A STORY ABOUT LOVE

A STORY ABOUT LOVE
Episode 6



"Maksud bapak, anak dan istri bapak ada di kota ini? " tanya Silmi


bingung.


"Ya," jawab Al singkat.


"Oh yaaaa, ah senangnya seandainya saya bisa berkenalan, ah maaf saya


tinggal dulu Pak, Bu," ujar Silmi.


"Al, jangan membuat semuanya bingung, orang-orang di sini tahu jika aku


tak memiliki suami," ujar Di setelah Silmi pergi.


"Apakah aku salah jika aku mengatakan bahwa aku suamimu,  kita tak


pernah bercerai ingat itu" ujar Al.


Diandra diam saja, ia berlalu menuju ruangannya dan Al mengekor.


Sampai di dalam ruangan Di, Al menemukan kenyamanan dengan warna-warna


pastel pada dinding ruangan itu, terasa sejuk dan menentramkan.


Namun gerakan pelan Di saat menutup sebuah bingkai foto sangat membuatnya


penasaran, ia melihat dari ekor matanya, jika Di, menutup bingkai foto itu dan


menutupnya dengan map yang ada di mejanya.


Al membiarkannya dulu, dia duduk di sofa tak jauh dari tempat duduk Di yang


elegan.


"Nanti aku akan pulang Di, aku akan segera kembali demi Key, aku tak


ingin rasa sepinya membentuk karakter yang tidak baik bagi dirinya, aku tak mau


dia jadi rendah diri," ujar Al mulai berdiri mendekati Di.


"Aku tak bisa melarangmu karena kau papanya tapi usahakan jangan


terlalu sering, tak masalah jika kau seminggu sekali menemui Key," ujar


Di.


"Terlalu lama seminggu Di, aku ingin seminggu dua kali," sahut Al.


"Kau akan lelah, menempuh perjalanan jauh," ujar Di.


Dan Al menggeleng sambil berusaha tersenyum dan semakin mendekati meja Di,


menatap mata Di yang sejak tadi juga menatapnya.


Diandra merasakan Al yang mendekat, ia jadi gugup mengingat apa yang telah


terjadi pada mereka tadi pagi, Di menunduk, memejamkan matanya mengusir


bayangan saat Al memeluknya dan *** dadanya, seketika badannya meremang.


Sedang Al begitu melihat Di menunduk dia meraih bingkai foto yang ditutup


oleh map.


Di kaget dan terlambat untuk merebut bingkai foto itu.


"Al kembalikan..," wajah Di terlihat cemas dan wajahnya mulai


memerah menahan malu.


Al tertegun saat melihat foto dalam bingkai itu, entah kapan Diandra


memotret dirinya, saat tertidur lelap dengan badan tak menggunakan apapun, foto


dirinya hanya sampai sebatas dada sedang tidur nyenyak di kasurnya.


Al menatap Diandra, berjalan mendekatinya dan memandang Di dengan tajam, Di


memilih memunduk menatap mejanya.


"Dan kau masih mengingkarinya, aku yakin selama kita jauh kau banyak


menghabiskan waktu dengan bingkai foto ini, benar kan Di?" tanya Al dan Di


diam saja.


Lalu Di memberanikan diri menatap Al yang masih memegang bingkai foto itu.


"Mana bingkai foto itu, kau terlalu berani mengambil hal yang bersifat


privacy, ini bukan areamu, itu milikku, kembalikan," Di berdiri, berusaha


meraih bingkai foto yang ada di tangan Al.


Al menyembunyikannya di balik badannya dan berjalan mendekati Di yang nampak


mundur ketakutan.


"Al jangan macam-macam, ini ruanganku," Di mulai terpojok saat Al


tepat berada di depannya.  Meletakkan bingkai foto di meja Di.


"Kau mencintaiku kan Di, lalu apa arti fotoku, hingga kau


sembunyi-sembunyi mengambil fotoku saat tertidur, aku yakin foto itu setelah


kita melakukannya lagi dan lagi, melihat diriku yang belum menggunakan baju,


berapa tahun kau memandangi fotoku, dan kau masih saja belum mau mengaku jika


kau juga mencintaiku Di," Al meraih dagu Di.


"Apa yang kau ragukan Di, aku memang kasar dan dingin, tapi aku


mencintaimu, kembalilah padaku Di, aku lelah merasakan sepi," ujar Al


menundukkan wajahnya dan mulai menyesap bibir Di, menekannya, melesakkan


lidahnya, mengusap leher Di dan merasakan tangan Di yang mendorong perlahan


tubuhnya.


Al melepaskan ciumannya, mereka saling memandang dan meredakan deru napas


masing-masing.


padaku," ujar Al dan merasa terganggu dengan bunyi ponselnya.


Al meraih ponselnya, dan sekilas Di dapat melihat siapa yang menghubunginya.


Al menerima telpon dan kesempatan bagi Di untuk menjauh dari Al.


Bukan urusanmu, aku mau ke mana, aku menemui anak dan istriku, menjauh


kau dariku..


Dan Al menutup ponselnya, berbalik menatap Di lagi yang juga menatapnya.


"Wanita itu salah satu alasan aku enggan kembali padamu, ia lengket


menjejeri langkahmu, padahal tahu saat itu kau sudah menikah denganku,"


ujar Di dengan tatapan dingin.


"Neysa tak ada artinya bagiku, apa kau pernah melihat aku


bermanis-manis di depannya?" tanya Al.


"Dan setelah empat tahun apakah tidak ada apa-apa diantara kalian, aku


tak yakin, ia wanita licik, akan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkanmu,


aku tak mau sakit Al," ujar Di dan Al tersenyum, senyum yang aneh.


"Ya dia hampir berhasil memperdayaiku, dia sempat memberi obat penenang


pada minumanku saat pesta ulang tahun salah satu teman kami di club, aku


beruntung sahabatku menemukanku sudah dibopong orang-orangnya menuju sebuah


kamar di hotel yang tak jauh dari club itu, ah aku tak tahu lagi seandainya tak


ada sahabatku, dia pasti sudah membuat keonaran, menyebar video bahkan


foto-foto kami yang tak layak tonton, reputasiku, nama baikku bisa hancur


karena wanita licik itu," ujar Al


"Kau semakin banyak bicara setelah lama tak bertemu denganku Al, dulu


kau sulit sekali membuka bibirmu, dan jika memang wanita itu nenyusahkanmu,


mengapa kau masih menyimpan nomornya?" tanya Di.


"Baiklah jika kau terganggu aku akan memblokir nomornya, Al meraih


ponselnya dari saku dan terlihat serius menyentuh ponselnya.


"Kau melakukannya demi aku, kau masih mengijinkan dia ada


disekelilingmu," ujar Di tanpa senyum.


"Itu semua karena dia tak ada artinya bagiku, ada atau tidak ada


nomornya, tak berpengaruh bagiku," ujar Al.


"Ah aku mau menjemput Key ke sekolahnya, kau mau ikut?" tanya Al


dan Di menggeleng.


Al ke luar dari ruangan Di dan bertemu dengan Rengga di ruang lobby.


"Hai,  Di ada?" tanya Rengga pada Al, pertanyaan bodoh pikir


Rengga, ia kaget juga melihat Al ada di kantor Diandra.


"Ada,  di ruangannya," sahut Al dan berlalu meninggalkan


Rengga.


Rengga menuju ruangan Di, membuka pintu dan menemukan Di yang masih menatap


foto Al.


Di kaget karena tak bisanya Rengga tidak melalui Silmi.


"Ada apa Ngga?" tanya Di


"Dia menyusulmu ke sini?' Rengga balik bertanya.


"Kami bersama-sama ke sini," sahut Di dan merasa bersalah pada


Rengga.


Rengga menghela napas berat.


"Yah pesona laki-laki itu terlalu kuat dipikiranmu,  meski


seandainya kau mau, aku ingin sekali kita menikah Di, namun melihat Key yang


langsung dekat dengan papanya, aku tak tega mereka terpisah," ujar Rengga


pelan sambil menunduk.


"Dan foto laki-laki itu yang bertahun-tahun menemanimu, berada tepat di


depanmu, seharusnya bisa mengingatkanku, bahwa laki-laki itu akan selamanya


berada di hatimu," ujar Rengga lagi.


Al yang berada di balik pintu yang belum tertutup rapat menghembuskan napas


berat, ternyata Rengga masih mencintai Diandra, Al yang rencananya akan


menjemput Key, berbalik menuju ruangan Di dan terhenti di depan pintu saat


mendengar suara Rengga yang menyiratkan kelelahan, lelah terlalu lama


menunggu,  dan lelah karena Diandra semakin tak terjangkau.


Dan kata-kata Rengga membuat Al semakin yakin bahwa Diandra memang hanya


mencintainya, Al melangkahkan kakinya dengan langkah ringan, dia akan menjemput


Key lalu akan meyakinkan Diandra bahwa mereka harus kembali, demi Keysa dan


demi cinta mereka.


****