A Husband's Regret

A Husband's Regret
Bonchap 2



Author POV


Setelah kejadian foto, Elara merajuk. Dia kesal karena menjadi bahan taruhan oleh dua pria yang disayanginya. Di satu sisi sebagai suami, di sisi yang lain sebagai mantan suami. Sungguh aneh tapi nyata, mereka berdua malah rukun seperti tidak pernah terjadi apapun antara mereka di masa lalu.


"Mama... jangan marah lagi ya," Charles mengiba.


Elara menatap malas suaminya, saat ini dia sedang berhias hendak pergi ke kantor. "Papa menjual Mama hanya demi selembar foto lama," jawab Elara datar.


"Bagi Papa, foto itu sangat berharga. Foto istri Papa yang sangat cantik dengan kebaya," sergahnya tidak terima. Charles menggapai Elara dan memeluknya dari belakang. "Papa merasa tidak cukup mengenal Mama, dibandingkan Ares yang telah lama hidup bersama-"


Elara menoleh menaruh jarinya di bibir Charles hingga pria itu bungkam seketika. "Mungkin Ares telah bersamaku selama 20 tahun, tapi Papa... akan bersamaku hingga akhir hayat. Bukankah berarti itu lebih lama, jadi... jangan merasa kau tidak cukup mengenalku. Karena masih banyak waktu yang akan kita habiskan bersama hingga hanya kamu yang tau, siapa diriku," jelas Elara panjang lebar yang langsung menyusup ke dalam hati Charles yang paling dalam.


Pria itu merasa tersanjung, merasa superior setelah mendengar klaim Elara atas dirinya yang akan menghabiskan sisa hidunya di masa mendatang.


"Ara... bagaimana bisa kau mengatakan hal yang begitu indah, aku seperti di lamar olehmu," ucap Charles membuat Elara melongo.


"Dasar baper!" sahut Elara cuek.


"Baper sama istri sendiri, tidak apa-apa..." celetuknya sambil mengeratkan pelukan, Charles menghirup dalam aroma rambut istrinya.


"Kamu wangi sekali, Ma..."


Tiba-tiba mata Elara membulat karena merasakan sesuatu yang keras menyentuh pinggulnya. "Apa itu?!" Pekiknya.


Charles terkekeh. "Mendengar rayuan Mama membuatnya terbangun, Papa gak tahan Ma... bobo yu," ucapnya memelas.


"Ini masih pagi, nanti klo Echa-"


Charles mencium Elara yang masih mau berbicara, pria itu membelit dan mencecap lidah hingga Elara kehabisan nafas.


"Hmmmpp!"


Charles menggendong Ara dengan melingkarkan kaki wanita itu ke pinggangnya, berjalan menuju pintu kamar dan menguncinya. Tanpa melepas tautan pria itu berjalan kembali menuju ranjang.


Merebahkan istri yang sangat di cintainya dengan perlahan di sana. Wajah Elara memerah ketika ciuman mereka terlepas membuat wanita itu semakin cantik di mata Charles.


"Terima kasih untuk hari ini dan masa mendatang, aku mencintaimu... Ara," Charles mengecup kening Elara lembut.


Elara memejamkan mata, meresapi perasaan suami yang selalu menggebu setiap harinya. "Aku juga mencintaimu, Charles..."


Ungkapan cinta mereka menjadi awal penyatuan dua insan tersebut. Tidak akan pernah cukup untuk mereka, karena cinta yang sangat besar membuat ingin saling memiliki dan mencurahkan. Meski telah 5 tahun berlalu, rasanya seperti baru kemarin mereka menikah. Charles tidak menyangka akan mendapatkan kebahagiaan seperti ini dalam hidupnya.


"Kamu segalanya bagiku," ucapnya setelah pertempuran mereka setengah jam yang lalu. 2 ronde cukup untuk membuat Elara tertidur pulas karena kelelahan.


Diselimutinya sang istri agar dapat tidur dengan nyaman sebelum dirinya beranjak dari ranjang. Charles menggapai ponsel yang terlihat sedang merekam. Bibirnya menyunggingkan senyum seraya mengirimkan pesan suara pada seseorang di seberang sana.


Sebuah pesan singkat dia sisipkan.


[Dengarkan baik-baik, Ara dan aku akan bersama sampai menua nanti,]


Sementara di seberang sana menahan kesal seraya mendengarkan voice note berisikan suara mantan istri.


"Dasar kekanakan, huh!" Geram Ares.


Pria itu tidak mau kalah, dia pun mengirimkan pesan bergambar miliknya sebagai serangan pamungkas. Sebuah foto bayi mungil tanpa busana yang terlihat sedang merangkak. Bayi yang sangat menggemaskan.


[Baiklah, aku memang kalah... tapi setidaknya aku memiliki ini sebagai kenang-kenangan yang tidak kamu miliki,] pesan Ares memprovokasi.


"Dia pasti kesal, hahaha," guman Ares.


"AREESSSS!!!" teriaknya.


🍁🍁🍁


Gloomy Corporation


Deni sampai di ruangan Tuannya yang sedang cekikikan. Pria itu tersenyum tipis melihat Ares yang lebih hidup dibandingnya 5 tahun yang lalu. Dengan perlahan dia mengetuk pintu.


Tok, tok, tok


Ares yang mendengar suara ketukan pun menoleh. "Pagi, Deni!"


"Pagi Tuan, sepertinya anda dalam suasana yang baik hari ini," sahut Deni.


Ares mengangguk. "Ya, aku berhasil membawa Ara ke pesta dan membuat Charles uring-uringan. Aku menyogoknya dengan selembar foto lawas Ara saat masih balita, dasar bucin," ledeknya.


"Kapan anda mau mencari pendamping lagi, Tuan? Hades butuh sosok Ibu di sisinya," ucap Deni membuat dahi Ares mengkerut.


"Ara, sudah menjadi Mamanya. Hades tidak butuh Ibu yang lain lagi," jawabnya santai.


"Bagaimana jika Tuan menjalin hubungan dengan Nona Miranda, saya sudah menyelidikinya. Beliau gadis yang baik dan-"


Ares menggeleng. "Aku tidak mau berhubungan dengan model, mereka merepotkan," selanya.


Deni tidak menyerah, segera dia memberikan kandidat yang lain. "Nona Tina dari keluarga Sujatmiko tidak kalah baik... beliau-"


"Terlalu muda, kau pikir aku sugar dady?" Lagi Ares menyela.


"Nona Naura dari-"


Ares segera bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu keluar. "Aku lapar, kebetulan aku belum sarapan. Dan Deni... kenapa kau sibuk mengurus masalah asmaraku, kenapa kau tidak mencari untuk dirimu sendiri? Setidaknya aku sudah pernah menikah," sarkasnya langsung menusuk jantung Deni.


"Saya akan menikah, jika Tuan juga sudah menikah kembali," ucap Deni bersikukuh.


"Baiklah, carikan aku wanita seperti Ara. Jika kamu berhasil, aku pasti akan langsung menikahinya." Pinta Ares yang terdengar mustahil bagi Deni.


Mencari orang yang serupa seperti Nyonya Elara sungguh tidak mungkin. Ini pasti hanya akal-akalan Ares yang memang ingin menghindari Deni yang terus menjodohkannya. Sepasang manusia kembar identik saja mempunyai beberapa perbedaan.


Ares menghampiri Deni yang terdiam seperti memikirkan sesuatu. Merangkul asistennya dan berkata.


"Tidak perlu kau pikirkan, aku sudah bahagia dengan kehidupanku saat ini. Kita bisa jadi partner jomblo hingga tua nanti," ucapan Ares membuat Deni bergidik ngeri.


"Maaf Tuan, saya masih suka wanita di bandingkan pria," perkataan Deni membuat Ares tergelak.


"Hahaha... ya, tenang saja. Aku juga masih menyukai gunung kembar di bandingkan pedang," Deni tersenyum melihat tawa Tuannya.


Ya... tidak apa-apa seperti ini dulu. Tiba saatnya nanti pasti akan ada wanita yang bisa meluluhkan hati Ares. Siapapun itu, Deni berharap Tuannya akan hidup lebih bahagia lagi.


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!.


Sertakan komment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Aku akan fokus ke Dilan kayaknya untuk besok-besok. Gak apa-apa ya... aku belum bisa atur waktunya soalnya. Apa lg pas puasa gini lebih sibuk di sore hari, waktu yang biasanya othor gunain buat nulis. Terima kasih masih terus stay di sini, love u all... !