
Sejak Key dinyatakan
sadar oleh dokter, Al dan Diandra semakin ingin selalu berada di dekat
Key. Diandra yang awalnya sempat kembali ke rumah meski sebentar,
bergegas ke rumah sakit saat Al berkabar Key telah sadar.
Meski telah sadar, Key
terlihat masih sangat lemah, anak kecil ringkih itu hanya berkomunikasi
lewat kedipan mata dan gerakan tangan saat Al atau Di bertanya dan
mengajaknya bercakap-cakap.
Al dan Di sempat
kawatir, tapi dokter mengatakan masih butuh proses, bisa karena shock
atau kondisi Key yang masih lemah membuatnya malas bicara. Tapi
kedepannya dokter menyarankan agar Key didampingi oleh seoramg psikolog
agar ia menghilangkan trauma karena peristiwa mengerikan itu.
Juga perlu dokter syaraf dan fisioterapis agar lengan kanan Key bisa bergerak normal kembali.
****
"Jaga Key, aku mau
menemui pihak kepolisian untuk penyidikan, mereka butuh aku sebagai
saksi, sebenarnya kamu juga sayang, tapi biar kita gantian, agar Key ada
yang menemani," ujar Al.
"Tidak apa-apa kalian berdua berangkat sana, mama yang akan menjaga Key," ujar mama Al.
"Yah aku ingin ikut Al, aku ingin tahu wajah penembak Key."
Diandra terlihat
penasaran dan Al tak ingin Di segera tahu, Al masih merahasiakan dari
istri dan mamanya. Ia hanya tak ingin mamanya semakin membenci Saga dan
istrinya shock jika tahu salah satu malaikat penolongnya yang telah
menembak anaknya.
Tapi Diandra tak bisa ditahan lagi, ia tetap ingin mendampingi Al bertemu pihak kepolisian.
Mobil telah disiapkan
dan beberapa pengawal Al juga ikut dalam mobil terpisah, Al hanya
kawatir nanti pasti akan banyak awak media saat mereka sampai di tempat
penyidikan.
****
"Baik Bapak Afalmer dan
Ibu Diandra, bisa jelaskan pada kami bagaimana cerita awal detik-detik
terjadi penembakan oleh tersangka? dari Bapak Afalmer dulu baru
kemudian Ibu Diandra, kami butuh kronologinya," petugas dari pihak
kepolisian bertanya.
Al dam Diandra bergantian menjawab beberapa pertanyaan dengan lengkap.
"Pak, boleh kami tahu, siapa penembak anak kami?" tanya Diandra.
"Baik kami akan
mempertemukan Ibu dan Bapak dengan tersangka, tapi tidak secara
langsung, saat ini juga sedang dilakukan penyidikan lanjutan pada
tersangka, Bapak dan Ibu dapat melihat tersangka, tapi tersangka tidak
akan melihat kita, mari Bapak, Ibu, ikut kami."
Al dan Diandra mengikuti langkah petugas menuju tempat yang dikatakan petugas tadi.
Dan mulut Diandra
terbuka lebar, dia menggeleng dengan keras sambil menutup mulutnya dan
air mata Diandra mengalir dengan deras.
"Tak mungkin Al, tak mungkin dia."
Al memeluk Diandra yang menangis tergugu di dadanya.
Kini Diandra tahu, meski tak dijelaskan siapa sebenarnya sasaran tembak Saga.
Dari balik kaca, Diandra
sempat melihat Saga yang duduk dengan tegap, juga wajah dinginnya yang
menjawab pertanyaan petugas, meski ia tak mendengar apa yang mereka
percakapkan, telinganya terlanjur berdenging, napasnya memburu dan
terasa sesak dadanya.
****
Selama perjalanan kembali ke rumah sakit Diandra masih saja menangis, ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Aku yakin sebenarnya ia
ingin menembakmu Al, tapi Key yang kena, mengapa Saga bisa setega itu?
apa alasan dia sangat membencimu? meski katamu karena mamanya lebih
mencintaimu rasanya terlalu mengada-ada dia ingin menembakmu hanya
karena alasan itu," ujar Di sambil terisak.
"Tenanglah sayang,
jangan kau ingat-ingat dulu kau semakin sakit, lihat kondisimu sekarang,
meski tetap cantik, kau terlihat kuyu dan layu," Al meraih tubuh
Diandra, ia peluk erat ke dalam dekapannya. Mobil melaju sedang, sopir
Al mengerti bahwa bosnya sedang dirundung duka.
Al mengusap air mata Diandra, ia raih dagu Di, ia kecup sekilas bibir Di masih saja bergetar karena menangis.
"Tenanglah sayang, tenanglah," ujar Al lagi.
"Apakah Rengga tahu?" tanya Di dan Al mengangguk.
"Berarti kalian tahu lebih dulu?"
"Gery yang mencari informasi Di."
"Mengapa kau tak segera memberitahuku?"
"Aku tak ingin kau
semakin sedih saat itu, awal-awal Key masuk rumah sakit kau seperti itu
kan, sering menangis histeris, kadang tidur dalam pelukanku tapi kau
sering tiba-tiba kaget dan menangis lagi, aku hanya tak ingin kau
semakin kalut," ujar Al memberi alasan.
****
"Apaaa, Sagaaa, ya
Tuhan, dia," mama Al menangis sambil memegang dadanya, saat Al
menceritakan semuanya sesampainya di rumah sakit, terpaksa ia ceritakan
karena mamanya memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.
"Mengapa dia jadi setega itu," suara tangisan mama Al terdengar semakin keras.
"Maaa, mamaaa, tenang,
kami lebih hancur dari mama, tapi kami berusaha tabah, dia juga korban
maaa, ingat dia anak yang sakit sejak kecil, dia tak pernah mendapat
kasih sayang yang utuh, makanya dia dendam padaku karena seolah aku
merebut apa yang dia punya, kasih sayang mama, papanya, bahkan mungkin
hartanya," ujar Al sambil memeluk mamanya.
****
Ya Sil?
Bapak nggak ada rencana ke Ibu Diandra lagi? ke rumah sakit?
Iya mungkin nanti sore,
Bareng ya Pak, tunggu saya
Baiklah, kamu ke aku saja ya Sil
Kemana Pak?
Ke kantor ku, nanti aku kasih kamu alamatnya eh gini saja, kamu jam berapa sampai, nanti aku jemput ke bandara
Oh nggak ngerepotin Pak?
Ah nggak lah, sampai nanti
****
Sesampainya di rumah sakit, Rengga dan Silmi terlihat ikut bahagia saat mendengar Key sudah sadar.
Al dan Rengga duduk agak jauh dari Diandra dan Silmi, hingga keduanya lebih bebas berbicara tentang Saga.
"Dia bisa senekat itu
tenyata aku baru tahu, jika diam-diam Saga mencintai Diandra, dia sangat
marah saat mendengar kalian menikah lagi, dan foto-foto kalian saat
masuk ke resort, tersebar di berita online," ujar Rengga.
Mulut dan mata Al terbuka, ia tak menyangka Saga juga mencintai istrinya.
"Bagaimana mungkin?" tanya Al masih tak percaya.
"Aku juga baru tahu, dan aku juga sulit percaya, seandainya aku tak mendengarnya sendiri," ujar Rengga.
"Aaahhh hidup, kita memang benar-benar tak tahu ke mana arahnya," ujar Al lirih.
****
"Mau ke mana ini Pak?" tanya Silmi saat Rengga memutar arah setelah mereka pamit pada Al dan Di.
"Ke apartemenku sebentaaar saja ambil dokumen," ujar Rengga.
****
"Masuk Sil, tuh kalau
haus ambil minuman di kulkas itu," Rengga melangkah ke kamarnya,
terlihat duduk dan membuka-buka dokumen rancang bangun sebuah gedung
lalu terlihat sibuk menelpon.
"Ya Allaaah."
Terdengar suara Silmi dan Rengga bergegas ke luar.
Rengga kaget dan tertawa saat melihat minuman dingin yang tumpah di dada Silmi.
"Gimana sih, kamu kayak anak kecil Sil."
"Maaf ini kaleng kedua
yang saya minum Pak, saat mau balik ke sini eh ke senggol kulkas, yah
tumpah, mana bluose saya jadi merah gini, dan saya nggak bawa ganti
karena saya mau langsung pulang," ujar Silmi.
"Gini Sil, kamu cuci dulu sana, kucek dikir gitu, lalu keringkan pakai setrika," ujar Rengga.
"Bapak punya setrika, rasanya nggak percaya deh,"
"Aku bukan Al yang kaya
raya tinggal tunjuk dan suruh, aku kere Sil biasa kerja sendiri, apalagi
sejak sma mama sudah meninggal, yah biasalah kerja ini itu,"
"Ayo cepat buka bajumu, sana ke kamar mandi,"
"Lah saya pakai apa Pak?"
Rengga tertawa dan masuk ke kamarnya.
"Nih pakai kaosku, pasti kebesaran ke kamu,"
"Lah bawahnya pakai apa Pak?" tanya Silmi bingung.
"Ya nggak usah Sil, kan kaos itu besar, pasti di atas lututmu, kamu kan pendek,"
"Ya Allah Bapak, nggak usah disebutin lah aib saya,"
Tawa Rengga terdengar keras dan menepuk bahu Silmi.
"Kamu ini ngoceh saja, sana masuk ke kamar mandi, tuh ke kamar satunya, aku mau melanjutkan kerjaan bentar,"
"Iya Pak, makasih,"
****
Satu jam berlalu sampai pekerjaan Rengga selesai, namun Silmi tak kunjung ke luar dari kamarnya.
Rengga melangkah ke kamar satunya dan membuka perlahan.
Ia terkesiap saat melihat Silmi tidur dengan hanya memakai kaos miliknya.
Silmi tertidur lelap,
dengan kaos hanya sebatas pahanya. Dada Rengga berdegup kencang, ia
laki-laki normal dan pemandangan di depannya membuatnya hangat seketika,
secepatnya ia tutup kembali.
Melangkah ke kamarnya
dan membuka baju secepatnya, lalu menuju kamar mandi, dan menghidupkan
shower, berusaha mendinginkan kepalanya, menghilangkan pikiran aneh,
karena seumur-umur ia tak pernah merasakan badannya bereaksi secepat
ini.
Bahkan bertahun-tahun berpacaran dengan Diandra dia tak pernah merasakan badannya panas seperti tadi.
Rengga merasakan miliknya yang sejak tadi mengeras, tak juga lemas meski telah lama berada di bawah shower.
Ia sentuh miliknya, lalu menggerakkan tangannya secepat mungkin, ia pejamkan matanya.
"Ah shit mengapa wajahnya yang muncul,"
Rengga terengah dan
dengan lirih menyebut nama Silmi saat ia telah sampai, ia merasakan
lelah yang teramat sangat. Ia sandarkan badannya, merasakan miliknya
masih saja mengeras, mengulang sekali lagi, dan nama yang sama ia
sebutkan saat erangan panjang akhirnya ke luar dari mulutnya.
****
Selama perjalanan
mengantar Silmi ke bandara Rengga diam saja. Ia merasa canggung untuk
menatap wajah Silmi, ia merasa telah jadi brengsek hanya karena
mengingat wajah Silmi saat ia di kamar mandi tadi.
"Paaak, Bapak marah ya? Kok diam saja?"
"Ah eh apa?"
"Tuh kaaan Bapak nggak dengar, Bapak kok diam saja, Bapak marah sama saya?"
"Ah nggak, kenapa harus marah sama kamu, aku hanya capek saja," sahut Rengga perlahan.
"Capek? Bapak ngapain aja sampe capek? Perasaan bapak duduk-duduk saja deh," Silmi menatap wajah Rengga dari samping.
Wajah Rengga memerah dan terlihat gugup.
"Ck kamu mau tahu aja."
****