
Al terlihat lega saat menemukan Diandra masih berada di hall tak jauh dari Rengga dan Silmi yang masih asik berfoto dengan para karyawan butik milik Diandra.
"Lalu aku dengan siapa di Jakarta? Haruskah aku sendiri Di?"
Mata Al semakin lelah.
"Jika kau mencintaiku, kau kan ikut di manapun aku berada," ujar Diandra.
Al memandang wajah istrinya yang selalu terlihat cantik meski terlihat lebih tirus dari biasanya.
"Gimana, kalian ikut nginep di hotel ini apa?" Tiba-tiba suara Rengga memecahkan kebisuan mereka berdua.
Terlihat Silmi dan Rengga yang meski lelah namun bahagia, mereka tersenyum lebar dan sempat mengajak foto berempat dengan gaya santai.
"Nggak Ngga, kami langsung ke rumah yang di Ijen, yang di Lowokwaru kan ada Oma Dice yang urus," sahut Diandra.
"Akhirnya gimana rencana kalian?" Tanya Rengga lagi.
"Kami akan membicarakan itu di rumah Ngga, kami pamit," ujar Al sambil menggenggam tangan Diandra dan mengajaknya pulang.
***
Setelah membersihkan diri, Diandra naik ke kasurnya, memeluk guling dan tidur menyamping.
Diandra merasakan kasurnya bergerak dan lengan Al sudah memeluk pinggangnya.
"Kau tak bertanya, aku baik-baik saja apa tidak?" Tanya Al.
"Kau datang ke sini berarti baik-baik saja, mengapa harus bertanya, bukankah kau selalu baik-baik saja, banyak wanita yang menemanimu," sahut Di dengan suara pelan.
"Kau tak mau bertanya tentang apa yang kau lihat di ruangan ku, kau berasumsi sendiri dan pergi menghilang," ujar Al.
"Aku sudah tahu dari mama, dan juga sudah tahu jika Nesya tak bisa lepas dari perjanjian itu, selamanya Nesya akan jadi pasangan laki-laki itu ada surat perjanjian bermeterai, lalu mengapa ia tak lapor polisi jika ada kekerasan fisik, mengapa justru lari padamu, tak masuk akalkan, apa memang dia ingin menikah denganmu? Aku bisa mengalah, silakan jika kau ingin melanjutkan hidupmu dengannya" Sahut Diandra dengan suara agak meninggi.
"Kau marah sayang? Kau cemburu?" Tanya Al.
"Yah karena aku istrimu,"sahut Di.
"Jadi besok kita pulang kan sayaaang,"
"Bukan pulang, aku akan menjemput Keysa," ujar Diandra.
"Mama akan kembali bersama Almira," ujar Diandra lagi
"Dan aku?" Tanya Al lagi semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau yang tahu sendiri jawabannya, apa yang harus kamu lakukan untuk rumah tangga kita, lanjut, atau selesai sampai di sini," ujar Diandra.
Al memejamkan matanya, ia tak ingin jauh dari Diandra lagi, ia harus membuat keputusan besar demi rumah tangganya, perusahaan ia pikir belakangan.
***
"Aaah akhirnya kau datang sayaaang," mama Al memeluk Diandra.
Dan Keysa muncul, dengan wajah lebih ceria, langkahnya lebih kuat dan mulai bisa berjalan wajar.
"Mama, Keysa ikut di manapun mama berada, Om Saga juga akan menunggu Key, ini Key dapat surat dari Om Saga, dia bilang sibuk banyaaak kerjaan di luar negeri," ujar Keysa.
"Mama mau baca surat dari Om Saga?" Tanya Key dan ia memberikan surat itu pada mamanya.
"Aku kemarin ke sana Di, dan dapat titipan itu," sahut mama Al.
"Ayo, istirahatlah dulu kamu Di, pasti capek, sana mandilah dulu," ujar mama Al.
"Nggak ada waktu ma, lusa, kami, saya dan Keysa akan kembali ke Malang,"
Mata mama Al terbelalak.
"Jadi, keputusanmu telah bulat?" Tanya mama Al.
"Ya, saya bersyukur, butik dan usaha garmen tidak jadi saya jual, saya akan melanjutkannya lagi,"
Diandra melangkah ke kamarnya dan Al masih saja mematung.
****
"Kamu gila apa? Nggak Al, aku bukan orang yang tepat," ujar Gery saat Al meminta bantuan Gery untuk menggantikannya selama ia berada di Malang.
"Ger, ada Almira juga, kau tidak akan sendiri, dan mama juga setuju calon mantunya yang pegang perusahaan, dan aku tidak akan melepasmu, aku sesekali akan ke Jakarta, di Malang aku sudah buka cabang perusahaan kita, ayolah Ger," pinta Al.
"Kau harus janji paling lama sebulan sekali kau lihat kerajaanku, aku kawatir aku gak becus Al," ujar Gery terlihat putus asa karena akhirnya ia tak bisa menolak permintaan Al.
"Satu hal lagi, jangan minta aku bisa tampil sepertimu yang harus pakai pakaian mahal ke kantor, aku cuma jongos, jangan jadikan aku raja," ujar Gery dan mata Al menatap Gery dengan tajam.
"Kita lama bersahabat Ger, kau selalu ada di dekatku saat aku mengalami masa sulit, aku tak pernah menganggapmu jongos, kau sudah seperti saudara bagiku," ujar Al.
Dan mereka akhirnya saling memeluk.
***
Pagi hari Diandra pamit pada mama Al, dan Keysa juga terlihat cantik dengan rambut terurai sebahu, dan blouse warna peach selutut, Sling bag warna senada dan sneakers bunga-bunga.
"Kami pamit mama, kami akan berkabar dan jika ada waktu kami akan mengunjungi mama di sini," ujar Diandra dan matanya memanas, ia hanya sedih akhirnya ia dan Al akan benar-benar terpisah oleh jarak.
" Sudah pamit pada Al?" Tanya mama Al.
"Ngapain mesti pamit pada Al, Mama, Al juga ikut mereka pindah ke Malang, Al sudah menyiapkan semuanya, siapa yang pegang perusahaan di sini, dan semua akan Al urus dari Malang, di sini Gery dan Almira yang akan menghandle, aku akan selalu berada di sisi istri dan anakku ma,"
Dan Diandra memeluk Al dengan erat, ia menangis sejadinya, berterima kasih dan berucap syukur pada Tuhan, akhirnya dia mendapatkan kembali keluarganya secara utuh.
****
"Selamat datang kembali di Malang Keysa, di sini Key lahir dan di sini kita akan merajut kebahagiaan kembali," ujar Diandra saat pagi hari pertama setelah mereka memutuskan pindah kembali ke kota yang memiliki banyak kenangan tentang perjuangan hidup Diandra saat memutuskan jauh dari Al.
Diandra memeluk anaknya. Mengusap rambut tebalnya. Mereka melihat ke luar jendela, melihat keramaian kendaraan yang melewati jalan Ijen.
"Key juga merasa lebih betah di sini mama, lebih nyaman," ujar Keysa.
Al melangkah menuju anak dan istrinya yang melihat keramaian kota Malang di pagi hari.
"Welcome to the new world, kita akan selalu bersama, menghadapi segalanya, semoga di sini kita memulai hidup lebih damai dan nyaman," Al memeluk Diandra dan Keysa.
**** END ****