A STORY ABOUT LOVE

A STORY ABOUT LOVE
Episode 14



Semua yang hadir di rumah sederhana itu mengucap Aamiiin sebagai


tanda syukur, akad nikah antara Al dan Diandra berlangsung lancar, mama


Al, meski bukan mama kandung terlihat terharu dan menyeka air matanya


berulang. Lalu memeluk Diandra dan Al bergantian.


Paman Diandra pun


terlihat menangis haru, berusaha menggapai Diandra dan Diandra segera


mendekat ke kursi roda, memeluk pamanya yang masih dalam masa recovery


setelah terkena stoke.


Keysa terlihat tenang di


sisi papanya, anak yang terlihat lebih dewasa dari usainya, tak mampu


menyembunyikan kebahagiaanya, ia tampak sesekali memeluk lengan papanya.


Tak lama kemudian semua yang hadir makan bersama, dan keakraban terlihat antara mama Al dan keluarga paman Diandra.


Setelah semuanya selesai mereka pamit.


Diandra kembali memeluk paman, lalu bibinya dan berjanji akan sesekali menjenguk pamannya.


***


"Mengapa kita tidak


bersama mama dan adikmu?" tanya Diandra pada Al. Saat tiba-tiba Al


mengajaknya dan Key naik mobil terpisah dari mama dan adiknya.


"Kita bertiga akan berlibur selama tiga hari, bukan bertiga sih berempat, " ujar Al kalem.


"Berempat?" tanya Diandra dan Al tersenyum, senyum yang jarang Al tunjukkan.


"Maaf aku tak memberi tahumu, pengasuh Key, aku bawa Di, nggak papa kan?"


Diandra tersenyum dan merasakan debar di dadanya, saat mata Al terus menatapnya.


"Iii ... iya tidak apa-apa?" jawab Diandra gugup.


"Papa," tiba-tiba suara Key terdengar.


"Apa sayang?" tanya Al.


"Ini jalan-jalan?" tanyanya hendak memastikan.


"Yah, Key mau?" tanya Al dan terlihat anaknya yang mengangguk, dan  merebahkan badannya ke pangkuan Al.


Al mengusap bahu Key, yang terlihat mulai terlelap.


****


Mereka tiba di sebuah


resort cantik. Masuk ke sebuah hunian yang semuanya berbahan kayu.


Pengasuh Key nampak membawa barang bawaan Key dan menempatkannya di


ruang tamu, hunian itu mungil nan nyaman.


Ada kurang lebih tiga


kamar, satu kamar utama berukuran besar, dua kamar berukuran sedang, ada


ruang tamu, ruang makan dan pantry.


Tadi saat akan menuju


tempat ini, Diandra melihat beberapa hunian lainnya yang terlihat sangat


privacy karena jarak antar hunian yang cukup jauh, namun pemandangan


sekitarnya membuatnya betah memandamgi hamparan taman bunga yang asri.


Al tampak menggendong Key yang masih terlelap ke kamar utama. Menidurkannya di sana.


Lalu kembali menuju Di yang masih berdiri menatap ke luar jendela.


Al menyentuh bahu Di


yang reflek berbalik, menatap wajah tampan di depannya yang masih


menggunakan baju putih saat akad nikah tadi.


"Mandilah, aku akan menelpon agar karyawanku menyiapkan makan malam," ujar Al.


"Karyawanmu? Resort ini


milikmu?" tanya Diandra dan Al mengangguk, bibirnya tertarik ke samping.


Lalu Di merasakan tangan Al yang menyibak rambut, membelai lembut


pipinya.


"I love you, Di,"


bisiknya lirih dan Diandra menatap Al dengan gugup, ia hanya mengangguk


dengan ragu dan perlahan tubuhnya terseret ke dalam tubuh kekar Al,


tenggelam di sana dan kembali aroma laki-laki itu masuk ke dalam


hidungnya.


Diandar melepaskan pelukannya dan melihat mata tak rela Al.


"May I, kiss you, Di?" tanya Al lirih dan Diandra mengangguk ragu.


Tangan kanan Al masih


melingkar dipingganggnya, lalu Di merasakan tangan kiri Al yang


tiba-tiba mengelus tengkuknya, bibir hangat Al menyapu bibir Di. Gigitan


kecil membuat Di membuka mulutnya. Lidah Al leluasa mengaduk mulut Di


dan lama bermain di sana.


Tangan Al perlahan


membuka kancing baju Di. Di meraskan tangan hangat Al menyentuh


perutnya, dan bibir Al menyusuri leher dan tulang selangkanya.


"Aaal," suara lirih Di,


mengingatkan Al, jika mereka masih di ruang tamu, Al menggendong Diandra


dengan napas memburu, bergerak cepat ke kamar di sebelah kamar utama,


mendorong pintu dengan kakinya dan merebahkan Diandra di kasur nyaman


itu.


Al membuka bajunya


dengan gerakan cepat lalu melemparnya, menurunkan celananya dan


mendekati Diandra yang masih berbaring dengan kancing baju yang terbuka,


Al ciumi setiap inci tubuh Di, erangan halus terdengar di telinga Al.


Tangan Al membuka


pengait bra Diandra dan melemparnya ke sisi kasur. Melabuhkan bibirnya


di ujung dada Diandra yang mulai mengeras. Al merasakan tangan Diandra


yang *** rambutnya.


Tangan Al bergerak


menurunkan rok panjang Diandra melewati kakinya. Menatap tubuh putih di


bawah badannya dengan kerinduan yang amat sangat, Al bergerak pelan


membuka celana dalam Di.


Ia pandangi wajah Di


mendesis lirih saat lidah Al tiba-tiba menerobos miliknya, menyapu


lembut, naik turun hingga pahanya bergetar saat lidah Al menusuk semakin


dalam.


Diandra membuka matanya dengan berat, saat sapuan napas hangat terasa di wajahnya.


"Aal,"


"I love you, Di."


Kata-kata itu lagi, dan


Diandra merasakan milik Al melesak pelan ke dalam miliknya, keduanya


melenguh pelan. Bibir Al kembali menyapu leher Di, turun ke dadanya,


meraupnya dengan kasar dan tubuh Al mulai bergerak teratur, menghentak


dan terus bergerak,  menikmati kembali kebersamaan yang sempat hilamg


selama beberapa tahun.


****


Al mengusap kening Diandra yang masih basah.


"Terima kasih Di, dan


maaf jika terasa sakit," tangan Al mengusap milik Diandra pelan. Diandra


hanya mengernyitkan keningnya. Memegang tangan Al.


"Jangan, nanti juga


hilang sakitnya," bisik Diandra lirih. Al tahu jika Diandra malu.


Kembali ia ciumi tubuh basah Diandra. Menikmati setiap jengkal


bekas-bekas pencintaan mereka.


Aroma tubuh Di telah membuatnya gila selama bertahun-tahun dan saat ini ia ingin menikmatinya, meraup sepuasnya.


"Aaal."


Erangan lirih Diandra membuat Al berhenti menciumi tubuh Di.


"Aku mau mandi, kasihan Key sendiri," ujarnya pelan dan merasakan tubuhnya melayang. Digendong Al menuju kamar mandi.


Seperti yang Diandra


duga, meski awalnya Al memang memandikannya tapi akhirnya Al mengulang


kembali, di bathup, hingga mereka kembali mandi dan Diandra merasakan


badannya yang terasa lemas dan lelah.


****


Diandra membuka matanya yang terasa berat. Samar-samar ia mendengar tawa Key. Lalu mendemgar celoteh Key dan suara berat Al.


Diandra berusaha duduk, dan menyadari tubuhnya masih berbalut bathrob, tanpa menggunakan apapun.


Diandra


menoleh, menatap pantulan dirinya di depan cermin besar, rambutnya


masih basah. Ia menghela napas, saat menyadari dirinya kembali menjadi


istri dari seorang Afalmer Zafezar Citro Kusumo. Laki-laki yang selama


beberapa tahun telah memenjara hatinya.


Kini ia seolah mendapatkan kembali rasa yang hilang selama bertahun-tahun.


Di, bangkit dan


merasakan agak perih di pangkal pahanya saat ia gerakkan untuk berjalan.


Membuka lebih lebar pintu kamar yang sejak ia bangun memang tidak


tertutup sempurna.


"Mama?" suara Key membuat Di menoleh, anaknya berada di pangkuan Al.


"Hai, mama ke kamar


dulu, ya," ujar Di melangkah ke kamar utama. Ia merasa gugup karena


tatapan Al dan senyum samar-samar Al itu seolah membuat kakinya semakin


sulit digerakkan.


Di segera mengambil baju, celana dalam dan branya, memakainya dan segera ke luar menemui Al dan Key di ruang tamu.


"Mama kok tidur lama?" tanya Key terlihat merajuk dan bersandar pada dada Al.


"Mama kecapean Key, Key kan sama papa dari tadi," ujar Al dan Key kembali memeluk tubuh papanya.


"Kamu mau makan, makanlah Di, sudah siap sejak tadi, aku dan Key sudah makan, aku temani?" tanya Al.


"Nggak usah, aku ke


ruang makan dulu," ujar Di dan Al mengikuti gerakan Di yang tampak


canggung, bibirnya kembali tertarik saat mengingat apa yang mereka


lakukan bersama tadi.


Di yang malu-malu hanya


mampu menutup matanya dan menggigit bibirnya, selalu begitu sejak dulu,


tak ada keinginan membalas apa yang ia lakukan.


Diandra merasa jika Al


mengikuti apa yang ia lakukan dengan matanya. Merasa malu karena


mengingat tadi ia tak henti mendesah, kerinduannya pada aroma tubuh Al


membuat ia hilang kendali, meski berusaha tak bersuara dengan menggigit


bibirnya namun sesekali erangan dan desahan lolos dari bibirnya, Diandra


malu, seolah ia mengakui,  jika ia juga sangat merindukan Al.


****


"Mengapa sejak tadi


seolah kau menghindari tatapanku Di?" bisik Al saat memeluk Diandra yang


menemani Key yang telah tidur dengan nyenyak.


Diandra diam saja, lalu berbalik menatap Al yang juga menatapnya.


"Bisakah kita tak usah


membahas itu? Kita tidur saja, aku masih merasa sangat lelah," ujar Di


dan Al memeluk Diandra dengan erat.


"Terima kasih Di, terima


kasih telah kembali padaku,"suara serak Al membuat Diandra menangkup


pipi Al, pipi yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. Perlahan Di


memajukan wajahnya, saat tanpa jarak perlahan Diandra berbisik.


"I love you, Al."


Mata Al membulat sempurna dan perlahan menghangat. Matanya mengabur karena air mata yang perlahan memenuhi matanya.


****