
"Mengapa bukan kamu yang berangkat mengawal crew mu, kamu tidak kawatir
mereka menilai kamu tidak profesional?" tanya Rengga pada Diandra.
"Kakiku masih enggan untuk ke sana Ngga, aku takut menerima
kenyataan" jawaban Diandra membuat Rengga melihat kesakitan dan kesedihan
di sana.
"Kau belum melupakannya, setelah empat tahun?" tanya Rengga lagi.
"Dan kau masih di sini juga menemaniku?" Di balik bertanya.
"Lalu aku harus bagaimana, aku merasa sebagai satu-satunya orang yang
kamu percaya, setelah tiba-tiba meninggalkanku, menikah dengan laki-laki kaya
raya yang aku pikir kau sudah mabuk dengan harta laki-laki itu, namun saat kau
kembali mencariku dengan tubuh kurus, mata kuyu dan kau hamil, apa aku akan
bisa meninggalkanmu dan Keysa, tidak Di, tidak, apalagi melihat tatapan anakmu,
anak yang selalu terlihat murung meski semua yang ia minta ada di dekatnya, aku
akan tetap di sisimu, meski aku bisa merasakan kau tak lagi mencintaiku,"
ujar Rengga panjang lebar.
"Maafkan aku Ngga," suara Di terdengar lirih.
"Aku selalu memaafkanmu," Rengga bangkit dan menyentuh kepala
Diandra.
"Aku berangkat dulu, ada janji dengan papa dan kakakku, aku akan ke
sini lima hari lagi, maaf jika aku tak selalu ada di sini karena pekerjaanku
menuntutku berkonsentrasi lebih," ujar Rengga yang berprofesi sebagai
arsitek bersama-sama dengan papa dan kakaknya membesarkan firma milik mendiang
kakek mereka.
"Nggak papa Ngga, aku yang harusnya minta maaf, selalu mengganggu
hidupmu, eh iya, Silmi sudah transfer ke kamu, aku nggak mau punya hutang
terlalu banyak, hutang budi, hutang uang pula, lunas sudah ya Ngga?" ujar
Diandra berusaha tersenyum.
"Aku benci kau bicara hutang, itu pinjaman lunak untuk pengembangan
usahamu yang semakin pesat," ujar Rengga sambil melangkahkan kakinya ke
arah pintu dan melambaikan tangan pada Diandra.
****
Di papa sakit, tidakkah kau ingin menjenguk papa, papa tahu jika kau
sakit hati, tapi jangan hukum papa seperti ini
Bunyi pesan singkat papanya tak membuat Diandra tergerak untuk menjenguk
papanya, ia tahu papanya benar-benar sakit.
Rengga sesekali menjenguk papa Diandra ke rumahnya. Namun Rengga terpaksa
tak memberi tahu keberadaan Diandra pada papanya. Rengga sudah berjanji.
****
Hingga suatu sore Diandra ditelpon oleh Rengga.
Di cepat ke rumah sakit papa kritis Di
Diandra tersentak ia tak menjawab, hanya anggukan, yang pasti Rengga tak
melihat itu.
Sepuluh menit kemudian saat Diandra melajukan mobilnya menuju sekolah Key,
ia ditelpon kembali oleh Rengga.
Papamu meninggal Di, papa meninggal cepat ke rumah sakit
Dan tangan Diandra gemetar, ia sempat berhenti untuk menenangkan hatinya
mengutuki dirinya yang tak segera memaafkan papanya, menangis tergugu dengan
kening disandarkan pada kemudi, lalu mengusap kasar air matanya melanjutkan
perjalanan menuju sekolah Keysa.
****
Jenazah papa hanya menunggumu untuk dimakamkan Di, jam berapa pesawat
sampai?"
Satu jam lima belas menit Ngga..
****
"Kita akan ke mana ma?" tanya Key
"Ke rumah kakek," jawab Di
"Key punya kakek?" tanya Key kaget.
Diandra tak menjawab.
****
Saat tiba di pemakaman tampak kerabat dan karyawan papanya yang berkemurun
di sekitar tanah berlubang itu, Diandra menatap sekitar dan tak berharap
laki-laki itu tahu serta melihat keberadaannya.
Lalu Diandra mendekat, menarik Key, membuka topi Key, perlahan jenazah
papanya diturunkan, ke liang lahat.
Tak ada tangis hanya tatapan nanar ke arah gundukan tanah basah yang penuh
bunga.
"Kita pulang Di, doakan semoga papa tenang di alam sana," Rengga
mengajak Di dan Key menuju mobilnya.
Tanpa sadar pergerakan Diandra, Key dan Rengga diawasi oleh seseorang dari
jarak agak jauh terhalang oleh rerimbunan pohon.
memenjara hatinya. Lebih kaget lagi saat ia terlihat menuntun anak kecil, ia
mengira Diandra sudah menikah dan memiliki anak, namun saat topi anak itu
dibuka oleh Diandra waktu berada di samping kuburan papanya, ia terkesiap,
wajah gadis kecil itu adalah wajahnya yang terpahat di sana, wajah dinginnya,
tatapan murung dan kadang menusuk.
Hatinya semakin gemetar, ia berpegangan pada pohon di dekatnya jika benar
anak itu adalah anaknya berarti Diandra masih terikat kontrak dengannya,
kontrak yang pasti Diandra tak membacanya dengan teliti.
Baiklah aku akan bergerak cepat sebelum kau menghilang lagi, aku akan mencari
tahu, kau berada di mana, anak itu anak siapa..aku akan tahu, aku akan
membawamu lagi, kau telah mengambil hatiku tanpa sisa dan dengan tanpa perasaan
meninggalkanku, kehilanganmu telah membuatku sadar bahwa aku tak bisa lepas
darimu, harum tubuhmu masih tersisa di setiap inci tubuhku...aku akan
mendapatkanmu kembali Diandra...
****
Saat akan melangkah ke mobil Rengga, Diandra mendengar langkah di
belakangnya, saat menoleh ia melihat wajah pengacara papanya.
"Besok, anda bisa ke kantor saya, ada yang akan saya sampaikan
berkenaan dengan warisan papa anda,"
"Ah Pak Gani, panggil Di saja, bapak mengenal saya sejak kecil,"
ujar Diandra.
"Tapi keadaan sudah berbeda, bapak banyak bercerita pada saya tentang
anda dan usaha anda, bapak tahu sebenarnya anda berada di mana, tapi rasa
bersalah yang besar pada anda, membuat bapak tak berani menemui anda, baiklah
besok jam sembilan saya tunggu anda di kantor,"
****
"Terima kasih Ngga, aku dan Key biar di hotel ini saja, mungkin lusa
aku kembali, aku akan pesan tiket, dan kau terlalu berlebihan sampai memesankan
suiteroom seperti ini," ujar Diandra.
Rengga tersenyum, lalu mengelus kepala Keysa.
"Om pulang dulu ya Key, nanti malam kita jumpa lagi, jalan-jalan sama
om, mau?"
Keysa mengangguk dan masuk meninggalkan keduanya.
"Masuklah Di, jika capek tidurlah, nanti malam kita makan di restoran
hotel ini, aku ke sini lagi nanti Di," ujar Rengga.
"Yah aku tunggu, makasih Ngga,"
"Yah sama-sama,"
****
Saat makan malam tiba, Rengga sudah berada di depan kamar Diandra dan Key,
terlihat menelpon Diandra dan tak lama pintu terbuka, tampak Diandra dan Key.
Bertiga mereka menuju restoran dan menuju tempat duduk yang telah dipesan
oleh Rengga.
"Key mau pesan, atau milih sendiri makanan yang ada di sana?"
Rengga menunjuk buffet yang tersedia di restoran itu.
"Key mau ke sana saja om," dan Key melangkah menuju buffet, meraih
piring dan agak kesulitan saat akan mengambil makanan.
"Ayo om ambilkan," ujar Rengga yang menemani Keysa.
"Ooom ambilkan yang di sana tuuuh," Rengga mengikuti keinginan Key
dan mengambilkan makanan yang diinginkan.
Sedang Diandra tampak memesan sesuatu dan telah diantar ke mejanya.
Terlihat laki-laki itu lagi, kali ini ia menggunakan topi dan berkacamata
hitam, terlihat lebih banyak menunduk, sesekali melihat pergerakan Rengga dan
Keysa juga Diandra..
Benar ternyata laki-laki itu bukan papanya, ia memanggil om...wajah anak
itu, wajah anak itu..terpahat jelas semuanya milikku...kau akan jadi milikki
selamanya Di bahkan anak itu telah menjawab semuanya..
****
Selesai makan malam Rengga pamit pulang.
"Besok aku antar kau ke kantor pengacara papamu, Key mau besok
jalan-jalan?" tanya Rengga dan seperti biasa Keysa hanya mengangguk.
Rengga pamit melangkah meninggalkan Diandra dan Keysa, yang tak lama kemudian
keduanya masuk ke dalam kamar, menutup pintu.
Baru saja Diandra meletakkan bokongnya ke kasur dan hendak membuka bajunya
ia mendengar ketukan di pintu kamarnya.
Diandra melangkah pelan, ketukan itu berbunyi lagi.
"Apa sih Nggaaaa...ah KAU?" wajah Diandra memucat seketika.
"Selamat malam Diandra...,"
****