
"Pergilah, bukan tempatmu di sini, bukankah berulang kau mengatakan
hanya perlu tubuhku selama kita terikat perjanjian konyol itu, mengikat
keluargaku karena hutang budi, kini kita tak lagi ada hubungan, selesai sudah
semuanya kau menikmati tubuhku dan papaku menikmati fasilitas dari keluargamu,
maka saat papamu meningal maka aku bebas dari perjanjian tak masuk akal itu,
perjanjian yang menguras air mataku, menginjak harga diriku hingga jatuh
ke tempat paling bawah, hina dan tak berharga, kini aku punya kedudukan Al,
kedudukan yang tak mudah aku raih, aku merasakan lelahnya berubah dari
kepompong menjadi kupu-kupu selama empat tahun, yah empat tahun,"
****
"Jika ....papa boleh memohon papa akan memohon Di, kabulkan permintaan
papa, semua biaya kuliahmu di Singapura, pengobatan mamamu sampai ke luar
negeri ke Australia bahkan terakhir ke Cina saat ia harus cangkok hati meski
akhirnya mamamu meninggal, semua biaya dari keluarga Citro Kusumo, Pak Cahyono
sampai menangis memintamu menjadi menantunya Di, apa yang harus papa lakukan,
bagaimana cara papa menolak Di, dia dalam kondisi sakit keras, dia hanya ingin
pewaris tunggalnya menikah sebelum ia meninggal?"
Kata-kata itu mendengung di kepala Diandra, ia tak tahu harus berkata apa,
saat papanya berlutut di kakinya, bayangan Rengga berkelebat di matanya,
laki-laki yang telah menemaninya selama tiga tahun ini, laki-laki yang selalu
meyakinkan Diandra bahwa sesakit apapun keadaan akan selalu berada di dekatnya,
kini ia harus menerima perjodohan tak masuk akal ini.
Berkelebat wajah lain, wajah laki-laki yang ia tahu dari berita bisnis
online dan televisi, laki-laki berwajah dingin Afalmer Zafezar Citro Kusumo,
laki-laki yang selalu dikelilingi wanita cantik tapi tak menikah hingga usianya
lewat tiga puluh lima tahun.
Akhirnya Diandra mengalah, membiarkan nasib membawanya ke mana, karena ia
memang tak menemukan jalan lain selain menjadi tumbal dari apa yang telah
keluarganya terima dari keluarga kaya raya itu.
Kini ia berhadapan dengan wajah dingin itu dihadapannya, dengan kontrak
yang tak masuk akal, ia hanya akan menjadi istri laki-laki itu sampai papanya
meninggal, tidak boleh hamil, serta akan memberi kompensasi setelah mereka
bercerai. Diandra tak membaca lagi apapun yang ada di sana, ia segera tanda
tangan dan berlalu dari hadapan Al.
Pesta besar-besaran di gelar, beberapa stasiun televisi ikut meliput,
senyum palsu mereka ikut mewarnai pesta malam itu.
Dan mulailah kesakitan dan penderitaan Diandra. Jika dikatakan sakit
pastilah laki-laki itu sakit jiwa, seminggu mereka tak pernah bercakap-cakap,
mereka tidak sekamar, hanya saat makan saja mereka bersama mama dan adik Al.
Berbicara seperlunya dan masuk kembali ke kamar, pagi, seperti biasa berangkat
ke kantor dengan mobil masing-masing.
Memasuki minggu kedua mulailah cerita sendu itu, saat laki-laki dingin
itu tiba-tiba menariknya dengan kasar, menciumi bibir Diandra dengan brutal,
menyobek baju tidurnya dan memasuki Di sekali hentak, jeritan kesakitan Di
sempat membuatnya kaget namun tak lama kemudian ia menambah kecepatan
gerakannnya dan menggeram di ceruk leher Diandra.
Kembali kaget saat melihat bercak darah di sprei tempat tidur Di. Dan
malam-malam selanjutnya selalu menjadi masa menakutkan dan menyakitkan bagi Di.
Memasuki bulan ketiga ada yang aneh, laki-laki itu sering kepergok
memandanginya saat makan, namun ia kembali memasang wajah dingin saat ketahuan.
Di akhir pergumulan mereka, biasanya ia segera pergi, tapi sesekali kadang
laki-laki itu menyelimutinya.
Bulan keempat di meja Diandra kadang ada baju tidur, celana dalam dan
bra, mungkin maksudnya akan mengganti milik Di yang selalu ia robek.
Bulan kelima, laki-laki aneh itu, bahkan masih tidur di kasur Diandra,
memeluk tubuh Di dalam pelukannya, tanpa kata-kata. Pernah Di terbangun tengah
malam karena badannya sakit setelah laki-laki itu tanpa henti memasukinya,
karena selama tiga hari ia ke luar kita dan saat pulamg ia membabi buta
menikmati tubuh Di, dan malam itu saat Di terbangun ia mendapati laki-laki itu
memandangi tubuhnya yang tanpa pakaian sehelaipun, Di meraih selimut.
Suara laki-laki itu, untuk pertama kalinya berkata lembut padanya.
Diandara diam saja.
Bulan keenam entah mengapa Diandra merasakan kenyamanan berada di balik
badan besar itu, merasakan kehangatannya, dan menciumi aromanya...
Di akhirnya sadar bahwa ia mulai jatuh, jatuh pada lelaki yang perlahan
tapi pasti membuatnya terikat selamanya, karena ternyata Di benar-benar jatuh
cinta pada Al laki-laki kasar dan dingin itu.
Dan kabar itu membuyarkan semuanya, papa laki-laki itu meninggal, tanpa
pamit Di berkemas, ia tak mau jika ia diusir, Di ingat semua point perjanjian
itu, meski sakit dan perih dadanya, saat semua sibuk dengan persiapan penguburan,
diam-diam Di meninggalkan rumah besar itu, membawa baju seadanya dan satu baju
tidur yang dibelikan oleh lelaki itu.
Sekali lagi Di menoleh ke rumah besar itu, ia tahu cintanya tertinggal di
sana, namun ia harus berbesar hati bahwa tak mungkin laki-laki itu
mencintainya.
Di melangkahkan kakinya jauh menuju kota yang tak akan pernah dijamah
oleh laki-laki itu.
Tanpa sadar dalam tubuhnya ada kehidupan yang akan mengikat Di dengan
laki-laki itu.
Aku pergi Al...akan aku bawa cintamu ke kota lain...
****
Empat tahun kemudian....
"Ibu Diandra, ada yang menelpon ibu tadi, menanyakan baju-baju yang
dipakai untuk pekan budaya nasional, ada yang tertarik ibu, mereka dari
perusahaan apa yaaaa ah kok lupa sih, ingin pakai baju itu untuk iklan
perusahaannya, ibu kan pakai kain tenun semua rancangannya, ini ini bu nama
perusahaannya" sekretaris Diandra memberi tahu.
"Eeemmm ya suru menghubungi aku nanti setelah jam makan siang,"
sahut Diandra...
****
"Silmi tolong catat semua tadi yang aku katakan padamu, minggu depan
kita akan membawa crew kita ke ibu kota, siapa saja yang ikut ini masih aku
catat," ujar Diandra pada sekretarisnya.
"Baik ibu akan saya catat, oh ya betapa hari kita di sana, saya akan
menyesuaikan dengan jadwal ibu yang lain," tanya Diandra.
"Empat hari,"
"Baik ibu,"
****
"Mama mau ke mana lagi?" tanya Keysa pada Diandra.
Diandra hanya diam, ia usap rambut anaknya, anak yang mewarisi semua wajah
laki-laki itu.
"Nggak lama kok sayang, di sini ada bi Siti sama mang Diding yang akan
menjaga Key, mama kan cari uang sayang, buat sekolah Key, buat beli baju dan
mainan Key juga," ujar Diandra mencoba memberikan pengertian pada anaknya,
meski usianya baru tiga tahun lebih, Keysa didewasakan oleh keadaan, anak itu
jarang berbicara lebih banyak diam dan hanya mengamati.
"Boleh Key minta sesuatu?"
"Boleh, Key minta apa?"
"Papa, Key ingin papa,"
"Selama ini kita baik-baik saja berdua sayang," sahut Di
"Semua teman Key punya papa," jawaban Key membuat Diandra bungkam
dengan mata berkaca-kaca.
Permintaan yang membuat Diandra tersentak dan bingung, ia rengkuh kepala
Keysa, sampai kapanpun Diandra tak bisa menjawab.
Kelebat bayang laki-laki berwajah dingin itu kembali menari di pelupuk
matanya.
Menjauhlah bayang-bayangmu Al, kami baik-baik saja, baik-baik saja dan
akan seperti ini selamanya...
****