
Al menunduk, memejamkan matanya, agak lama.
"Benar kan Al, ada sesuatu yang terjadi diantara kalian? Mengapa sampai ia sering ke kantormu?"
Al membuka mata dan menatap wajah istrinya dengan putus asa. Ia tak tahu lagi cara meyakinkan Diandra.
Ia dorong Diadra ke sofa
dan mencium istrinya dengan membabi, buta. Diandra berusaha
menghentikan ciuman Al namun ia merasakan ciuman Al yang berbeda,
Diandra merasakan ketakutan yang luar biasa, ia mengingat masa awal
mereka melakukan itu.
Al membuka blouse
Diandra dengan kasar mengangkat bra Diandra dan menyesap dada Diandra
kanan dan kiri bergantian, rasa sakit dan nikmat secara bergantian
dirasakan oleh Diandra.
"Aaalll," erangan Diandra mulai terdengar. Dan Al tak peduli.
Namun saat ciuman Al turun ke perut Diandra, gerakan Al berubah lembut, menciumnya dengan sepenuh hati dan terdengar isakan Al.
"Aku mencintaimu,
mencintai mamamu, dengan apa aku meyakinkan mamamu bahwa aku tak
melakukan apapun dengan orang yang ia curigai,"
Mata Diandra berkaca-kaca, ia mengusap kepala Al yang semakin turun menciumi tubuhnya.
Lalu merasakan dinginnya ac apartemen Al saat tubuh Diandra sudah tak berbalut apapun.
"Dingin Al," bisik Diandra.
"Tidak akan lagi setelah ini Di,"
Diandra merasaan badan
besar Al memeluknya dari belakang, menciumi leher dan tengkuknya lalu
merasakan sesak tiba-tiba saat Al menyatukan mereka berdua.
"Kau merasa nyaman?" tanya Al dan Diandra mengangguk.
"Boleh aku lanjutkan?"
Kembali Diandra mengangguk.
Al memeluk Diandra dan bergerak semakin cepat.
"Pindah ke kamar Al, di
sini tak nyaman," pinta Diandra dan Al menghentikan gerakannnya,
mengendong Diandra ke kamar, menuntaskan yang tertunda.
****
Beberapa jam kemudian, di rumah sakit tempat Maya dirawat...
Diandra dan Al disambut oleh kedua orang tua Maya. Diandra akhirnya memaksa Al agar mempertemukannya dengan Maya.
" Al, ah ini istrimu?" tanya Om Hidayat papa Maya.
"Maya semakin tak ada
harapan, kita hanya menunggu saja Al, namun tante tetap berharap agar
kau memenuhi keinginan terakhir putri kami," ujar tante Fini, mama Maya.
Al menggenggam tangan Diandra dengan erat.
"Mohon maaf om, tante,
saya sudah memiliki istri, dia sedang mengandung bayi kami, kami sedang
berduka, anak kami yang pertama mengalami musibah dan baru saja siuman
dari koma, jadi saya tak ingin menambah sedih istri saya dengan
pernikahan itu, meski mungkin hanya bersifat menyenangkan Maya, tapi
saat saya mengucap akad nikah, maka Allah dan para malaikat ikut menjadi
saksi atas apa yang saya ucapkan, jadi mohon maaf jika saya tidak bisa
melaksanakan keinginan itu, saya mencintai istri saya, sangat om, tante,
saya ingin, cukup satu kali saya mengucapkan akad nikah," ujar Al
panjang lebar.
Mama dan papa Maya menghela napas.
"Ya kami tak dapat
memaksamu, Al, hanya itu salah satu usaha kami sebagai orang tua untuk
memenuhi permintaan terakhir anak kami," ujar mama Maya.
"Boleh kami masuk om, tante?" tanya Al.
"Masuklah, kami baru saja ke luar dari ruangannya karena tak tega melihat kondisinya Al," sahut mama Maya.
Al dan Diandra beriringan masuk ke ruangan, tempat Maya dirawat.
Membuka perlahan dan melihat badan ringkih yang sudah tidak memiliki rambut, dengan berbagai alat yang menempel di tubuhnya.
Perlahan kelopak mata
Maya terbuka,dan samar-samar mulai terlihat wajah yang ada di dekatnya,
berdiri dan terlihat laki-laki yang ia cintai merengkuh wanita cantik di
sampingnya.
"Al, cantik istrimu," suara Maya lirih terdengar.
"Ya, dia cantik, dan kau juga cantik," sahut Al.
"Tidak, aku tak pernah cantik untukmu," sahut Maya lagi.
"Diamlah, istirahatlah," ujar Al.
"Jadi kau benar-benar tak mau menjadi suamiku meski beberapa hari Al?"
"Tidak Maya, aku punya
istri, anak yang baru sadar dari koma dan calon bayi kami diperut
istriku, aku milik mereka, dan tidak akan berbagi cinta dengan siapapun
lagi, kita tetap teman Maya, teman main sejak kecil dan akan tetap
seperti itu, aku menyayangi, aku kakak bagimu," ujar Al pelan sambil
menatap Maya yang memejamkan mata dan perlahan air mata itu mengalir di
pipi yang hanya berbalut tulang.
"Akan aku bawa mati cintaku padamu Al," bisik Maya lirih.
"Tidak Maya, kau akan sehat, kau akan bertemu dengan seseorang yang mencintaimu," sahut Al lagi.
"Al boleh aku minta satu hal sebelum aku mati?" tanya Maya.
"Cium keningku Al, aku menginginkannya sejak dulu," pinta Maya.
Al menatap Diandra, dan Diandra mengangguk.
Al mendekatkan wajahnya, menunduk dan mencium kening Maya dan air mata Maya deras mengalir.
"Terima kasih, pulanglah, dan jangan pernah ke sini lagi," ujar Maya, lalu memejamkan matanya lagi.
****
Selama perjalanan pulang
Diandra diam saja. Ia hanya merapatkan badannya ke dada Al, dan Al
memeluknya semakin erat. Mobil dikemudikan sopir Al dengan kecepatan
sedang. Membawa mereka kembali ke rumah sakit tempat Key dirawat.
****
Saat masuk ke kamar Key, Al dan Diandra melihat Rengga yang asik ngobrol dengan mama Al.
"Kalian kok lama? Dari mana saja?" tanya mama Al.
"Dari rumah sakit, menjenguk Maya," sahut Al dan mama Al terlihat kaget.
"Lalu?"
"Selesai sudah Ma, aku hanya tak ingin mereka berharap, jadi aku tegaskan tadi," ujar Al.
"Bagaimana reaksi mereka?"
"Ya jelas kecewa Ma,"
"Yah sudah, yang penting kamu sudah menjelaskan,"
"Gimana persiapan nikahnya Ngga?" tanya Al dan Rengga hanya mengangguk.
"Baik, lancar sejauh
ini, tapi tadi, anakmu, ngigo Al, dia manggil Saga, apa aku video saja
ya si Saga, biar pas Key bangun dia jadi seneng bisa lihat Saga bicara
meski hanya lewat video," ujar Rengga memberi usul.
"Terserah enaknya gimana
Ngga, aku ingin Key segera pulih, berjalan, bergembira layaknya
anak-anak, setelah dia pulih akan menjalani serangkaian operasi," ujar
Al.
"Aku rasa usulku akan membantu pemulihan Key," ujar Rengga.
"Kau tak tahu Al, bagaimana kedekatan kami sejak ia lahir," sahut Rengga lirih.
"Yah nggak papa Ngga, siapa tahu Key bisa segera pulih," ujar Diandra.
Obrolan terhenti saat ponsel Al berbunyi.. Al mendekatkan ponsel ketelinganya dan terlihat kaget.
"Ada apa Al?" tanya Diandra dan mama Al bersamaan.
"Maya meninggal,"
****