A STORY ABOUT LOVE

A STORY ABOUT LOVE
Episode 3



Diandra segera menggerakkan tangannya hendak menutup pintu namun kaki Al


menahan, dan mendorong pelan namun dengan kekuatan penuh.


Al masuk dan Diandra mundur beberapa langkah.


Mata Di berkaca-kaca sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak memeluk


laki-laki yang telah membawa pergi hatinya.


Al menutup pintu dan menatap mata Di yang berkabut.


"Siapa yang menyuruhmu pergi Di, aku tak menyuruhmu pergi," ujar


Al dengan mata menatap tajam pada Diandra.


"Pergilah, bukan tempatmu di sini, bukankah berulang kau mengatakan


hanya perlu tubuhku selama kita terikat perjanjian konyol itu, mengikat


keluargaku karena hutang budi, kini kita tak lagi ada hubungan, selesai sudah


semuanya kau menikmati tubuhku dan papaku menikmati fasilitas dari keluargamu,


maka saat papamu meningal maka aku bebas dari perjanjian tak masuk akal itu,


perjanjian yang menguras air mataku, menginjak harga diriku hingga jatuh ke


tempat paling bawah, hina dan tak berharga, kini aku punya kedudukan Al,


kedudukan yang tak mudah aku raih, aku merasakan lelahnya berubah dari


kepompong menjadi kupu-kupu selama empat tahun,"


"Siapa yang merendahkanmu Di, apa aku pernah berkata kasar padamu


selama enam bulan, jika aku kasar saat kita intim aku akui, kau bagai candu


bagiku Di, aku menyukaimu sejak lama, sejak kau dan papamu menghadiri jamuan


makan malam ulang tahun perusahaan papa, semua undangan hadir bersama istrinya


hanya papamu yang mengajak putrinya dan aku kecewa ternyata kau sudah memiliki


seseorang, maka saat papa memintamu jadi menantunya itu kesempatanku


memilikimu," ujar Al panjang lebar.


"Tidak, kau hanya ingin tubuhku, kau tak mencintaiku, wajahmu selalu


dingin padaku, baca perjanjian kita Al bukankah kau hanya perlu tubuhku sampai


papamu meninggal, aku tak boleh hamil, apa itu bukan merendahkanku?" tanya


Di dengan ketus.


"Aku akui awalnya aku ragu masalah anak tapi lama-kelamaan ah Diii..


masalahnya kau tak membaca sampai tuntas perjanjian itu sampai ke bawah, lagi pula


jika memang aku tak ingin anak, aku pasti pakai pengaman, apa kau dan aku


memakai pengaman selama kita bersama, kau baca lagi, jika kau hamil maka kita


terikat selamanya, itu isi perjajian yang tak kau baca, asal kau tahu Di, aku


mencarimu ke mana-mana...kau...,"


"Mamaaaa Key ngantuk...,"


Tiba-tiba Key muncul, Di menahan tangan Key.


Al memandang Key dengan mata nanar berkaca-kaca.


"Key ganti baju tidur dulu ya sayang, mama nanti nyusul," Di


mengusap kepala Key dan Key masih menatap mata Al lalu berbalik masuk melangkah


pelan.


"Katakan dengan jujur, dia anakku kan, anak kita?" tanya Al maju


dan Di mundur selangkah.


"Kecilkan suaramu dan jangan mendekat, pergilah, aku tak memerlukanmu,


kami bahagia tanpamu," suara Di mendadak serak.


"Katakan Di, dia anakku kan, wajah anak itu tak bisa


membohongiku," Al menyentak tangan Di dengan kasar menarik badan Di dalam


dekapannya. Sesaat Al memeluk Di dengan erat, menghirup harum tubuhnya namun Di


mendorong kasar badan Al.


"Dia anakku," jawab Di dengan mata berkaca-kaca.


"Ya dari benihku, kau hanya berhubungan denganku," jawab Al dengan


cepat.


"Pergilah, aku tak membutuhkanmu, aku sudah nyaman dengan Key,"


"Tidak, matamu mengatakan sebaliknya," sahut Al lagi.


"Pergilah Al, pergilaaah, kita hanya akan saling menyakiti, kita


memulai dengan cara yang salah, apa aku harus memohon agar kau pergi?" Di


menangis dan berusaha tak melihat mata Al.


"Baiklah aku akan pergi, tapi semua gerakmu akan aku awasi karena ada


anakku bersamamu," ujar Al menatap Di sekali lagi dan ke luar, menghilang


di balik pintu.


"Mama menangis, tadi Key dengar om itu bilang Key anaknya, benar itu


papa Key?" mata Keya membulat, bening penuh tanya.


"Sayang, mengapa Key menguping, itu tidak sopan sayang," Diandra


mengusap air matanya.


"Key nggak nguping, suara om itu agak keras pas nanya ke mama, "


ujarnya lagi dengan wajah lugu dan Di merasa bersalah telah mengeluarkan


kata-kata tak pantas sementara anaknya mendengar percakapannya dengan Al.


"Benar om itu papa Key?" tanya Key lagi.


"Tidurlah sudah malam, Key sudah pakai piyama kayak gini, ayo kita ke


kasur, mama mau ke kamar mandi sebentar, mau sholat isyak dan tidur bersama


Key," ujar Diandra membujuk Key.


"Eh iya, Key belum sholat juga, Key ambil wudu duluan ya ma," Key


bergegas masuk lebih dulu ke kamar mandi ada kelegaan dalam hari Diandra, Key


tidak bertanya lagi tentang Al.


****


Diandra dan Key mendatangi kantor pengacara papa Di, diantar oleh Rengga.


Bertiga mereka memasuki kantor, menemui resepsionis dan menyilakan masuk menuju


ruangan Pak Gani.


Saat akan masuk sekretaris Pak Gani menyilakan mereka duduk karena masih ada


klien di ruangan Pak Gani.


Setengah jam kemudian pintu terbuka terdengar suara Pak Gani dan satu suara


lagi yang mau tak mau membuat dada Diandra bergemuruh dengan cepat, suara berat


itu, suara yang mengingatkan Diandra pada malam-malam terakhir ia di rumah


megah itu, mengerang dan menyebut namanya berkali-kali.


Saat melihat Diandra laki-laki itu sempat kaget dan berjalan mendekati


Keysa.


"Om, om yang tadi malam kan?" mata bening Key menatap mata Al, Al


merasakan bagai melihat cermin dirinya di sana, dalam mata bening Key, ia


melihat kesepian dan kehampaan, sama seperti dirinya, saat seusia Key ditinggal


mamanya untuk selama-lamanya, meski akhirnya papanya menikah lagi dan mama


tirinya baik padanya namun kehampaan tetap menjadi teman baiknya.


"Yah, benar Key, mau ikut om jalan-jalan?" tanya Al sambil


berjongkok dan Key mengangguk dengan cepat.


"Tidak dia tidak akan ke mana-mana tanpaku," ujar Diandra dengan


cepat.


"Maaf, saya tahu kalian pernah bersama, tapi akan lebih baik jika


kalian tidak berseteru karena urusan ini di depan Key," ujar Rengga. Al


menoleh dan menatap tajam pada Rengga.


"Dia masih istri saya, kami tak pernah bercerai, apa saya salah jika


membawa anak saya berjalan-jalan?" tanya Al dengan pandangan marah namun


suaranya ia tahan sedatar mungkin.


"Om papanya Key?" tanya Key memegang bahu Al, dan Al mengangguk


pelan, lalu Key memeluk leher Al yang masih berjongkok.


"Makasih papa akhirnya ada untuk Key, Key bisa bilang sama teman-teman


kalau Key juga punya papa," mama Key berkaca-kaca sambil mengerjab, Al


memeluk badan kurus Key.


Diandra mengusap mata dan hidungnya, mau tak mau ia menangis melihat


kedunya, Rengga memilih meninggalkan ruangan itu.


"Maaf ibu Diandra, Pak Gani sudah bisa ditemui di dalam," ujar


sekretaris Pak Gani.


Diandra mengangguk dan berusaha tersenyum.


Menarik tangan Key dari pelukan Al, Al melepaskan pelukannya.


"Masuklah Key, ikut mama, papa menunggumu di sini," ujar Al.


Keysa menoleh sambil mengikuti langkah Diandra, tangannya digenggam erat


oleh Diandra.


"Papa tunggu Key, papa jangan hilang lagi," mata Key menatap sendu


wajah Al.


****