
Al masuk ke ruangan Key, setelah Rengga pulang dan Diandra memilih pergi setelah Al tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Al duduk di dekat Key yang sejak dia duduk sesekali tangan Key merespOn tiap dia bisikkan sesuatu.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka dan terliHat wajah Diandra dengan mata sembaB dan hidung memerah.
Seketika dada Al terasa
sakit, ia tahu Diandra menangis. Al bangkit dari duduknya mendekati Di
dan meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
Terdengar isakan tertahan. Kembali dada Al terasa sakit.
"Jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu Al," bisik Dindra lirih dengan bahu terguncang hebat.
Al melepas pelukannya menangkup wajah yang telah berurai air mata.
"Siapa yang akan
meninggalkanmu? Lebih besar cintaku Di, dia ... baiklah kita duduk, aku
akan ceritakan semuanya," Al merengkuh bahu istrinya, mengajak duduk dan
membelai pipi basah istrinya berkali-kali.
"Dia teman kecilku,
orang tuanya bersahabat dengan almarhum mama, lama mereka berada di
Okinawa dan menetap di sana, namun tiba-tiba kembali ke Indonesia karena
dia ingin menemuiku, kanker hati yang telah parah dan karena itu ia ingin selalu
berada di dekatku, hidupnya tinggal menghitung hari, terakhir dia sudah
masuk rumah sakit, kondisinya sudah payah, dia ingin aku selalu di
dekatnya, malah yang kapan hari, kedua orang tuanya menemui mama Dini,
ingin kami menikah tanpa sepengetahuanmu, karena orang tuanya yakin hal itu akan membuat dia bahagia sebelum meninggal tapi aku tak mau Di, mama juga,
karena aku sudah punya kamu dan Key," ujar Al menjelaskan dengan pelan
pada Diandra.
"Siapa namanya Al?" tanya Di masih saja terisak.
"Maya," sahut Al singkat.
"Apakah seandainya
Rengga tak bertanya, kau akan menikahinya dan kau akan tetap
menyembunyikan dari aku? Apakah aku .... aku pantas jadi pendampingmu
Al?"
Pertanyaan Diandra membuat Al kalut, ia peluk lagi istrinya.
"Aku bukan ingin
menyembunyikannya sayang, aku yakin akan bisa menyelesaikan ini tanpa
masalah, makanya aku sekalian tak bercerita padamu, meski mama Dini
bolak balik menyuruhku menceritakannya padamu, lalu peranyaan apa itu?
Mengapa kau bertanya seperti itu, kau istriku, kau selalu pantas berdiri
di sampingku Di, aku lebih menginginkanmu dari pada yang lain," Al
memeluk erat Diandra dan menciumi berkali-kali rambut harum istrinya.
"Antarkan aku padanya Al, aku ingin menemuinya," ujar Diandra tiba-tiba.
"Tidak perlu, kau tetap di sini, jaga kesehatanmu, kau sedang hamil," ujar Al.
"Tapi kau tetap akan
menemuinya kan? Aku yakin itu, makanya bawa aku padanya dan pada
keluarganya, kau suamiku, meski ini demi kemanusiaan tidak benar
menyuruh seseorang menikah lagi tanpa sepengetahuan istri sahnya, aku
bisa menahan emosi Al, aku bukan tipe orang yang meledak-ledak, antarkan
aku," pinta Diandra kembali menangis.
Dan kembali suara pemantau jantung Key meraung. Semua panik, perawat dan dokter segera masuk dan melihat kondisi Key.
****
"Dia mulai sadar Pak,
jangan ajak bicara dulu, biarkan putri bapak yang memulai berbicara atau
bisa ajak berbicara hanya pelan saja," ujar dokter yang memeriksa
kondisi Key.
Ada kelegaan di hati Al
dan Diandra. Keduanya mendekat ke sisi pembaringan Key. Mata Key
mengerjab pelan, terbuka lalu memejamkan mata lagi. Samar-samar
terdengar suara Key.
"Maaa ... "
Diandra mendekat dan berbisik.
"Mama di sini dekat Key... "
Ada kelegaan di mata Al dan Diandra saat mata Key terbuka, kesadaran Key pulih namun kondisinya masih lemah.
Al segera menelpon mamanya dan Rengga. Memberitahu kondisi terakhir Key.
Tak lama mama Al datang dan segera memeluk Diandra yang terlihat masih menangis.
"Kau, mengapa sesedih ini, bukankah Key sudah sadar?"
"Maya, Di baru tahu ma," sahut A pelan dan mama Al terkejut.
"Ah Di, kami bukan mau
merahasiakan dia darimu tapi kondisimu, kondisi dia juga tak
memungkinkan bagi kami untuk membukanya," ujar mama Al.
"Tapi jika Al akhirnya menikahinya tanpa sepengetahuan Di kan tak benar juga ma," kembali bahu Di terguncang.
"Di kau hamil, ingat itu, tak berpikir macam-macam, kami takkan sekejam itu padamu," ujar mama Al berusaha menenangkan.
"Takkan pernah terjadi pernikahan dengan siapapun," suara Al terdengar berat dan tegas.
"Ya karena Rengga yang
tak sengaja bertanya padamu, seandainya Rengga tak bertanya, mungkin
akan lain ceritanya," ujar Diandra berusaha menahan menahan emosinya.
Al bangkit memegang lengan Diandra.
"Ma titip Key, aku akan berbicara pada Diandra, telpon kami jika ada apa-apa,"
"Kita perlu bicara berdua sayang," Al mengajak Di ke luar dari ruangan Key.
****
"Mengapa kita ke apartemenmu? apartemen yang lama tak kau singgahi? Buat apa?"
Pertanyaan Diandra tak dijawab oleh Al, dia terus melangkah menuju unitnya melalui lift.
****
"Duduklah," Al menyuruh Diandra duduk, lalu Al duduk di samping Diandra, ia tangkup pipi Diandra hingga dekat dengan wajahnya.
"Tatap mataku Di, apakah
ada kebohongan di sana? Apakah cintaku tak cukup membuatmu yakin bahwa
aku hanya menginginkanmu?" tanya Al dengan wajah dingin.
"Aku bukan cenayang Al,
aku tak tahu apa yang ada dipikiranmu, karena terkadang mata seseorang
tak sama dengan hatinya, meski kata sebagian besar orang, mata adalah
hal yang dapat menggambarkan hati dan kejujuran," suara pelan Di mampu
menusuk hati Al, ia tahu Di tak yakin pada ucapannya.
Ia miringkan kepalanya dan meraup bibir istrinya dengan rakus, kemarahan Al membuatnya lupa bahwa Diandra sedang bersedih.
Dan yang membuat Al
kaget Diandra membalas ciumannya, Al merasakan belitan lidah Di pada
lidahnya, remasan kuat dirambutnya, dan erangan tertahan saat bibir Al
menyesap leher istrinya.
Diandra mendorong dada Al saat napasnya tersengal dan ia jatuhkan kepalanya di dada suaminya yang napasnya masih bergemuruh.
"Aku mencintaimu, Di,
aku mencintaimu, tak pernah terpikir untuk menikah lagi dan semacamnya,
menemukanmu dan meraihmu lagi adalah hal tak mudah, aku takkan pernah
melepaskanmu," suara Al terdengar serak karena menahan tangis.
Diandra melepas pelukannya dan menatap mata suaminya yang penuh dengan air mata.
Ia usap mata kelam itu dan menciumi mata Al dengan sepenuh hati.
"Aku takut kau
menyembunyikan sesuatu dibelakangku Al, aku istrimu, aku berhak tahu
apapun yang terjadi padamu," ujar Di menatap wajah suaminya dari jarak
dekat.
"Aku tahu, aku memang
akan bercerita padamu setelah semua selesai, aku bersama mama masih akan
menemui orang tua Maya, bahkan mama berencana juga akan mengajakmu,
sampai Rengga datang dan bertanya tentang itu, Maya lama tak menemuiku
lagi di kantor, ia sudah lama di rumah sakit, kondisinya juga sudah
parah," ujar Al.
"Jadi selama ini kalian sering bertemu? Berdua? Lalu apa yang kalian lakukan? Apakah aku juga boleh tahu tentang hal itu Al?"
mata Diandra kembali basah.
****