A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 60



Author POV


Langkah lebar terdengar menggema di koridor Lobby membuat setiap karyawan dan kolega yang berada di sana terheran. Januar berjalan dengan tergesa-gesa menuju lift untuk menghampiri Charles selaku Presdir perusahaan itu. Pintu terbuka tiba-tiba membuat Charles yang sedang berdiri memilah berkas sontak terkejut.


“Aku… menemukannya,”ucap Januar di tengah sengalnya.


Srak


Berkas yang berada di tangan Charles terlepas dan berserakan di atas lantai. Pria itu tersenyum dengan sudut mata yang basah.


“Terima kasih, Tuhan!”


🍁🍁🍁


Tanpa menunggu lama Charles segera memerintahkan Ardan selaku Asistennya untuk menyiapkan penerbangan dengan pesawat jet pribadi. Ini sudah terlalu lama pikirnya, membiarkan istri tercinta di bawa pergi oleh mantan suaminya.


“Terima kasih,” ini sudah ke sepuluh kali Charles ucapkan pada Januar.


Pria itu tersenyum simpul. “Ini sudah kewajibanku sebagai Kakak Ara, aku tidak mungkin diam saja tanpa melakukan sesuatu.”


Charles pun penasaran dengan cara apa Januar bisa mendapatkan informasi akan keberadaan istrinya saat ini.


“Apa yang telah kau lakukan?”


Januar mengedikkan bahu. “Sebaiknya kau tidak perlu tau, bangunkan aku ketika sudah sampai,” Pria itu seolah enggan memberitahukan cara yang dia gunakan.


Karena secara tidak langsung dia telah memanfaatkan seorang gadis. Ya, Rachel masih virgin ketika Januar menidurinya.


Dia akan menyelesaikan masalahnya dengan gadis itu nanti, pikirnya. Januar tidak tau masalah apa yang akan dia hadapi ke depannya.


🍁🍁🍁


Lukoil


Wanita itu tetap cantik meski raut wajahnya panic dengan rambut yang sedikit berantakan. Setelah meninggalkan pesan dalam secarik kertas bertuliskan ‘GO TO HELL, JERK!’ dia segera meninggalkan Apartemen Januar. Pria brengsek yang memafaatkan dirinya hanya untuk mengorek informasi, Rachel merasa harga dirinya diinjak-injak. Padahal dia sudah menaruh hati pada Simon alias Januar.


“Sialan kau, Si- eh, Januar!” gerutunya di sepanjang jalan.


Wanita itu pergi menuju kantornya, banyak pertanyaan di dalam kepalanya yang harus segera di berikan jawaban. Wajahnya mendongak menatap gedung nan tinggi di hadapannya sambil mengumpulkan keberanian. Apa sebaiknya dia jujur saja pada Kakaknya atau tidak?


Rachel memikirkan itu nanti setelah semua pertanyaan dalam benaknya terjawab. Ketika keberaniannya terkumpul, wanita itu melangkahkan kaki memasuki gedung. Rachel membersihkan diri terlebih dahulu di toilet, merapikan riasannya agar Kakaknya tidak menaruh curiga.


Mata wanita itu terpejam, tangannya mengepal menahan sesak dan amarah. Bagaimanapun juga tidak mudah menepis kejadian manis yang telah dia lewati dengan Januar, kilasan adegan ketika mereka bergelut di ranjang, betapa hebat pria itu membuatnya terjerat.


“Aku harus melupakan dia, wake up Rachel!” sambil menepuk kedua pipinya.


Setelah dari toilet, Rachel kembali membawa langkahnya menuju ruangan Isac. Dengan jantung yang berdegud kencang dia memasuki ruangan itu. Isac tampak sedang menerima tamu koleganya, atensinya teralih pada Rachel yang baru saja memasuki ruangan.


“Rachel, kau datang… bukankah kau sedang cuti?” tanya Isac setelah mempersilahkan tamu koleganya untuk pergi dan membuat janji di lain hari. (Anggap saja mereka sedang menggunakan Bahasa Inggris. Othor Cuma bisa bahasa Indonesia tidak baku jeung bahasa Sunda kasar dan sedikit bahasa tubuh.🤣🤣🤣)


“Hm… ada berkas yang tertinggal. Aku ingin mengambilnya dan mampir ke sini,” jawabnya menahan gugup.


Isac mengangguk mengerti dan mengajak Rachel untuk duduk di sofa. “Kau sudah makan?”


Rachel menggeleng. “Aku tidak lapar,” sergahnya seraya tersenyum.


“Makanlah! Temani aku makan siang,” pinta Isac memaksa.


Rachel hanya bisa menurut, dia tau karakter Kakaknya ini. meski mereka saudara beda ibu namun, Isac tampak menyayangi adik semata wayangnya itu.


Mereka makan siang di ruangan Isac, pria itu malas untuk keluar kantor karena cuaca hari ini cukup terik. Kulitnya yang sensitive sangat rentan terhadap paparan sinar matahari. Rachel memakan makanannya dengan malas.


“Kau kenapa? Sakit?” diam-diam Isac memperhatikan Rachel sedari tadi.


“Tidak Kakak,” gadis itu tersenyum simpul.


Di sela makan mereka, Rachel mencoba melontarkan pertanyaan. “Kakak pernah bertemu dengan istri Tuan Ares?”


“Belum pernah, tapi Kakak pernah melihatnya di majalah bisnis. Kalau tidak salah, namanya Elara Nasution. Kenapa kau menanyakan hal itu?”


Wanita itu tersedak makanan yang dimakannya mendengar nama istri Tuan Ares itu. Berarti yang dikatakan Januar benar, pria itu adalah Kakak dari Elara Nasution.


“Rachel, kau baik-baik saja?” Isac berkata dengan khawatir dan menyodorkan segelas air putih pada Rachel.


Isac menghentikan kunyahannya dan meminum air putih. “Wajar kau berfikir seperti itu, Tuan Ares sangat mencintai istrinya. Dia ingin menghabiskan hari-harinya dengan tenang jauh dari hingar bingar perkotaan.”


“Terdengar konyol, kenapa harus ke Rusia? Bukankah di sini banyak daerah asri, Tuan Ares tampak seperti menyembunyikan sesuatu. Lebih tepatnya, lari dari kejaran seseorang,” ucapan Rachel berhasil membuat Isac tersentak.


“Rachel… kau…?”


“Apa benar Tuan Ares menculik istri orang?”


Wajah Isac menegang. “Siapa yang berbicara seperti itu padamu? Kau memberitahukan keberadaannya?”


“Jawab dulu pertanyaanku Kak,”pinta Rachel.


Isac mengetatkan rahang dengan kasar mencengkeram kedua bahu Rachel. “Jangan bercanda Rachel, Ini tidak lucu!” geramnya.


Wanita itu menitikkan air mata, menunduk menyesal. “Aku… aku menjalin hubungan dengan rekanan baru kita yang bernama Simon, dan ternyata…” suara Rachel terputus-putus karena isak tangis. “Ternyata dia Kakak Elara Nasution.”


Isac memejamkan mata menahan amarah, bagaimana bisa dia lengah seperti ini. Ditambah adiknya yang terkenal pemilih dalam bergaul dengan pria dapat begitu saja terkecoh.


“Masalah kita belum selesai, kau dengar?!” kecam Isac pada Rachel. “Kembali ke rumah, jangan pernah keluar kamar sampai aku mengijinkan, mengerti?!” pria itu menekan setiap kata sebagai ultimatum.


Rachel yang ketakutan akan amarah sang Kakak memilih mematuhi perintahnya, wanita itu segera pulang menuju kediamannya dengan perasaan kacau.


“Brengsek, aku harus bilang apa pada Ares?” Isac menjambak rambutnya kasar. “Sebaiknya aku meperingatkannya! Aku masih mempunyai Villa tidak jauh dari sana,” gumamnya mantap dan segera menghubungi Ares.


🍁🍁🍁


Elara POV


Aku memilih mengelilingi kastil yang aku tempati saat ini, bangunan ini tampak sangat tua dari luar namun, di dalamnya dipenuhi arsitektur modern yang manis dan elegan. Terlihat jelas seperti apa selera yang membangun kastil ini.


Manikku menangkap sosok Mona, mantan Asisten Sophie dulu sedang menggendong Bayi Ares. Bayi itu terlihat menangis tanpa henti meski telah di sodorkan susu botol padanya. Aku ingin tidak perduli namun, tangisan itu membuat hatiku tidak tenang.


Aku menghampiri Mona yang langsung menunduk melihatku. Apa dia takut padaku karena dirinya yang mendukung Sophie untuk melawanku? Aku tertawa dalam hati.


“Biar aku yang menggendongnya,” pintaku pada Mona yang mematung terkejut.


Aku kembali menengadahkan tangan meminta bayi itu, Mona tampak kikuk namun kemudian menyerahkannya padaku.


“I-iya Nyonya,” sahutnya.


Bayi itu langsung menatapku seperti kemarin dan tangis itu pun terhenti. Hingga kini aku belum tau siapa nama bayi ini.


“Siapa namamu baby boy?”


Mona yang mendengar aku berbicara dengan bayi itu segera menjawab.


“Namanya Hades, Nyonya,” aku mengeryit mendengar nama salah satu dewa yunani itu.


Sepertinya tidak asing. Nama Ares pun merupakan nama dari salah satu Dewa Yunani, yaitu Dewa perang. Sedangkan Hades, Dewa apa?


Dari kejauhan aku melihat Ares yang tampak berjalan terburu-buru dengan Deni di sampingnya. Wajahnya terlihat tidak bersahabat. Aku penasaran dan memilih mengikuti mereka. Aku menyerahkan Hades yang sudah tidak menangis pada Mona, dan segera beranjak berjalan mengikuti Ares dari belakang.


Ketika hampir sampai di ruang kerjanya, aku menyelinap bersembunyi di balik guci besar yang ada di sana, membuka telingaku lebar-lebar untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


“Isac baru saja mengabarkan jika keberadaan kita telah diketahui oleh Januar, hari ini juga kita harus pergi dari sini!” ucap Ares kesal.


Deni menghela nafas. “Sampai kapan akan seperti ini Tuan? Anda ingin terus main kucing-kucingan dengan Tuan Januar dan Tuan Charles?”


“Aku tidak perduli, aku tidak mau Ara pergi dariku!”


Aku menutup mulutku menahan diri saat mendengar nama suami dan juga Kakakku disebut, mereka pasti sedang di perjalanan menuju kemari. Aku tidak boleh pergi bersama Ares, aku harus tetap di sini agar bisa bertemu dengan Charles. Aku harus bersembunyi!


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Hemm… ketauan juga… gimana donk? Hahahahaha.