
Al merasakan hal aneh
pada Diandra sepulang melayat dari rumah orang tua Maya. Diandra lebih
sering menghindari kontak mata dan terlihat sering melamun. Meneguk
salivannya denga berat dan tampak mengusap matanya berkali-kali.
Sampai akhirnya mama Al
pamit pulang dan kembali ke rumah megah mereka. Barulah Al menghampiri
Diandra yang duduk termenung di dekat pembaringan Keysa. Menarik
tangannya menjauhi Keysa yang tidur nyenyak setelah sebelumnya sempat
bertanya Saga lagi.
"Ada apa, mengapa
wajahmu, mengapa begini?" tanya Al cemas, sambil mengusap pipi istrinya
dan Diandra menggeleng sambil berusaha tersenyum.
"Nggak papa, bener, aku lelah saja Al," ujar Diandra pelan.
"Jangan bikin aku resah Di, jangan bikin aku bingung," pinta Al memelas.
"Aku melihat kau bicara
lama dengan mamanya Maya, apa yang kalian bicarakan, kamu hanya menunduk
dengan wajah sedih, ada apa?" tanya Al kemudian.
Diandra menatap mata suaminya, berusaha mencari sesuatu di mata kelam itu.
"Kau berjanji apa pada mereka?" tanya Di dengan wajah lelah.
"Janji? Janji apa?" tanya Al bingung.
"Kau berjanji pada Maya kan, pada mamanya juga? Bahwa kau akan menikahinya setelah dewasa?" tanya Di dengan nada sedih.
"Ya Allah Di, apakah
omongan anak kecil akan jadi hal serius? Saat aku dan Maya sama-sama tk
kami sering main papa dan mama dengan boneka milik Maya, lalu setelah
mulai smp oleh mama kami sering dijodoh-jodohkan tapi aku tak
menanggapi, karena aku tak pernah mencintai Maya, dia bagaikan adik
bagiku meski usia kami hanya terpaut beberapa bulan, lalu apakah itu
dikatakan janji? Setelah itu mamaku meninggal dan selesai cerita itu,
apakah itu dikatakan aku dan mamaku punya janji pada mereka? " tanya Al
heran.
"Tapi Maya benar-benar
menunggumu, dan mereka sedikit, sedikit menyalahkan aku, yang tiba-tiba
hadir dalam kehidupanmu, seandainya aku tidak ada maka kalian pasti
menikah," suara Diandra semakin pelan.
"Itu kata mama Maya?" tanya Al penasaran dan Diandra diam saja.
"Apakah aku telah
merebut kebahagiaan yang mestinya milik orang lain Al?" tanya Diandra
mulai terisak. Al meraih tubuh Diandra ke dadanya, mendekapnya dengan
erat.
"Tidak Di, kau adalah
bahagiaku, lalu Key dan adiknya yang akan menyempurnakan, jangan pernah
berpikir bahwa kau merebut kebahagiaan Maya, semua telah diatur oleh
Allah, pertemuan tak sengaja kita, meski kau tak pernah tahu jika aku
yang menguntitmu sejak awal kau ikut papamu dulu, menjadi awal kisah
bahwa kau selamanya akan jadi milikku, tidak yang lain Di, jangan pernah
berpikir yang tidak-tidak, jika akhirnya Maya tidak berjodoh denganku
itu juga Tuhan yang mengatur, bukan kau yang merebut kebahagiaan Maya,"
Al melepas pelukannya menatap wajah sedih istrinya yang masih saja meneteskan air mata.
"Apa perlu aku
mendatangi orang tua Maya untuk menjelaskan semuanya, bahwa aku yang
memilihmu, bukan kau yang datang padaku?" tanya Al kembali mengangkat
dagu Diandra.
"Tidak jangan Al, seolah
aku yang mengadukan semua kegundahanku, biarlah, aku hanya merasa
bersalah pada orang tua Maya, melihat air mata orang tua itu mengalir
karena anaknya tak bahagia, dan penyebabnya adalah aku, membuat dadaku
sesak, mereka benar-benar berharap kalian jadi suami istri, karena
anaknya yang katanya hanya mencintaimu," ujar Diandra.
"Tapi aku tak yakin Di,
mengapa saat penyakit itu parah mereka baru pulang dan mencariku,
logikanya jika Maya memang mencintaiku sejak dulu, mengapa pulang ke
Indonesia saat kankernya sudah menyebar ke mana-mana, seolah aku hanya
dijadikan sandaran saat Maya telah sekarat," ujar Al.
"Entahlah Al, aku tadi
melihat sekilas seorang laki-laki baru datang saat kita akan pulang,
berperawakan kecil, seperti laki-laki Asia pada umumnya namun berbicara
dalam bahasa Inggris dengan mamanya Maya, laki-laki itu terlihat
menangis dan menyesal terlambat mengetahui Maya yang telah meninggal
dunia," ujar Diandra.
"Yah aku juga melihatnya namun, karena dia berada di antara kamu dan mamanya Maya aku tak jelas dia bilang apa," ujar Al.
"Aku akan mencari tahu, dia tak akan sehari di sini, aku akan menghubungi Gery," ujar Al lagi.
"Tak usah Al,' Diandra mencegah.
"Setidaknya agar rasa
bersalahmu berkurang, aku tahu bahwa kau akan terus berpikir bahwa kau
yang mengambil kebahagiaan Maya, aku mencintaimu Di, tak akan aku
biarkan kau bersedih seperti ini," Al mencium kening Diandra dan
beranjak menuju Key saat anak itu terdengar memanggilnya.
****
"Gimana perkembangan Key, Pak?" tanya Silmi pada Rengga, saat laki-laki itu kembali berkunjung ke kantor Silmi.
"Alhamdulillah semakin
baik, aku kadang membawa rekaman suara Saga, videonya baru saja aku
Saga yang menyapa Key, meski tak bertemu secara langsung paling tidak
bisa mengobati kerinduan Key pada Saga," jawab Rengga sambil
memperhatikan Silmi yang mulai mengakhiri pekerjaannya.
"Capek Sil?" tanya Rengga dan Silmi hanya tersenyum.
"Lumayan capek Pak,
karena saya mengantikan semua kewenangan Ibu Diandra, beliau sudah
menyerahkan sepenuhnya butik dan usaha konveksi ini pada saya, Pak,"
ujar Silmi.
"Dan kapan kamu berhenti memanggilku Pak? Nggak romantis sama sekali," goda Rengga, wajah Silmi memerah.
"Eeeeemmm lalu saya harus memanggil apa?" tanya Silmi canggung.
"Terserah kamu, asal jangan Pak, Bapak, duh nggak enak masa sama calon suami manggil Bapak?" tawa Rengga mulai terdengar.
"Mas saja nggak papa?" tanya Silmi berusaha tersenyum karena malu dan bingung.
"Ok mas saja, dan kita makan yuk Sil," ajak Rengga.
"Saya sudah pesan tadi,
ntar lagi datang, nanti OB yang bawain ke sini mas," ujar Silmi dan dia
kaget mendengar suaranya sendiri yang memanggil Rengga dengan panggilan
baru.
Rengga tersenyun sambil menatap Silmi yang salah tingkah.
"Salah lagi?" tanya Silmi.
"Nggak, rasanya beda saat kamu panggil mas,"
Keduanya menjadi canggung dan saat OB mengetuk pintu, keduanya bernapas lega. Suasana kaku menjadi teralihkan.
****
Silmi menatap wajah Rengga yang tertidur dan terlihat lelah di sofa ruangan Diandra yang kini telah menjadi ruang kerja Silmi.
Silmi membiarkan Rengga
tertidur, ia kembali melanjutkan pekerjaannya, melihat laporan dari
sfatnya dan melihat bahan baku yang mulai berkurang, lalu terlihat asik
menelpon seseorang.
Tak lama Rengga bergerak bangun dan membuka matanya.
"Ah aku tidur lama ya Sil?" tabya Rengga seperti kebingungan.
"Nggak papa, mas kayak kecapena gitu," ujar Silmi.
"Sudah kerjaan kamu?" tanya Rengga lagi.
"Ikut ke apartemenku
bentar yuk, ada aku beli buat kita berdua, maaf aku yang milih, semoga
aja cocok, bentar ya Sil aku numpamg kamar mandinya," Rengga bergegas ke
kamar mandi dan Silmi bersiap menunggu Rengga.
****
"Masuklah sil," ujar
Rengga bergegas masuk ke unitnya dan Silmi menutup pintu lalu duduk di
sofa, tak lama Rengga muncul dengan goodybag di tangannya lalu duduk di
dekat Silmi.
Dari dalam goodybag ia ke luarkan kotak beludru ungu, lalu ia buka, di dalamnya terdapat sepasang cincin kawin cantik.
Silmi terbelalak dan terlihat sangat menyukai pilihan Rengga.
"Cantik," ujar Silmi.
"Kamu suka?" tanya Rengg sambil menatap Silmi dari jarak dekat. Silmi mengamgguk.
"Mau di coba?" tanya Rengga lagi.
"Nggak usah, aku sudah
mengira jika mas akan beli cincin kawin karena pas terakhir ke sini kan
ngukur lingkar jari manis aku, cuman nggak nyangka aja, bentuknya manis
gini," ujar Silmi kembali memandangi cicin kawin di tangan Rengga.
Silmi merasakan hawa panas disekitarnya saat hembusan napas Rengga yang duduk di sampingnya terasa di pipinya.
Dengan dada bergemuruh Silmi memberanikan diri menoleh dan mendapati Rengga yang memandangnya dengan tatapan berbeda.
"Mas, kenapa? Ada yang
aneh dengan wajahku?" tanya Silmi dengan suara bergetar, melihat cincin
kawin yang telah berada di meja dan saat kembali menoleh pada Rengga ia
telah merasakan kecupan dikeningnya lama.
Lalu Silmi merasakan pelukan Rengga yang semakin erat.
"Maaf jika membuatmu
takut, ini yang pertama bagiku Sil, memeluk erat seperti ini ternyata
mendamaikan," bisikan Rengga ditelinga Silmi membuat dada Silmi semakin
tak karuan.
"Eeemm mas, aku juga nyaman dipeluk kayak gini, tapi takut," cicit Silmi dalam pelukan badan besar Rengga.
Rengga melepas pelukannya dan menundukkan wajahnya menatap wajah malu-malu Silmi.
"Takut?" tanya Rengga dan Silmi mengangguk.
"Takut mas nyium aku,"
sahut Silmi kembali menjatuhkan wajahnya di dada Rengga. Menahan malu
karena telah mengatakan apa yang dia pikirkan.
Rengga tersenyum dan merasakan kedamaian saat kembali memeluk badan Silmi, menciumi rambut harumnya.
"Yah, mas ingin nyium
Silmi tapi takut nanti malah keterusan dan kita nggak bisa berhenti,
biarlah kita nahan dulu," ujar Rengga sambil melepas pelukannya dan
merasakan nyeri di pangkal pahanya, saat ia menyadari miliknya menegang
sempurna. Ia segera bangkit dan Silmi terlihat bingung.
"Mas mau ke mana?"
"Ke kamar mandi bentar," sahut Rengga.
"Loh kan tadi sudah pas mau ke sini?" tanya Silmi terlihat bingung.
"Mas kebanyakan minum paling kok bolak balik ke kamar mandi," suara Silmi terdengar bergumam sendiri.
****