A STORY ABOUT LOVE

A STORY ABOUT LOVE
Episode 1



"Pergilah, bukan tempatmu di sini, bukankah berulang kau mengatakan


hanya perlu tubuhku selama kita terikat perjanjian konyol itu, mengikat


keluargaku karena hutang budi, kini kita tak lagi ada hubungan, selesai sudah


semuanya kau menikmati tubuhku dan papaku menikmati fasilitas dari keluargamu,


maka saat papamu meningal maka aku bebas dari perjanjian tak masuk akal itu,


perjanjian yang menguras air mataku, menginjak harga diriku hingga jatuh


ke tempat paling bawah, hina dan tak berharga, kini aku punya kedudukan Al,


kedudukan yang tak mudah aku raih, aku merasakan lelahnya berubah dari


kepompong menjadi kupu-kupu selama empat tahun, yah empat tahun,"


****


"Jika ....papa boleh memohon papa akan memohon Di, kabulkan permintaan


papa, semua biaya kuliahmu di Singapura, pengobatan mamamu sampai ke luar


negeri ke Australia bahkan terakhir ke Cina saat ia harus cangkok hati meski


akhirnya mamamu meninggal, semua biaya dari keluarga Citro Kusumo, Pak Cahyono


sampai menangis memintamu menjadi menantunya Di, apa yang harus papa lakukan,


bagaimana cara papa menolak Di, dia dalam kondisi sakit keras, dia hanya ingin


pewaris tunggalnya menikah sebelum ia meninggal?"


Kata-kata itu mendengung di kepala Diandra, ia tak tahu harus berkata apa,


saat papanya berlutut di kakinya, bayangan Rengga berkelebat di matanya,


laki-laki yang telah menemaninya selama tiga tahun ini, laki-laki yang selalu


meyakinkan Diandra bahwa sesakit apapun keadaan akan selalu berada di dekatnya,


kini ia harus menerima perjodohan tak masuk akal ini.


Berkelebat wajah lain, wajah laki-laki yang ia tahu dari berita bisnis


online dan televisi, laki-laki berwajah dingin Afalmer Zafezar Citro Kusumo,


laki-laki yang selalu dikelilingi wanita cantik tapi tak menikah hingga usianya


lewat tiga puluh lima tahun.


Akhirnya Diandra mengalah, membiarkan nasib membawanya ke mana, karena ia


memang tak menemukan jalan lain selain menjadi tumbal dari apa yang telah


keluarganya terima dari keluarga kaya raya itu.


Kini ia berhadapan dengan wajah dingin itu dihadapannya, dengan kontrak


yang tak masuk akal, ia hanya akan menjadi istri laki-laki itu sampai papanya


meninggal, tidak boleh hamil, serta akan memberi kompensasi setelah mereka


bercerai. Diandra tak membaca lagi apapun yang ada di sana, ia segera tanda


tangan dan berlalu dari hadapan Al.


Pesta besar-besaran di gelar, beberapa stasiun televisi ikut meliput,


senyum palsu mereka ikut mewarnai pesta malam itu.


Dan mulailah kesakitan dan penderitaan Diandra. Jika dikatakan sakit


pastilah laki-laki itu sakit jiwa, seminggu mereka tak pernah bercakap-cakap,


mereka tidak sekamar, hanya saat makan saja mereka bersama mama dan adik Al.


Berbicara seperlunya dan masuk kembali ke kamar, pagi, seperti biasa berangkat


ke kantor dengan mobil masing-masing.


Memasuki minggu kedua mulailah cerita sendu itu, saat laki-laki dingin


itu tiba-tiba menariknya dengan kasar, menciumi bibir Diandra dengan brutal,


menyobek baju tidurnya dan memasuki Di sekali hentak, jeritan kesakitan Di


sempat membuatnya kaget namun tak lama kemudian ia menambah kecepatan


gerakannnya dan menggeram di ceruk leher Diandra.


Kembali kaget saat melihat bercak darah di sprei tempat tidur Di. Dan


malam-malam selanjutnya selalu menjadi masa menakutkan dan menyakitkan bagi Di.


Memasuki bulan ketiga ada yang aneh, laki-laki itu sering kepergok


memandanginya saat makan, namun ia kembali memasang wajah dingin saat ketahuan.


Di akhir pergumulan mereka, biasanya ia segera pergi, tapi sesekali kadang


laki-laki itu menyelimutinya.


Bulan keempat di meja Diandra kadang ada baju tidur, celana dalam dan


bra, mungkin maksudnya akan mengganti milik Di yang selalu ia robek.


Bulan kelima, laki-laki aneh itu, bahkan masih tidur di kasur Diandra,


memeluk tubuh Di dalam pelukannya, tanpa kata-kata. Pernah Di terbangun tengah


malam karena badannya sakit setelah laki-laki itu tanpa henti memasukinya,


karena selama tiga hari ia ke luar kita dan saat pulamg ia membabi buta


menikmati tubuh Di, dan malam itu saat Di terbangun ia mendapati laki-laki itu


memandangi tubuhnya yang tanpa pakaian sehelaipun, Di meraih selimut.


Suara laki-laki itu, untuk pertama kalinya berkata lembut padanya.


Diandara diam saja.


Bulan keenam entah mengapa Diandra merasakan kenyamanan berada di balik


badan besar itu, merasakan kehangatannya, dan menciumi aromanya...


Di akhirnya sadar bahwa ia mulai jatuh, jatuh pada lelaki yang perlahan


tapi pasti membuatnya terikat selamanya, karena ternyata Di benar-benar jatuh


cinta pada Al laki-laki kasar dan dingin itu.


Dan kabar itu membuyarkan semuanya, papa laki-laki itu meninggal, tanpa


pamit Di berkemas, ia tak mau jika ia diusir, Di ingat semua point perjanjian


itu, meski sakit dan perih dadanya, saat semua sibuk dengan persiapan penguburan,


diam-diam Di meninggalkan rumah besar itu, membawa baju seadanya dan satu baju


tidur yang dibelikan oleh lelaki itu.


Sekali lagi Di menoleh ke rumah besar itu, ia tahu cintanya tertinggal di


sana, namun ia harus berbesar hati bahwa tak mungkin laki-laki itu


mencintainya.


Di melangkahkan kakinya jauh menuju kota yang tak akan pernah dijamah


oleh laki-laki itu.


Tanpa sadar dalam tubuhnya ada kehidupan yang akan mengikat Di dengan


laki-laki itu.


Aku pergi Al...akan aku bawa cintamu ke kota lain...


****


Empat tahun kemudian....


"Ibu Diandra, ada yang menelpon ibu tadi, menanyakan baju-baju yang


dipakai untuk pekan budaya nasional, ada yang tertarik ibu, mereka dari


perusahaan apa yaaaa ah kok lupa sih, ingin pakai baju itu untuk iklan


perusahaannya, ibu kan pakai kain tenun semua rancangannya, ini ini bu nama


perusahaannya" sekretaris Diandra memberi tahu.


"Eeemmm ya suru menghubungi aku nanti setelah jam makan siang,"


sahut Diandra...


****


"Silmi tolong catat semua tadi yang aku katakan padamu, minggu depan


kita akan membawa crew kita ke ibu kota, siapa saja yang ikut ini masih aku


catat," ujar Diandra pada sekretarisnya.


"Baik ibu akan saya catat, oh ya betapa hari kita di sana, saya akan


menyesuaikan dengan jadwal ibu yang lain," tanya Diandra.


"Empat hari,"


"Baik ibu,"


****


"Mama mau ke mana lagi?" tanya Keysa pada Diandra.


Diandra hanya diam, ia usap rambut anaknya, anak yang mewarisi semua wajah


laki-laki itu.


"Nggak lama kok sayang, di sini ada bi Siti sama mang Diding yang akan


menjaga Key, mama kan cari uang sayang, buat sekolah Key, buat beli baju dan


mainan Key juga," ujar Diandra mencoba memberikan pengertian pada anaknya,


meski usianya baru tiga tahun lebih, Keysa didewasakan oleh keadaan, anak itu


jarang berbicara lebih banyak diam dan hanya mengamati.


"Boleh Key minta sesuatu?"


"Boleh, Key minta apa?"


"Papa, Key ingin papa,"


"Selama ini kita baik-baik saja berdua sayang," sahut Di


"Semua teman Key punya papa," jawaban Key membuat Diandra bungkam


dengan mata berkaca-kaca.


Permintaan yang membuat Diandra tersentak dan bingung, ia rengkuh kepala


Keysa, sampai kapanpun Diandra tak bisa menjawab.


Kelebat bayang laki-laki berwajah dingin itu kembali menari di pelupuk


matanya.


Menjauhlah bayang-bayangmu Al, kami baik-baik saja, baik-baik saja dan


akan seperti ini selamanya...


****