A STORY ABOUT LOVE

A STORY ABOUT LOVE
Episode 2



"Mengapa bukan kamu yang berangkat mengawal crew mu, kamu tidak kawatir


mereka menilai kamu tidak profesional?" tanya Rengga pada Diandra.


"Kakiku masih enggan untuk ke sana Ngga, aku takut menerima


kenyataan" jawaban Diandra membuat Rengga melihat kesakitan dan kesedihan


di sana.


"Kau belum melupakannya, setelah empat tahun?" tanya Rengga lagi.


"Dan kau masih di sini juga menemaniku?" Di balik bertanya.


"Lalu aku harus bagaimana, aku merasa sebagai satu-satunya orang yang


kamu percaya, setelah tiba-tiba meninggalkanku, menikah dengan laki-laki kaya


raya yang aku pikir kau sudah mabuk dengan harta laki-laki itu, namun saat kau


kembali mencariku dengan tubuh kurus, mata kuyu dan kau hamil, apa aku akan


bisa meninggalkanmu dan Keysa, tidak Di, tidak, apalagi melihat tatapan anakmu,


anak yang selalu terlihat murung meski semua yang ia minta ada di dekatnya, aku


akan tetap di sisimu, meski aku bisa merasakan kau tak lagi mencintaiku,"


ujar Rengga panjang lebar.


"Maafkan aku Ngga," suara Di terdengar lirih.


"Aku selalu memaafkanmu," Rengga bangkit dan menyentuh kepala


Diandra.


"Aku berangkat dulu, ada janji dengan papa dan kakakku, aku akan ke


sini lima hari lagi, maaf jika aku tak selalu ada di sini karena pekerjaanku


menuntutku berkonsentrasi lebih," ujar Rengga yang berprofesi sebagai


arsitek bersama-sama dengan papa dan kakaknya membesarkan firma milik mendiang


kakek mereka.


"Nggak papa Ngga, aku yang harusnya minta maaf, selalu mengganggu


hidupmu, eh iya, Silmi sudah transfer ke kamu, aku nggak mau punya hutang


terlalu banyak, hutang budi, hutang uang pula, lunas sudah ya Ngga?" ujar


Diandra berusaha tersenyum.


"Aku benci kau bicara hutang, itu pinjaman lunak untuk pengembangan


usahamu yang semakin pesat," ujar Rengga sambil melangkahkan kakinya ke


arah pintu dan melambaikan tangan pada Diandra.


****


Di papa sakit, tidakkah kau ingin menjenguk papa, papa tahu jika kau


sakit hati, tapi jangan hukum papa seperti ini


Bunyi pesan singkat papanya tak membuat Diandra tergerak untuk menjenguk


papanya, ia tahu papanya benar-benar sakit.


Rengga sesekali menjenguk papa Diandra ke rumahnya. Namun Rengga terpaksa


tak memberi tahu keberadaan Diandra pada papanya. Rengga sudah berjanji.


****


Hingga suatu sore Diandra ditelpon oleh Rengga.


Di cepat ke rumah sakit papa kritis Di


Diandra tersentak ia tak menjawab, hanya anggukan, yang pasti Rengga tak


melihat itu.


Sepuluh menit kemudian saat Diandra melajukan mobilnya menuju sekolah Key,


ia ditelpon kembali oleh Rengga.


Papamu meninggal Di, papa meninggal cepat ke rumah sakit


Dan tangan Diandra gemetar, ia sempat berhenti untuk menenangkan hatinya


mengutuki dirinya yang tak segera memaafkan papanya, menangis tergugu dengan


kening disandarkan pada kemudi, lalu mengusap kasar air matanya melanjutkan


perjalanan menuju sekolah Keysa.


****


Jenazah papa hanya menunggumu untuk dimakamkan Di, jam berapa pesawat


sampai?"


Satu jam lima belas menit Ngga..


****


"Kita akan ke mana ma?" tanya Key


"Ke rumah kakek," jawab Di


"Key punya kakek?" tanya Key kaget.


Diandra tak menjawab.


****


Saat tiba di pemakaman tampak kerabat dan karyawan papanya yang berkemurun


di sekitar tanah berlubang itu, Diandra menatap sekitar dan tak berharap


laki-laki itu tahu serta melihat keberadaannya.


Lalu Diandra mendekat, menarik Key, membuka topi Key, perlahan jenazah


papanya diturunkan, ke liang lahat.


Tak ada tangis hanya tatapan nanar ke arah gundukan tanah basah yang penuh


bunga.


"Kita pulang Di, doakan semoga papa tenang di alam sana," Rengga


mengajak Di dan Key menuju mobilnya.


Tanpa sadar pergerakan Diandra, Key dan Rengga diawasi oleh seseorang dari


jarak agak jauh terhalang oleh rerimbunan pohon.


memenjara hatinya. Lebih kaget lagi saat ia terlihat menuntun anak kecil, ia


mengira Diandra sudah menikah dan memiliki anak, namun saat topi anak itu


dibuka oleh Diandra waktu berada di samping kuburan papanya, ia terkesiap,


wajah gadis kecil itu adalah wajahnya yang terpahat di sana, wajah dinginnya,


tatapan murung dan kadang menusuk.


Hatinya semakin gemetar, ia berpegangan pada pohon di dekatnya jika benar


anak itu adalah anaknya berarti Diandra masih terikat kontrak dengannya,


kontrak yang pasti Diandra tak membacanya dengan teliti.


Baiklah aku akan bergerak cepat sebelum kau menghilang lagi, aku akan mencari


tahu, kau berada di mana, anak itu anak siapa..aku akan tahu, aku akan


membawamu lagi, kau telah mengambil hatiku tanpa sisa dan dengan tanpa perasaan


meninggalkanku, kehilanganmu telah membuatku sadar bahwa aku tak bisa lepas


darimu, harum tubuhmu masih tersisa di setiap inci tubuhku...aku akan


mendapatkanmu kembali Diandra...


****


Saat akan melangkah ke mobil Rengga, Diandra mendengar langkah di


belakangnya, saat menoleh ia melihat wajah pengacara papanya.


"Besok, anda bisa ke kantor saya, ada yang akan saya sampaikan


berkenaan dengan warisan papa anda,"


"Ah Pak Gani, panggil Di saja, bapak mengenal saya sejak kecil,"


ujar Diandra.


"Tapi keadaan sudah berbeda, bapak banyak bercerita pada saya tentang


anda dan usaha anda, bapak tahu sebenarnya anda berada di mana, tapi rasa


bersalah yang besar pada anda, membuat bapak tak berani menemui anda, baiklah


besok jam sembilan saya tunggu anda di kantor,"


****


"Terima kasih Ngga, aku dan Key biar di hotel ini saja, mungkin lusa


aku kembali, aku akan pesan tiket, dan kau terlalu berlebihan sampai memesankan


suiteroom seperti ini," ujar Diandra.


Rengga tersenyum, lalu mengelus kepala Keysa.


"Om pulang dulu ya Key, nanti malam kita jumpa lagi, jalan-jalan sama


om, mau?"


Keysa mengangguk dan masuk meninggalkan keduanya.


"Masuklah Di, jika capek tidurlah, nanti malam kita makan di restoran


hotel ini, aku ke sini lagi nanti Di," ujar Rengga.


"Yah aku tunggu, makasih Ngga,"


"Yah sama-sama,"


****


Saat makan malam tiba, Rengga sudah berada di depan kamar Diandra dan Key,


terlihat menelpon Diandra dan tak lama pintu terbuka, tampak Diandra dan Key.


Bertiga mereka menuju restoran dan menuju tempat duduk yang telah dipesan


oleh Rengga.


"Key mau pesan, atau milih sendiri makanan yang ada di sana?"


Rengga menunjuk buffet yang tersedia di restoran itu.


"Key mau ke sana saja om," dan Key melangkah menuju buffet, meraih


piring dan agak kesulitan saat akan mengambil makanan.


"Ayo om ambilkan," ujar Rengga yang menemani Keysa.


"Ooom ambilkan yang di sana tuuuh," Rengga mengikuti keinginan Key


dan mengambilkan makanan yang diinginkan.


Sedang Diandra tampak memesan sesuatu dan telah diantar ke mejanya.


Terlihat laki-laki itu lagi, kali ini ia menggunakan topi dan berkacamata


hitam, terlihat lebih banyak menunduk, sesekali melihat pergerakan Rengga dan


Keysa juga Diandra..


Benar ternyata laki-laki itu bukan papanya, ia memanggil om...wajah anak


itu, wajah anak itu..terpahat jelas semuanya milikku...kau akan jadi milikki


selamanya Di bahkan anak itu telah menjawab semuanya..


****


Selesai makan malam Rengga pamit pulang.


"Besok aku antar kau ke kantor pengacara papamu, Key mau besok


jalan-jalan?" tanya Rengga dan seperti biasa Keysa hanya mengangguk.


Rengga pamit melangkah meninggalkan Diandra dan Keysa, yang tak lama kemudian


keduanya masuk ke dalam kamar, menutup pintu.


Baru saja Diandra meletakkan bokongnya ke kasur dan hendak membuka bajunya


ia mendengar ketukan di pintu kamarnya.


Diandra melangkah pelan, ketukan itu berbunyi lagi.


"Apa sih Nggaaaa...ah KAU?" wajah Diandra memucat seketika.


"Selamat malam Diandra...,"


****