
"Maksud bapak, anak dan istri bapak ada di kota ini? " tanya Silmi
bingung.
"Ya," jawab Al singkat.
"Oh yaaaa, ah senangnya seandainya saya bisa berkenalan, ah maaf saya
tinggal dulu Pak, Bu," ujar Silmi.
"Al, jangan membuat semuanya bingung, orang-orang di sini tahu jika aku
tak memiliki suami," ujar Di setelah Silmi pergi.
"Apakah aku salah jika aku mengatakan bahwa aku suamimu, kita tak
pernah bercerai ingat itu" ujar Al.
Diandra diam saja, ia berlalu menuju ruangannya dan Al mengekor.
Sampai di dalam ruangan Di, Al menemukan kenyamanan dengan warna-warna
pastel pada dinding ruangan itu, terasa sejuk dan menentramkan.
Namun gerakan pelan Di saat menutup sebuah bingkai foto sangat membuatnya
penasaran, ia melihat dari ekor matanya, jika Di, menutup bingkai foto itu dan
menutupnya dengan map yang ada di mejanya.
Al membiarkannya dulu, dia duduk di sofa tak jauh dari tempat duduk Di yang
elegan.
"Nanti aku akan pulang Di, aku akan segera kembali demi Key, aku tak
ingin rasa sepinya membentuk karakter yang tidak baik bagi dirinya, aku tak mau
dia jadi rendah diri," ujar Al mulai berdiri mendekati Di.
"Aku tak bisa melarangmu karena kau papanya tapi usahakan jangan
terlalu sering, tak masalah jika kau seminggu sekali menemui Key," ujar
Di.
"Terlalu lama seminggu Di, aku ingin seminggu dua kali," sahut Al.
"Kau akan lelah, menempuh perjalanan jauh," ujar Di.
Dan Al menggeleng sambil berusaha tersenyum dan semakin mendekati meja Di,
menatap mata Di yang sejak tadi juga menatapnya.
Diandra merasakan Al yang mendekat, ia jadi gugup mengingat apa yang telah
terjadi pada mereka tadi pagi, Di menunduk, memejamkan matanya mengusir
bayangan saat Al memeluknya dan *** dadanya, seketika badannya meremang.
Sedang Al begitu melihat Di menunduk dia meraih bingkai foto yang ditutup
oleh map.
Di kaget dan terlambat untuk merebut bingkai foto itu.
"Al kembalikan..," wajah Di terlihat cemas dan wajahnya mulai
memerah menahan malu.
Al tertegun saat melihat foto dalam bingkai itu, entah kapan Diandra
memotret dirinya, saat tertidur lelap dengan badan tak menggunakan apapun, foto
dirinya hanya sampai sebatas dada sedang tidur nyenyak di kasurnya.
Al menatap Diandra, berjalan mendekatinya dan memandang Di dengan tajam, Di
memilih memunduk menatap mejanya.
"Dan kau masih mengingkarinya, aku yakin selama kita jauh kau banyak
menghabiskan waktu dengan bingkai foto ini, benar kan Di?" tanya Al dan Di
diam saja.
Lalu Di memberanikan diri menatap Al yang masih memegang bingkai foto itu.
"Mana bingkai foto itu, kau terlalu berani mengambil hal yang bersifat
privacy, ini bukan areamu, itu milikku, kembalikan," Di berdiri, berusaha
meraih bingkai foto yang ada di tangan Al.
Al menyembunyikannya di balik badannya dan berjalan mendekati Di yang nampak
mundur ketakutan.
"Al jangan macam-macam, ini ruanganku," Di mulai terpojok saat Al
tepat berada di depannya. Meletakkan bingkai foto di meja Di.
"Kau mencintaiku kan Di, lalu apa arti fotoku, hingga kau
sembunyi-sembunyi mengambil fotoku saat tertidur, aku yakin foto itu setelah
kita melakukannya lagi dan lagi, melihat diriku yang belum menggunakan baju,
berapa tahun kau memandangi fotoku, dan kau masih saja belum mau mengaku jika
kau juga mencintaiku Di," Al meraih dagu Di.
"Apa yang kau ragukan Di, aku memang kasar dan dingin, tapi aku
mencintaimu, kembalilah padaku Di, aku lelah merasakan sepi," ujar Al
menundukkan wajahnya dan mulai menyesap bibir Di, menekannya, melesakkan
lidahnya, mengusap leher Di dan merasakan tangan Di yang mendorong perlahan
tubuhnya.
Al melepaskan ciumannya, mereka saling memandang dan meredakan deru napas
masing-masing.
padaku," ujar Al dan merasa terganggu dengan bunyi ponselnya.
Al meraih ponselnya, dan sekilas Di dapat melihat siapa yang menghubunginya.
Al menerima telpon dan kesempatan bagi Di untuk menjauh dari Al.
Bukan urusanmu, aku mau ke mana, aku menemui anak dan istriku, menjauh
kau dariku..
Dan Al menutup ponselnya, berbalik menatap Di lagi yang juga menatapnya.
"Wanita itu salah satu alasan aku enggan kembali padamu, ia lengket
menjejeri langkahmu, padahal tahu saat itu kau sudah menikah denganku,"
ujar Di dengan tatapan dingin.
"Neysa tak ada artinya bagiku, apa kau pernah melihat aku
bermanis-manis di depannya?" tanya Al.
"Dan setelah empat tahun apakah tidak ada apa-apa diantara kalian, aku
tak yakin, ia wanita licik, akan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkanmu,
aku tak mau sakit Al," ujar Di dan Al tersenyum, senyum yang aneh.
"Ya dia hampir berhasil memperdayaiku, dia sempat memberi obat penenang
pada minumanku saat pesta ulang tahun salah satu teman kami di club, aku
beruntung sahabatku menemukanku sudah dibopong orang-orangnya menuju sebuah
kamar di hotel yang tak jauh dari club itu, ah aku tak tahu lagi seandainya tak
ada sahabatku, dia pasti sudah membuat keonaran, menyebar video bahkan
foto-foto kami yang tak layak tonton, reputasiku, nama baikku bisa hancur
karena wanita licik itu," ujar Al
"Kau semakin banyak bicara setelah lama tak bertemu denganku Al, dulu
kau sulit sekali membuka bibirmu, dan jika memang wanita itu nenyusahkanmu,
mengapa kau masih menyimpan nomornya?" tanya Di.
"Baiklah jika kau terganggu aku akan memblokir nomornya, Al meraih
ponselnya dari saku dan terlihat serius menyentuh ponselnya.
"Kau melakukannya demi aku, kau masih mengijinkan dia ada
disekelilingmu," ujar Di tanpa senyum.
"Itu semua karena dia tak ada artinya bagiku, ada atau tidak ada
nomornya, tak berpengaruh bagiku," ujar Al.
"Ah aku mau menjemput Key ke sekolahnya, kau mau ikut?" tanya Al
dan Di menggeleng.
Al ke luar dari ruangan Di dan bertemu dengan Rengga di ruang lobby.
"Hai, Di ada?" tanya Rengga pada Al, pertanyaan bodoh pikir
Rengga, ia kaget juga melihat Al ada di kantor Diandra.
"Ada, di ruangannya," sahut Al dan berlalu meninggalkan
Rengga.
Rengga menuju ruangan Di, membuka pintu dan menemukan Di yang masih menatap
foto Al.
Di kaget karena tak bisanya Rengga tidak melalui Silmi.
"Ada apa Ngga?" tanya Di
"Dia menyusulmu ke sini?' Rengga balik bertanya.
"Kami bersama-sama ke sini," sahut Di dan merasa bersalah pada
Rengga.
Rengga menghela napas berat.
"Yah pesona laki-laki itu terlalu kuat dipikiranmu, meski
seandainya kau mau, aku ingin sekali kita menikah Di, namun melihat Key yang
langsung dekat dengan papanya, aku tak tega mereka terpisah," ujar Rengga
pelan sambil menunduk.
"Dan foto laki-laki itu yang bertahun-tahun menemanimu, berada tepat di
depanmu, seharusnya bisa mengingatkanku, bahwa laki-laki itu akan selamanya
berada di hatimu," ujar Rengga lagi.
Al yang berada di balik pintu yang belum tertutup rapat menghembuskan napas
berat, ternyata Rengga masih mencintai Diandra, Al yang rencananya akan
menjemput Key, berbalik menuju ruangan Di dan terhenti di depan pintu saat
mendengar suara Rengga yang menyiratkan kelelahan, lelah terlalu lama
menunggu, dan lelah karena Diandra semakin tak terjangkau.
Dan kata-kata Rengga membuat Al semakin yakin bahwa Diandra memang hanya
mencintainya, Al melangkahkan kakinya dengan langkah ringan, dia akan menjemput
Key lalu akan meyakinkan Diandra bahwa mereka harus kembali, demi Keysa dan
demi cinta mereka.
****