
Papa dan mama Maya saling pandang. Mereka serba salah saat akan menjelaskan pada Al tentang rumah tangga Maya.
"Terus terang saya
kaget, saya juga baru tahu jika Maya berkeluarga dan sudah punya anak,
apalagi suaminya pengusaha terkenal di Jepang sana, yang tidak saya
mengerti mengapa om dan tante seolah mendorong Maya semakin mendekati
saya yang sudah punya istri, apalagi istri saya sedang hamil, saya
berusaha menenangkan dia karena dia terus berpikir bahwa dia yang
mengambil kebahagiaan Maya, saya kadang berpikir om dan tante sengaja
ingin menutupi kebenaran dari saya," ujar Al menahan kemarahan sebisa
mungkin.
"Begini Al, Maya menikah
dengan suaminya karena keadaan, dia terlanjur hamil, Maya eemm
sekretarisnya Hiroshi, dia memang dinikahi tapi ternyata Hiroshi tak
seperti saat awal mendekati anakku, dia tidak begitu peduli lagi pada
Maya setelah Maya hamil, cenderung menyiksa Maya secara fisik dan batin,
bahkan begitu Maya melahirkan, bayinya diambil dan dijauhkan dari Maya,
dan akhir dari semuanya Maya dicerai oleh suaminya, dia depresi dan
akrab dengan obat-obat terlarang, dia kangen anaknya tapi tak bisa
bertemu, suatu saat kondisinya melemah dan saat general checkup barulah
diketahui dia mengidap penyakit mematikan itu, stadiumnya sudah lanjut,
kami memutuskan pulang ke Indonesia karena permintaan Maya dan dia
teringat kamu, saat bertemu lagi denganmu, dia merasa bahwa kau
laki-laki baik yang akan memberinya kedamaian di saat-saat terakhirnya,
maafkan kami, maafkan kami Al jika kami egois, karena kami ingin dia
bahagia, selama ini dia tak bahagia dengan Hiroshi," ujar mama Maya
kembali menangis.
"Tapi bukan berarti
mengorbankan kebahagiaan saya dan istri saya tante, kami baru saja
terpisah karena kesalah pahaman dan baruuu saja bersama kembali,
menikmati kebahagiaan, dan mendapat cobaan lagi pada anak pertama kami,
lalu apakah saya harus mengorbakan perasaan istri saya demi kebahagiaan
orang lain? Tidak, saya bersyukur tidak menuruti perasaan saya yang iba
pada kondisi Maya, seandainya itu terjadi betapa saya telah mengorbankan
kesetiaan istri saya dan lebih menuruti rasa kasihan yang tidak pada
tempatnya, saya hanya merasa bahwa saya dibohongi oleh om dan tante,
anak memang segalanya, tapi bukan karena anak lalu kita menghancurkan
kebahagiaan rumah tangga orang lain, permisi," Al bangkit dan melangkah
lebar menuju pintu tanpa bersalaman pada orang tua Maya, dia lega telah
mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Al, Aaaal tunggu, kami belum selesai menjelaskan," teriakan papa Maya tak menghentikan langkah Al.
****
Al masuk ke ruamgan Keysa, melihat Key yang terlihat lebih segar, disuapi mama Al dan Diandra yang masih saja terlihat sayu.
Al mendekati istrinya, mengusap bahunya berulang dan mencium ujung kepala Diandra.
"Ada apa Al?" tanya mamanya.
"Nggak papa ma, hanya
tidak mengerti saja jika ada orang yang menghalalkan segala cara," ujar
Al dengan suara pelan, mamanya menoleh menatap Al tak mengerti.
"Nanti aku ceritakan ma,"
****
Diandra dan mama Al kaget setelah Al menceritakan semuanya.
"Kok bisaaa ya Al, mereka kayak gitu," mama Al hanya bisa geleng-geleng kepala.
Diandra menangis dalam pelukan Al.
"Kamu marah? Marahlah, tumpahkan tangismu," ujar Al pada istrinya.
"Kenapa dia tega
mengatakan hal tak pantas padaku, aku kaget saat mama Maya memintaku
agar bersabar jika suatu saat kalian menikah, karena sebenarnya kalian
dijodohkan sejak lama dan kehadiranku mengacaukan rencana keluargamu,
aku semakin merasa bersalah karena kalian tak jadi menikah dan Maya
perasaanku yang membuat aku sering tak bisa tidur, karena seolah aku
mengacaukan semuanya,"
"Sabarlah Di,
berhentilah menangis, kasihan bayimu," mama Al mengusap bahu menantunya,
bawalah ke luar Al, Di perlu udara segar, dan lihatlah anakmu sudah
bisa tertawa, dia berkali-kali nonton video Saga yang mengajaknya
bicara, ah kadang mama ingin menjenguk Saga ke rumah tahanan itu," mama
Al terlihat resah.
"Jenguklah Saga ma,
berdamailah dengan Saga, Saga hanya tahu mama Dini mamanya, dia tak
mengenal wanita yang mama benci, beri dia kebahagiaan ma, dia orang baik
yang terjebak dalam situasi yang tidak dia inginkan, apa perlu aku
antar ma?" tanya Al dan mamanya mengangguk.
"Ok besok aku antar
menemui Saga sekalian mau memvideo Saga, karena lusa Keysa kan operasi
pemasangan ring, paling nggak dengan video Saga, Key semamin semangat,"
****
Rengga duduk di depan Saga saat jam besuk sore itu.
"Kau tahu, Keysa lusa operasi lagi katanya Ngga, apa kamu sudah dapat kabar?" tanya Saga resah.
"Yah tadi Al menelponku,
semua sudah siap dan kondisi Key juga dalam kondisi siap untuk
dioperasi, semoga semakin baik kesehatan anak itu," sahut Rengga.
"Kenapa kau terlihat lelah?" tanya Saga.
"Papa akan menikah, dengan sekretarisnya," sahut Rengga tanpa bersemangat.
"Loh kok," Saga yang tahu bagaimana sekretaris papa Rengga terlihat kaget.
"Aku tahu kau kaget, aku
tahu jika kau juga sempat mencicipi wanita itu, dia tidur dengan siapa
saja, bahkan kedua kakakku juga, itu yang membuat aku tak mengerti
mengapa papa memilihnya, perasaanku seperti diremas, aku kawatir dia
mempengaruhi papa, makanya sebelum mereka menikah, sudah kami urus semua
aset papa, agar beralih ke tangan kami dan papa setuju, artinya jika
dia nanti jadi istri papa, dia akan kaget, bahwa apa yang dia inginkan
semua sudah ada pada kami bertiga," Rengga menghela napas berat.
"Benar-benar wanita
profesional dia Ngga untuk urusan ranjang, makanya papamu bertekuk
lutut, apa lagi, setelah mamamu meninggal papamu benar-benar lama
sendiri, membesarkan kalian sendiri," ujar Saga sambil bersedekap
menatap wajah temannya.
"Entahlah, apa semua kaumku hanya berpikir urusan ranjang nomor satu ya Ga?" tanya Rengga pada sahabatnya.
"Kau belum tahu rasanya
kan, kau hanya bermain solo saja sampai setua ini? Hahahahah Nanti
setelah kau tahu, kau akan ingin lagi dan lagi," Saga tertawa keras dan
melihat wajah sajabatnya memerah.
"Ah kau Ga, sama saja
kayak kakak-kakakku, hanya bermain-main dalam hidupnya, ah yaaa kapan
pembacaan vonis?" tanya Rengga dan Saga kbali berwajah muram.
"Tiga hari lagi, aku
akan membayar penderitaan Key, Ngga, aku tak sedih karena aku memang
salah, cintaku pada Diandra membuatku nekat dan salah langkah, tapi aku
tetap mencintai Diandra Ngga, sampai kapan pun," Saga berusaha
tersenyum.
"Kau akan lama dipenjara Ngga, karena kasusmu, kasus pembunuhan berencana, meski korbannya salah," ujar Rengga.
"Jangan ingatkan aku pada peristiwa itu Ngga, dadaku jadi perih jika mengingat Keysa yang rebah ke tanah,"
Saga meremas rambutnya, air mata penuh di matanya.
****