A STORY ABOUT LOVE

A STORY ABOUT LOVE
Episode 28



"Apa? Suaminya? Kamu tak salah info Ger?" tanya Al saat Gery menemui Al di kantornya.


"Mantan suami tepatnya," sahut Gery cepat.


"Yang benar Ger? Tahu dari mana?" tanya Al lagi, ia terlihat sangat penasaran.


"Laki-laki itu masih di


sana, dia pengusaha terkenal di Okinawa, Hiroshi Yanai namanya, mereka


sempat menikah dan punya anak, sayang mereka bercerai dan hak asuh anak


jatuh ke tangan laki-laki itu, karena Maya sempat depresi dan lari ke


obat-obat terlarang, tadi di rumah Maya masih banyak pelayat yang masih


hilir-mudik, beberapa ada berbicara tentang mereka, bahkan laki-laki itu


juga ikut menemani tamu," ujar Gery lagi.


"Makin penasaran aku


Ger, lalu apa maksud orang tua Maya hendak menjebakku dengan perasaan


kasihan agar menikahi anaknya saat dia telah sekarat, hingga mengatakan


pada Diandra yang jadi pengalang kebahagiaan anaknya, Diandra sampai


tertekan, dia merasa telah mengambil kebahagiaan orang lain, trus gimana


ceritanya Maya bisa akrab sama obat terlarang? Heh gara-gara masalah


pelik ini istriku jadi merasa bersalah dan terus melamun mengingat


kata-kata mama Maya" ujar Al berang.


"Aku ingin menemui mereka setelah tamu-tamu agak berkurang," ujar Al lagi.


"Silakan saja Al agar


jelas semuanya, yang aku tahu, sebenarnya Hiroshi sudah memiliki istri,


Maya baru tahu setelah mereka menikah dan tak lama hamil, Maya kecewa


karena Hiroshi lebih mencintai istri pertamanya, ah aku pergi dulu Al,


ini masih ngurus ini itu," ujar Gery pamit dan Al menepuk pundak Gery.


"Maaf selalu merepotkanmu," ujar Al.


Al masih melamun di


ruangannya dan benar-benar tak mengerti jalan pikiran Maya dan orang


tuanya, menjadikannya sebagai bahan lelucon, untung dirinya teguh


pendirian meski hampir saja dirinya terjebak rasa kasihan.


Setelah semuanya


berlalu, nantinya Al pasti akan menemui mereka, Al perlu penjelasan,


agar semuanya jelas. Al merasa dirinya hanya dijadikan tempat sandaran


terakhir saat semuanya semakin rumit.


****


"Besok in shaa Allah om


Saga ke sini Key,  pasti papa masih di kantor ya Key?," ujar Diandra


sambil menatap Key yang terlihat bahagia.


"Benar mama?" tanya Key.


"Yah, om Saga kangen Key, Key harus sehat, Key harus banyak makan biar om Saga sering ke sini," bujuk Diandra.


"Iya Key mau makan mama?" ujar Key terlihat bersemangat.


"Pinter, anak mama


cantik harus makan, ini adiknya kakak Key juga makan pas mama makan,"


ujar Diandra mengelus perutnya dan mata Key berbinar bahagia.


"Key mau punya adik?"


"Iyah, makanya kakak Key


harus kuat, nanti kan ngelindungin adik," ujar Diandra, tak lama makan


siang diantar oleh karyawan rumah sakit dan Keysa terlihat mulai


menikmati makanannya.


Saat menyuapi Key,


Diandra menoleh karena pintu yang terbuka dan terlihat Al tersenyum


cerah melihat dua wanitanya juga tersenyum melihatnya.


"Ini kakak Key makan banyak pa, soalnya nanti mau jaga adik, dan mau ketemu om Saga," ujar Diandra dan Key tersenyum.


"Ah papa bahagia, nanti kalo Key sudah sehat dan pulih, kita jalan-jalan bertiga," ujar Al.


Key menunjuk perut Mamanya dan memperlihatkan 4 jarinya.


"Eh iya sayang berempat," ujar Al tertawa.


****


"Nanti Malam aku balik ke Jakarta Sil, ikut?" ajak Rengga.


"Mau sebenarnya mas tapi kerjaan banyak, pesanan terus galir, terutama yang online itu duh pusing," ujar Silmi.


"Nanti pas mau nikah,


cuti ya Sil, biar kamu seger pas nikah, kan malam pertama perlu


persiapan," goda Rengga dan Silmi jadi memerah wajahnya.


"Ih mas Rengga mikirnya dah sampe sana," sahut Silmi malu-malu.


"Lah mikir apa lagi,


umurku sudah lebih dari cukup, ketuaan malah, umurmu loh masih 23, aku


kan sudah 30 lewat, mau nikah ya mikirnya pasti ke sana," ujar Rengga


lagi sambil tertawa.


"Ih, nggak usah dipikir malu," ujar Silmi lagi.


"Eh jangan malu, ntar aku ajarin," Rengga semakin berani menggoda Silmi. Silmi membuka matanya lebar-lebar.


"Eh memang mas udah pernah tahu begituan?" tanya Silmi.


"Belum," jawab Rengga jujur.


"Lah gimana mau ngajarin


Silmi kalo mas juga nggak pernah? eeehhh pasti mas lihat film begituan


memicingkan matanya.


"Lah kamu juga kok tahu


kalau mendesah-desah film begituan, pasti suka nonton juga ya? Hayo


ngaku kamu," Rengga menarik tangan Silmi yang berusaha mengelak sambil


berusaha melepaskan tangan Rengga.


"Ih itu dulu mas, sudah


nggak lagi, cuman satu kali sama teman-teman pas kuliah dulu, ada yang


nakalan bawa gituan, maas lepas ah, sakit," ujar Silmi menarik tangannya


namun yang terjadi dirinya malah ditarik Rengga dalam pelukannya.


Keduanya lama terdiam.


hanya mendengarkan detak jantung masing-masing, danSilmi mendorong


perlahan dada Rengga. Rengga malah makin mengeratkan pelukannya.


"Boleh kan, cuman meluk


aja, setelah ini mas balik, mungkin agak lama ke sini lagi karena papa


akhirnya nikah sama sekretarisnya itu, akan lebih baik begitu dari pada


mereka selalu melakukan tanpa ikatan sah, dan aku serta kakak-kakakku


akan mengurus pengambil alihan perusahaan, kakak-kakak kawatir wanita


itu akan menguasai papa, aku sadar Sil, tidak semua laki-laki tahan


siksaan kebutuhan biologis, apalagi sekretaris papa modelnya penggoda


gitu, sejujurnya aku kasihan papa nikah sama wanita itu, wanita yang


telah tidur dengan banyak laki-laki, tapi mau bagaimana lagi, itu sudah


keputusan papa,"ujar Rengga sambil mendekatkan hidungnya ke rambut Silmi


dan menciumnya dengan sepenuh hati.


"Kalau mau menuruti


nafsu, maunya pingin nyiumin kamu Sil, semuanya yang ada di kamu, tapi


kan kita belum sah, aku yakin sekali kita nyoba, kita akan melakukannya


lagi, dan lagi," ujar Rengga lagi lalu melepas pelukannya, memandang


Silmi dari jarak dekat.


"Mau kan nunggu sampai kita nikah?" tanay Rengga dan Silmi mengangguk.


"Kalau saya sih iya, kalau mas pasti dah pengen sejak lama ya?" tanya Silmi dengan wajah polos.


Rengga tertawa dan mencubit pipi Silmi.


"Iya, aku sudah nggak tahan, pengen nyubit pipi kamu yang tembem ini,"


"Biar aja temben tapi kan mas suka,"


Lagi-lagi Rengga tertawa


dan mendekap kepala Silmi ke dadanya. Merasakan kedamaian yang baru ia


rasakan sejak dekat dengan Silmi.


****


"Om Saga? Ooomm," Keysa menatap Saga yang bercucuran air mata di dekatnya.


"Kamu sehat sayang?" tanya Saga dengan suara tercekat.


"Key sehat, kok om nangis?" tanya Key lagi.


"Om senang Key sehat, nanti kita jalan-jalan lagi ya?"


Keysa mengangguk dan merasakan Saga yang menciumi jari-jarinya.


"Om kok diantar bapak polisi?" tanya Keysa dan polisi yang menjaga Saga tersenyum pada Keysa.


"Pak polisi ini temannya


om sayang, makanya dia ikut,"sahut Saga dan saat polisi memberi kode


dengan berat hati Saga pamit pada Keysa dan mencium kening Keysa agak


lama.


"Sehat ya sayang, tunggu


om, om yakin kita akan bisa main lagi, bai Keysa," Saga melambaikan


tangannya dan melangkah dengan berat, sekali lagi menoleh dan polisi


yang mengikutinya menutup pintu kamar Keysa.


Di luar kamar, Diandra menunggu dan memeluk Saga. Mereka sama-sama menangis. dan melepas pelukan dengan sedih.


"Maafkan aku," bisik


Saga. Diandra hanya mengangguk. lalu menatap pilu saat borgol kembali


dipasang dan Saga melangkah bersama beberapa orang polisi dan


pengacaranya.


****


"Ah kau Al, duduklah," ujar papa Maya. Al kembali ke rumah orang tua Maya setelah tujuh hari kematian Maya.


Tak lama muncul mama Maya, masih dengan mata sembab. Dududk di samping suaminya dan berusaha tersenyum pada Al.


"Rasanya tante sulit


melupakan Maya, dia anak kami satu-satunya Al dan kami semakin merasa


berdosa karena keinginan terbesarnya untuk menikah denganmu tak


tercapai, dia menunggu saat-saat itu," ujar mama maya.


"Maafkan saya tante,


hanya yang saya herankan mengapa disaat terakhirnya Maya malah ingin


menikah dengan saya, mengapa tidak terbersit untuk berkumpul bersama


anak dan suaminya?" tanya Al dengan suara berat.


Mama dan papa Maya kaget, ia tak mengira Al tahu kisah hidup anaknya.


****