A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 49



Elara POV


Kediaman Evans Scoot


Aku termenung sejenak setelah panggilan ku tutup. Apakah aku terlalu berlebihan? Menghubungi Ares tanpa berfikir panjang. Kenyataan jika kami pernah hidup bersama selama bertahun-tahun menjadi alasanku melakukan semua itu. Meski kami telah hidup masing-masing dan hatiku pun telah berlabuh pada Charles.


Rasa bersalah mengelayuti hati kala manikku menangkap mobil Charles yang sudah memasuki pekarangan rumah. Apa aku telah mengkhianati suamiku? Sama seperti Ares dulu padaku?


“Nyonya, anda baik-baik saja? Apa barusan Nyonya menghubungi Tuan Ares?” suara Martha menyadarkan aku dari lamunan. Aku baru menyadari jika Martha masih berada di sisiku sejak tadi.


“Aku… apa aku melakukan kesalahan, Martha?” aku menjawab dengan nada menyesal.


“Sejujurnya tidak masalah, hanya saja mengingat bagaimana Tuan Ares memperlakukan Nyonya. Rasa khawatir anda terlalu berlebihan, anda terlalu baik! Saya sendiri belum tentu dapat selapang itu,” Martha mengemukakan pendapatnya.


Aku menghela nafas lelah. Apa karena bawaan hormone kehamilanku, aku menjadi orang yang terlalu sensitive.


“Entahlah Martha, aku juga bingung sendiri. Mengapa aku terbawa suasana saat mendengar kabar buruk menimpa Ares,” aku tersenyum tipis. “Terima kasih, Martha… kau telah mengingatkan aku.”


Charles terlihat memasuki rumah, aku bisa melihat senyumannya dari jauh. Pria itu membentangkan kedua tangan seolah memanggilku untuk memeluknya.


“Come to Papa…”


Aku terkekeh melihat tingkahnya, suami mudaku yang selalu energik dan memberikan dampak positif. Tidak ada alasan untuk tidak mencintainya. Aku beranjak dari duduk dan menghampirinya, memeluknya dengan erat sambil menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan.


“Aku merindukanmu, Ara…” bisiknya lalu mencium lembut bibirku. Pria itu tanpa malu selalu menebar kemesraan kami pada siapa pun. Aku menelusupkan kepalaku ke dadanya karena malu.


Martha dan para pelayan lain hanya bisa menunduk dan menahan senyum menyaksikan drama romantis yang terjadi setiap hari.


Charles bersimpuh dan mengusap perutku yang masih rata. “Hai, sayang… apa kau merindukan Papa? Mama tidak menjawab saat Papa bilang merindukannya. Sepertinya Mama tidak rindu pada Papa,” pria itu berbicara seolah perutku mempunyai telinga.


Ucapannya sedikit banyak menyentilku, aku mengusap rambut suamiku dan meraih wajahnya agar mendongak melihatku. “Aku juga rindu,” suaraku pelan namun masih bisa terdengar.


Charles berbinar dan segera bangkit berdiri, mengandeng tanganku dan menuntun menuju kamar. Sepanjang jalan Charles mengecupi punggung tanganku hingga membuatku malu.


“Hentikan!” aku melepas tangannya namun tidak bisa. Charles malah menggenggam tanganku semakin erat.


“Aku suka melihat wajahmu yang merona, terlihat menggemaskan!” godanya.


“Kau ini… dasar perayu!” kilahku menutupi betapa malunya aku.


Charles tergelak dan segera menutup pintu kamar. Aku membantunya melepaskan jas, dan menyampirkannya di sisi ranjang, aku duduk di sana. Charles menggulung lengan kemejanya hingga ke siku, aku memperhatikannya dalam diam, mengikuti setiap pergerakannya. Hatiku mulai terusik, haruskah aku memberitahukan apa yang telah aku lakukan? Menghubungi mantan suami?


“Ada apa?” tanyanya seraya merapikan rambutku.


Aku menelisik wajahnya yang menatapku, pria yang selalu menjadi pelipur laraku selama ini. aku menunduk sambil berkata lirih.


“Maaf…” Aku menarik nafas dan mendongak menatap manik biru milik Charles. “Aku sudah menghubungi Ares tanpa seijinmu, aku minta maaf…” perasaan lega langsung menyelimutiku, seolah bongkahan batu besar baru saja diangkat dari tubuhku.


Lengang terjadi, Charles tidak mengeluarkan sepatah katapun. Hanya memandangku dengan tatapan aneh. Apa Charles marah dan tidak terima? Aku mulai panic.


“Aku hanya terkejut dengan berita yang sedang viral tentang istrinya yang tertangkap selingkuh oleh para awak media. Semua itu... pasti berdampak pada perusahaannya, kau tau seberapa pentingnya Atmaja untukku… meski aku sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi. tapi aku tau jika semua itu tidak benar, seharusnya aku meminta ijinmu dulu. Atau mungkin bersikap tidak perduli, aku benar-benar minta maaf… aku mohon… jangan marah,” mataku berkaca-kaca.


Charles menangkup kedua pipiku, pria itu tersenyum. “Ara… sebenarnya aku kecewa. Tapi kejujuranmu mematahkan egoku untuk marah padamu, sikap ini adalah pedoman dalam hubungan kita. Aku suka kamu yang terbuka dan tidak memendamnya sendiri hingga mungkin akan menjadi kesalah pahaman ke depannya,” aku menyentuh tangannya dan mencoba menyelami manik itu.Berusaha untuk tau apa benar semua yang dikatakannya?


“Kau tidak marah?”


“Aku tidak akan marah dengan satu syarat,” jawabnya serius. Aku tidak kalah serius kembali bertanya.


“Layani aku! buat aku lupa akan kesalahanmu dengan sentuhanmu,” mataku membulat mendengar perkataannya.


“Layani?” aku membeo.


“Ya,” Charles merebahkan diri di ranjang dan menepuk pahanya. “Menarilah, buat aku tidak berdaya.”


Setiap kata absurd yang keluar dari bibirnya berhasil membuat wajahku merah padam. Aku memekik sambil melemparkan bantal padanya.


“Charles!”


Pria itu tergelak berusaha menahan serangan bantal dariku, aku pun ikut tertawa karena terbawa suasana. Charles selalu berhasil mewarnai hatiku yang bau-abu, kami saling berpelukan setelah lelah berperang bantal.


“Terima kasih kau sudah mau mengutarakan semuanya padaku, aku menghargainya,” Charles mengusap hidungnya pada ceruk leherku. “Aku jadi tau, seberapa berartinya aku di matamu,” ujarnya.


Aku menikmati setiap kecupan kecil yang Charles berikan padaku, aku memejamkan mata. “Kau sangat berarti untukku,” aku merasakan remasan pada buah dadaku hingga nafasku tertahan.


“Aku mencintaimu, Ara…” kata cinta yang selalu ia lontarkan dan anehnya aku tidak pernah bosan mendengar itu.


“Aku juga mencintaimu, Charles…” ucapku berbisik sebelum desahanku lolos karena ulahnya.


Bisa dibayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Kami larut dalam gelora cinta yang menggebu, tidak ada kata lelah untuk pria itu dalam membuatku terkapar terkulai lemas.


🍁🍁🍁


Author POV


Charles menuruni anak tangga menuju ruang makan. Evans selaku Ayah Charles menatap curiga pada puteranya.


“Mana Elara?”


Charles tersenyum jumawa kemudian meraih piring dan mengambil makanan. “Ara kecapekan, dia mau makan di kamar saja,” jawabnya santai.


Widiawati terkikik geli, anak sambungnya ini benar-benar tidak bisa menahan diri jika bersama istrinya. Bahkan mereka jarang bisa makan dalam satu meja makan.


“Ayah jarang melihatnya saat kita makan malam, kau jangan memforsilnya. Aku tau kau pengantin baru,” sarkas Evans ketus.


Sayangnya bukan Charles jika dia terpancing. “Iri bilang Bos,” ledeknya sambil melenggang pergi membawa sebuah piring di tangannya.


“Kau pikir, kau saja yang mempunyai istri? Sungguh kekanakan!” Evans berseru kesal. Istrinya hanya bisa menggeleng melihat tingkah ayah dan anak yang tidak pernah akur tersebut.


Evans menoleh pada istrinya yang menahan senyum. “Sayang, apa kamu memakai KB? Mengapa kau tidak hamil juga?” ucapan Evans sontak melunturkan senyum manis di wajah Widiawati. Wanita itu mencubit paha suaminya gemas.


“Ya ampun! Sudah mau jadi kakek masih saja tidak mau kalah dengan anaknya.” Evans menahan nyeri dan perih di pahanya.


“Auw, sayang sakit. Aduh… kamu masih ganas juga ya,” Widiawati menatap horror suaminya. Wanita itu memilih meneruskan makannya sambil memotong ikan salmon di atas piring. Membayangkan jika ikan itu adalah suaminya.


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Untuk comment kalian di part sebelumnya aku ucapkan terima kasih, dengan berbagai respon yang ada membuatku jadi semakin semangat. Begitu menghayatinya hingga aku pun sedikit banyak terbawa oleh saran kalian. Aku sampai tidak bisa berkata-kata karena terharu sekaligus gemas. Oh readerku sayang, apalah artiku tanpa kalian… dan begadangku tidak bermakna tanpa kopi kalian. Hahahaha… love u all…!