
Saga kembali meneteskan air mata saat tahu jika Key mengalami koma.
"Bawa aku Ngga, bawa
aku, lakukan, usahakan, jika Al dan Diandra tak mau melihatku, suruh
nereka menjauh saat aku ke sana, aku hanya ingin bertemu Key, aku ingin
perasaanku tenang, seandainya Key pergi, paling tidak akan mengurangi
rasa bersalahku, mintakan permohonan atas nama kemanusiaan Ngga, aku
yakin akan memperoleh ijin," Saga terisak dan *** rambutnya dengan
kasar.
Sampai akhirnya jam besuk berakhir, sekali lagi Saga memohon pada Rengga agar mengusahakan keinginannya bertemu Keysa.
****
"Aku mohon Di, Al,
kabulkan permintaan Saga, jika kau tak ingin melihatnya, menjauhlah saat
ia ke sini, ia hanya butuh pengampunan dari anakmu, kemarin
pengacaranya meminta permohonan itu, dan dikabulkan, hanya ijin dari
kalianlah yang akan memperlancar pertemuan mereka, Keysa tumbuh bersama
aku, Saga dan dirimu Diandra, jadi aku yakin ada rasa rindu dalam diri
Saga dan mungkin juga Keysa.
Al mengusap bahu istrinya. Diandra menatap mata Al dan melihat suaminya mengangguk.
"Yah, silakan Ngga, tapi beritahu aku, aku masih belum sanggup bertemu kak Saga setelah ia memberikan rasa sakit pada Key,"
"Baik, baiklah, Di, aku akan menyapaikan pada Saga dan pengacaranya."
****
Al melihat dari jauh saat Saga di kawal oleh beberapa orang, tangannya diborgol di depan dan ia berjalan sambil menunduk.
Dadanya terasa sesak,
meski Saga telah menyakiti anaknya dan mengantarkannya pada kondisi
kritis namun melihat pemandangan di depannya ia merasa tak tega,
laki-laki yang ia kenal sejak lama, meski tak akrab tapi ia terlanjur
menganggapnya keluarga.
Sampai di ruangan Key, perlahan borgol Saga dilepas dan seorang polisi mengawal Saga ke ruangan Key.
Mereka menggunakan baju khusus sebelum masuk ke ruangan Key.
Air mata Saga bercucuran sejak awal ia membuka pintu menuju Key berbaring. Berkali-kali ia *** baju di dadanya.
Setelah berada di sisi Key berbaring, tangisan Saga semakin jadi, ia menekan suaranya hingga tubuhnya bergetar.
"Key, om Saga datang, om
Saga minta maaf, bikin Key kayak gini, setelah sembuh kita jalan-jalan
ya Key, om akan gendong Key ke mana saja,"
Tangan Saga memegang tangan ringkih Key, ia usap perlahan.
"Pak jangan terlalu lama, karena akan menggganggu pasien," ujar polisi yang menjaga Saga.
"Yah, tunggu Pak, saya akan memegang tanganya sekali lagi,"
"Om pulang ya Key, Key harus sehat, agar bisa jalan-jalan sama om, om janji Key, "
Saat akan melepas tangannya, Saga merasa ada pergerakan pada tangan Key dan Saga terkesiap.
"Key, kau dengar, ini om Saga,"
Sekali lagi tangan itu bergerak dan alat monitor jantung berbunyi nyaring.
Beberapa perawat dan dokter masuk.
"Pasien bergerak tangannya, Dok," ujar Saga sambil terisak.
"Ya sebentar saya periksa,".
Beberapa perawat melakukan tugas sesuai instruksi dokter.
"Apa yang bapak lakukan tadi?" tanya dokter yang merawat Key pada Saga.
"Saya hanya mengajaknya bicara," sahut Saga.
"Yah dan dia mulai merespon," ujar dokter itu lagi.
Saga akhirnya ke luar diiringi oleh petugas dari kepolisian.
Saat Saga kembali
diborgol tangannya Saga merasa ada yang mendekat. Ia menoleh dan
mendapati Al yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Terima kasih," ucap Saga lirih dan menunduk lalu melangkah diiringi beberapa petugas menuju mobil tahanan.
"Kaaaak," teriakan Diandra menghentikan langkah Saga. Ia menoleh dan melihat Diandra yang berjalan tergesa.
Lalu memeluk Saga yang tangannya terborgol, keduanya sama-sama menangis.
"Kak, mengapa jadi kayak gini?" suara Diandra hilang diantara tangisnya.
"Maafkan aku, Di,
maafkan aku, kutuk atau sumpahi aku sesukamu, aku terima karena aku
memang salah, kembalilah pada suamimu, dia menunggu, aku harus kembali,
terima kasih aku boleh ke sini," Saga berusaha berbicara meski suaranya
sesekali hilang karena tangisannya.
Diandra melepas pelukannya dan Saga kembali melangkah menuju mobil tahanan.
****
"Maaf tadi aku
menyelesaikan pekerjaannku Al, makanya baru sempat ke sini, padahal Saga
sejak awal mengatakan agar aku juga di sini saat ia menjenguk Key,"
ujar Rengga.
"Aku tak tahu harus
marah atau gimana padanya Ngga, melihatnya diborgol tadi aku jadi merasa
sesak, meski kami tak dekat, tapi kami sebenarnya sebuah keluarga,
keadaan yang membuat kami sulit, dan kau tahu, Key langsung bereaksi
saat Saga ke sini, tubuhnya mulai merespon, dan tadi Diandra memeluknya
Ngga, ah aku jadi ikut menangis, sedih melihat Saga seperti tadi," ujar
Al dengan suara pelan.
"Dia orang baik Al, dia
jadi seperti itu karena merasa dibuang, mamanya tak menganggapnya ada,
aku tahu jika ibunya bersalah tapi rasanya tak adil jika dendam terus
menerus pada Saga,"
"Aku juga sudah
mengatakan itu pada mama, tapi entahlah Ngga, apa yang membuat mama
menjadi seperti itu, karena padaku dan Almira, mama sangat lembut dan
perhatian, padahal aku bukan anak kandungnya," ujar Al.
"Lalu bagaimana rencana pernikahanmu dengan Silmi, apakah semua sudah siap semuanya?" tanya Al.
"Alhamdulillah sudah
mulai menyiapkan semuanya Al, yang kapan hari aku menemui Silmi lagi,
kami sudah memastikan tempat akad nikah dan resepsi di sebuah hotel,
lalu catering, baju pengantin kami siapkan berdua juga, lelah, ribet
tapi mengasikkan, karena Silmi kan lucu Al, dia polos banget, meski
kadang merasa lelah aku masih saja bisa tertawa jika bersama Silmi,
meski belum ada perasaan cinta, aku yakin Al dengan berjalannya waktu
kami akan bisa saling mencintai," ujar Rengga yakin.
"Diandra mana?" tanya Rengga.
"Di ruangan Key, kehamilannya yang sekarang sering membuat dia terlihat lelah Ngga," sahut Al.
"Oh ya? Padahal dulu
saat dia hamil Key, hampir semua kerjaan dia lakukan, nggak ada keluhan,
malah kayak orang nggak hamil saja, nggak mual, nggak pengen ini itu,
kali karena dulu dia jauh dari kamu," ujar Rengga pelan.
"Makasih banyak Ngga, kau selalu menjaganya," sahut Al serba salah.
"Jalan nasib sudah membuatku terus menjaga Di, Al," ujar Rengga.
"Dan kau jangan merasa
tak nyaman, aku sudah bisa melepas Di untukmu sejak lama, sejak ia
datang lagi padaku dalam kondisi hamil, lelah dan sakit, meski berulang
mengatakan benci padamu, tapi aku membaca kerinduan yang amat sangat,
saat itu aku sadar jika ia tak lagi menyimpan namaku di dadanya dan aku
ikhlas untuk itu Al."
Al memeluk Rengga, ia merasakan ketulusan dari kata-kata Rengga.
"Aku tidak tahu lagi
cara berterima kasih padamu Ngga, aku yang telah merebutnya darimu dan
kau masih sangat baik padaku, dengan apa aku harus membalasnya Ngga?"
"Jaga dia Al, cintai
dia, karena aku tahu bagaimana dia sangat mencintaimu, jangan pernah kau
menyia-nyiakannya, atau kau akan aku buat menderita seumur hidupmu,"
Rengga melepas pelukannya.
"Jangan kira aku tak
tahu, sampai saat ini ada wanita yang masih saja nekad berusaha
menemuimu, iya kan Al, dan kau sepertinya tak tega mengusirnya karena
hidupnya juga menghitung hari, namun kau harus tegas, katakan padanya
bahwa tak benar jika ia masih saja berusaha menemuimu."
"Siapa dia Al?"
Tiba-tiba Diandra telah berada diantara mereka.
****