A STORY ABOUT LOVE

A STORY ABOUT LOVE
Episode 29



Papa dan mama Maya saling pandang. Mereka serba salah saat akan menjelaskan pada Al tentang rumah tangga Maya.


"Terus terang saya


kaget, saya juga baru tahu jika Maya berkeluarga dan sudah punya anak,


apalagi suaminya pengusaha terkenal di Jepang sana, yang tidak saya


mengerti mengapa om dan tante seolah mendorong Maya semakin mendekati


saya yang sudah punya istri, apalagi istri saya sedang hamil, saya


berusaha menenangkan dia karena dia terus berpikir bahwa dia yang


mengambil kebahagiaan Maya, saya kadang berpikir om dan tante sengaja


ingin menutupi kebenaran dari saya," ujar Al menahan kemarahan sebisa


mungkin.


"Begini Al, Maya menikah


dengan suaminya karena keadaan, dia terlanjur hamil, Maya eemm


sekretarisnya Hiroshi, dia memang dinikahi tapi ternyata Hiroshi tak


seperti saat awal mendekati anakku, dia tidak begitu peduli lagi pada


Maya setelah Maya hamil, cenderung menyiksa Maya secara fisik dan batin,


bahkan begitu Maya melahirkan, bayinya diambil dan dijauhkan dari Maya,


dan akhir dari semuanya Maya dicerai oleh suaminya, dia depresi dan


akrab dengan obat-obat terlarang, dia kangen anaknya tapi tak bisa


bertemu, suatu saat kondisinya melemah dan saat general checkup barulah


diketahui dia mengidap penyakit mematikan itu, stadiumnya sudah lanjut,


kami memutuskan pulang ke Indonesia karena permintaan Maya dan dia


teringat kamu, saat bertemu lagi denganmu, dia merasa bahwa kau


laki-laki baik yang akan memberinya kedamaian di saat-saat terakhirnya,


maafkan kami, maafkan kami Al jika kami egois, karena kami ingin dia


bahagia, selama ini dia tak bahagia dengan Hiroshi," ujar mama Maya


kembali menangis.


"Tapi bukan berarti


mengorbankan kebahagiaan saya dan istri saya tante, kami baru saja


terpisah karena kesalah pahaman dan baruuu saja bersama kembali,


menikmati kebahagiaan, dan mendapat cobaan lagi pada anak pertama kami,


lalu apakah saya harus mengorbakan perasaan istri saya demi kebahagiaan


orang lain? Tidak, saya bersyukur tidak menuruti perasaan saya yang iba


pada kondisi Maya, seandainya itu terjadi betapa saya telah mengorbankan


kesetiaan istri saya dan lebih menuruti rasa kasihan yang tidak pada


tempatnya, saya hanya merasa bahwa saya dibohongi oleh om dan tante,


anak memang segalanya, tapi bukan karena anak lalu kita menghancurkan


kebahagiaan rumah tangga orang lain, permisi," Al bangkit dan melangkah


lebar menuju pintu tanpa bersalaman pada orang tua Maya, dia lega telah


mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.


"Al, Aaaal tunggu, kami belum selesai menjelaskan," teriakan papa Maya tak menghentikan langkah Al.


****


Al masuk ke ruamgan Keysa, melihat Key yang terlihat lebih segar, disuapi mama Al dan Diandra yang masih saja terlihat sayu.


Al mendekati istrinya, mengusap bahunya berulang dan mencium ujung kepala Diandra.


"Ada apa Al?" tanya mamanya.


"Nggak papa ma, hanya


tidak mengerti saja jika ada orang yang menghalalkan segala cara," ujar


Al dengan suara pelan, mamanya menoleh menatap Al tak mengerti.


"Nanti aku ceritakan ma,"


****


Diandra dan mama Al kaget setelah Al menceritakan semuanya.


"Kok bisaaa ya Al, mereka kayak gitu," mama Al hanya bisa geleng-geleng kepala.


Diandra menangis dalam pelukan Al.


"Kamu marah? Marahlah, tumpahkan tangismu," ujar Al pada istrinya.


"Kenapa dia tega


mengatakan hal tak pantas padaku, aku kaget saat mama Maya memintaku


agar bersabar jika suatu saat kalian menikah, karena sebenarnya kalian


dijodohkan sejak lama dan kehadiranku mengacaukan rencana keluargamu,


aku semakin merasa bersalah karena kalian tak jadi menikah dan Maya


perasaanku yang membuat aku sering tak bisa tidur, karena seolah aku


mengacaukan semuanya,"


"Sabarlah Di,


berhentilah menangis, kasihan bayimu," mama Al mengusap bahu menantunya,


bawalah ke luar Al, Di perlu udara segar, dan lihatlah anakmu sudah


bisa tertawa, dia berkali-kali nonton video Saga yang mengajaknya


bicara, ah kadang mama ingin menjenguk Saga ke rumah tahanan itu," mama


Al terlihat resah.


"Jenguklah Saga ma,


berdamailah dengan Saga, Saga hanya tahu mama Dini mamanya, dia tak


mengenal wanita yang mama benci, beri dia kebahagiaan ma, dia orang baik


yang terjebak dalam situasi yang tidak dia inginkan, apa perlu aku


antar ma?" tanya Al dan mamanya mengangguk.


"Ok besok aku antar


menemui Saga sekalian mau memvideo Saga, karena lusa Keysa kan operasi


pemasangan ring, paling nggak dengan video Saga, Key semamin semangat,"


****


Rengga duduk di depan Saga saat jam besuk sore itu.


"Kau tahu, Keysa lusa operasi lagi katanya Ngga, apa kamu sudah dapat kabar?" tanya Saga resah.


"Yah tadi Al menelponku,


semua sudah siap dan kondisi Key juga dalam kondisi siap untuk


dioperasi, semoga semakin baik kesehatan anak itu," sahut Rengga.


"Kenapa kau terlihat lelah?" tanya Saga.


"Papa akan menikah, dengan sekretarisnya," sahut Rengga tanpa bersemangat.


"Loh kok," Saga yang tahu bagaimana sekretaris papa Rengga terlihat kaget.


"Aku tahu kau kaget, aku


tahu jika kau juga sempat mencicipi wanita itu, dia tidur dengan siapa


saja, bahkan kedua kakakku juga, itu yang membuat aku tak mengerti


mengapa papa memilihnya, perasaanku seperti diremas, aku kawatir dia


mempengaruhi papa, makanya sebelum mereka menikah, sudah kami urus semua


aset papa, agar beralih ke tangan kami dan papa setuju, artinya jika


dia nanti jadi istri papa,  dia akan kaget, bahwa apa yang dia inginkan


semua sudah ada pada kami bertiga," Rengga menghela napas berat.


"Benar-benar wanita


profesional dia Ngga untuk urusan ranjang, makanya papamu bertekuk


lutut, apa lagi, setelah mamamu meninggal papamu benar-benar lama


sendiri, membesarkan kalian sendiri," ujar Saga sambil bersedekap


menatap wajah temannya.


"Entahlah, apa semua kaumku hanya berpikir urusan ranjang nomor satu ya Ga?" tanya Rengga pada sahabatnya.


"Kau belum tahu rasanya


kan, kau hanya bermain solo saja sampai setua ini? Hahahahah Nanti


setelah kau tahu, kau akan ingin lagi dan lagi," Saga tertawa keras dan


melihat wajah sajabatnya memerah.


"Ah kau Ga, sama saja


kayak kakak-kakakku, hanya bermain-main dalam hidupnya, ah yaaa kapan


pembacaan vonis?" tanya Rengga dan Saga kbali berwajah muram.


"Tiga hari lagi, aku


akan membayar penderitaan Key, Ngga, aku tak sedih karena aku memang


salah, cintaku pada Diandra membuatku nekat dan salah langkah, tapi aku


tetap mencintai Diandra Ngga, sampai kapan pun," Saga berusaha


tersenyum.


"Kau akan lama dipenjara Ngga, karena kasusmu, kasus pembunuhan berencana, meski korbannya salah," ujar Rengga.


"Jangan ingatkan aku pada peristiwa itu Ngga, dadaku jadi perih jika mengingat Keysa yang rebah ke tanah,"


Saga meremas rambutnya, air mata penuh di matanya.


****