
"Bapak kapan balik ke Jakarta?" tanya Silmi.
"Lusa, kenapa? Mau urus
pernikahan kita kan? Kamu punya kenalan nggak Sil? Biar nggak ribet
maksudku," ujar Rengga dan wajah Silmi memerah karena Rengga dapat
menerka pikirannya.
"Iya maksud saya juga
gitu Pak, mau ya ikut saya ke rumah teman, dia salah satu manajer di
hotel itu, hotel yang rencananya buat tempat akad dan resepsi sekalian
Pak," ujar Silmi malu-malu.
"Iya nggak papa, aku mau ikut, laki atau perempuan teman kamu itu?" tanya Rengga.
"Laki-laki Pak," jawab Silmi.
"Lajang apa sudah nikah?" tanya Renga lagi.
"Lajang Pak," sahut Silmi.
"Nah lo, aku ikut,"ujar Rengga dan Silmi melongo.
"Nah lo kenapa Pak?" tanya Silmi.
"Nggak papa, di daerah mana rumahnya?" tanya Rengga mengalihkan pembicaraan.
"Di perumahan dekat SMP 18 Pak, kalau hotelnya di Candi Panggung, daerah Lowok Waru sana," sahut Silmi.
"Oh iya-iya aku tahu
hotelnya, bagus Sil, awal-awal aku di kota ini ya nginep di sana dulu
sama Saga, ah Saga aku jadi sedih tiap kali mengingat dia, vonis akan
berat nantinya, karena kan pembunuhan berencana meski target dia salah,
tapi sudah memakan korban, dan kayaknya Key harus menjalani beberapa
kali operasi lagi Sil, luangkan waktu berdoa untuk dia saat kau sholat,
seminggu ini kayaknya dia operasi pemasangan ring dulu, kalau lepas pen
masih lama kayaknya, ah anak kecil itu, aku terbiasa menggendongnya
dengan Saga Sil," suara Rengga mendadak serak. Silmi tahu Rengga menahan
tangis.
"Pasti saya doakan Pak, harusnya Key bahagia sudah berkumpul sama papa mamanya eh kok ya ada kejadian kayak gini," ujar Silmi.
"Pulang yok Pak, saya
bayar dulu ya, Bapak nunggu di parkiran sana," ujar Silmi namun ia kaget
saat Rengga menyodorkan dompetnya dan melangkah ke luar warung bakso.
"Paaak, gimana sih?" teriak Silmi.
"Bayarlah pakai uangku," Rengga sudah duduk di atas motor menunggu Silmi.
****
Dua minggu kemudian...
Al dan Diandra panik,
Keysa mendadak sesak dan sulit bernapas, hingga alat bantu pernapasan
dipasang lagi. Kembali dokter memeriksa kondisi Key, dan kondisi
jantungnya semakin parah, makanan pun jadi sulit ditelan oleh Key, infus
kembali di pasang dan makanan harus benar-benar cair.
Kondisi badan Key
semakin kurus, Diandra hanya mampu berdoa di dekat Key, hampir tiap saat
ia membacakan ayat-ayat suci Al Qur'an di dekat Key. Tatapan mata Key
membuat Diandra sesak napas. Lewat tatapan matanya seolah berucap agar
mamanya tegar, karena kadang muncul senyum meski hampir tak terlihat.
Dan seminggu ini Diandra juga terlihat selalu lemas. Dan pagi-pagi Al panik karena Diandra pingsan.
****
"Gimana Diandra Al, mama kok nggak kamu telepon sih?" tanya mama Al.
"Nggak papa ma, Diandra
hanya kecapean, kan sebulan lebih di sini Ma, tadi Al sudah di panggil
sama dokter yang memeriksa Di, dia hamil Ma, hanya Di belum tahu," ujar
Al tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah Aaall.
akhirnya diantara tangisan kami ada kebahagiaan juga Ya Allah," mama Al
menangis bahagia. Al memeluk mamanya yang masih saja terisak.
"Aku ke Key dulu ya ma,
tolong jaga Di, bentar lagi dia sudah boleh ke luar dari ruangan ini
kok," ujar Al mengusap bahu mamanya.
****
Rengga menjenguk Saga di
penjara, menceritakan kondisi terakhir Key, foto-foto Key
diperlihatkan, dengan tubuh yang semakin ringkih dan selang yang
berseliweran di badan anak kecil itu. Saga menangis tergugu, semakin
besar keinginannya bertemu Key.
aku ingin memeluk tubuhnya, aku takut, aku takut dia meninggal Ngga,
aku tidak akan memaafkan diriku jika dia meninggal Ngga," tangisan Saga
tenggelam diantara suaranya yang tercekat.
"Ga, ngomong apa kamu,
doakan Key, dia akan segera menghadapi operasi pemasangan ring jika ia
sehat, masalahnya kondisinya semakin lemah, ah anak itu semoga kuat Ga,
berdoalah, hanya doa kita yang bisa membuatnya bertahan, merasa bersalah
adalah hal wajar, tapi jika hanya merutuki dirimu juga tak ada gunanya,
semua telah terjadi," Rengga menepuk bahu sahabatnya.
"Jangan kawatir Ga, aku
dan kakak-kakakku tetap menjaga agar perusahaanmu tetap berdiri dan
bertahan, suatu saat nanti masalahmu selesai kau tetap akan menemukan
tempat pulang dan doakan pernikahanku denngan Silmi lancar," ujar Rengga
dan Saga mengangguk sambil mengusap matanya.
****
Sejak tahu Diandra hamil
untuk kedua kalinya. Al semakin protektif. Ia tidak mau Di terlalu
lelah. Asupan makanan pun dijaga oleh Al, bahkan mamanya ikut menjaga
Diandra.
"Al, aku nggak sakit, aku hanya hamil, sampe semua dijaga dan apa-apa nggak boleh, capek juga Al," rengek Diandra.
"Aku mau calon bayi dan
istriku sehat, apalagi ini usia rawan, kandunganmu baru empat minggu,
duh baru setitik kan kemarin kata dokter, malah aku nggak bisa melihat
meski sudah di usg," ujar Al.
"Kamu jadi cerewet sekarang," ujar Di kesal.
"Demi calon bayi dan istriku," Al menunduk dan mencium lembut bibir Diandra.
"Tiduran saja di sofabed itu, aku ingin kamu dan adiknya Key baik-baik saja, i love you, Di."
Diandra tersenyum lembut dan mengusap pipi Al.
"Hanya tersenyum, tak membalas ucapanku?" tanya Al.
"Yah, love you more,"
Lalu tak lama keadaan
berubah menakutkan lagi saat alat pemantau jantung Keysa berbunyi
nyaring dan Al segera menekan tombol pemeritahuan darurat yang ada di
kamar, segera beberapa perawat dan dokter masuk ke kamar Keysa.
Diadra menangis, tergugu
ditempatnya berdiri sambil dipeluk bahunya oleh Al saat perawat dan
dokter melakukan berbagai cara agar napas Key tetap berhembus normal.
Dokter menemui Al dan Diandra memberitahu bahwa Keysa dalam keadaan koma.
Diandra menjerit
tertahan, dia hanya berpikir kapan Key akan bangun? Diansra berusaha
berpikir normal bahwa ini sudah takdir dari Tuhan dan menghilangkan
amarahnya saat mengingat wajah Saga.
Setelah semua keributan reda, muncul Rengga. Dia kaget saat Al menceritakan kondisi terakhir Keysa.
Dan dengan pelan sambil
menjauh dari Diandra Rengga bercerita pertemuannya kembali dengan Saga,
tangisan dan permintaan maaf Saga.
Al diam saja, ia tahu hatinya masih jauh dari rasa memaafkan pada Saga, biarlah waktu yang menjawab kapan hatinya berdamai.
"Mengapa Diandra terlihat semakin pucat Al?" tanya Rengga.
"Dia hamil Ngga dan yang jelas, dia kelelahan," sahut Al.
Mata Rengga berbinar terlihat ikut bahagia, dia mengucapkan selamat.
"Paling tidak, kabar itu menjadi obat hati kami Ngga," ujar Al sendu.
****
Hingga suatu saat Al dipanggil kembali oleh dokter dengan pelan dokter mengatakan pada Al.
"Mohon maaf sebesarnya
Pak Al, secara medis Keysa sudah semakin sulit keadaannya, dia tetap
bernapas karena bantuan alat-alat itu, hanya keajaiban dari Tuhan yang
akan membuat dia bangun lagi, kita berdoa agar keajaiban Tuhan datang
untuk Key,"
"Maksud dokter, secara medis dia sebenarnya sudah meninggal?" tanya Al tercekat dan dadanya sakit seketika.
****