
Rengga melangkahkan kakinya lagi menuju sofa untuk menunggu Diandra dan Key
namun menemukan Al duduk di sofa itu juga.
Rengga duduk tak jauh dari Al, mengambil ponselnya dan mulai asik membuka
fitur-fitur dalam ponselnya.
"Maafkan aku telah mengambilnya darimu," ujar Al pelan.
Rengga menoleh dan mengangguk dengan wajah datar.
"Mungkin sudah jalan nasibku, hanya menjaga jodohmu, kau ambil dia
dariku, kau campakkan, lalu aku kembali menjaganya namun aku tahu hatinya telah
tak utuh, heh dia mencintaimu, tak ada lagi sisa untukku, entah apa yang kau
lakukan, enam bulan, hanya enam bulan kau sanggup membuat dia tak bisa
berpaling darimu, meski ia menyangkal, namun matanya merindukanmu, sangat,
hahahah aku bodoh, menjaganya sampai saat ini, meski aku tahu ia tak lagi
mencintaiku," Rengga menatap ujung sepatunya dan menghembuskan napas
dengan berat.
"Aku tak mencampakkannya, tak pernah, dia yang meninggalkanku,"
suara Al mendadak berat.
"Itu dia lakukan hanya karena takut kau usir, dia tak siap, takut
hatinya tersakiti, tak bisa dia bayangkan jika ia diusir oleh orang yang ia
cintai, dia menemuiku dalam keadaan hamil dan bodohnya aku, aku menjaga
wanitamu, anakmu, mungkin karena aku sangat mencintainya, jadi aku tak bisa
membuatnya menderita," ujar Rengga sambil menyandarkan badannya ke sofa.
"Maafkan aku, dari mana kau tahu bahwa akuu..," Al tak melanjutkan
saat terdengar tawa pelan Rengga.
"Siapa yang tak tahu kamu dan keluargamu di negara kita ini," ujar
Rengga.
Tak lama pintu terbuka dan Diandra kaget saat Key melangkah menuju Al,
melepaskan genggaman tangannya.
"Keeey," teriak Diandra namun Keysa tak peduli.
"Papa janjikan mau bawa Key jalan-jalan?"
"Yah, Key mau ke mana?" Al melihat mata murung itu berpendar
bahagia.
"Makan sama mama dan papa," ujarnya mantap.
"Katanya mau jalan-jalan?" tanya Al lagi.
"Makan dulu, baru jalan-jalan," sahut Key.
"Baiklah Di, aku pulang duluan," Rengga melangkahkan kakinya ke
luar, Diandra benar-benar merasa tak enak karena tadi ia berangkat bersama
Rengga.
"Nggaaaa," teriak Di. Rengga menoleh dan tersenyum sambil
melambaikan tangan.
"It's ok, Di,"
****
"Kau tak makan?" tanya Al saat dirinya dan Key sedang asik makan.
Diandra menggeleng, lalu meraih gelasnya yang berisi apel mojito, meneguknya
perlahan.
Setelah makan ternyata Key merasa lelah dan ingin kembali ke hotel.
****
Setelah menidurkan Key, Diandra menuju Al yang masih duduk di sofa.
"Pulanglah, besok aku kembali bersama Key, pesawat jam 10 pagi,"
ujar Diandra dan Al menatap wanita di depannya dengan tatapan rindu.
"Kau benar-benar tak mau kembali padaku Di?" mata Al menatap wajah
Di, ia raih badan Di dan ia peluk erat.
"Aku mencintaimu Di, jauh sebelum kita menikah, aku tak pandai berkata-kata,
aku tak terbiasa meski banyak wanita cantik disekelilingku,"
Tubuh Diandra merasakan kedamaian sejenak saat Al memeluknya meski akhirnya
ia mendorong pelan.
"Kau hanya salah paham, hubungan kita selama enam bulan tak berlangsung
baik, kita tak berkomunikasi dengan baik, aku yang salah Di, aku ingin kita
mengulang dari awal, kau mau?"
Mata Al terlihat memohon, meski wajahnya tetap terlihat dingin seperti
biasa, tanpa ekspresi.
Diandra diam saja dan terlihat bingung.
"Kau mengkawatirkan mantan pacarmu, apakah kau menjanjikan sesuatu
padanya?"
Diandra menggeleng, ia menghapus air mata yang tiba-tiba mengalir, Diandra
tak tahu harus berbuat apa, disatu sisi ia memang masih sangat mencintai Al
"Pulanglah Al," usir Diandra lagi.
"Aku akan pulang, namun besok, kau cancel tiketnya, atau anggap hangus
saja, akan aku antar kau dan Key menggunakan pesawat keluargaku," Al masih
menggenggam tangan Di.
"Tidaaak aku terlanjur mengatakan pada Rengga, aku memintanya
mengantarku ke bandara," Diandra terlihat merasa tak enak.
"Aku akan menelponnya, biarkan aku mengantarmu Di, biarkan aku menebus
kesalahanku," kembali tatapan memohon Al meruntuhkan pertahanan Di.
Al kembali memeluk Di, dan Di tenggelam dalam badan besar itu, merasakan
lagi aroma badan laki-laki yang telah memenjara hatinya.
****
Al melihat lagi pendar bahagia Key saat masuk ke dalam pesawat, ia tidak
seperti anak seusianya yang akan melompat-lompat jika senang. Ia hanya melihat
sekelilingnya dengan tatapam kagum, menyentuh interior dengan pelan dan duduk,
menyandarkan badannya, merasakan kenyamanan dan menoleh pada Al.
"Ini punya papa?"
Dan Al mengangguk, mata Key membulat lagi.
"Papa banyak uangnya?" tanya Key dan Al tersenyum.
"Nanti semuanya untuk Key, pesawat ini juga," sahut Al. Key
bangkit dari duduknya berjalan mendekati Al, Al berjongkok dan Key memeluk
lehernya.
"Terima kasih papa, papa benar kan papanya Key?" Key melepas
pelukannya.
Al mengangguk.
"Nggak akan hilang lagi kan?" tanya Key dan mata Al mendadak
berkaca-kaca, lalu memeluk Key dengan erat.
"Tidak, tidak akan sayang, papa akan ada di dekat Key," sahut Al
dengan suara parau.
"Papa nggak bohong?"
"Tidak, papa janji,"
Diandra menoleh pada sisi yang lain, ia tak mampu membendung air matanya,
hatinya gamang, Al ataukah Rengga?
Al yang ia cintai atau Rengga yang telah menjaganya dengan sabar.
Pesawat belum juga berangkat saat Diandra masih melamun dan dengan ekor
matanya ia merasakan Al yang memandanginya.
****
Siang hari setelah pesawat landing dengan selamat. Mereka melanjutkan
perjalanan dengan menaiki mobil Diandra. Sopir Di sudah menunggu di bandara
saat mereka tiba tadi.
****
Al memasuki rumah yang ditempati Di dan Keysa.
Al merasakan kenyamanan rumah mungil yang ditempati dua wanita terkasihnya.
"Jika ingin istirahat di kamar depan Al, tapi maaf jangan menginap di
sini, orang-orang di sekitar sini tahu bahwa aku tidak mempunyai suami,"
ujar Diandra.
"Lalu aku harus menginap di mana?" tanya Al.
"Ini di sebelah rumah ini, mama Dice menyewakan kamar, bersih, nyaman,
biasanya Rengga juga menginap di sana jika mengunjungi Key," sahut Di.
"Rengga sering ke sini?' tanya Al dan Di mengangguk.
"Kau pikir siapa yang membuat kami tetap bertahan, bisa tetap makan dan
hidup layak, dia yang memberiku fasilitas bermacam-macam hingga akhirnya aku
bisa membayarnya dengan lunas, meski ia awalnya ngamuk-ngamuk tidak mau aku
bayar, aku tidak mau gratis, terlalu berat aku menanggung hutang budi, akhirnya
ia mau juga setelah aku paksa," ujar Di.
"Papa tidur sama Key kan malam ini?" tiba-tiba Key muncul dan
keduanya kaget.
"Tidak sayaaang, papa tidur di rumah sebelah," sahut Al dan wajah
Key memelas memandang Di.
"Boleh kan Key tidur dengan papa di rumah oma Dice ma? "
"Boleh, asalkan Key berjanji tidak menyusahkan papa," ujar Di.
Perlahan senyum Al muncul saat Diandra menyebut kata papa.
Al membayangkan jika mereka dapat hidup bertiga, Al ingin Di menyebut
papa berulang padanya.
****