
Rengga berusaha tersenyum tulus saat Di mengirim foto-foto akad nikahnya dengan Al, di rumah pamannya.
Di akhir pesan singkat masuk, Diandra meminta doa agar rumah tangganya bahagia hingga akhir.
Aku mencintaimu Di, sangat, sampai saat ini. Tapi melihat matamu berbinar bahagia, aku turut bahagia Di, aku selalu mendoakan kebahagiaanmu...
Air mata menggenang di
mata Rengga, meski hatinya terasa hancur namun melihat sinar kebahagiaan
di wajah Diandra akhirnya membuat Rengga ikhlas bahwa cintanya untuk
Diandra harus segera diakhiri.
Rengga kaget saat
ponselnya berbunyi nyaring, meski ada di tangannya tak urung ia kaget
juga, terlebih saat tahu jika yang menelpon adalah Saga.
" itu telah
mengambil Di dari kita Ngga, aku membacanya diberita online, mereka ada
di resort milik itu, mereka terlihat melambaikan tangan dari
dalam mobil saat awak berita sempat mencegat mereka di pintu masuk ke
resort itu..."
Napas Saga memburu, dan suaranya meledak-ledak, Rengga menghela napas.
"Kau sadar apa yang kau katakan, ia berkumpul dengan suaminya, apa hak mu? kita siapa? Aku akan mengirimkan foto-foto akad nikah mereka, lihat
sinar mata Diandra, lihat kebahagiaan yang tak akan kita temukan saat
dia bersama kita, harusnya kau tahu itu, aku saja laki-laki yang pernah
lama bersamanya bisa ikhlas, kau siapa? Dendammu pada Al membuatmu tak
bisa berpikir jernih, aku bukan orang yang relegius, tapi saranku, ambil
wudu, istighfar, berapa lama kau tak menyentuh sajadahmu.."
Rengga kaget, saat Saga memutuskan sambungan teleponnya tiba-tiba.
Rengga menghela napas,
ia hanya kasihan pada Saga, dendammya akan mengantarnya pada perbuatan
nekad, itu yang ditakutkan Rengga.
****
Diandra menatap wajah
Key dan Al yang terlihat bahagia, keduanya berada di taman samping,
tampak Key yang bergaya, berfoto diantara bunga-bunga. Dan Al dengan
sabar mengambil gambar saat Key sedang bergaya.
Diandra tak pernah melihat Key yang seperti ini, selama ini dia selalu melihat Key yang murung, dan jarang bicara.
Diandra tak pernah tahu
jika Key selalu merasa rendah diri karena tak ada figur papa di sisinya.
Maka saat ia akhirnya bisa selalu bersama papanya, kebahagiaan itu
tampak di depan mata Diandra.
Diandra menghela napas, mengingat kembali perjalanan hidupnya yang kadang tak bisa ia mengerti.
"Ibu, makan siang akan saya hidangkan?" tanya Bi Siti, pengasuh Key padanya.
"Tidak usah Bi, nanti biar karyawan Al yang menyiapkannya," sahut Diandra.
"Lah di sini saya nggak banyak kerjaan Bu, bosen juga," ujar Bi Siti.
"Biar nanti saya bantuin, ya, Bu?"tanya Bi Siti.
"Iyah nggak papa, besok
kita pulang Bi, Bi Siti nggak akan bosan lagi," ujar Diandra dan Bi Siti
tersenyum lalu melangkahkan kakinya ke belakang menuju pantry.
"Di, nggak mau gabung?"
Tiba-tiba Al ada di belakangnya dan memegang bahu Diandra.
"Aku ingin kita berfoto dalam suasana santai, ke sana yuk, ke taman itu."
Diandra menurut, ia
pasrah saja saat Key menyuruh memeluk pinggang Al, mencium pipi papanya,
dan Key dengan riang mengambil foto untuk papa mamanya meski hasilnya
tidak begitu bagus.
Saat makan siang, mereka dikejutkan oleh kedatangan mama Al dan adiknya, Almira.
"Wah kejutan sekali ma," ujar Diandra dan mama Al serta adik iparnya tersenyum ceria.
"Aku iri kalian ke sini,
sejak ini resmi dioperasikan setahun lalu aku belum pernah ke sini,"
ujar mama Al sambil meletakkan foodybag berisi oleh-oleh.
"Apa ini ma?" tanya Al, sambil menunjuk goodybag.
"Makanan sesukaanmu, salad buah, dan spagety bikinan rumah," sahut mama Al.
"Ayo mama, Almira, gabung," ajak Diandra.
"Kami sudah makan tadi, karyawan Al sudah melayani kami dengan baik, lagian kalian sudah hampir selesai," ujar mama Al.
"Nggak papa ayo mama makan lagi," ajak Diandra dan mama Al tertawa.
"Kau mau membuatku gendut di usia tua?"
Semua tertawa dan Key yang baru selesai makan langsung diajak Almira bermain di lantai kayu yang bersih.
"Eh main apa itu ma?" tanya Al pada mamanya.
"Ck, kamu kayak nggak
ngerti Almira sih, Al, dia meski sudah kuliah semester lima, tingkah
kayak anak-anak, lihat saja dia bisa membuat anakmu yang pendiam jadi
tersenyum, dia bawa playdough, pasir ajaib, lalu entah apa lagi dalam
ranselnya, kurang main waktu kecil kali dia Al," ujar mama Al sambil
tertawa dan Almira menoleh dengan tatapan jengkel.
Al hanya tersenyum melihat wajah adiknya.
"Lalu rencana kalian bagaimana? Tinggal di mana?" tanya mama Al.
"Diandra dan Key akan
tinggal denganku ma, aku masih akan mengurus kepindahan sekolah Key,
lalu bisnis Diandra bisa dikontrol dari sini kan, sekali-sekali jika dia
ingin, aku yang akan mengantarnya ke butiknya," sahut Al.
"Syukurlah, mama kawatir juga jika kalian tidak serumah," sahut mama Al.
"Ma, mama mencobalah berdamai dengan Saga, dia hanya butuh kasih sayang mama," ujar Al tiba-tiba.
"Kalian laki-laki,
memang bisa dengan mudah berkata begitu, mengatakan jika Saga nggak ada
hubungannya dengan kekesalan mama, dia anak tak berdosa tau apalah, kau
tahu Al, tiap melihatnya, dada mama serasa ditusuk, ingat bagaimana
wanita itu, mama Saga, mengalihkan perhatian papa Saga pada wanita itu,
awalnya mama tak tahu, tapi serapi apapun namanya keburukan akan terbuka
juga, mama berusaha menerima Al, karena mama belum kunjung hamil saat
itu, tapi sakit di dada tak bisa terungkapkan Al, makanya saat tiba-tiba
papanya membawa bayi merah ke rumah dan meminta mama merawat, mama
sudah curiga dan benar, bayi itu anak mereka, mamanya meninggal sesaat
setelah melahirkan Saga, aku berusaha ikhlas merawat tapi semakin besar,
wajah Saga mengingatkan mama pada wanita itu, hati mama kembali serasa
ditusuk, ah sudahlah Al, mama jadi sakit jika berbicara ini."
Diandra menyentuh tangan ibu mertuanya.
"Mama balik dulu ke
kamar mama Al, anakmu, aku bawa ya, aku minta baju ganti Di, biar ia
tidur di kamarku dengan Almira juga," pinta mama Al.
Keysa langsung mau saat Almira mengajaknya bermain dan tidur di kamarnya.
Keysa pamit dan
melambaikan tangan dengan riang, menggandeng tangan nenek dan tantenya,
lalu melangkah menuju unit yang tak jauh dari unit yang ditempati Al dan
Diandra.
Diandra menutup pintu dan tubuhnya menegang saat tangan besar Al melingkar dipinggangnya.
"Al ini masih siang," suara Diandra terdengar mencicit merasakan hembusan napas Al di lehernya.
"Apakah ada aturan, tidak boleh menyentuh istrinya di siang hari?" tanya Al lirih.
"Eeemm, dulu kau selalu melakukannya di malam hari," sahut Diandra.
"Itu dulu, saat hubungan
kita masih belum sebaik ini, sekarang aku mau kapan saja Di, di mana
pun, dan kapan pun aku mau," ujar Al membalik badan Diandra dan
menggendongnya menuju kamar.
****
Diandra menutup dadanya dan merapatkan pahanya saat tatapan Al memuja tubuhnya.
"Al, selimut, ini
terlalu terang, aku malu," rengek Diandra dan Al melangkah pelan dengan
tubuh telanjang, meraih remote dan tirai menurup dengan sendirinya,
membuat kamar menjadi remang-remang.
Al melangkah kembali
mendekati Diandra, Diandra memalingkan wajahnya saat melihat milik
suaminya yang berayun dengan gagah, ia masih belum terbiasa.
Tubuh Al sudah berada di atas tubuhnya merasakan milik suaminya yang mengeras di perutnya.
Al memandangi wajah Diandra, merapikan rambutnya yang tampak berjatuhan di kening istrinya.
"Kau cantik, Di, dengan
wajah memerah seperti ini, membuat aku selalu ingin melihatmu seperti
ini, bisa kau bayangkan aku seperti apa saat kita jauh, aku hanya
menginginkanmu, tidak yang lain, aku hanya bisa bermain sendiri, sambil
membayangkanmu."
Diandra memejamkan
matanya, mulutnya hanya mampu terbuka dengan napas pendek-pendek, saat
tangan Al dengan lincah bermain dan mengaduk miliknya, sementara mulut
suaminya telah meraup dan mengisap dadanya.
"Al, aku nggak tahan Al, sekarang Al."
Al tersenyum dan melihat wajah istrinya yang semakin memerah karena gairah.
Namun Al kembali
menggoda, ia mendekatkan wajahnya pada milik istrinya dan mendengar
jerit tertahan saat lidah Al yang mengaduk milik istrinya.
"Al, kau."
Badan Diandra mengejang
dan bergetar saat merasakan ada yang meledak dalam dirinya. Ia terengah
dan membuka mata, melihat Al berada di atasnya lagi, mengusap rambutnya,
lalu merasakan milik suaminya melesak, dan gerakan teratur Al
membuatnya terlonjak beberapa kali.
Diandra memegang bahu
Al, membuka matanya dan menatap wajah penuh keringat suaminya, serta
geraham yang mengatup dengan erat, otot-otot lengan Al yang menonjol,
gerakan Al semakin liar dan tak terkendali, menekuk kaki Diandra dan
menghentaknya semakin dalam.
Menggeram dan menyebut
nama Diandra berkali-kali, membalik tubuh Diandra membelakanginya lalu
kembali melesakkan miliknya, menumbuk Diandra dari belakang, pelukan
erat Al pada tubuh Diandra membuat Diandra hanya pasrah saat tubuh
kecilnya kembali dihamtam gelombang memabukkan.
****
Saga memasukkan semua barang-barangnya dalam ransel, menatap kembali benda dari logam ditangannya, berat dan dingin.
"Dia bukan milikmu, kau tak berhak padanya, pada tubuhnya juga hidupnya..."
****