
"Hmuuufff selesai
sudah," guman Di setelah merapikan bajunya dan pernak-pernik milik Key
dan menoleh sambil tersenyum melihat Key yang berlari-lari dengan riang,
tak pernah Di melihat anaknya seriang itu.
"Keeey, sayaaang berhenti dulu, sini sayang,"
Key menghampiri mamanya dan Diandra mengusap keringat di kening anaknya.
"Key mandi dulu ya?"
Key mengangguk dan Diandra membawanya ke kamar mandi.
Al melihat Diandra dan
Keysa dengan mata berkaca-kaca, selangkah lagi, ia akan selalu melihat
anak dan istrinya setiap hari, di sisinya, dekat dengan dirinya.
Dan Al kaget saat tiba-tiba Diandra ada di hadapannya.
"Mana Key?" tanya Al menutup kegugupannya.
"Masih dimandikan sama pengasuhnya, eh Al," Diandra kaget bukan main saat Al tiba-tiba memeluknya.
"Aku mencintaimu Di,
terima kasih kau mau di sini, bersamaku," Al melepas pelukannya dan
menatap wajah Di dari dekat, ia melihat wajah di depannya yang terlihat
canggung dan malu.
"Kau selalu begini,
sejak dulu, aku masih suamimu, ingat itu," Al mengangkat dagu Diandra
dan memiringkan wajahnya, meraup bibir mungil yang selalu ia rindukan,
menyesap, menggigit pelan, merasakan Diandra yang juga membalas
ciumannya namun sesaat kemudian, Diandra melepas ciumannya dan
menempelkan kepalanya di dada Al.
"Jangan Al, aku takut kita jadi lupa, aku takut tak bisa menolakmu lagi, tubuhku merespon lain," bisik Di lirih.
Dan senyum Al mulai mengembang.
"Kau mau kan kita menikah lagi?"
Al merasakan anggukan pelan di dadanya, ia mengeratkan pelukannya. Menciumi kepala Diandra berulang.
"Secepatnya Di, kita
bawa semua yang kita butuhkan ke rumah pamanmu, aku, kamu, Key, mama dan
adikku, serta pemuka agama, dan mas kawinnya kamu ingin apa?" tanya Al
dan Diandra melepas pelukannya.
"Aku tak ingin apapun, terserah kamu, aku hanya ingin Key bahagia," suara Diandra mulai serak.
"Maafkan aku, maafkan aku yang telah membuatmu, dan Key juga menderita, membuatmu harus berhutang budi pada Rengga," ujar Al.
Dan seketika Di menatapnya dengan tatapan takut.
"Al boleh kan kalau aku memberitahu Rengga jika kita pindah ke sini?"
"Boleh, dia orang baik Di, aku selalu merasa bersalah jika ia ada di dekatku," ujar Al.
****
"Aku heran padamu, Ngga, wajahmu tak menampakkan marah saat tahu Di pindah dengan laki-laki itu, " ujar Saga dengan suara berat.
"Dia bersama suaminya, lalu aku harus marah karena apa?" tanya Rengga.
"Kau yang mengurusnya
saat dia menderita dan setelah semuanya usai, seenaknya laki-laki
brengsek itu mengambilnya lagi," ujar Saga menahan marah.
Rengga tertawa dan menepuk pundak sahabatnya.
"Justru kita harusnya
ikut bahagia Ga, dia bahagia bersama suaminya, aku merasakan binar
matanya saat dia menatap Al, binar itu sempat menjadi milikku dulu, tapi
dulu, dan aku merasakan usai sudah dan tak perlu meratapinya meski
sakit," ujar Rengga.
"Kau pun harusnya
begitu, coba kau lihat dan bedakan bagaimana dulu tatapan kuyu dan sedih
itu seolah takkan ada lagi sinar kehidupan dalam hidup Diandra, tapi
saat ia bertemu lagi dengan suaminya, aku melihat seolah ia menemukan
lagi apa yang ia cari, belajarlah ikhlas Ga, buang dendammu, kau akan
menderita karena dendam itu," ujar Rengga.
"Kita pulang, aku dihubungi papa, banyak kerjaan yang belum aku selesaikan, kau ikut aku apa langsung ke SG?" tanya Rengga.
"Boleh aku menginap di apartemenmu dulu?" tanya Saga.
"Silakan, tapi kau mau apa sendirian, pulang sajalah, kapan-kapan kita temui Diandra di kantornya,"
Saga diam saja, akhirnya
ia mengangguk dan menepuk bahu Rengga, bangkit dari cafe yang sejak
tadi menjadi tempat mereka menikmati kopi dan sarapan seadanya.
****
Dan menoleh saat Di ada di dekatnya.
Ia menarik Di ke pangkuannya.
"Jangan, aku ngantuk Al,"
Perlahan bibir Al tertarik, kadang ia merasakan respon berbeda antara bibir dan bahasa tubuh Di.
"Kau mau menggodaku?" tanya Al, dan tangannya mulai menyentuh dada Diandra.
"Tii ... tidak Al, kan
aku mau tidur, jadi pakai baju tidur," sahut Di dengan suara bergetar.
Al mulai mencium bahu Di yang sedikt terbuka.
"Al ... jangan, kita belum boleh," bisik Di pelan.
"Minggu depan, mau ya Di?" tanya Al masih saja menciumi bahu dan mengarah ke leher Diandra.
Diandra memegang kepala Al dan menghentikan ciuman Al, menatapnya dari jarak dekat.
"Kau tidak hanya ingin tubuhku kan Al?" tanya Diandra dengan wajah cemas.
"Di, kau tahu, hanya
dengan kamu aku bisa begini, jika aku terbiasa berbuat seperti ini
dengan wanita lain aku tak akan mengemis seperti ini padamu, jika kau
bertanya apakah aku menginginkan tubuhmu, jawabannya "iya", tapi tidak
hanya tubuhmu, semuanya Di, semuanya yang ada pada dirimu, kalau aku
hanya menginginkan tubuhmu, kejadian di ruang makan di rumahmu dulu, aku
bisa saja menyeretmu ke kamar, tapi aku berusaha menahan Di, karena aku
mencintaimu, bukan hanya cinta tubuhmu, meski ingin, aku nahan Di,
sebenarnya sekarang pun, aku ingin, kau merasakannya, kan, Di?" Al
tersenyum dan menekan bokong Di ke pangkal pahanya, wajah Diandra
memerah dan memukul dada Al.
Diandra bangkit, namun Al kembali memegang tangan Diandra.
"Minggu depan, Sabtu, aku jemput kamu dan Key, kita ke rumah pamanmu, mau kan Di?"
Diandra mengangguk, menunduk dan mencium bibir Al sekilas, kemudian berlalu meninggalkan Al yang masih terpana.
****
Rengga kaget saat ia
merogoh ke dalam ransel Saga untuk mengambilkan kamera yang dititipkan
pada Saga, tangannya merasakan benda berat, berlaras pendek. Senjata api
itu segera ia kembalikan lagi ke dalam tas ransel Saga.
Hati Rengga sempat
bergidik ngeri, ia hanya khawatir Saga berbuat sesuatu di luar
kesadarannya. Wataknya yang emosional sering membuatnya melakukan hal di
luar kendali otaknya.
****
"Bukan urusanmu," jawaban ketus Saga, membuat Rengga menepuk bahunya dengan keras.
"Ingat, hidupmu mungkin
masih panjang, jangan habiskan ditahanan hanya karena emosi yang tak
jelas, masalahmu dengan Al bisa diselesaikan, malah kalau aku lihat,
harusnya mamamu yang menjadi penengah, karena penyebab permusuhanmu
dengan Saga adalah mamamu, kau semakin benci pada Al karena Diandra kan?
harusnya kau sadar dia istri Al," ujar Rengga dengan wajah serius.
"Dia tak layak untuk Diandra," sahut Saga dengan suara keras.
"Itu kan menurutmu, tak kau lihat, Diandra mau kan diajak suaminya pindah dari rumah lamanya?" ujar Rengga.
Saga diam saja, ia terlihat menahan marah.
"Sadarlah dan sabarlah Ga, kau akan sakit jika menuruti emosimu," ujar Rengga.
"Aku punya cara sendiri, kau tak usah menasehatiku," sahut Saga dengan wajah dingin.
"Karena kau sahabatku,
kita seperti saudara, makanya aku ingatkan kamu, tapi jika kau tak mau
aku nasehati ya terserah kamu, aku hanya tak ingin kamu tenggelam dalam
dendam," ujar Rengga.
****
Saga mengeluarkan benda yang jadi pembahasan antara dirinya dan Rengga, ia pandangi dan ia putar-putar ditangannya.
"Kau selalu memiliki apa
yang aku inginkan, jika benda ini bisa menghabisimu, aku akan tenang,
meski aku harus berada di penjara,"
Tatapan mata Saga menggelap dan gerahamnnya mengeras.
****