
Saga menghembuskan napas beratnya berkali-kali, menatap ke luar jendela pesawat, tampak awan-awan putih seolah mengejeknya.
Mengejek kekalahannya, kebodohannya dan kecerobohannya. Dendamnya telah mengantarkan sejuta kesedihan.
Anak kecil yang kadang bermain dengannya dan Rengga, harus meregang nyawa melalui tangannya.
Saga mengutuki dirinya yang kurang fokus. Mengira Al yang akan keluar pertama saat pintu terbuka.
Kembali hatinya berdenyut sakit saat tubuh ringkih itu terdorong karena timah panas dan rebah bersimbah darah.
Ingin rasanya ia berlari
dan memeluk tubuh kecil itu, tapi itu tak mungkin. Ia memilih berlalu
dan sekarang sudah berada di pesawat, akan kembali ke rumah yang sepi
dan menjemukan.
Dalam pesawat menuju Singapura, ia terlihat termenung, sesekali menggeleng dan matanya berkaca-kaca.
Kali ini aku kalah
padamu Al, akan aku tebus kekalahan ini dengan sejuta penyesalan, tapi
benciku padamu akan tetap menggunung, kau telah mengambilnya, wanita
yang akan aku jadikan pelabuhanku..
Saga nampak tak terusik, ia terlalu asik menikmati penyesalan dan dendam yang datang silih berganti.
Sampai seorang laki-laki berjaket tebal, bertopi dan berkacamata hitam duduk di dekatnya.
Beberapa orang yang duduk disekitarnya nampak berpindah tempat ke seat yang telah disiapkan, oleh pihak maskapai penerbangan.
Saga segera menoleh saat
bahunya ditepuk oleh orang yang duduk di dekatnya. Ia terlihat
mengernyitkan keningnya, saat laki-laki itu menyodorkan tanda anggota
interpol padanya.
Dan Saga mengerti bahwa
ia takkan benar-benar bisa pulang, ia hanya yakin, akan berhenti di
bandara dan akan kembali lagi ke Indonesia untuk mempertanggung jawabkan
perbuatannya.
Seketika bayangan Rengga
berkelebat, apakah Rengga yang melaporkan? Mengingat hanya Renggalah
yang melihat senjata apinya di ransel.
Tapi Saga yakin Rengga takkan mengkhianati persahabatannya. Ia yakin Al yang mampu mengejarnya secepat ini.
****
Keesokan harinya...
Operasi pengangkatan dua
proyektil peluru di lengan dan bahu Key berjalan lancar, meski saat
operasi sempat kritis namum Key kembali menunjukka progres yang bagus.
Key berada di ruang nicu/picu, wajah Diandra tampak lelah, karena sejak kejadian itu dia tak bisa memejamkan matanya.
Ia berada di tempat duduk yang tak jauh dari ruang nicu/picu. Menyandarkan badannya pada Al, yang juga tampak lelah.
"Tenanglah, Di, tidurlah
jika bisa, kau jangan sakit, kau harus kuat, Keysa juga kuat kan, dia
bertahan untuk kita," ujar Al mengelus bahu Diandra yang kembali
menangis.
Menyesali mengapa kejadian buruk menimpa Key, saat seharusnya mereka telah bahagia bertiga.
"Key salah apa? Mengapa dia terluka?" ucapan itu kembali berulang, Diandra kembali menangis.
Mama Al menghampiri dan memeluk Diandra.
"Kuatlah nak, kuatlah
seperti anakmu, kau harus sehat, bagaimana kau akan menjaga Key, jika
kau sakit," ujar mama Al, mengusap rambut Diandra.
"Dia kehilangan banyak darah mama," ujar Di lagi.
"Darah Al sudah mengalir
banyak di tubuh anakmu kemarin, tenanglah, sabarlah, aku yakin Key akan
kuat," hibur mama Al pada Diandra.
Tak lama ponsel Al berbunyi, ia melangkah, menjauh dari Diandra dan mamanya.
Gimana Ger?
Saga Al
APAAA SAGAAA
Tenanglah, sabarlah,
ia sudah dalam perjalanan kembali ke Indonesia, bersama petugas dari
interpol, ia dibekuk di pesawat yang akan membawanya ke Singapura..
Mengapa dia, Ger? Suara Al hampir menangis
Sepertinya sasarannya adalah dirimu, tapi dia salah menarik pelatuk..
Sagaa, Saga, sedemikian dendamnya dia padaku
Ok Al, aku masih akan menghubungi pengacaramu
Ok, makasih banyak Ger
****
Halo, Sil, hari ini aku mau pulang sekalian menjenguk Key, mau ikut?
Iya, iya Pak, saya ikut
Ok, tapi nggak papa ya, nanti kamu balik naik pesawat sendiri?
Nggak papa Pak
Ok, aku sudah pesan
dua tiket pesawat, aku yakin kamu mau ikut, aku tunggu satu jam lagi ya
di bandara, nanti telepon aku kalau sudah sampai
Iya Pak, makasih banyak
****
Al mengelus rambut Diandra.
"Segera sayang, segera, aku yakin ia akan bertahan," sahut Al menghibur Diandra.
"Aku hanya ingin tahu wajah penembak Key, seperti apa wajahnya,mengapa ia tega mau membunuh anak kecil?"
"Sudahlah, tak usah
dibahas, kita konsen pada penyembuhan Key," sahut Al, ia hanya tak
membayangkan bagaimana reaksi Diandra, seandainya tahu bahwa Saga yang
telah menembak Key.
"Ibu."
Suara Silmi membuat Al dan Diandra menoleh. Dan Diandra berdiri memeluk Silmi dan menangis tergugu dibahu Silmi.
Rengga bersalaman dengan Al dan menepuk bahunya pelan.
"Sabar Al, aku yakin Key akan kuat dan bisa bertahan," ujar Rengga dan Al mengangguk.
"Terima kasih."
Al menarik Rengga agak menjauh dari Silmi dan Diandra.
"Kau tahu, siapa yang menembak Key?" tanya Al dan Rengga menggeleng ragu, meski dalam hati ia meyakini nama seseorang.
"Saga, dia dalam perjalan dibawa ke Indonesia lagi, atau bahkan sekarang ia telah menuju mabespolri," ujar Al.
Rengga menggeleng-gelengkan kepalanya, menghela napas dan menatap Al dengan tatapan sedih, matanya berkaca-kaca.
"Rasanya memang tak
mungkin, saat Key kecil, kami bergantian menggendongnya jika Di sedang
banyak pekerjaan, kami kadang bermain ke rumah Di, kapan saja, hingga
kami cukup dekat dengan Key, meski anak itu tak banyak bicara, dia mirip
denganmu Al, hanya seperlunya saja berbicara," ujar Rengga dengan wajah
memerah menahan tangis.
"Aku sasarannya, dia salah tembak," ujar Al lagi.
"Aku ikut menyesal mendengarnya Al," ujar Rengga.
"Kita kembali pada
mereka Ngga, aku kawatir kondisi Diandra, dia jadi sulit makan sejak
peristiwa mengerikan itu," ujar Al sedih.
****
"Aku hanya bisa ngantar kamu sampai sini Sil, nggak papa ya?" tanya Rengga, pandangannya terlihat kawatir.
"Nggak papa Pak, saya
biasa melakukan apapun sendiri, makasih banyak, eh iya, saya mau bayar
tiket pesawat," belum selesai Silmi membuka dimpet, Rengga, memegang
tangan Silmi.
"Tutup dompetmu, lain kali saja, traktir aku makan."
"Eh ii..iya Pak," Silmi
merasakan jantungnya yang bertalu-talu, sangat tangan besar Rengga,
menggengamnya dengan erat, meski ia tahu sebenarnya bertujuan agar ia
tak mengeluarkan uang.
"Makasih Pak, saya pamit
pulang," ujar Silmi pelan, menarik tangannya dari genggaman Rengga,
memasukkan dompet ke dalam tasnya. Lalu turun dari mobil Rengga dan
masuk menuju pintu masuk ke bandara.
Sekali lagi Silmi menoleh, mobil Rengga telah menjauh, meninggalkan Silmi yang jantungnya masih saja berdentuman dengan keras.
****
"Sayang, kamu istirahat
dulu ya, biar aku yang jaga Key, kamu bisa sakit, trus siapa yang akan
membuat Key kuat kalau kamunya sakit?"
Al mengusap bahu Diandra.
"Iya, benar, ayolah
bareng mama yuk istirahat, besok pagi-pagi kita lihat Key lagi," ajak
mama Al, dan Diansra menurut, sekali lagi ia menatap pintu nicu/picu dan
melangkah pelan bersama mama Al.
Tak lama setelah Diandra
dan mamanya pergi, Al masuk menuju tempat Key berbaring, yang
sebelumnya ia pakai baju khusus untuk masuk ke ruangan itu.
Semakin dekat dengan
Key, dada Al semakin sakit, tubuh ringkih anaknya terlihat semakin tak
terlihat diantara berbagai alat yang menempel di tubuhnya.
Matanya terpejam, alat monitor jantung bergerak teratur.
Al menyentuh tangan anaknya, meletakkan telunjuknya diantara jemari Key.
"Papa akan selalu ada
untuk Key, papa menyayangi Key, bangunlah nak, papa di sini, bangun
sayang, papa menunggumu, jangan biarkan papa terlalu lama menunggu,
Keeey, Key sayaaang," suara lirih Al berbisik di telinga Key, matanya
telah basah, bahunya naik turun menahan rasa sedih.
Diantara tangisnya, Al merasakan pergerakan tangan Key, yang bergerak-gerak dan monitor jantung yang berbunyi nyaring.
"Keeey..kau bangun sayaaang?"
****