A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 63



Elara POV


Aku berlari mengikis antara kami, menghambur memeluk pria yang sangat aku cintai. Derai air mataku menyeruak semakin deras, aku mengeratkan tubuh pada Charles yang juga mendekapku.


“Ya Tuhan, Ara… aku sangat merindukanmu,” bisiknya bagai alunan syahdu yang menenangkan hati.


Aku mengangguk dan menenggelamkan wajah pada dadanya, menghirup parfumnya yang menjadi aroma favoritku belakangan ini.


“Aku juga… aku terus menunggumu hingga dadaku sesak,” ucapku lirih dengan tubuh bergetar.


Charles mengusap rambutku lembut dan mengecup dalam sambil memejamkan mata, meresapi perasaan rindu yang akhirnya tersampaikan. “Maaf membuatmu menunggu lama, aku sudah di sini untuk menjemputmu pulang… Mama.”


Aku menengadahkan pandangan, memandang wajah pelipur laraku. Suami mudaku, pria yang selalu ada saat aku terpuruk. Charles menangkupkan kedua tangannya pada pipiku dan mendekatkan wajahnya, aku merasakan kelembutan saat bibir kamu saling bertemu.


Aku meremas jas armaninya karena ikut terhanyut olehnya. Tidak ada nafsu di sana, hanya sebuah perasaan cinta teramat sangat yang menyelimuti relung jiwa. Kami bersitatap setelah kecupan manis itu berakhir, saling tersenyum dengan dahi yang masih menempel.


“Love you soo much...”


“Love you too, Papa…”


🍁🍁🍁


Author POV


Pria itu menatap nanar sebuah pemandangan menyakitkan, untuk ke sekian kalinya dia merasakan itu. Wanita yang dicintainya berpelukan mesra bersama pria lain. Tidak… dialah orang lain di sini, kembali mengamati wajah bahagia Ara dengan tatapan lembut pada pria lain.


“Deni, tatapan itu dulu dia berikan hanya padaku… dan kini, sepertinya memang aku sudah benar-benar kehilangannya,” getir terucap dari bibir Ares.


Deni hanya bisa menunduk tanpa merespon apapun, dia bingung harus berkata apa agar Tuannya terhibur dan dapat melupakan rasa sakitnya dalam sekejap.


Ares melihat kantong buah yang ada di tangan Deni, diraihnya kantong itu hingga Deni tersentak karena terkejut. “Tuan,” ucapnya kikuk.


“Aku sampai melupakan buah yang dipesan Ara,” Ares tersenyum miris. “Apa yang sebaiknya aku lakukan?”


“Jika kau tersiksa dengan keadaan sekarang, aku akan membantumu,”


Ares membelalakkan mata dan menoleh pada asal suara yang sangat familiar. Suara orang yang membuatnya melajukan mobil dengan kecepatan penuh, Romi berdiri tegap dengan seringai di seberang sana. Pria itu melempar kacamata yang dikenakannya, dengan cepat menodongkan pistol di hadapan Ares.


“Romi!” bisik Ares.


“Jangan bergerak! Kau dikepung!” teriak Deni dan memberikan kode pada bodyguard lain untuk mendekat. Mereka lengah, mereka tidak memperhatikan saat-saat Romi mendekati Tuannya.


Diwaktu bersamaan Elara melihat pada keributan yang tidak jauh dari dirinya berada, pelukan Charles merenggang dan pria itu pun melebarkan mata ketika Romi secara tiba-tiba mengarahkan senjata apinya pada Elara.


Dengan wajah yang masih menghadap Ares, Romi bersiap menarik pelatuknya. Bagai gerakan slowmotion di dalam sebuah film layar lebar, semua terjadi begitu cepat. Dan...


DOOORR!!!


Suara tembakan terdengar tak terelakkan memekakkan telinga, cairan merah menyeruak merembes disertai bau hanyir. Pria itu tersenyum kala tangannya menyeka cairan itu di dada. Lega, karena bukan wanitanya yang terluka. Pandangan terakhir yang akan selalu terekam di otaknya saat wanita itu berseru dan menghampirinya dengan khawatir.


"Ara..." bisiknya.


"AREESS!!!" Elara berteriak histeris. Wanita itu berlari menghampiri mantan suaminya yang masih sempat memberikan senyuman pahit.


BRUGGH!!!


Tubuh kekar nan kokoh itu kini limbung dan roboh begitu saja, Deni dengan amarah menghajar Romi yang tidak melawan sebelum membekuknya. Romi malah tertawa bahkan saat kakinya tertembak peluru oleh Januar, pria itu ingin menembak kepala Romi namun, dihalangi oleh Charles.


"Apa yang kau lakukan?" Elara memangku kepala Ares. Wanita itu terisak disertai tubuh bergetar.


Ares memandang wajah mantan istrinya yang berurai air mata, ternyata hingga akhir dia hanya bisa membuat Elara menangis. "Jangan menangis..." diusapnya air yang membasahi pipi Elara.


maniknya beralih pada Charles yang sama-sama tampak khawatir. Ares memberi kode agar pria itu mendekat. Dengan perlahan Ares menggapai tangan Charles dan menyatukannya dengan tangan Elara yang berada dalam genggamannya.


"Maaf... maaf karena telah memisahkan kalian... aku baru menyadari bahwa selama ini yang aku lakukan hanyalah obsesi semata. Namun, sebelum peluru ini bersarang... sungguh aku hanya berharap kau baik-baik saja Ara... jangan menangis lagi," pria itu berucap dengan terbata.


"Sudah.. jangan banyak bicara, kita ke Dokter sekarang!" Elara membujuk Ares.


"Panggil ambulan!" Charles berseru menyuruh anak buahnya. Sedangkan Deni sudah berlari menuju parkiran untuk membawa mobil ke pangkalan heli. Romi telah diamankan oleh bodyguard.


Ares menggeleng sambil merintih menahan sakit. "Berbahagialah Ara... aku ikhlas melepasmu sekarang," pria itu menatap Charles. "Jaga Ara, jangan pernah menyakitinya... atau aku akan merebutnya darimu..."


Charles mengagguk mantap, tidak lama mata Ares terpejam perlahan.


"Ares, Bangun! Ini tidak lucu! ARESS!" Elara histeris. Wanita menggoyang tubuh Ares.


"AAREESSS!!!"


__________________________________________


🍁🍁🍁


5 tahun kemudian.


Di taman itu terlihat seorang bocah berlarian mengejar seekor kupu-kupu. Karena terlalu fokus menengadahkan pandangan hingga tidak sengaja kakinya terantuk batu. Tubuh mungil itu pun tersungkur di atas rumput hijau. Uniknya sang bocah bukannya menangis, malah tertawa geli.


"Memangnya tidak sakit? Kamu kan terjatuh," ucap seseorang yang dikenalnya.


Mata bulat bening itu berbinar saat tau sosok yang barusan berbicara padanya.


"Ayah!" Seru sang bocah.


Secepat kilat dia berdiri dan menghambur ke pelukan orang tersebut. Orang itu terkekeh dan mengecup pipi chabi sang bocah.


"Pertanyaan Ayah belum dijawab," ucapnya kembali


"Hm... karena rumput membuat kakiku geli, seperti digelitik," jawaban sang bocah yang disertai kekehan membuat orang itu menyunggingkan senyum.


"Kau benar-benar anak Papa Charles! Riang dan lucu," sang bocah mengerucutkan bibirnya sebal ketika mendengar perkataan orang itu.


Sembil melingkarkan tangannya pada leher orang itu, sang bocah merajuk. "Aku maunya jadi anak Ayah saja, keren, ganteng tidak pecicilan seperti Papa Charles!"


Orang itu tergelak, sungguh bocah itu selalu dapat membuatnya tertawa.


"Ares! Kau datang?"


"Echa sudah besar, tidak boleh minta digendong ya," Elara memberi nasehat.


"Baik Ma," jawab Echa sambil cemberut.


Ares tersenyum. "Tidak apa-apa Ara, aku tidak keberatan."


"Kau terlalu memanjakannya, Charles sampai cemburu karena Echa lebih menyayangimu daripada dirinya."


"Echa anakku juga, akan selalu begitu. Apa kau keberatan?"


"Tentu saja tidak, kau mau makan siang di sini?"


"Nope, aku tidak mau jadi nyamuk! Kecuali kau menjadikanku suami ke-2 mu, Ara..."


"Kau gila!"


Ares tertawa, semenjak kejadian kelam 5 tahun yang lalu. Peristiwa penembakan yang di lakukan Romi, Ares kini menjadi pribadi yang lebih hangat dan terbuka. Pria dingin itu kini banyak bergurau hingga terkesan genit. Elara sampai merinding dibuatnya.


Bagaimana kabar Januar? Oh Kakak Elara itu sibuk mengejar Rachel yang menghindarinya setelah malam percintaan mereka. Januar yang ingin bertanggung jawab, ditolak mentah-mentah oleh Isac. Pria itu memboyong Adiknya ke Rusia. Mau tidak mau Januar pun harus ke sana dan membujuk calon Kakak Ipar agar mau menerimanya.


Kabar Sebastian dan Martha, mereka telah menikah 2 tahun yang lalu. Meski begitu, gadis itu masih tetap bekerja sebagai pelayan Elara. Martha menolak saat diberhentikan, dia pun membujuk Sebastian agar diijinkan untuk tetap mengabdi pada Elara. Sampai saat ini mereka berdua belum dikaruniai seorang anak.


Ardan dan Deni, masih jomblowan yang sibuk di daftarkan kencan buta oleh para majikannya. Ares dan Charles menyayangkan kenyataan pahit, bahwa asisten mereka akan menjadi perjaka tua tahun ini.


Kabar Romi... tentu saja di penjara. Ares memastikan agar orang itu tidak akan pernah bisa keluar dari jeruji besi seumur hidupnya.


Dan untuk Sophie... wanita itu menjadi simpanan Bobi hingga kini. Sophie tidak pernah di nikahi secara resmi, dan seolah sengaja ingin menyiksa Sophie. Bobi selalu membawa wanita lain ke rumahnya. Dunia Sophie saat ini bagai neraka, berulang kali ingin bunuh diri namun selalu digagalkan oleh Bobi.


🍁🍁🍁


"Di mana Hades?" Tanya Elara.


Entah mengapa, sejak itu pula sikap Ares berbeda pada anak itu. Ares langsung berubah dingin jika nama anak angkatnya disebut.


"Seperti biasa... dia di rumah dengan gadgetnya."


"Kau terlalu keras dan kaku padanya, berbeda dengan Echa... ada apa Ares?"


"Dia anak laki-laki, sudah sepantasnya di didik keras sejak dini," jawabnya acuh.


Elara menghela nafas. "Ajak Hades main ke sini, Echa sering menanyakannya," tawar Elara.


Mendengar nama Hades disebut, Echa langsung memberondong pertanyaan pada Ares. "Dimana Kak Hades, Ayah? Aku ingin main bersamanya," bocah itu menoleh ke sana ke mari.


Ares terdiam dan memandang Echa yang sibuk mengunyah kue. "Besok, Ayah ke sini lagi bersamanya," pria itu tersenyum kaku dan mengusap rambut Echa.


"Yeay, asik!" Echa bersorak membuat yang melihatnya terkekeh geli.


🍁🍁🍁


Waktu makan siang tiba, Charles pun pulang untuk Lunch bersama. Nyatanya ke-dua pria yang dulu berseteru kini menjadi akur dan sulit untuk berpisah jika sudah bertemu.


Berbagai macam topik menjadi bahan perbincangan mereka, tak jarang Elara merasa tersisihkan jika sudah begini.


"Dasar pria... klo sudah merumpi tidak kalah lama dengan ibu-ibu RT," gerutunya.


Elara memilih mengajak Echa membuat kue untuk dibawa Ares pulang nanti, kue itu untuk Hades... agar anak itu merasa diperhatikan meski mereka berjauhan.


Hidup Elara kini sangat bahagia, dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Perubahan Ares yang lebih baik merupakan anugerah yang di syukurinya hingga saat ini. Wanita itu merasa jika Janji yang diembannya dulu telah terlunasi.


Lihat ibu... aku hidup bahagia sekarang, Ares juga baik-baik saja. Aku menjaganya meski kami sudah tidak bersama. Kami menjadi teman seperti dulu, semoga Ibu dan Ayah tenang di sana, Elara menatap langit biru dengan senyuman.


🍁🍁🍁


Janji yang pernah terucap padamu


Biarlah seperti itu


Simpan sejuta ragu, buanglah jika perlu


Karena ragu tidak kau perlu


Sebab janjiku janji pandu


Pandu yang akan memandu


Memandumu dalam impianmu


Meski terkadang terseok bahkan tertatih dan sedikit kaku


Serta kadang terbata jua gagu


Namun janjiku tetap kan ku tandu


Agar mampu memandumu


Dalam nyata dan juga mimpimu


Itulah janjiku pemandumu, padamu.


END.


Please rate, vote dan likenya jangan lupa yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Berakhir sudah kisah Acha, maaf jika endingnya mungkin kurang memuaskan. Mau di bikin jadi 2 part... udah lha tanggung jadi di satuin deh.


Jika ada unek2, othor terima dengan lapang dada... oke readerku sayang!


Jangan menangis... jangan merajuk dan jangan berteriak apa lagi gigit jari karena dengan segera othor akan kembali dengan cerita baru... love u all...!