
Setelah sholat subuh Diandra segera melangkahkan kaki ke rumah mama Dice, ia
melihat mama Dice yang tengah memberi makan pada ikan-ikan kecil di kolamnya
yang tak begitu besar.
Hari masih agak gelap, Di membuka pintu pagar samping rumahnya yang langsung
bersebelahan dengan rumah mama Dice.
"Belum bangun mereka Di, anakmu kayaknya lengket banget sama laki-laki
itu, jarang sekali aku mendengar Key berbicara banyak, semalam malah aku
mendengar tawa Key, siapa dia Di, kok Key panggil dia papa?" tanya mama
Dice.
Lama Di diam dan menghepa napas berat.
"Diaaa memang papanya Key, mama,"
Mata mama Dice membulat...
"Tak salah hatiku semalam merasa bahwa banyak kemiripan di wajah Key
dengan laki-laki itu, setelah sekian tahun Di, kau masih belum melupakan sakit
hatimu dan mengingkari hatimu?" mama Dice tahu bagaimana perasaan Di
karena dengan wanita tua itulah Di terbiasa mencurahkan perasaannya.
"Ah aku mau membangunkan mereka mama, mereka belum sholat subuh,"
Diandra mengalihkan pembicaraannya dan membuka perlahan pintu kamar yang
ditempati Al dan Key tidur.
Dada Di terasa sesak saat keduanya tidur saling memeluk.
Perlahan Di melangkahkan kakinya, dan menyentuh bahu Al.
"Aaal sholat subuh dulu," suara Di pelan dan Al bergerak melepas
pelukannya pada Key dan menatap wajah Di yang dekat dengan wajahnya. Seketika
Di menjauhkan wajahnya saat sadar tadi ia berbisik dekat telinga Al.
"Yah aku sholat dulu, kasihan Key nggak usah saja Di," ujar Al
mengusap rambut Key.
"Dia akan menangis jika tidak dibangunkan untuk sholat Al," sahut
Di.
"Sekecil itu, dia sudah tahu arti beribadah?" Al kembali memeluk
Key, menciumi kening anaknya.
"Di preschool tempat dia bersekolah diajarkan sholat, sejak dia bisa
dan hafal doa sholat, dia sudah mempraktikkannya," sahut Diandra.
Perlahan Al membangunkan Key, dan Key membuka matanya, memeluk Al.
"Papa nggak ilang ternyata," ujar Key dalam pelukan Al.
Al merasakan dadanya sesak tiba-tiba.
"Sholat sama papa yuk," ajak Al dan Key mengangguk cepat.
Bertiga mereka ke luar dari kamar dan bergegas menuju rumah Di.
****
Selesai sholat subuh Al dan Key kembali bergelung di kamar depan.
"Antar Key ke sekolah ya pa?" pinta Key.
"Hari ini Key sekolah?" tanya Al dan Key mengangguk.
"Iya Key sekolah tiga hari dalam seminggu, hari Senin, Rabu, dan
Jumat," jawab Di sambil meletakkan kopi plus creamer dan beberapa potong
kue basah di meja yang ada dalam kamar itu.
"Maaf di sini kalau pagi-pagi adanya kue basah, tadi aku menyuruh
pembantuku membeli di toko kue pojok sana," ujar Di, Al menatap Di,
senyumnya mulai mengembang meski samar-samar, ternyata Di masih mengingat
kesukaannya, kopi plus creamer di pagi hari. Al meraih kopinya dan menyesapnya
berulang, mendesis saat merasakan panas.
"Ayo Key mandi dulu sayang ya, siap-siap ke sekolah, lalu
sarapan," Di meraih badan Key, dan menurunkan dari kasur.
Key melangkah ke luar kamar diikuti oleh Di.
Saat Key sedang mandi yang diawasi oleh pembantu Di, Diandra mendatangi Al.
"Al, kau kapan pulang, maafkan aku, aku hanya tak ingin Key jadi sangat
bergantung padamu," ujar Di pelan dan duduk tak jauh dari Al.
"Aku papanya, tak masalah jika dia bergantung padaku, lagi pula, kita
sama-sama tak terikat dengan siapapun, aku ingin kita bersama lagi Di, aku mohon,
demi Key, dan hatiku juga," ujar Al.
"Kau memohon tapi wajahmu tetap dingin," Di bergumam.
Keysa muncul dengan seragam cantiknya.
Mata Al membulat, dan memeluk Key yang tiba-tiba duduk dipangkuannya.
"Cantik, papa mandi dulu ya, biar papa yang antar," Al mendudukkan
Key dan menuju kamar depan untuk mandi.
****
Ada kebahagiaan di mata Key saat ia memegang tangan papanya menuju pintu
gerbang sekolah.
Lalu melambaikan tangannya dan melangkah masuk ke sekolahnya dengan langkah
ringan.
****
Al kembali ke rumah Di, saat masuk ke ruang tamu ia melihat Di di ruang
makan yang hanya menggunakan kimono bahan satin dengan rambut basah habis
mandi. Menghadap ke meja makan dan menata lauk di meja makan.
Al menahan gairahnya yang tiba-tina muncul, memeluk Di dari
belakang,menyibak rambut Di lalu menciumi lehernya.
Sejenak Di kaget dan merasakan tubuhnya yang gemetar, mendengar napas Al
yang memburu saat perlahan tangan Al masuk ke dalam kimononya dan *** dada
Di yang membusung, ditengah-tengah napasnya yang juga memburu Di melepaskan
tangan Al dan berbalik menatap laki-laki itu.
"Al ada pembantu di sini, benarkan ternyata, kau hanya ingin
tubuhku?" Di membetulkan kimononya.
Al kembali menarik Di ke dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu Di, kalaupun ada kejadian seperti tadi hanya padamu
aku merasakan gairah yang amat sangat," ujar Al dan Di merasakan di
perutnya milik Al yang mengeras.
Di mendorong dada Al, menatap dengan bingung wajah laki-laki di depannya.
"Tidak akan ada yang tahu selama empat tahun kita berpisah Al, dan aku
tak menyalahkanmu jika kau melakukan dengan yang lain, maafkan aku jika
terlihat seolah menggodamu dengan pakaian seperti ini, aku tak mengira kau
cepat kembali, makanlah Al, ini sudah aku siapkan kesukaanmu, aku ganti baju
dulu dan akan ke kantor," ujar Di masuk ke kamarnya dan menutupnya,
menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata.
Ya Tuhan, aku menginginkannya....
****
Saat akan berangkat ke kantor Al meraih kunci mobil Di dan menjejeri
langkahnya.
"Aku antar kamu Di, setelahnya aku akan jemput Key dan setelah kamu
pulang dari kantor, aku akan pulang," ujar Al dengan suara berat.
*****
Berdua mereka menyusuri jalan dengan mobil Di, terlihat Di yang meraih map
di jok belakang. Lalu membuka map, terlihat membaca kontrak kerja.
Sekilas Al melihat logo map ditangan Di, keningnya berkerut berusaha
mengingat sesuatu.
Saat memasuki kantor Di yang nyaman, lalu melihat logo besar di tengah lobby
yang dikelilingi lampu-lampu kecil seketika ia ingat akan sesuatu.
"Di iniii ini kan, ah bukankah kita ada kerja sama untuk pembuatan
iklan perusahaanku, aku meminjam gaun-gaun batik rancanganmu untuk iklan itu,
dan itu yaaa itu sekretarismu kan yang menemui aku waktu itu," Al dan Di
saling menatap karena tak mengira jika perusahaan mereka terikat kontrak.
Silmi yang baru datang tampak kaget.
"Ah maaf Bu Diandra, saya terlambat, loh ini Pak Afalmer kan, ada apa
bapak sampai ke sini, jauh-jauh ke kota ini langsung, apa ada kesalahan yang
kami lakukan?" tanya Silmi.
"Tidaaak, tidak, saya menjenguk anak dan istri saya ke kota ini,"
ujar Al dan wajah Di terlihat canggung, Silmi nampak mengangguk namun bingung
saat melihat mata Al yang terus menatap Diandra.
****