
Seminggu ini
perkembangan Key menunjukkan progres yang bagus. Ia mulai bisa
berkomunikasi verbal meski lirih bahkan nyaris tak terdengar.
Namun sinar matanya menampakkan jika ia bahagia jika papa dan mamanya berada di dekatnya.
Minggu ini Key sudah berada di ruang perawatan dan tidak lagi di picu/nicu.
Sedang Al dan Diandra terlihat beberapa kali dipanggil pihak kepolisian lagi untuk melengkapi berkas perkara untuk kasus penembakan yang dilakukan Saga.
****
"Ngga, kok sendirian, mana Silmi?" tanya Diandra. Rengga hanya mengedikkan bahunya saja.
"Aku habis mengokin Saga
tadi, diaaa," dan Diandra menyentuh lengan Rengga. Rengga tahu, Di tak
ingin berbicara tentang laki-laki itu saat ini. Dan Rengga berusaha
mengalihkan pertanyaan.
"Mana Al?"
"Bentar lagi datang,
masih dipanggil dokter, menjelaskan apa saja yang nantinya harus
diperhatikan pada Key, aku sudah tadi, Key kan nggak bisa ditinggal
sendiri."
"Hai Key, ini om bawakan boneka beruang, mau?" Rengga meletakkan boneka beruang besar, dan Key berusaha tersenyum.
"Tidurlah sayang, ini sudah siang, pejamkan matamu, mama akan ada di sisimu."
Tak lama setelah Key tertidur, Di dan Rengga agak menjauh, duduk berhadapan dan terlihat kegelisahan Rengga.
"Ada apa?" tanya Diandra.
"Di, boleh aku cerita, tapi rada vulgar," ujar Rengga.
"Aku sudah menikah, bukan gadis seperti dulu yang nggak ngerti apa-apa, ceritalah," ujar Diandra pelan.
"Aku, ck nggak tahulah, mengapa jadi brengsek setelah melihat Silmi dalam tampilan lain," ujar Rengga gugup.
Diandra bingung dan Rengga bercerita kejadian minggu lalu saat Silmi berada di apartememnya.
"Aku kok jadi mesum gini ya Di, bukan aku deh kayaknya," ujar Rengga.
Diandra tersenyum.
"Ku mulai tertarik
padanya, dekati dia dengan benar Ngga, dia menyukai kamu sejak lama,"
ujar Diandra dan Rengga menatap Diandra tak percaya.
"Ah masa, nggak mungkinlah dia suka sama aku."
"Sejak lama Ngga, hanya
dia selalu rendah diri karena keadaannya, dia hanya berdua dengan
ibunya, ada pembantu juga yang merawat ibunya saat dia sibuk atau
kemana, ibunya sudah mulai sehat bisa berjalan dan mulai beraktivitas
kecil, makanya ia bisa ke sini denganmu dua kali, aku kadang menelpon
ibunya untuk bertanya keadaannya, dekati dia Ngga, dia anak baik, tapi
untuk urusan pacaran dia benar-benar nggak pernah," ujar Diandra.
"Aku malu Di, sejak kejadian itu, aku malu melihat wajahnya."
"Wah ada yang curhat nih."
Al tiba-tiba membuka pintu dan Rengga terlihat canggung.
"Ah nggak hanya nanya-nanya...,"
"Nanya cara deketin cewek polos," sahut Di dan Rengga tersenyum.
"Selamat siang, eh Pak
Rengga, kok nggak ngajak saya lagi?" tanya Silmi yang tiba-tiba muncul
dan wajah Rengga menegang seketika.
"Iyaaa dia maunya menghubungi kamu Sil, tapi sibuk dianya," Diandra berusaha membantu Rengga yang terlihat sulit bicara.
"Kamu kenapa kelihatan pucat Sil?" tanya Diandra.
"Biasa Bu, lembur akhir bulan, dan pesanan baju pas banyak, jadi males makan dan yah biasa lah maag kambuh," ujar Silmi.
"Masih perih?" tanya
Rengga tiba-tiba dan Silmi mengangguk. Di dan Al saling berpandangan
melihat wajah kawatir Rengga pada Silmi.
"Yah, dikit Pak, tapi
laporan ini harus segera disampaikan pada Ibu Diandra, dan saya mau
menyampaikan ada pesanan banyak lagi ibu untuk bulan depan ini, itu
laporan lengkap, serta posisi keuangan kita seperti apa," ujar Silmi.
"Nanti pulang biar aku antar Sil," ujar Rengga pelan.
"Itupun kalau kamu mau," ujar Rengga lagi.
" Mau lah Ngga, Silmi agak pucat gitu, jangan bela-belain gini lagi Sil, ngerti," ujar Diandra tanpa senyum.
Sekitar satu jam kemudian Silmi dan Rengga pamit.
****
"Pak brenti di toko
depan itu ya, saya pengen beli roti, buat ngeganjel kalau pas sedang
perih," ujar Silmi dan Rengga menggeleng.
"Kamu sakit, tuh keringat kamu, ke apartemenku, ada makanan lengkap di sana, kamu bisa istirahat dulu,"
Rengga menoleh dan mendapati Silmi memejamkan mata.
"Sil, kamu nggak papa kan?"
"Nggak papa Pak,"
Silmi meraih obat dari tasnya, mengambil sebutir dan memasukkan kemulutnya lalu mengunyahnya pelan.
****
"Tidurlah, ini kalau mau ganti baju."
Dan Rengga melihat Silmi telah memejamkan matanya. Rengga menyelimuti Silmi yang sesekali tampak mengernyitkan keningnya.
Tak lama ponsel Rengga berbunyi, Rengga meraih ponselnya. Ternyata dari Diandra.
Ya Di?
Silmi masih sama kamu?
Jaga dia Ngga,
penyakit lambung Silmi agak akut, kalau parah biasanya dia sampai sesak
napas Ngga, aku pernah bawa dia ke rumah sakit gara-gara kayak gitu, dia
tidak boleh telat makan, nggak boleh nyentuh makanan pedes, kecut juga, atau
bumbu yang terlalu kuat
Iya iya Di, makasih infonya, akan aku jaga Di
Kalau nggak keberatan, antar dia pulang Ngga, biar tiket pesawat aku ganti
Ck kamu pikir aku kere banget, proyek mendisain bangunan gede-gede masih dipegang firma kami Di
Hahahah iya iya aku kawatir merepotkanmu karena dia sekretarisku
Nggak papa Di
Ngga
Ya
Jangan cium dia pas tidur ya Ngga
Ck Diii
Iya iya dah makasih banyak Ngga
Yo i
Rengga mendengar erangan lirih dari arah kamar Silmi teristirahat.
Rengga melangkah cepat dan terlihat Silmi yang duduk sambil memegang perutnya.
"Sakit Sil?"
"Sedikit Pak, bapak punya kain untuk ngompres?"
"Nggak ada, kenapa?"
"Mau ngompres perut Pak,"
"Ada-ada saja kamu,"
"Beneran Pak, atau botol kosong mau saya isi dengan air hangat, mau saya letakkan di perut," ujar Silmi lagi.
"Ada-ada biar aku yang nyiapkan, tidurlah."
Rengga melangkah ke luar dan tak lama kembali lagi dengan botol kaca berisi air hangat.
"Berbaringlah, maaf aku buka sedikit kaosnya."
"Yah paha saya kelihatan ntar Pak."
"Duh kan kamu pakai selimut Sil."
Rengga menekan lembut ke area lambung Silmi. Silmi memejamkan mata.
"Gimana, enakan?"
"Ya Pak, enak gini,"
Silmi masih memejamkan matanya. Mata Rengga terus menatap wajah Silmi
dari dekat. Keringat di sekitar kening Silmi menandakan Silmi menahan
sakit.
Rebgga meraih tisu dan mengusap kening Silmi.
"Duh nggak usah Pak, maaf ngerepotin,"
"Nggak papa yang kapan hari kamu sudah merawatku, gantian sekarang, sesama penderita penyakit lambung, nggak boleh protes,"
"Ih bapak ada-ada saja, sudah Pak, cukup, makasih banyak, saya mau duduk saja,"
"Tiduran saja dulu, aku siapkan makan,"
Terdengar bunyi bel dan Rengga bergegas ke luar.
"Siapa yang menyuruhmu ke sini? Papa?" tanya Rengga dengan wajah kesal saat tahu sekretaris papanya ada di depan unitnya.
Devita mengusap Rahang Rengga dan ditepis oleh Rengga.
"Aku hanya mengantar
ini, segera selesaikan, papamu menunggu dua hari lagi," ujar Devita
menyerahkan sebuah map dan Rengga menarik kasar.
"Aku benci kau sulit
kutaklukkan, kakak-kakakmu, sudah pernah bahkan papamu...," Devita
tertawa lirih dan Rengga menatap wajah cantik nan sensual dihadapannya,
laki-laki normal pasti tertarik untuk menikmati lekuk tubuhnya.
"Hentikan omong kosong itu, sejak mama meninggal tak ada wanita yang bisa menggantikannya," ujar Rengga marah.
"Yah karena aku sudah
menghangatkan tempat tidurnya, tak ada laki-laki bertahan sendiri selama
puluhan tahun, ingat itu, dan kau..," jari Devita menyentuh dada keras
Rengga dan Rengga menepis tangannya.
"Ada tamu ya?" tiba-tiba suara Silmi ada dibelakang Rengga.
Mata Devita terbelalak, melihat Silmi dari atas ke bawah dengan hanya menggunakan kaos Rengga yang kebesaran.
"Seleramu, ternyata sama
seperti kakak-kakak dan papamu, hahahha dia dan aku memiliku ukuran bra
sama, ternyata kau tak sesuci pikiranku, kau membawa wanita dari mana?
Ah itu bukan urusanku, bai Rengga sayang."
Dan Rengga membanting pintu.
"Duh siapa dia Pak, kok
bajunya gitu, nakutin, apa nggak takut masuk angin dadanya agak kebuka
gitu, mana dia omongannya gitu, gimana dia tahu ukuran branya sama kayak
saya," ujar Silmi menggerutu sambil melangkah mendahului Rengga,
sesekali *** perutnya.
Rengga melemparkan map dari Devita, menyusul Silmi yang hendak kembali ke kamar. Dan membalik badan Silmi berhadapan dengannya.
"Sil, bener kamu suka sama aku?"
Dan mata Silmi membulat sempurna, sakit diperutnya semakin menjadi.
Ya Allah cobaan apa ini?
****