
"Bapak berapa kali sih dekat sama perempuan?" tanya Silmi dengan wajah memerah, malu dengan pertanyaan Rengga.
"Kamu kira aku playboy
apa? Kok nanya kayak gitu, aku ya baru sekali dekat sama wanita,
Diandra, hanya dia seorang," jawab Rengga menautkan alisnya.
"Pantesan Bapak nggak ada manis-manisnya nanya ke saya, kayak interogasi maling ayam aja," ujar Silmi menahan malu.
"Lah kamu, pernah dekat nggak sama laki-laki, nggak pernah kan? Makanya kamu juga nggak bisa bermanis-manis," ujar Rengga.
"Ih Bapak aja yang nggak
ngerasa, tiap ke Ibu Diandra saya sudah berusaha semanis mungkin, Bapak
aja cintanya sama Ibu nggak teralihkan," Silmi ngeloyor meninggalkan
Rengga, ia merasa telah salah bicara.
Rengga melangkah cepat lagi, memegang bahu Silmi.
"Artinya kamu suka aku kan Sil?" tanya Rengga lagi dengan lirih.
Silmi diam ditempatnya, perutnya terasa diremas.
Ini orang apa bukan, kok nggak Ngerti-ngerti sih...
"Bapak simpulkan
sendiri, saya kayak ngadepin anak smp yang baru jatuh cinta deh, masa
nggak ngerti?" ujar Silmi menurunkan tangan Rengga dari bahunya.
Rengga bingung, ia hanya
butuh kata iya atau tidak, selanjutnya ia akan mencoba menata hatinya
dan melangkah bersama Silmi, meski ia tak yakin tapi ia merasa bahwa
Silmi akan dapat membuatnya merasakan perhatian yang ia cari selama ini.
Rengga melangkahkan kakinya menuju kamar yang ditempati Silmi.
Ia melihat Silmi masih saja berdiri, dan memegangi perutnya.
"Maafkan aku, Sil, aku
nggak tahu harus gimana, dengan Diandra pun saat pacaran dulu aku jarang
bertemu karena dia berkuliah di Singapura dan jika bertemu kami tidak
pernah melakukan kontak fisik, hanya saling memandang saja makanya aku
sering bingung ngadepin cewek, aku tidak pandai untuk urusan yang satu
itu, jadi maaf kalau aku terlihat kaku, dan tidak tahu harus berbasa
basi gimana, jadi kamu beneran suka aku kan Sil?"
Silmi membalikkan badannya. Menatap laki-laki jangkung di depannya.
"Saya lapar Pak," ujar Silmi pelan dan Rengga tersenyum lebar sambil menggigit bibirnya.
"Kamu memang mengesalkan, pertanyaanku dan jawabanmu nggak ada hubungannya, ayolah, aku tinggal menghangatkan saja."
****
"Lumayan juga sup ayam buatan bapak, seger," ujar Silmi menikmati sup hangat buatan Rengga.
"Jadi gimana Sil?" tanya Rengga lagi.
"Pak, ngerti nggak sih
Bapaaak, Bapak kayak anak kecil deh, coba ingat lagi, kalau Bapak ke Ibu
Diandra, siapa yang selalu menemin Bapak jika Ibu sibuk, siapa yang
nyiapin apa-apa Bapak kalau ke Ibu? Apa saya melakukan hal yang sama
untuk Pak Saga? Nggak kaaan, apa saya masih perlu menjelaskan perasaan
saya, duh Pak, masa telminya kebangeten?"
Dan mata Rengga membulat.
"Apa nggak ada kata-kata manis selain telmi Sil?"
"Habis Bapak nanya mulu,
saya kan malu, dan saya juga mau nanya, jawab Pak, saya yakin Bapak
masih belum suka kan sama saya saat ini? Bener kan? Bapak mau coba-coba
kan, saya bukan mobil Pak yang saat test drive nggak enak lalu
dikembaliin dan nggak jadi beli, lah kalau kita coba jalan dan ternyata
nggak nyaman lalu Bapak mau ngembaliin saya sama siapa coba?"
Rengga kembali tersenyum lebar, menatap wanita aneh di depannya yang beberapa kali sudah membuatnya tersenyum.
Rengga menopang dagunya
menatap wajah Silmi yang meski tanpa polesan makeup tebal, sudah
terlihat indah untuk dinikmati. Silmi jadi canggung saat matanya
menemukan mata Rengga yang menelusuri wajahnya.
"Pak, jangan pandangi
saya, pasti bapak bandingin saya sama Bu Diandra, jauhlah, hidung saya
mancung ke dalam, pipi saya tembem, dan...,"
"Mata kamu indah," sahut Rengga.
"Belajar gombal dari mana Pak?" tanya Silmi.
"Dari Dilan," sahut Rengga asal dan Silmi akhirnya tertawa.
Silmi bangkit dan menuju dapur, membersihkan piranti makan.
****
"Lucu dua orang itu ya?" ujar Diandra.
"Siapa?" tanya tanya Al.
"Rengga dan Silmi, mereka dua orang yang sama-sama belum berpengalaman untuk urusan kedekatan seperti itu."
Diandra menoleh, melihat Key yang tidur sangat nyenyak.
Diandra merasakan Al yang berpindah duduk di dekatnya.
"Rengga kan pernah dekat sama kamu, pacarannya juga lama kan, masa kalian nggak ngapa-ngapain, sekadar ciuman atau...."
Diandra menggeleng sambil tersenyum.
"Tidak, dia laki-laki santun yang benar-benar menjaga dalam pergaulan," sahut Di dan mata Al menatap istrinya lebih dekat.
"Lalu, jika Rengga
laki-laki santun, menurutmu aku laki-laki bagaimana? Ada kebahagiaan
dalam hati bahwa aku mendapatkan semua yang pertama darimu, tapi aku
juga sedih karena kau jadi memuji Rengga di depanku."
"Aaal, tumben kamu banyak bicara, biasanya irit," ujar Di mendekatkan bibirnya dan mencium bibir suaminya sekilas.
"Lalu, aku laki-laki
bagaimana?" tanya Al sambil menarik Diandra ke dalam pangkuannya.
Diandra menutup mulutnya kawatir Key bangun, karena sudah malam.
"Laki-laki mesum," bisik Di dan Al memiringkan senyumnya. Menarik tengkuk Diandra lalu, meraup bibir istrinya.
Diandra memukul dada Al pelan, namum ciuman Al semakin dalam, menggigit pelan bibir Di, dan melesakkan lidahnya.
"Aaal, ah, Key, Key kawatir bangun," bisik Di lirih saat ciuman Al lepas dari bibirnya.
"Semigggu lebih sejak
Key masuk rumah sakit, kau tak menengok adikku sama sekali Di, kau tahu
dia butuh pelepasan, Di," bisik Al parau.
Menganggakat kaos Di
melewati kepalanya, menarik ke atas bra hingga dada Di menjulang
sempurna. Al meraup keduanya dan menjilatinya bergantian, mengigit dan
menyedotnya dengan kuat.
Di menggigit tangannya berusaha tidak mengeluarkan desahannya.
"Al, Aaal, aku takut Key bangun," bisik Di lirih.
"Nggak akan, kita cepat saja, posisi begini kau akan cepat sampai sayang."
Dengan
cepat Al menurunkan celana katun dan boksernya, menaikkan rok diandra
menumpuk dipinggangnya. Dan tersenyum melihat istrinya memggunakan
celana dalam yang hanya menutupi area sensitifnya.
"Ah kau sengaja kan, agar kita mudah saat ingin," ujar Al menggoda Di. Diandra memukul bahu Al.
"Aku asal ambil Al dan Ssshhh aaah Al kau..," Di merasakan milik Al yang terasa sesak dalam dirinya.
"Bergeraklah sayang lebih cepat, yah begitu..,"
Al memegang pinggang Diandra menggerakkannya dengan cepat. Sementara ia juga menghentakkan miliknya menusuk Di dari bawah.
****
"Selamat tidur Sil, besok aku antar kau pulang," ujar Rengga.
Silmi tersenyum, menarik selimut menutup badannya sampai leher.
"Jadi kita pacaran Sil?" tanya Rengga lagi.
"Terserah Bapak,"
"Yah kok terserah,"
"Lah Bapak kan belum pasti perasaanya sama saya,"
Rengga kembali duduk di pinggir tempat tidur Silmi. Menatap wajahnya dari dekat.
"Aku akan belajar mencintaimu, kalau suka aku menyukaimu, gayamu yang kadang nggak jelas tapi lucu, lugu juga,"
"Kalau ternyata nggak berhasil?"
"Aku yakin nggak akan lama Sil, kamu cantik dan...,"
"Bapak gombal lagi?"
"Ck nggak, beneran kamu cantik,"
Tangan Rengga bergerak
ragu, ia mengusap rambut di kening Silmi, mendekatkan wajahnya, menatap
mata Silmi yang terlihat ketakutan.
"Bapak mau nyium saya?"
****