A STORY ABOUT LOVE

A STORY ABOUT LOVE
Episode 12



Rengga menghentikan langkahnya dan kaget saat mengetahui jika Saga juga


menyukai Diandra.


Ia tak menyangka sama sekali karena selama ini yang ia tahu Saga sangat


menghindari membawa perasaan dalam berhubungan dengan semua wanita,


Saga adalah laki-laki yang tak percaya pada pernikahan, ia berpendapat


sangat bodoh orang berkomitmen seumur hidup hanya gara-gara surat nikah.


Saga terbiasa berhubungan ons, dan tak pernah mengulang dengan wanita yang


sama, selalu bermain aman dan selalu terlihat dingin pada wanita, hanya pada


Diandralah, ia bisa lembut dan berbicara pelan.


Rengga menghembuskan napas, mematikan rokoknya, membalikkan badannya lagi,


menghempaskan bokongnya di kursi teras.


Mungkin memang takkan pernah ada jalan kita untuk kembali Di, saat


mengetahui sahabatku juga mencintaimu, selesai sudah aku berharap, aku akan


mencoba mencintai yang lain Di, semoga bisa...


****


"Kapan kau mulai mencintainya Ga?" tanya Rengga saat mereka


telah berada di apartemennya lagi.


Saga kaget dan menatap wajah sahabatnya.


"Kau mendengar pembicaraan kami?" tanya Saga merasa tak enak.


"Tak sengaja, saat akan kembali setelah merokok," Rengga menatap


tayangan televisi yang ia sendiri tak tahu tayangan apa itu. Saga diam saja


"Setahuku, kau tak akan pernah menyukai apalagi mencintai wanita, kau


lebih menyukai hubungan satu kali, selesai dan tak akan mengulang lagi, tanpa


cinta, tanpa perasaan," ujar Rengga lagi.


"Aku juga tidak tahu Ngga, kapan pastinya, yang aku tahu, tiap aku


berhubungan dengan wanita manapun, seolah melihat wajahnya, desahnya dan selalu


saja aku mengerang menyebut namanya, hingga lama-lama, aku tak ingin melakukan


hal seperti itu lagi, karena aku seolah jadi brengsek menidurinya, dan mimpi


erotiskupun selalu dengannya, ah aku baru sadar perlahan-lahan aku mencintainya


Ngga," ujar Saga pelan, memejamkan matanya.


Rengga menoleh memandang wajah sahabatnya dan tersenyum miring saat


menyadari pangkal paha sahabatnya mengembang sempurna, terlihat tonjolan di


celananya.


"Heh laki-laki mesum, rusak, kayak kamu nggak ada tempat untuknya, aku


laki-laki yang tak pernah menyentuh wanita dia abaikan, apalagi kamu, bangun


Ga, sana ke kamar mandi, berendam, dinginkan kepalamu, punyamu terhimpit,


kasihan minta dibebaskan," Rengga meninju lengan sahabatnya.


Saga membuka mata, bangkit dan membuka seluruh pakaiannya, menyisakan bokser


dan melangkah ke kamar mandi.


"Heh jangan lama-lamaaa, aku juga mau mandi Gaaa, kamu mau


ngapain?" tanya Rengga.


"Main solo,"


Jawaban Saga membuat Rengga terbahak. Rengga tak mengira jika sahabatnya


bisa berhenti bermain-main dengan wanita karena perasaan yang mulai tumbuh pada


Diandra.


****


"Papaaaa," Keysa berteriak nyaring dan ia seolah terbangsaat Al


menggendongnya.


"Papa yang lama yaaa, Key kangen," ujar Keysa.


"Baiklah, mama mana?" tanya Al, ia melangkahkan kakinya masuk ke


ruang keluarga.


"Itu mama baru selesai mandi," sahut Key.


Dan Al terkesiap saat melihat Diandra yang menggunakan kimono tidur sepaha


dengan rambut basah, Diandra juga kaget dan segera masuk ke kamarnya dan


menutup pintu.


Diandra memegang dadanya, tatapan Al, mengingatkannya pada masa lalu saat Al


ingin bercinta dan menyeretnya, merebahkannya ke kasur lalu bergerak cepat di


atas tubuhnya.


Tak ada sentuhan manis, namun lama-lama Di menikmati cara yang aneh itu.


****


"Kapan datang?" tanya Diandra dan Al tersenyum, Diandra selalu


saja kaget melihat senyum Al.


"Barusan, langsung ke sini, aku sudah punya rumah di sini juga Di, anak


segar karena perusahaannya bermasalah," ujar Al.


"Oh yaa, pasti rumah besar di pinggir jalan utama di kota ini kan,


tidak ada rumah indah dan besar lagi di kota ini," ujar Diandra.


"Ya, dan aku membelikannya untukmu dan Keysa," ujar Al kalem,


tanpa senyum dan menatap mata Diandra dengan tatapan yang selalu membuat


Diandra gugup.


"Ah tidak, terlalu besar rumah itu Al, kami hanya berdua, ditambah


seorang pembantu.


"Nanti kan ada aku juga Di," ujar Al dan Diandra menjadi bingung


harus berkata apa lagi.


"Kita menikah ya Di, aku sudah menemukan pamanmu, ia sudah mulai sehat,


sudah bisa duduk di kursi roda, bibimu kaget saat aku menceritakanmu, aku tak


lama di sana, karena aku juga sibuk, mereka bersedia hadir jika sewaktu-waktu


kita akan menikah lagi Di," bibir Al tertarik sedikit ke samping saat mata


Diandra bersinar waktu ia mengatakan keadaan pamannya.


"Besok pagi aku kembali Di, bersiaplah, semuanya akan di urus oleh anak


buahku, kita pindah, aku, kau dan Key, akan bersama, lalu seletelah kita


menikah kau harus kembali ke sisiku, ke rumah yang sudah aku siapkan,"


ujar Al meraih tangan Di, mengusap lembut dan menciumnya pelan.


"Lalu buat apa rumah besar itu jika akhirnya aku ikut kamu nantinya


Al?" tanya Diandra.


"Aku yakin sewaktu-waktu kau akan ke sini, memantau butikmu, maka rumah


itu akan jadi tempat peristirahatan kita,"


Diandra akhirnya mengangguk, dan mengalihkan tatapannya saat mata Al semakin


dalam menatapnya. Diandra selalu saja gugup jika berhadapan dengan Al.


****


Pagi-pagi semuanya sudah siap, semalam anak buah Al membantu memasukkan


barang yang akan di bawa, tak banyak, hanya baju Di, dan Keysa, juga pembantu


mereka. Serta beberapa perlengkapan yang dianggap perlu.


****


"Betul ini rumah Keysa papa?" tanya Key dengan mata berbinar,


berjalan berkeliling lalu berlari menyusuri rumah besar itu.


"Yah ini rumah Key, ayo papa tunjukkan kolam renangnya, Key kan pingin


rumah yang ada kolam renangnya?" ajak Al


Mereka berjalan bergandengan tangan, Diandra mengawasi keduanya dari belakang.


Matanya berkaca-kaca melihat, Key yang terlihat bahagia.


****


Keesokan harinya...


"Kok sepi sih, Diandra ke mana, tumben sabtu kayak gini dia nggak ada


di rumah?" tanya Saga dan Rengga mengedikkan bahunya.


Tak lama terlihat mama Dice dari rumah sebelah. Ia melangkah menuju tempat


Saga dan rengga berdiri.


"Mencari Diandra?" tanya mama Dice.


"Iya ibu, tahu ke mana?" tanya Rengga ramah.


"Kemarin pindah rumah ikut suaminya, sempat pamit pada saya," ujar


mama Dice.


Rengga dan Saga kaget, wajah Saga tampak menahan marah seketika.


"Oh iya ibu terima kasih, kami permisi," Rengga pamit mengajak


Saga dengan menggerakkan alisnya.


"Brengsek itu mengambilnya Ngga," ujar Saga dengan wajah memerah


menahan marah.


"Sagaaa, dia suaminya, dia berhak, kita siapanya, kita yang harusnya


tahu diri," ujar Rengga lagi, sambil menepuk pundak Saga.


Tak lama terdengar notifikasi di ponsel Rengga, Rengga merogoh ponselnya di


saku jakenya, lalu membacanya dan menghela napas.


"Diandra Ngga?" tanya Saga dan Rengga mengangguk.


"Dia memberitahu telah pindah ke rumah besar, di pinggir jalan utama


kota ini, ah sudahlah Ga, kita masih bisa menemuinya di kantornya Ga, ayolah


kita pulang,"ajak Rengga dan Saga menghembuskan napas dengan kuat.


Kau mengambilnya, aku akan membunuhmu, aku pastikan itu..entah kapan tapi


kau harus tahu bahwa menderita karena cinta itu sakit dan perih


****