
Saga kaget saat menemukan mama Dini yang ada di ruang besuk, ia berpikir Rengga, karena biasanya Rengga yang rajin menjenguknya.
Mereka sama-sama mematung, mama Dini melangkah perlahan menuju Saga berdiri.
Mata keduanya sama-sama berkaca-kaca, tanpa kata, keduanya saling berpelukan erat.
"Mama," bisik Saga lirih, jiwanya terasa hangat saat wanita yang sejak kecil ia panggil mama baru kali ini memeluknya.
"Maafkan mama, maafkan mama," ujar mama Dini mengeratkan pelukannya.
"Aku berusaha mengerti,
mengapa mama membenciku, tapi aku sangat merindukan mama sejak dulu,
memelukku seperti ini, saat dingin dan petir datang, aku hanya
merindukan mama tidak yang lain," ujar Saga sambil terisak.
"Maafkan mama," kalimat yang berulang mama Dini katakan.
****
"Aaah lega rasanya mama mau membesuk Saga sekarang," ujar Al pada Diandra.
"Oh yaaa?" Diandra juga terlihat bahagia.
"Key kapan bisa ke om Saga?" tanya Key terlihat memohon.
"Setelah Key sembuh,
besok Key operasi pemasangan ring, Key harus kuat biar bisa ketemu om
Saga," ujar Al mencoba menguatkan anaknya, meski hatinya terasa diiris
harus menerima kenyataan bahwa anaknya akan berada di meja operasi lagi.
"Key kuat, Key akan operasi dan akan bertemu om Saga," ujar Key lagi sambil tersenyum.
****
Operasi jantung Key berhasil dengan baik setelah melewati masa tegang dua jam setengah.
Al memejamkan matanya, tak henti bersyukur karena masih diberi kesempatan melihat senyum Key lagi.
Al merasa ini adalah
dosanya pada Diandra dan Key. Ada banyak hal yang tak dimengerti Al.
Anaknya yang kelainan jantung dan harus menangung derita karena ulahnya.
Kurangnya komunikasi dengan Diandra hingga Diandra memilih pergi dari
dirinya.
"Sayang, kita temani Key lagi yuk, dia sudah ada di ruang perawatan," ajak Diandra.
Al dan Diandra membuka pintu dan menemukan mamanya yang duduk di dekat Keysa.
"Mama?"
"Ya, aku menunggu Key
sadar, aku bawa video Saga yang ngomong sesuatu sama Key, kali aja anak
ini merasa baikan," ujar mama Al lirih, setelah mengunjungi Saga baru
hari ini mama Al muncul kembali di rumah sakit.
Al mendekati mamanya, menyentuh bahunya.
"Gimana pertemuan mama dan Saga?" tanya Al lirih, seolah takut mamanya tak akan menjawab.
Terdengar tangis mamanya perlahan.
"Dia memelukku erat Al, baru kali itu aku melihatnya rapuh, mengapa baru aku sadari sekarang? Setelah Saga hancur?"
Al mengusap-usap bahu mamanya.
"Mama, semuanya sudah
terjadi, mama mau menemui Saga itu sudah lebih baik, yang penting ke
depannya, mama kasih perhatian ke Saga, dia akan melewati masa yang lama
di balik jeruji besi, tuntutan jaksa kayaknya 20 tahun ma, itupun
potong masa tahanan paling ya 19 tahun 6 bulan, aku akan minta pengacara
Saga agar mebcari celah, gimana caranya masa menyakitkan itu bisa
berkurang karena tuntutan untuk pembunuhan berencana kan 15 tahun," ujar
Al.
"Yah usahakanlah Al," pinta mama Al terlihat memohon.
****
Halo Silmiiii
Yaaa mas
Maaf belum bisa ke kamu lagi
Nggak papa
Nggak kangen mas?
Iii..iya kangen..
Kangen dicium?
Malu ah mas ini
Hahahah
Mas kok ketawa?
Pasti wajah kamu memerah? Iya kan?
Iya
Hahahhah kok tahu?
Ini kan di kamarku mas, aku lihat ke cermin tadi
Hahahaha
Mas ih ketawa lagi
Lah kamu lucu, pake acara lihat ke cermin
Kalo sudah selesai urusanku, kamu ke Jakarta ya Sil, masa aku yang ke Malang terus
Ih mas itung-itungan
Hahahha bukan sayang, mas ingin kita jalan-jalan
Enakan di Malang, ke sini aja mas ya, Silmi tunggu
Baiklah, in shaa Allah minggu depan ya
Iya Silmi tunggu
Cie yang nunggu
Mas ini udah ah Silmi nggak nunggu
Yaudah aku nggak ke Malang
Aaaa jangan mas kan Silmi kangen
Beneran kamu kangen?
Iii...iya
Kok gugup suaranya
Malu
Hahahahah Silmiiii Silmi, ya dah ya mas mau ngelanjutin kerjaan dulu bai Silmi
Bai mas Rengga
****
"Kenapa kamu senyum-senyum?" tanya kakak Rengga, Zahran.
"Itu tadi calon istriku, dia polos banget," ujar Rengga sambil tersenyum.
"Sama kayak kamu, usia segitu punyamu cuman buat buang aer, kalo pengen main solo," terdengar tawa Zahran.
"Aku rasanya nggak bisa
bang, aku ingat almarhum mama, ingat dia yang disia-sia papa, menderita
dan meninggal, aku merasa gak tega berbuat gitu sama wanita-wanita itu,"
sahut Rengga dengan sedih.
"Itu pilihan hidup kamu," ujar Zahran
"Yah kau serta bang Viki
punya pilihan sendiri juga, hanya hentikan kebiasaan kalian masih saja
bercinta dengan calon istri papa, mau tak mau, dia akan jadi mama tiri
kita" ujar Rengga semakin terlihat sedih.
"Kau tahu, dia yang
menawarkan diri, siapa yang tahan jika dia datang ke apartemen ku dan
abang, lalu membuka semua bajunya dan bergerak erotis ke arah kami,
dadanya, pinggulnya, ah kau tak tahu Rengga," ujar Zahran memejamkan
matanya.
"Aku tahu, dia juga
mencoba melakukan itu denganku, aku laki-laki normal, keinginan
liarkupun ingin menerjangnya, tapi aku tak bisa melakukan itu, bayangan
wajah mama berkelebat, selalu begitu, dan aku tak ingin juga bercinta
dengan wanita bekas banyak orang," ujar Rengga.
Zahran mendengus kesal.
"Kau tak tahu rasanya Ngga, kau akan ketagihan," Zahran tertawa.
"Tidak, tidak ingin, semuanya masuk ke dia, dengar saja aku jijik duluan," ujar Rengga lagi.
"Ah terserah kau," dan keduanya terlihat melanjutkan pekerjaan.
****
"Om Sagaa," rengek Keysa, sejak sadar Keysa selalu memanggil nama Saga.
"Apa sayaaang ini ada om Rengga," sahut Al dan Rengga yang duduk di dekat tempat tidur Keysa.
"Om Saga," pinta Key lagi.
"Iya iya besok papa akan ke om Saga," ujar Al.
"Key ikut," wajah Key terlihat memelas.
"Baiklah, tapi cepet
sehat ya sayang siapa tahu kita bisa hadir di pernikahannya om Rengga
dan tante Silmi, yah?" ujar Al dan Diandra yang sejak tadi diam ikut
tersenyum.
"Nikah? Nikah itu apa? Keundangan pengantin?" tanya Key bingung.
"Iyaaa, nikah itu, kayak
mama sama papa ini, sudah nikah kan jadi kumpul bersama di rumah dan di
sini juga sama Key, nanti om Rengga sama tante Silmi juga, setelah
nikah bersama-sama terus," ujar Al dan Rengga tertawa geli mendengar Al
berusaha menjelaskan pada Key yang masih terlihat bingung.
"Kalo gitu Key mau nikah sama om Saga, biar bisa sama-sama terus,"
Tawa Rengga dan Al pecah
seketika sedang Diandra hanya senyum-senyum saja, mereka tak menyadari
bahwa ucapan Key saat ini, kelak akan menentukan jalan hidup Keysa yang
semakin menderita.
****