
Rengga menghentikan langkahnya dan kaget saat mengetahui jika Saga juga
menyukai Diandra.
Ia tak menyangka sama sekali karena selama ini yang ia tahu Saga sangat
menghindari membawa perasaan dalam berhubungan dengan semua wanita,
Saga adalah laki-laki yang tak percaya pada pernikahan, ia berpendapat
sangat bodoh orang berkomitmen seumur hidup hanya gara-gara surat nikah.
Saga terbiasa berhubungan ons, dan tak pernah mengulang dengan wanita yang
sama, selalu bermain aman dan selalu terlihat dingin pada wanita, hanya pada
Diandralah, ia bisa lembut dan berbicara pelan.
Rengga menghembuskan napas, mematikan rokoknya, membalikkan badannya lagi,
menghempaskan bokongnya di kursi teras.
Mungkin memang takkan pernah ada jalan kita untuk kembali Di, saat
mengetahui sahabatku juga mencintaimu, selesai sudah aku berharap, aku akan
mencoba mencintai yang lain Di, semoga bisa...
****
"Kapan kau mulai mencintainya Ga?" tanya Rengga saat mereka
telah berada di apartemennya lagi.
Saga kaget dan menatap wajah sahabatnya.
"Kau mendengar pembicaraan kami?" tanya Saga merasa tak enak.
"Tak sengaja, saat akan kembali setelah merokok," Rengga menatap
tayangan televisi yang ia sendiri tak tahu tayangan apa itu. Saga diam saja
"Setahuku, kau tak akan pernah menyukai apalagi mencintai wanita, kau
lebih menyukai hubungan satu kali, selesai dan tak akan mengulang lagi, tanpa
cinta, tanpa perasaan," ujar Rengga lagi.
"Aku juga tidak tahu Ngga, kapan pastinya, yang aku tahu, tiap aku
berhubungan dengan wanita manapun, seolah melihat wajahnya, desahnya dan selalu
saja aku mengerang menyebut namanya, hingga lama-lama, aku tak ingin melakukan
hal seperti itu lagi, karena aku seolah jadi brengsek menidurinya, dan mimpi
erotiskupun selalu dengannya, ah aku baru sadar perlahan-lahan aku mencintainya
Ngga," ujar Saga pelan, memejamkan matanya.
Rengga menoleh memandang wajah sahabatnya dan tersenyum miring saat
menyadari pangkal paha sahabatnya mengembang sempurna, terlihat tonjolan di
celananya.
"Heh laki-laki mesum, rusak, kayak kamu nggak ada tempat untuknya, aku
laki-laki yang tak pernah menyentuh wanita dia abaikan, apalagi kamu, bangun
Ga, sana ke kamar mandi, berendam, dinginkan kepalamu, punyamu terhimpit,
kasihan minta dibebaskan," Rengga meninju lengan sahabatnya.
Saga membuka mata, bangkit dan membuka seluruh pakaiannya, menyisakan bokser
dan melangkah ke kamar mandi.
"Heh jangan lama-lamaaa, aku juga mau mandi Gaaa, kamu mau
ngapain?" tanya Rengga.
"Main solo,"
Jawaban Saga membuat Rengga terbahak. Rengga tak mengira jika sahabatnya
bisa berhenti bermain-main dengan wanita karena perasaan yang mulai tumbuh pada
Diandra.
****
"Papaaaa," Keysa berteriak nyaring dan ia seolah terbangsaat Al
menggendongnya.
"Papa yang lama yaaa, Key kangen," ujar Keysa.
"Baiklah, mama mana?" tanya Al, ia melangkahkan kakinya masuk ke
ruang keluarga.
"Itu mama baru selesai mandi," sahut Key.
Dan Al terkesiap saat melihat Diandra yang menggunakan kimono tidur sepaha
dengan rambut basah, Diandra juga kaget dan segera masuk ke kamarnya dan
menutup pintu.
Diandra memegang dadanya, tatapan Al, mengingatkannya pada masa lalu saat Al
ingin bercinta dan menyeretnya, merebahkannya ke kasur lalu bergerak cepat di
atas tubuhnya.
Tak ada sentuhan manis, namun lama-lama Di menikmati cara yang aneh itu.
****
"Kapan datang?" tanya Diandra dan Al tersenyum, Diandra selalu
saja kaget melihat senyum Al.
"Barusan, langsung ke sini, aku sudah punya rumah di sini juga Di, anak
segar karena perusahaannya bermasalah," ujar Al.
"Oh yaa, pasti rumah besar di pinggir jalan utama di kota ini kan,
tidak ada rumah indah dan besar lagi di kota ini," ujar Diandra.
"Ya, dan aku membelikannya untukmu dan Keysa," ujar Al kalem,
tanpa senyum dan menatap mata Diandra dengan tatapan yang selalu membuat
Diandra gugup.
"Ah tidak, terlalu besar rumah itu Al, kami hanya berdua, ditambah
seorang pembantu.
"Nanti kan ada aku juga Di," ujar Al dan Diandra menjadi bingung
harus berkata apa lagi.
"Kita menikah ya Di, aku sudah menemukan pamanmu, ia sudah mulai sehat,
sudah bisa duduk di kursi roda, bibimu kaget saat aku menceritakanmu, aku tak
lama di sana, karena aku juga sibuk, mereka bersedia hadir jika sewaktu-waktu
kita akan menikah lagi Di," bibir Al tertarik sedikit ke samping saat mata
Diandra bersinar waktu ia mengatakan keadaan pamannya.
"Besok pagi aku kembali Di, bersiaplah, semuanya akan di urus oleh anak
buahku, kita pindah, aku, kau dan Key, akan bersama, lalu seletelah kita
menikah kau harus kembali ke sisiku, ke rumah yang sudah aku siapkan,"
ujar Al meraih tangan Di, mengusap lembut dan menciumnya pelan.
"Lalu buat apa rumah besar itu jika akhirnya aku ikut kamu nantinya
Al?" tanya Diandra.
"Aku yakin sewaktu-waktu kau akan ke sini, memantau butikmu, maka rumah
itu akan jadi tempat peristirahatan kita,"
Diandra akhirnya mengangguk, dan mengalihkan tatapannya saat mata Al semakin
dalam menatapnya. Diandra selalu saja gugup jika berhadapan dengan Al.
****
Pagi-pagi semuanya sudah siap, semalam anak buah Al membantu memasukkan
barang yang akan di bawa, tak banyak, hanya baju Di, dan Keysa, juga pembantu
mereka. Serta beberapa perlengkapan yang dianggap perlu.
****
"Betul ini rumah Keysa papa?" tanya Key dengan mata berbinar,
berjalan berkeliling lalu berlari menyusuri rumah besar itu.
"Yah ini rumah Key, ayo papa tunjukkan kolam renangnya, Key kan pingin
rumah yang ada kolam renangnya?" ajak Al
Mereka berjalan bergandengan tangan, Diandra mengawasi keduanya dari belakang.
Matanya berkaca-kaca melihat, Key yang terlihat bahagia.
****
Keesokan harinya...
"Kok sepi sih, Diandra ke mana, tumben sabtu kayak gini dia nggak ada
di rumah?" tanya Saga dan Rengga mengedikkan bahunya.
Tak lama terlihat mama Dice dari rumah sebelah. Ia melangkah menuju tempat
Saga dan rengga berdiri.
"Mencari Diandra?" tanya mama Dice.
"Iya ibu, tahu ke mana?" tanya Rengga ramah.
"Kemarin pindah rumah ikut suaminya, sempat pamit pada saya," ujar
mama Dice.
Rengga dan Saga kaget, wajah Saga tampak menahan marah seketika.
"Oh iya ibu terima kasih, kami permisi," Rengga pamit mengajak
Saga dengan menggerakkan alisnya.
"Brengsek itu mengambilnya Ngga," ujar Saga dengan wajah memerah
menahan marah.
"Sagaaa, dia suaminya, dia berhak, kita siapanya, kita yang harusnya
tahu diri," ujar Rengga lagi, sambil menepuk pundak Saga.
Tak lama terdengar notifikasi di ponsel Rengga, Rengga merogoh ponselnya di
saku jakenya, lalu membacanya dan menghela napas.
"Diandra Ngga?" tanya Saga dan Rengga mengangguk.
"Dia memberitahu telah pindah ke rumah besar, di pinggir jalan utama
kota ini, ah sudahlah Ga, kita masih bisa menemuinya di kantornya Ga, ayolah
kita pulang,"ajak Rengga dan Saga menghembuskan napas dengan kuat.
Kau mengambilnya, aku akan membunuhmu, aku pastikan itu..entah kapan tapi
kau harus tahu bahwa menderita karena cinta itu sakit dan perih
****