
"Sini sayang, duduk, akan mama jelaskan agar kau tak salah paham," ujar mama Al.
Diandra melangkah pelan, dan duduk di samping Al.
"Nggak ada yang perlu
dijelaskan ma, Di capek, yang kapan hari Maya, sekarang Nesya, lalu
kapan saya bisa tenang menjadi istri Al kalau masa lalu Al muncul satu
per satu, saya tidak tahu berapa wanita yang berada di sekeliling Al,
dan anehnya mengapa harus ke Al, Al kan sudah berkeluarga, ada saya dan
Keysa juga sebentar lagi bayi kami, harusnya mereka berpikir, bahwa saya
akan tersinggung dan mungkin salah paham jika mereka minta tolong pada
Al, orang tua Maya minta tolong Al untuk menikahi Maya, orang tua Nesya
minta tolong agar Nesya lepas dari tunangannya yang saya pikir takkan
bisa lepas karena laki-laki itu bukan orang sembarangan, apakah kita
akan selalu bersama Al? Aku jadi lelah kalau seperti ini terus," Diandra
mulai terisak.
Al meraih Diandra ke dalam pelukannya, membiarkan istrinya menangis.
"Di, kau tahu? Al hanya mencintaimu, dia tak pernah mencintai yang lain," ujar mama Al.
"Di takut ma, Di capek
kayak gini, mending..., mending Di sendiri dari pada lelah memikirkan Al
akan meninggalkan saya," tangisan Diandra semakin jadi.
"Tidak akan pernah, aku
takkan pernah meninggalkanmu, aku sudah kesakitan saat kau tinggalkan,
jangan pernah berpikir untuk pergi lagi Di," ujar Al dengan mata
berkaca-kaca.
****
"Terima kasih akhirnya
mas Rengga mau datang, aku tahu mas Rengga sibuk, tapi pernikahan kita
sudah di depan mata, maaf bikin mas capek seharian keliling fitting
baju, dan memastikan semuanya sudah siap," ujar Silmi.
Rengga hanya tertawa dan mengelus bahu Silmi yang berada di dekatnya.
"Kamu nggak usah terlalu
formal kalau sama aku Sil, sesibuk apapun aku pasti datang, pernikahan
ini bukan main-main, hanya satu hal yang aku pinta, setelah kita nikah
bagaimana? Pekerjaanku semuanya ada di Jakarta, firma kami, perusahaan
papa yang lain, lalu gimana Sil, masa setelah kita nikah LDR an, lalu
bagaiman ibumu?" Tanya Rengga.
"Itu sudah aku pikirkan
mas, sempat berbicara lama dengan ibu, ibu di sini bersama sepupuku dan
pembantu yang biasa merawat ibu, paling tidak aku sebulan sekali
menengok ibu ke sini, ibu mengharuskanku ikut mas Rengga," sahut Silmi.
"Lalu bagaimana dengan butik dan konveksi milik Diandra? Sudah kamu bicarakan juga?" Tanya Rengga lagi.
"Sudah dan sepertinya Bu Diandra akan menjual pada seseorang,"
Rengga tersenyum lega. Lalu meraih tangan Silmi dan menciumnya.
"Tak lama lagi, kita akan selalu bersama Sil," ujar Rengga lirih. Silmi hany mengangguk dan berusaha tersenyum meski gugup.
"Boleh aku cium kamu?" Tanya Rengga. Dan Silmi mengangguk.
"Hanya kening mas ya," pinta Silmi.
"Yah, hanya kening," sahut Rengga.
****
"Senengnya anak cantik
papa mulai bisa jalan, minggu depan dah bisa ikut ke nikahannya Om
Rengga sama Tante Silmi," ujar Al, saat Key mulai melangkah perlahan ke
arahnya dibimbing Diandra yang berjalan di samping Keysa.
Keysa hanya tersenyum dan Diandra menarik kursi agar Key bisa duduk dengan nyaman.
"Om Saga datang juga?" Tanya Key tiba-tiba.
"Sayaaang kenapa sih Om
Saga terus, dulu pas awal-awal ketemu papa selalu cari papa eh sekarang
selalu cari Om Saga, papa ngambek nih," kata Al pura-pura marah. Keysa
hanya tersenyum.
"Ih papa lucu, papa kan
selalu ada di samping Key sekarang, lagian Keysa ingat dulu kan Om Saga
yang sering jagain Key di rumah kalau mama sibuk, Om Renggga juga sih
tapi Om Rengga jarang ngajakin Key ngomong," sahut Key.
kalau Key lebih sehat, ke rumah om Saga ya Pa, Ma?" Pinta Keysa, Al dan
Diandra saling memandang, rasanya tak mungkin mengajak Key ke penjara.
Apalagi tadi siang putusan sudah jatuh dan Al dijatuhi hukuman 15 tahun
penjara potong masa tahanan.
****
Saga membaca buku dalam
ruang tahanannya yang sempit, Al dan mamanya mengirimi beberapa buku, ia
bersama dengan lima orang lainnya dalam ruang tahanan, tapi Saga tetap
bersyukur karena ia ditempatkan bersama tahanan yang ternyata usia para
tahanan itu lebih tua darinya dan menempati sel tahanan lebih lama dari
pada Saga.
Bermacam kasus yang
mereka alami, mulai pembunuhan, pencurian yang akhirnya membunuh
korbannya, penyekapan hingga berakibat korbannya meninggal dan yang
paling mengerikan salah satu diantaranya malah memutilasi korbannya
hanya karena alasan cinta.
Saga tak menanggapi,
karena ia berada di penjara juga karena cinta. Cinta yang membuatnya
buta, kalap dan mengakibatkan korban lain yang tak pernah ia bayangkan.
Cinta kadang membuat
akal tak berjalan lurus, perasaan jadi lebih dominan, dan hanya
penyesalan yang ada di ujung saat kenyataan tak sesuai harapan.
Saga kembali menatap
lima orang temannya yang beraktivitas beragam, ada yang khusuk mengaji,
ada juga yang hanya menatap dengan tatapan kosong ke luar jeruji, ada
tiga orang bercerita tentang kejayaan masa lalu mereka, pernah jadi
pejabat dan berakhir di penjara hanya karena cemburu, sakit hati, merasa
diremehkan yang semuanya atas nama cinta.
****
"Saga pasti tidak akan
bisa ke mana-mana lagi, ma, putusan telah jatuh dan dia dibawa ke tempat
yang semestinya," ujar Al pada mamanya, saat mereka duduk berdua di
ruang makan, hari semakin larut.
"Yah, biar mama yang
akan ke sana, dia minta ke mama, buku dan alat tulis, dia pengen nulis
katanya Al, dia pengen bikin sesuatu agar bisa dibaca orang lain, agar
nggak menyesal seperti dia, berbuat hal yang merugikan diri sendiri,
lebih-lebih orang lain" ujar mama Al dengan sendu.
" Mama menyesal, mama
juga punya andil membuat ia punya sifat seperti itu, tapi mama juga tak
bisa disalahkan, karena wajah Saga sama seperti mamanya, wanita yang
telah membuat suami mama berpaling," perlahan isak mamanya terdengar
oleh Al.
Al bangkit dari duduknya dan melangkah menuju mamanya yang terisak, mengusap bahu mamanya.
"Kita akan jadi keluarga
hebat dan solid setelah ini mama, kita beri dukungan pada Saga, agar
dia tahu bahwa dia tidak sendiri," ujar Al.
"Ada apa dengan Om Saga papa?" Tanya Key yang tiba-tiba muncul, berjalan perlahan, sambil memegangi dinding.
"Key, kok sendiri
sayaaang, mana mama?" Tanya Al bergegas mendatangi anaknya dan memegang
tangan Key agar berjalan perlahan menuju kursi di ruang makan.
"Mama terlihat lelah, dari tadi menemani Key tidur dan mama malah nggak bangun-bangun," sahut Key.
"Lagian ya kenapa Key bangun? tuh lihat hampir jam dua belas," ujar Al lagi, sambil mendudukkan Key di kursi.
"Key capek, kebanyakan
tidur, malah badan sakit semua. Papa, Key mau tanya kenapa Om Saga gak
bisa ke mana-mana? Tadi Key denger, kenapa ya Pa? Om Saga sakit?"
Al dan mamanya saling menatap, dan bingung akan menjelaskan bagaimana pada Keysa.
****