A STORY ABOUT LOVE

A STORY ABOUT LOVE
34



Gini sayang, om Saga sibuk, saaangat mama Al yang segera mendekati cucunya dan mengusap rambutnya.


"Lalu nggak pernah akan ke sini lagi?" Tanya Keysa dengan mata berkaca-kaca.


"Dia nggak akan pernah sempat ke sini lagi sayang," sahut Al dan air mata Keysa mengalir.


"Kesya akan menunggu om Saga, meski lama, nanti kalau ada om Saga, jalan-jalan sama mama dan papa juga, sama adek bayi juga," Kesya bangkit dan berjalan perlahan, Diandra menyusul Key, memegang tangan anaknya menuju kamarnya.


Saat Diandra kembali ia melihat Al yang sibuk menelepon. Diandra menunggu sampai selesai dan terlihat wajah Al yang gugup.


"Menelepon siapa?" Tanya Diandra.


"Hanya teman," sahut Al singkat.


"Besok jadi kan kita mau melihat-lihat perlengkapan bayi?" Tanya Diandra dan Al mengangguk.


"Biar aku yang ke kantormu," ujar Diandra.


"Tidak usah, biar aku jemput," jawab Al dan Diandra diam saja, tapi ia tetap akan ke kantor Al, agar suaminya tak perlu repot ke sana ke mari.


****


Keesokan harinya..


Pintu ruangan Al tiba-tiba terbuka dan Nesya menangis langsung memeluk Al, yang tentu saja Al sangat kaget.


Sekretaris Al mundur saat melihat bosnya dipeluk oleh wanita yang tak ia kenal.


"Ada apa Nes, mengapa menemuiku, aku tak mau menanggung masalah," ujar Al segera berdiri melepas pelukan Nesya.


"Pinjami aku uang Al, akan aku ganti semua hutang papaku pada laki-laki itu, aku tak tahan, aku selalu dilecehkan, aku sakit lahir batin Al, kau tahu jika dia menghukumku? dia akan memasukiku dengan cara menyakitkan dan tak tahu tempat, kadang dia sambil memukuliku, dia sakit Al, dia gilaa," Nesya menangis meraung.


"Aku punya uang, ada, tapi perjanjian dengan tunanganmu tertulis apa tidak Nesya?" Tanya Al akhirnya tak tega.


"Diperjanjikan itu berbunyi, jika lunas maka selesai sudah semua hutang papa dan segala konsekuensinya," Neysa masih saja menangis ia terduduk di lantai ruangan Al dan Al berusaha membantunya untuk bangun, Nesya memegang lengan Al, tepat saat itu Diandra hendak masuk dan mulutnya ternganga lebar, ia segera berbalik dan ke luar dari ruangan Al, bergegas menuju lift khusus dan menahan tangisnya selama berada di dalam lift.


Apa yang ditakutkan oleh Diandra akhirnya terjadi, dia berpikir Al sedang memeluk Nesya.


Al berlari mengejar Diandra namun tak terkejar.


Berkali-kali mencoba menelpon Diandra namun tak bisa tersambung. Al semakin cemas saat Diandra betul-betul tak terkejar.


***


"Mama, mana Diandra?" Tanya Al dengan napas memburu.


"Loh tadi dia pamit hendak menemui mu, ada apa Al?" Mama Al terlihat kawatir. Dan Al menceritakan semua yang terjadi.


"Ya Allah Aaaal, pasti ia berpikir yang tidak-tidak, kasihan Di, coba kita sama-sama nelepon Al, aku dulu aja deh pasti kalau kamu yang menelepon tidak akan diangkat oleh Diandra," ujar mama Al.


***


Sampai larut malam Di tak juga pulang, Al mulai kalut, sedang Keysa mulai bertanya mamanya.


"Apa mama akan seperti om Saga juga yang nggak kan pernah datang ke sini?" Pertanyaan Key membuat Al ingin menangis.


***


"Pulanglah Di, kau hanya emosi, kau menempuh perjalanan jauh dari Jakarta ke Malang hanya karena masalah yang tak jelas,"


Oma Dice, mengelus rambut Diandra.


"Saya baru saja menelepon Keysa tadi Oma, saya bilang jangan ada yang tahu jika saya ada di rumah Oma Dice, saya akan pulang, pasti pulang, tapi tidak sekarang, sekalian setelah pernikahan Silmi dan Rengga, dan saya akan segera berpisah dari Al ma, ternyata sakit berada di sisinya, sakit harus membayangkan dia dengan wanita lain," ujar Diandra lagi.


"Jangan berasumsi sendiri anakku, bicara baik-baik, pasti akan ada jalan, ini yang namanya kerikil dalam rumah tangga, jika kau mampu melewatinya, makan jalan yang kau tempuh akan semakin terasa nyaman,"


Diandra tidur dalam pelukan hangat Oma Dice.


***


Tiga hari sudah Diandra menghilang, Al tidak melapor pada polisi karena Al yakin Diandra berada di tempat aman, yang ia herankan mengapa Kesya terlihat tenang-tenang saja dan tidak bertanya mamanya lagi.


Namun pikiran kalut Al terlihat dari wajahnya yang kusut dan lelah. Ia berusaha menelepon Silmi dan Rengga namun hasilnya tetap nihil.


***


Tiga minggu berlalu...


"Ma Al pamit mau ke Malang, titip Key,  sebenarnya berat ninggalkan Key, tapi tadi Rengga menelepon, memohon padaku agar datang, secepatnya aku kembali ma, segera setelah resepsi pernikahan usai.


"Yah berangkatlah Al, hati-hati,"


Al hanya mengangguk melangkah menuju pintu besar dengan langkah gontai.


Ada keinginan memberi tahu Al tapi telepon Di tadi malam melarangnya, Di hanya ingin Al tidak selalu mengedepankan rasa kasihannya, tapi juga memakai logikanya saat akan menolong orang.


***


Acara akad nikah yang dilanjutkan dengan resepsi pernikahan Silmi dan Rengga terlihat sederhana namun hikmad. Suguhan makanan khas Jawa timur dan makanan internasional semua tersedia hall hotel tempat resepsi berlangsung.


Diandra tampak cantik, ia menjadi among tamu dengan kebaya warna silver dan rambut yang disanggul modern, perutnya yang mulai membuncit terlihat mulai menyembul.


Pergerakan Diandra diawasi terus oleh Al, sejak awal ia melangkahkan kaki ke hall resepsi pernikahan Rengga dan Silmi ia telah melihat Diandra dan ia kaget bukan main, Al sekuat tenaga menahan keinginannya untuk memeluk Diandra. Di bandara tadi saat ia menelepon mamanya, akhirnya Al tahu jika Diandra menenangkan diri di Malang, di rumah Oma Dice, yang ia sesalkan mengapa semua bersekongkol menutupi darinya, mulai dari Keysa, mamanya, Silmi bahkan Rengga, selalu bilang tidak tahu jika ditanya dan mereka terlihat tenang-tenang saja, seharusnya Al sadar sejak awal, tapi pikirannya telah kacau sejak Diandra jauh darinya.


****


"Capek Di?" Suara berat Al mengagetkan Diandra, ada rasa bersalah dalam diri Diandra saat melihat wajah kuyu Al.


Diandra hanya mengangguk. Pura-pura asik minum es Manado.


Al memegang lengan Diandra dengan lembut, menariknya perlahan, dan mengajaknya duduk.


Para tamu undangan sudah banyak yang pulang, yang tersisa hanya pihak keluarga Silmi, para karyawan butik milik Diandra, juga para karyawan catering yang mulai berbenah, sedang kakak-kakak Rengga juga papa dan mama tirinya telah pamit sejak tadi.


"Besok kita pulang Di, kasihan Key," pinta Al.


Diandra diam saja dan menatap mata Al lama.


"Aku merasa bahwa aku akan aman dan tenang di sini, di kota yang meski mulai panas dan macet, aku merasa nyaman, Keysa awalnya tak mau aku ajak tinggal di sini karena pikirannya selalu pada Saga, tapi akhirnya ia mau ikut aku, aku tinggal menjemputnya dan akan aku bawa ke rumah yang kamu belikan dulu di daerah Ijen, kau terserah Al, mau tinggal di mana, toh ada banyak wanita yang akan menemanimu," ujar Diandra pelan. Dan wajah Al semakin murung.


"Jadi kau tidak akan mau jika aku ajak pulang?" Tanya Al dengan suara menghiba.


"Tidak,"sahut Diandra dengan tegas.


"Aku mencintaimu, Di, pulanglah," suara Al kembali memohon.


"Dan kau akan kembali menyakitiku? Apa ku menjamin tak akan ada lagi Maya, Nesya lalu siapa lagi? Aku lelah kau berbagi perhatian dengan yang lain, kau tahu kan jika Nesya punya tunangan, semua masalah mereka ya biar mereka yang menyelesaikan, bukan urusan kamu, jika semua orang kau kasihani, bangunlah rumah jompo, rumah yatim piatu atau rumah bagi wanita yang selalu ada di sekelilingmu, kau lemah Al, kau tak bisa bilang tidak, aku akui kau baik, tapi kebaikanmu akan dimanfaatkan oleh wanita-wanita semacam itu, ingat kau punya anak dan istri,"


Diandra bangkit dan berlalu dari hadapan Al, Al bergegas mengejar Diandra, Al tak ingin masalah semakin keruh dan rumit.


***