A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 47



Author POV


Sophie mengerjapkan mata, dia terbangun dari pingsannya. Wanita itu segera bangkit ketika mengingat kejadian terakhir yang dialaminya. Dirinya yang dibekap oleh segerombolan pria bertubuh tinggi besar membuatnya merinding. Tidak sampai di situ, kini matanya membelalak karena mengetahui jika dirinya berada dalam satu ranjang bersama Romi.


"Apa yang terjadi?!" pekiknya setengah berteriak.


Wanita itu hanya berbalut selimut sama seperti Romi yang bertelanjang dada. Pria itu pun akhirnya ikut terjaga, dia menekan kepalanya karena pening. Menoleh ke arah Sophie yang mulai menangis.


"Ada apa?" tanya Romi heran. Sepertinya pria itu belum menyadari keadaannya yang bertelanjang bulat.


"Aku yang harusnya bertanya, mengapa aku ada di sini bersamamu. Dalam keadaan seperti ini!" Sophie histeris membuat Romi menarik atensi pada dirinya sendiri.


Romi tidak berkata-kata, dia malah bangkit dari ranjang dan mencari sesuatu. Wajahnya tampak tegang, rahangnya mengeras dengan matanya yang memerah.


"Dimana berkas itu?" Tanyanya dengan nada tinggi pada Sophie.


Sophie yang ditanya malah memandang heran Romi. "Kenapa kau bertanya padaku? Aku sudah memberikannya padamu!" sahutnya ketus.


Romi kembali mendekati Sophie dan mencengkeram pipi wanita itu hingga Sophie meringis. "Jangan bercanda!"


BRAK


Di waktu besamaan pintu kamar itu terbuka paksa, kilatan lampu blitz menyilaukan mata dua insan yang tertangkap basah sedang dalam keadaan tidak senonoh. Sophie terperanjat dan berlindung di bawah selimut sambil menjerit meminta semua orang yang menontonnya untuk keluar.


Romi sendiri mencoba melarikan diri ke dalam kamar mandi, meskipun begitu mereka sudah mendapatkan beberapa foto yang bisa menggemparkan tanah air dengan skandal dari seorang istri Ares Dawson Atmaja.


"PERGI! KALIAN SEMUA PERGI!" Sophie berteriak dengan tubuhnya yang tergulung selimut.


Salah satu awak media memberanikan diri untuk melontarkan pertanyaan, tidak perduli bagaimana keadaan yang di wawancarainya.


"Setelah semua yang terjadi, apa anda masih ingin memberikan pembelaan? Apa yang anda pikirkan hingga berani melakukan skandal di belakang suami anda?"


Sophie membekap telinganya sambil menggelengkan kepala. Betapa malu dirinya saat ini. selang beberapa lama datang lah pihak kepolisian menangani keributan yang terjadi dan mendorong pihak awak media agar mundur. Sophie dan Romi di bawa ke kantor polisi guna untuk memberikan keterangan terkait kejadian barusan.


Berita panas itu segera mencuat di berbagai media, namun kabar itu lebih genca beredar di dunia maya. Ares tersenyum melihat berita skandal itu, kini tidak ada alasan untuknya untuk mepertahankan Sophie. Wanita itu tertangkap selingkuh, dengan begitu public akan iba padanya sebagai seorang pria yang disakiti istrinya atau sebagai balasan dari perceraiannya dengan Elara.


Ares sama sekali tidak perduli, nyatanya dia memang bermain cantik tanpa mengotori tangannya sendiri.


"Tuan, pihak direksi-" Deni datang dengan raut wajah khawatir.


"Aku tau, para tua bangka itu hanya bisa mengeluh dan meminta haknya tanpa memperdulikan siapa yang berjuang membanting tulang. Tunda rapat setelah aku mebereskan ini," ucap Ares tenang.


"Tuan mau ke mana?" Tanya sang asisten saat melihat Ares melangkahkan kaki keluar ruangan.


"Ke mana lagi? selain menebus istri tercinta di kantor polisi dan mendepaknya dari rumahku," sahut Ares melenggang pergi. Deni segera mengikuti Tuannya dari belakang.


🍁🍁🍁


Kantor Polisi


Dua orang itu duduk menunduk di hadapan polisi yang sedang mencatat semua kejadian, mereka pun telah mengenakan pakaian masing-masing. Suara pintu terdengar menarik atensi mereka. Nafas Sophie tercekat ketika tau siapa yang datang menghampiri dirinya.


Dengan keahliannya bersandiwara, wajahnya dirubah menjadi memelas. Wanita itu pun beranjak dari kursinya hendak menyambut suaminya namun, langkahnya tertahan kala maniknya menangkap kilatan di mata Ares.


"Tuan Ares, ada yang bisa saya bantu?" sapa Polisi yang menangani istrinya.


Ares mengangguk memberi salam. "Saya ingin menebus mereka berdua," ucapan Ares membuat Romi menegang. Keringat terlihat membasahi keningnya. Pria itu semakin menunduk tanpa berani melihat ke arah Ares.


"Anda yakin ingin menebus mereka, apa anda sudah tau alasan mereka ada di sini, Tuan?" Polisi itu kembali meyakinkan.


"Tentu saja saya tau, saya ingin mengurus ini secara kekeluargaan," ujar Ares tenang.


Polisi itu tampak bersimpati akan sikap Ares yang sangat tenang dan berbesar hati. Kembali Ares menuntun opini agar bersimpati padanya.


"Terima kasih banyak, Pak!"


"Sama-sama, Tuan."


Sophie dan Romi bungkam sepanjang jalan. Pria itu menunjukkan gelagat tidak nyaman, sambil sesekali melihat keadaan sekitar, ia memelankan langkahnya dan segera berlari menjauh dari Ares dan Sophie. Ares menyeringai, tidak jauh dari tempat Romi muncul bodyguard Ares dan membekuk pria itu hingga tidak berkutik. Sophie hanya bisa menatap ngeri dan memilih diam saja mengikuti Ares dari belakang.


Di tengah jalan mobil yang ditumpangi Sophie tiba-tiba terhenti. Pintu pun terbuka dengan beberapa pria yang tidak asing di mata Sophie. Matanya melebar ketika para pria itu menariknya kasar untuk keluar dari mobil. Sophie meronta-ronta meminta Ares menolongnya.


"Tuan, tolong! Mereka yang menjebakku kemarin, Tuan harus percaya aku tidak melakukan hal menjijikkan itu!" wanita itu mengiba sambil menahan tubuhnya yang ditarik paksa.


Ares memandang datar pada wanita itu. Lengkungan indah terukir di bibirnya membuat Sophie membeku. "Aku tau, karena aku yang menyuruh mereka. Aku tau semuanya, Susi... semua kebusukanmu, aku tau," ucapan Ares membuat Sophie melepaskan genggemannya pada jok mobil.


Hingga tubuhnya berhasil dibawa oleh segerombolan pria berbadan tinggi besar tersebut. Manik wanita itu menatap kosong pada mobil Ares yang meninggalkannya, ia menoleh pada Romi yang sama-sama di cekal para pria itu.


"Lepaskan!" hardik Romi berusaha melepaskan diri. "Aku tau siapa Bosmu, cepat lepaskan! Kalian akan menyesal!"


Tanpa mendengar kata-kata Romi, tubuh mereka diseret menuju ruko tempat Bobi berada. Sophie menitikkan air mata dalam diam, wanita itu sibuk dengan segala pikiran buruk yang akhirnya terjadi. Ares sudah mengetahui semuanya, kini dia sudah kehilangan semuanya. Angan-angannya untuk hidup bahagia bersama Ares sirna sudah, lamunannya buyar kala suara Bobi memanggilnya.


"Kau istri Ares?"


Sophie masih terdiam, dia sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan dari pria mencurigakan di hadapannya ini.


Bobi mendekat dan menelisik Sophie dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Cantik, tapi tidak hatinya... sayang sekali," sarkasnya.


Sophie meludahi wajah Bobi, pria itu terpejam sambil terkekeh. Dengan sekali gerakan, pipi mulus Sophie telah memerah akibat tamparan Bobi.


PLAK!


"Aakh," pekik Sophie kesakitan.


"Dasar ja*lang, kau memang harus diberi pelajaran!" Bobi memberi isyarat pada anak buahnya. "Kurung dia di dalam kamar, aku akan bermain dengannya sebentar lagi agar dia tau diri!" pria itu tersenyum mesum.


"Dasar brengsek! Aku istri Ares, kau akan tau akibatnya jika berurusan denganku!" Sophie kembali meronta.


Bobi tergelak hingga rontaan Sophie merenggang. "HAHAHAHA, asal kau tau... Tuan Ares sendiri yang menyuruhku untuk memberikanmu pelajaran, dia bahkan tidak perduli jika kau ku jadikan keset di sini."


"TIDAK! Kau pasti bohong! KAU PEMBOHONG!" Sophie histeris.


Bobi mengedikkan dagunya sebagai kode pada anak buahnya. Teriakan Sophie lambat laun tidak terdengar setelah wanita itu dimasukkan ke dalam kamar.


"Yang ini diapakan Bos?" tanya anak buahnya yang mencekal kedua tangan Romi.


Romi menatap tajam pada Bobi yang kini berdiri di hadapannya. "Kau tidak lupa kan siapa Tuanmu? Aku yang menggunakan jasamu, apa-apaan ini?" ucap Romi kesal.


"Sayangnya, Tuan Ares memberikan uang 10x lebih besar jadi... bisa kau tebak aku memilih siapa," Bobi menyeringai.


"SIALAN! AKU AKAN MELAPORKANMU, DAN MEMBUAT BISNISMU HANCUR!" Romi berteriak membuat telinga Bobi sakit.


"Masukkan dia ke dalam sel bawah tanah, beri cambukan padanya agar suaranya tidak memekakkan telinga," titah Bobi pada anak buahnya. Romi membelalakkan mata saat mendengar apa yang akan dialaminya.


"Kau tidak bisa melakukannya Bobi, BOBI!!!"


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Aku up telat dapet gak neh feelnya?? Moga gak mengecewakan ya, thank you reader yang udah kasih karcis + kopi serta bunga2 yang menghiasi hariku. Makin cinta, love u all!