun.
"Kaaan, kau sengaja kan Di?"
"Ssshhh Aal," desis Diandra.
"Aku hanya akan menciumimu."
Sekali lagi Al menjilat leher Di, menghembuskan napas panasnya.
Diandra hanya memejamkan matanya dan menggigit bibirnya.
"Sayang, kau, ingin?"
Pertanyaan mengantung Al membuat Diandra berbalik, menatap manik mata Al yang menatapnya dengan tatapan menggodanya.
"Al."
"Hmmm."
Al menyentuh dada
Diandra lagi dari luar bajunya, dan Diandra hanya memejamkan matanya.
Mulutnya terbuka dengan napas pendek-pendek.
Al memandangi istrinya, ia biarkan, tidak akan ia apa-apakan sampai istrinya memohon, meski miliknya telah mengeras sejak tadi.
"Aaall..ah...Aaal."
"Hmmmm."
"Kau sengaja, kan?"
"Hmmmm."
Diandra membuka matanya,menemukan senyum misterius Al.
Diandra bergerak membuka baju tidurnya, melewati kepalanya, hingga terlihat jelas senyum kemenangan Al.
"Kau ingin sayang?"
tanya Al lirih. Diandra tak berkata sepatah pun, ia dorong perlahan
badan Al dan mendudukinya, merasakan kerasnya milik suaminya.
Menggerakkan pinggulnya maju mundur.
Al menggeram dan tak
tahan saat miliknya ditekan oleh milik istrinya, ia bangun, menahan
tubuh Di dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menurunkan celana
pendeknya, yang seketika mengacung keras miliknya.
Ia pegang dan perlahan ia dorong pada milik istrinya, keduanya melenguh saat mereka menyatu.
"Bergegraklah sayang, yah, bergeraklah lebih cepat, aku ingin kau yang sekali-sekali memimpin."
Diandra yang berada di
pangkuan Al menggerakkan pinggulnya dengan cepat, ia merintih tertahan
saat dadanya diremas dan dihisap kuat oleh Al. Kepala Di mendadak pusing
karena gairah yang memuncak.
****
"Al kok nggak bangun ya Mira?" tanya mama Al pada Almira.
"Masa sih ma, dia lebih rajin dari Mira loh shalatnya, pasti dia tidur lagi setelah sholat subuh, ada apa ma?" tanya Mira.
"Tadi ada staf Al yang
sudah berusaha menemui Al, tapi nggak bisa, sejak sebelum subuh tadi
awak media ada di depan, mereka kayaknya mau wawancara deh sama si Al,
kan akhirnya tahu semua kalau Al balik sama Di, biasalahlah mereka kan
juga butuh berita, itu kerjaan mereka."
"Mama coba lagi, mau nelepon si Al."
****
"Sayang, ponselmu bunyi terus tuh," ujar Diandra dan mata Al yang terasa lengket jadi terbuka lebar mendengar Di memanggilnya sayang.
"Apa, kamu manggil aku apa, ulangi, aku ingin pagi ini kau menyapaku dengan panggilan itu?"
Diandra bersemu merah karena tanpa sadar ia keceplosan.
"Ah ayolah, ponselmu tuh berisik," ujar Di, dan Al tetap diam saja, malah memejamkan matanya lagi.
"Sayaaaang, bangun," ujar Di malu-malu, dan Al tersenyum. Menyibak rambut Di yang masih basah.
"Makasih untuk semalam, aku baru melihat kau berbeda semalam."
"Ck, nggak usah dibahas."
Al meraih ponselnya ada beberapa kali panggilan tak terjawab dari mamanya, Al menelepon dan terlihat berbicara serius.
"Ada apa?" tanya Di.
Al menghela napas.
"Males aku, nanti kata
mama awak media pengen aku ngomong meski cuman lima atau sepuluh menit,
mereka mendapatkan foto-foto kita saat baru datang di rumah pamanmu,
biasalah mereka butuh penjelasan."
"Nggak papa, biacaralah meski lima menit, lalu kita menuju ke tempatku, mengurus kepindahan Key," ujar Diandra.
****
Saat pulang, meninggalkan resort, semuanya jadi satu mobil, Al, Diandra, Keysa, mama Al, dan adik Al, si Almira.
"Nanti biar aku saja
yang ke luar, aku takkan lama, ngomong sebentar, mengiyakan jika aku
kembali pada Di dan kita lanjutkan perjalanan, beberapa petugas keamanan
resort sudah berjaga di sana ma," ujar Al.
"Iya dah, enak gitu Al," sahut mamanya.
"Biar kita melambaikan tangan dari dalam mobil saja," ujar mama Al lagi.
Mobil bergerak semakin dekat menuju ke arah pintu gerbang resort.
Di sana terlihat kerumunan yang terlihat rapi.
Saat mobil sudah berhenti, Al menahan napas saat akan turun.
"Papa, Key ikut," tiba-tiba Key merengek.
"Nggak usah Key," sahut Al.
"Papaaa ikut," rengek Key lagi.
"Baiklah, kau akan papa perkenalkan, karena kau memang anak papa," ujar Al.
Dan dengan segera pintu terbuka Keysa melompat, dan...
DOOORR...DOOORR..DOOORRR...
"KEYSAAAAA...KEYSAAAA...,"
Keadaan menjadi riuh, teriakan histeris Diandra dan Al semakin membuat suasana tak karuan.
Al memeluk Keysa yang telah berdarah-darah dengan air mata bercucuran.
Diandra pingsan dalam pelukan mama Al..
****
Rengga membaca berita online dengan badan bergetar, ia yakin ini akan terjadi, tapi tak membayangkan akan seperti ini.
"Paaak, Bapak, kenapa?" tanya Silmi.
"Keysa, Sil, Keysaaa."
Dan air mata Rengga bercucuran.
****