A STORY ABOUT LOVE

A STORY ABOUT LOVE
Episode 22



"Iya ibu, saya calon suami Silmi, maafkan saya yang baru menemui ibu hari ini," ujar Rengga dengan senyum lembut dan sopan.


Mata Silmi membulat dan menggeleng pelan.


"Pak..,"


Ibunda Silmi terlihat matanya mulai berkaca-kaca. Perlahan ia melangkah dan duduk di dekat Rengga.


"Terima kasih telah


hadir untuk anak saya, dia selalu menolak tiap kali dijodohkan oleh


kerabat kami, dia, dia hanya berpikir bagaimana membahagiakan saya,


tanpa berpikir bahwa dia juga harus bahagia,"


"Lalu kapan kalian akan menikah?" tanya ibunda Silmi dan Rengga terlihat bingung.


****


Keesokan harinya....


"Bagaimana sidang kemarin Al?" tanya Diandra yang menolak hadir, ia masih saja enggan bertemu Saga.


"Lancar, baru


mendengarkan saksi-saksi saja, kau harus datang pada sidang berikutnya


Di," ujar Al sambil memgusap rambut istrinya, menciumimya sekilas. Dan


Di menoleh, mendongak menatap mata Al yang kelam.


"Aku tak sanggup Al, tak


sanggup menerima kenyataan orang yang aku anggap kakak ternyata punya


niat buruk padamu dan membuat anak kita seperti ini, Key masih akan


operasi lagi, melepas pen dibahunya, dan itu butuh kondisi Key yang


sehat, aku tak membayangkan anak kita kembali kesakitan," Diandra


menangis dan Al memeluknya.


"Oh maaf," pintu terbuka dan terlihat wajah Rengga.


Rengga kaget saat menyadari mata Diandra yang memerah.


"Maaf Al, Di, apa waktuku kurang tepat?" tanya Rengga ragu di ambang pintu.


"Ah tidak Ngga masuklah,


Di hanya merasa berat hadir di ruang sidang sebagai saksi, dia masih


enggan bertemu dengan Saga," ujar Al.


Rengga duduk tak jauh dari Al dan menghembuskan napas berat.


"Dia menyesal Di, dia menangis saat aku ceritakan kondisi Key, dia ingin bertemu Key," ujar Rengga.


"Key pun kemarin


menanyakan Saga, aku bilang jika Saga pindah, dia bilang kangen pada


Saga," ujar Al dan Rengga kembali merasakan dadanya yang sesak.


"Datanglah ke sidang Di, lihat wajah menyesal Saga," ujar Rengga.


"Yah dia terlihat lebih kurus," ujar Al.


"Saga selalu bermimpi Keysa, itu yang membuatnya sulit tidur," ujar Rengga lagi.


"Dan rasa cintanya padamu yang membuat siksaan itu semakin berat," Rengga menatap Diandra yang masih saja menggelrmgkan kepala.


"Rasanya tak mungkin Ngga," sahut Diandra pelan.


"Kau tahu bagaimana kak


Saga, dia melihat hubungan wanita laki-laki sebagai hubungan nafsu saja,


makanya ia tak pernah terlintas untuk berhubungan serius, apalagi


menikah, aku tahu itu, dia mengatakannya berulang," ujar Diandra lagi.


"Aku pun awalnya tak


percaya, tapi pengakuannya padaku saat aku tak sengaja mendengar


kemarahannya pada Al karena ia merasa Al telah mengambil wanitanya, dari


pengakuannya itulah, aku baru percaya, " Rengga menatap Al dan Di


bergantian.


Al menghembuskan napas berat.


"Aku akan menikah dengan Silmi, Di," suara pelan Rengga mengagetkan Al dan Diandra.


"Ngga kamu jangan main-main, Silmi tak pernah mengenal laki-laki," ujar Diandra.


"Aku sudah mengatakan


langsung pada ibunya, empat bulan lagi kami menikah, sederhana saja Di,


kalian harus hadir," pinta Rengga.


"Kau mencintainya Ngga?" tanya Al.


Rengga tersenyum, menatap wajah Al dan Diandra bergantian, menghembuskan napas pelan.


"Diandra juga tak


mencintaimu saat kalian menikah, tapi dengan berjalannya waktu, dia


malah tak bisa melupakanmu, aku yakin, aku juga akan bisa seperti


Diandra,  Silmi wanita baik, lugu, aku yakin jika aku bersabar, aku akan


bisa mencintainya," ujar Rengga penuh keyakinan.


"Doakan kami  ya, Di, Al," pinta Rengga.


"Pasti Ngga, semoga kau benar-benar menemukan tempat melabuhkan hatimu," ujar Al dan melihat mata istrinya yang berkaca-kaca.


****


Beberapa hari kemudian nampak Key, menggunakan kursi roda menuju taman di rumah sakit, Diandra mendorongnya pelan.


"Enak di sini mama," ujar Key lirih.


"Yah, biar kamu nggak bosan, dan sudah ijin dokter kamu boleh jalan-jalan di taman," ujar Diandra.


"Tahu nggak sayang, om Rengga sama tante Silmi mau nikah, jika Key segera pulih, kita datang sama-sama sayang," ujar Diandra.


"Kita ke sana yuk, dekat kolam," ajak Diandra mengalihkan pertanyaan Key.


"Mamaa, om Saga, datang kan?" rengek Key lagi.


"Mama juga tidak tahu sayaang," sahut Diandra menjawab pertanyaan anaknya.


Keysa diam saja, ia terlihat murung.


Tak lama Diandra membawa Key masuk ke kamar dan membaringkannya lagi dibantu oleh perawat.


"Key ngantuk mama," ujar


Key pelan, dan mulai memejamkan matanya. Diandra mengusap rambut Key,


menatap wajah tirus yang tetap terlihat cantik baginya.


Tak lama Al muncul dan terlihat keresahan di wajahnya.


"Ada apa Al?" tanya Diandra.


"Aku tadi menemui dokter


yang  merawat Key, mengapa alat bantu napas terpaksa dipakaikan lagi ke


Keysa, bahka dipakaikan terus kan, ada tabung kecil yang bisa dibawa


Key saat dia ke mana-mana di area rumah sakit, itu karena kemarin saat


Key sesak lagi dan diperiksa menyeluruh ada kelainan di jantung Key,


sayang," Al memeluk Diandra saat air mata meluncur dari mata indah


istrinya.


"Kita akan melakukan apapun untuknya, tadi aku sempat berdiskusi lama, akan dilakukan operasi pemasangan ring pada Key,"


"Operasi lagi Al?"


Dan Diandra menangis lagi, ia menutup mulutnya kawatir Key yang baru saja terlelap, bangun lagi.


"Maafkan aku Di, mungkin ini hukuman untukku yang telah menyia-nyiakan kalian, ini saatnya aku membayar semuanya."


"Tidak Al, aku yang


salah, tidak menjaga kehamilan dengan baik, aku hanya terpuruk dan tak


memikirkan janinku saat itu," ujar Di lirih dan masih saja terisak.


"Ada apa Al, mengapa Diandra menangis?" tanya mama Al yang baru datang, dan dengan suara lirih Al, bercerita pada mamanya.


Mamanya terlihat sedih, mendekati pembaringan Key dan mengusap pelan rambut cucunya, air mata mama Al juga mulai merebak.


****


"Eh, Pak Rengga, kapan


sampai di sini? Jam berapa landing?" tanya Silmi kaget, karena Rengga


tak memberitahunya akan segera menemuinya.


"Barusan, tadi macetnya ampun deh, kota kecil tapi macet juga," ujar Rengga tertawa lebar.


"Eh, jangan dikira Pak


ya, ini kota pelajar meski kecil, makanya ruame, daripada di Jakarta


hayo, lebih macet mana? " ujar Silmi tak mau kalah.


"Ya panteslah Jakarta macet Sil, namanya juga ibu kota," sahut Rengga tidak mau kalah.


"Makan yok Sil, aku lapar, pengen bakso" ajak Rengga sambil tersenyum, dan Silmi kembali tertegun melihat senyum Rengga.


"Nggak usah gitu lihat wajah gantengku, biasa aja kali Sil," ujar Rengga dan Silmi jadi tersipu malu.


"Ih Bapak tahu aja," ujarnya pelan dan Rengga tertawa mendengar kepolosan Silmi.


"Kok ketawa sih Pak, salah ya saya?" tanya Silmi.


"Nggak, nggaaak, nggak


salah, aku memang ganteng, iya kan?" tanya Rengga mendekatkan wajahnya


ke wajah Silmi dan Silmi mengangguk ragu. Tawa Rengga kembali terdengar.


"Bapaak, saya kok


diketwain sih, ah sudah, sudah, ayo cari bakso, katanya Bapak pengen


Bakso, cari di daerah Suhat aja dah Pak, naik motor, pinjam punya OB,


biar cepet" ajak Silmi.


"Naaa bener, naik motor aja, ayolah," ajak Rengga dan kembali menggelengkan kepalanya mengingat kepolosan Silmi.


Sesampainya di tempat


yang dituju, mereka memesan dua mangkuk bakso komplit. Desisan dari


mulut Rengga tak lama terdengar, ia segera meraih es teh dan meneguknya.


"Ih pedes Sil," ujar Rengga.


"Lah, tadi padahal kan sedikit banget Pak, sambelnya," ujar Silmi.


"Iya aku nyoba, eh


ternyata pedes, biasanya juga aku nggak pake," ujar Rengga dan Silmi


meninggalkan Rengga, segera memesan semangkuk lagi dan menyodorkan ke


hadapan Rengga.


"Saya nggak mau lambung Bapak bermasalah, makan ini saja," ujar Silmi, mengganti mangkuk bakso Rengga.


Rengga tersenyum dan menatap Silmi yang terlihat canggung dan bingung.


"Ada yang salah Pak?" tanya Silmi.


"Makasih, sudah


mengkhawatirkanku," ujar Rengga dan Silmi menunduk menghindari tatapan


Rengga yang membuatnya kesulitan membuka mulutnya untuk menikmati bakso


siang itu.


****