
Elara POV
Aku segera pergi meninggalkan tempat itu memanfaatkan Ares dan Deni yang masih sibuk berdebat. Sepanjang jalan aku melihat banyaknya CCTV yang terpasang di setiap sudut ruangan, bersembunyi bukanlah sebuah ide yang bagus. Aku akan segera tertangkap jika begitu.
Aku memutar otak hingga langkahku terhenti di depan pintu kamarku. Apa yang harus aku lakukan?
Seketika terlintas sebuah ide untuk menahan Ares agar tidak meninggalkan kastil saat ini juga, mengulur waktu hingga Charles sampai dan menjemputku. Aku menyeringai, dan memasuki kamar.
Author POV
"Tuan! Nyonya Elara!" Seru pelayan wanita dengan nafas tersengal-sengal akibat berlari.
Ares yang masih berdiri di depan ruang kerjanya bersama Deni menoleh cepat kala nama mantan istrinya disebutkan.
"Ada apa dengan Nyonya?" Sahutnya penasaran.
"Perut Nyonya... sakit lagi," jawab pelayan itu.
Tanpa menunggu lama Ares segera berlari menuju kamar Elara. Raut khawatir tersirat dengan jelas di wajahnya.
"Ara...!" Ares memasuki kamar, terlihat wanita yang dicintainya terbaring sambil merintih kesakitan. "Yang mana yang sakit? Aku... aku panggil dokter ya!"
Elara meraih tangan Ares, sikap wanita itu sontak membuat Ares terpaku. Elara menggeleng dengan senyum tipis.
"Jangan... tidak usah. Aku... aku hanya butuh istirahat lebih lama," ucap Elara pelan.
Elara yang hendak melepas tangannya dari Ares langsung digenggam erat oleh pria itu. Sentuhan yang begitu lama Ares idamkan, bahkan hanya sebuah genggaman tangan. Meremas tangan lembut itu dengan penuh perasaan, bagai mimpi... Ara mau disentuh olehnya.
Elara yang sempat terhenyak hanya bisa pasrah ketika punggung tangannya dikecupi oleh Ares. Jika bukan karena niatnya yang ingin menahan pria itu membawanya pergi lagi, rasanya Elara tidak akan sudi.
Dengan canggung Elara berusaha menarik tangannya, dia tidak berani membayangkan apa yang akan Charles lakukan jika tau tangannya telah dikecupi mantan suaminya.
"Ares... maaf, aku ingin tidur lagi. Bisa kau lepaskan tanganku?"
Ares tersadar akan sikapnya yang berlebihan. Ara pasti risih dan belum nyaman untuk berinteraksi secara fisik dengannya, mengingat terakhir mereka sempat berselisih.
"Ah... uhm ya, aku yang minta maaf. Aku terlalu bahagia, kau sudah tidak marah lagi padaku," dengan enggan Ares melepas tangan Elara.
Elara hanya tersenyum kikuk dan memilih membalikkan tubuh membelakangi Ares. Dalam hati wanita itu mengutuk Ares akan kenarsisannya.
Siapa bilang aku sudah tidak marah lagi? Percaya diri sekali!
Pria itu menatap lembut wanita yang meringkuk di atas ranjang dengan selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya.
"Istirahatlah selama yang kau mau, aku akan menemanimu di sini," Ares berjalan menuju sofa dan merebahkan tubuhnya di sana.
Tidak lama suara ketukan pintu kamar terdengar. Ares menoleh pada Elara yang terlihat telah terlelap. Dengan perlahan dia beranjak dari sofa dan membuka pintu.
"Ada apa?" Tanya Ares pada Deni yang berdiri di hadapannya.
"Semua persiapan telah selesai, kita bisa pergi sekarang," sahut Deni lugas.
Ares terdiam dan kembali memandang Elara dari jauh. "Kita tunda, Ara sedang tidak enak badan," pria itu menatap tajam pada Deni. "Perketat penjagaan, meski kita tidak pergi, aku pastikan dia tidak bisa mengambil Ara dariku!"
Deni mengangguk dengan berat. Tuannya sudah dibutakan obsesi. Itu yang dilihatnya, ini bukan cinta... ini kegilaan yang sengaja ditanamkan di kepala Ares.
🍁🍁🍁
Bandara, Rusia.
14 jam harus Charles tempuh, rombongannya baru sampai tujuan pukul 2 dini hari. Dengan hati gundah pria itu menahannya tanpa banyak bicara. Pria periang itu menjadi pendiam. Januar sebisa mungkin menghiburnya meski hanya ditanggapi senyum tipis oleh Charles.
"Ardan... carikan heli untuk kita," titahnya segera dilaksanakan oleh Ardan.
Januar merangkul Charles yang terlihat semakin tegang. "Tenang, Ara pasti sedang menunggumu," hiburnya.
Charles menoleh namun dengan wajah serius. "Aku tau, tapi aku mengkhawatirkan Ares yang bisa membawa pergi Ara kapan saja... memikirkan itu membuatku tidak tenang."
"Hm... ya. Seharusnya aku tidak mengungkap identitasku pada Rachel, aku hanya tidak nyaman dipanggil Simon terus menerus," keluhnya sambil menggaruk hidung.
Charles hanya bisa menghela nafas, kakak iparnya itu terlalu sembrono dan santai. Bahkan saat ini pria itu masih sempat menyesap wine. Apa dia tidak khawatir pada adiknya?
"Tuan, heli sudah siap!" Seru Ardan membuat Charles segera menarik Januar. Pria itu sampai tersedak karena terkejut.
"Slow babe... kau membuatku tersedak!"
Charles melepas tarikannya dengan raut wajah membiru. Merinding sekali dipanggil babe oleh seorang pria. Januar hanya tersenyum jenaka sambil menaiki heli.
🍁🍁🍁
Dilain tempat Romi pun telah sampai 1 jam setelah Charles. Dikarenakan menggunakan maskapai komersial yang banyak pemeriksaan, berbeda dengan Charles yang memakai pesawat pribadi.
Romi memilih menyewa mobil dari penduduk lokal, berpenampilan layaknya seorang pendaki gunung guna menyamarkan identitasnya dari anak buah Ares.
Pria itu benar-benar akan mengejar Ares hingga ke ujung dunia, dia tidak akan berhenti hingga tujuannya tercapai.
Hanya othor yang tau... siapa yang akan sampai lebih dulu.
🍁🍁🍁
Elara POV
"Apa dia menungguku semalaman?"
Dengan perlahan aku melepaskan genggamannya. Aku sama sekali tidak menyadari jika Ares akan bersikap seperti ini.
Meski samar, kemarin aku mendengar tentang penjagaan yang diperketat. Tiba-tiba aku malah dihantui rasa takut jika Charles sampai nanti. Apakah Ares akan melukainya?
Apa langkahku kali ini salah?
Aku menjadi gelisah, kembali memutar otak mencari jalan agar pria ini lengah. Aku termenung tanpa mengetahui jika Ares memperhatikanku sejak dia bangun dari tidurnya.
"Apa yang kau pikirkan, Ara?"
Aku terperanjat dengan suara bariton Ares. "A... Ares, kau sudah bangun?"
Pria itu mengangguk dengan senyum menawan, tapi tetap tidak semenawan Charles di mataku.
"Apa perutmu masih sakit?"
"Tidak... sudah lebih baik."
"Begitukah? Syukurlah," Ares menatap ke arah perutku. "Sudah berapa bulan?"
"Terakhir aku periksa, tiga bulan. Sebelum kau menculikku," aku sengaja mengatakannya agar dia tidak lupa dengan cara apa dia menyeretku ke kastilnya.
Raut wajah berbinarnya sontak berubah muram. Apakah aku berkata kasar? Aku hanya mengutarakan fakta.
Ares menunduk dengan senyum getir. "Maaf, mungkin memang caraku salah. Tapi aku yakin, kau akan mengerti nanti."
Aku ingin tertawa mendengar pembelaan yang selalu lancar tercetus dari bibirnya. Aku tidak mengubrisnya, aku memilih memalingkan muka. Manikku jatuh pada breakfast yang sudah tersedia di meja samping ranjangku. Kembali aku mendapat ide. Sepertinya cara ini akan membantuku untuk pergi dari kastil ini dan berlari menuju pelukan suamiku tercinta.
Oh... sungguh aku merindukannya.
Aku berusaha menahan gumpalan air di pelupuk mataku. Aku menghirup udara dalam dan meremas selimut.
Sabar... sabar...
Setelah aku merasa baikan aku menoleh pada Ares yang masih terdiam dengan pikirannya.
"Ares..." panggilku membuatnya tersentak dan langsung menengadahkan kepala.
"Ya... Ara..."
"Hm... sepertinya aku ingin sesuatu, kau tau... keinginan saat hamil," ucapku pelan.
"Kau ingin sesuatu? Apa itu ngidam?"
"Mungkin," sahutku asal.
"Katakan, kau ingin apa? Aku akan mencarikannya untukmu!" Seru Ares antusias.
"Aku mau buah kesemek, tolong carikan. Aku sangat ingin memakannya," aku berucap dengan memelas.
"Buah Kesemek? Apa itu?"
"Itu buah dalam negeri, aku mau yang dari pohonnya langsung!"
Ares tampak berfikir keras, apa itu buah kesemek? Namanya saja sudah aneh baginya. Mengapa Ara mau memakan buah yang terdengar asing.
Wajahnya yang kebingungan menjadi hiburan tersendiri untukku. Aku tersenyum kecil lalu mengatur wajahku sesedih mungkin.
"Jika kau tidak bisa, tidak apa-apa Ares... ini hanya sebuah keinginan jabang bayi yang tidak begitu penting," aku mengusap perut sambil tersenyum tipis.
Ares baru melihat raut wajahku seperti ini, selama kami bersama aku tidak pernah merajuk bahkan memelas seperti ini. Aku bahkan tidak sanggup jika harus melihat ekspresiku saat ini.
Maafkan Mama ya... Papa Charles, Mama terpaksa, belaku dalam hati.
"A-aku... aku pasti membawakannya untukmu Ara, keinginan bayi kita adalah yang terpenting!"
Aku menahan caci maki dalam benakku untuk Ares. Bayi kita? Jangan mimpi!
Secepat kilat Ares segera keluar kamarku, dia kembali berseru sebelum menutup pintu. "Tunggu aku... aku pasti akan membawa buah kesemek untukmu!"
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan juga comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Hai... apa kabar! Bingung mau bilang apa,
Terima kasih banyak untuk kalian yang masih setia dan tidak henti memberikan semangat dan do'a. Terima kasih untuk semua comment yang belum sempat aku balas. Hanya bisa bilang terima kasih, hingga aku bisa kembali untuk meneruskan novel ini. Sehat selalu untuk kalian, semoga Tuhan membalas segala kebaikan kalian padaku, love u all... and happy reading!