A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 50



Author POV


Seorang pria bersimpuh di sisi ranjang, dengan seringai dia tertawa. Ada perasaan senang sekaligus sakit. Senang kala wanita yang masih dicintai menghubungi dan mengkhawatirkan dirinya namun, sakit ketika dia sadar jika orang itu telah menjadi milik pria lain. Bahkan, sepertinya pujaannya telah mendapatkan cinta yang baru. Tidak mengapa, yang penting wanita itu masih mempunyai rasa perduli padanya. Entah kasihan atau sebatas empati belaka.


Ara masih perduli padaku, dia selalu begitu… dan itu semakin membuat dadaku nyeri, batinnya.


Ares berjalan ke arah walk in closet yang berisikan pakaian Elara dulu. Diraihnya gaun malam yang sering mantan istrinya pakai, Ares menghirup aroma tubuh Elara yang semakin membuat sesak.


“Ara… rasanya aku tidak sanggup. Aku bisa gila…” pria itu mendekap gaun Elara dengan erat sambil memejamkan mata.


Ditengah hanyutnya perasaan Ares, terlintas sebuah pemikiran gila. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


[Isac, siapkan semuanya. Aku akan ke sana minggu ini.]


[…]


[Ya, aku ingin mengubur semuanya di sini,]


[…]


[Terima kasih.]


Sambungan pun terputus, Ares mengeratkan genggaman pada ponselnya. “Maafkan aku Ara,” gumamnya lirih.


🍁🍁🍁


Elara POV


Kediaman Evans Scoot


Keesokan harinya aku terjaga saat langit masih gelap. Aku merasakan pegal di sepanjang pinggangku, aku menoleh pada pria yang masih mendengkur halus di sampingku. Charles benar-benar tidak kenal lelah meski dia melakukannya dengan selembut mungkin, tetap saja menguras energiku hingga habis.


Aku mengusap rambutnya hingga pria itu menggeliat namun, matanya tetap terpejam. Aku tersenyum simpul, apa dia kelelahan setelah menggarapku? Tapi kenapa dia tidak mau berhenti? Dasar mesum!


Aku beranjak dari ranjang dan meraih jubah tidurku. Aku berjalan ke arah meja rias. Aku lupa meminum vitamin seusai makan malam tadi. Aku membuka semua laci bermaksud mencari vitamin tapi menjadi urung saat aku melihat sebuah kalung Christies Diamond pemberian Ares ada didalam laci itu. Aku sepertinya lupa untuk mengembalikan benda itu. Aku memandangnya seksama, kalung yang sangat indah...


"Aku baru melihat itu, kau tidak pernah memakainya," aku terhenyak karena suara Charles di belakangku.


Aku menoleh dan tersenyum kikuk. "Ini pemberian Ares."


"Kau menyimpannya, apa kau menyukainya?" Charles melambaikan tangan menyuruhku untuk mendekatinya. "Aku ingin melihatnya dari dekat."


Dengan ragu aku menuruti permintaan Charles. Ku ulurkan kalung itu padanya.


Charles terdiam dan berbisik. "Christies Diamond, bagus juga seleranya. Biar aku pakaikan padamu, Ara."


Aku menggeleng. "Tidak, tidak perlu," aku menolak namun Charles tersenyum.


"Aku tidak marah, Ara. Aku hanya ingin melihatmu memakainya," bujuknya.


Aku membelakangi suamiku, dengan telaten dia memasangkan kalung itu pada leherku. Matanya memandangku dari balik cermin meja rias. "Kau sangat cantik, apa kau ingin memilikinya?"


Aku membalas tatapan itu. "Tidak, sejak Ares memberikannya... aku tidak pernah ingin memakai atau memilikinya," jawabku tegas. Aku menyenderkan kepalaku di dadanya. "Aku ingin mengembalikannya, apa kau sudah tenang?"


"Maksudmu?"


"Aku lihat kecemburuan di matamu," godaku.


"Tidak ada alasan untuk tidak cemburu padamu yang selalu menarik siapapun yang melihat, andai aku bisa... aku ingin mengurungmu saja di sini," Charles mendekapku dan mencium bahuku.


Aku terkekeh mendengar itu, suamiku yang manis. "Dasar possesif!"


"Biar," sahutnya singkat. "Kapan kau akan mengembalikannya?"


Aku tergelak, ya ampun. Sudah tidak sabar rupanya pria ini untuk menyingkirkan semua barang-barang mantanku.


"Mungkin minggu ini," jawabku.


"Bagus!" Tawaku semakin keras. Charles tersipu malu-malu dan menundukkan kelala. "Berhenti menertawakanku, Ara!"


"Kenapa kau lucu sekali, ah... aku lupa, kau mantan badut!" Ledekku.


"Ah, jangan... kau curang! Geli!" Pekikku berusaha melepaskan diri.


Charles menyeringai sambil menahanku, hingga aku tidak berkutik. "Charles! Ampun!"


🍁🍁🍁


Aku menghubungi Ares akhir pekan ini, niatnya aku akan mengembalikan kalung pemberiannya bersama Charles. Namun, tiba-tiba suamiku mendapatkan kabar jika ada anak perusahaannya kebakaran.


"Maaf... aku tidak bisa menemanimu, Ardan mengabarkan jika pabrik keramik di Semarang kebakaran. Aku harus pergi ke sana," Charles berkata dengan wajah kecewa.


"Apa memakan korban jiwa?" Tanyaku khawatir, jujur aku terkejut mendengar kabar itu.


Charles menghela nafas lelah. "Syukurnya tidak ada, hanya ada satu orang mengalami cedera pada kakinya karena tertimpa keramik yang terjatuh dari rak,"


"Pergilah, aku tidak apa-apa. Aku hanya akan mengembalikan barang, jadi kau tidak perlu berfikir macam-macam," ujarku meyakinkan.


Charles menggeleng. "Sebaiknya kamu ditemani seseorang, aku tidak mau kamu pergi seorang diri."


Aku tersenyum manis, aku mengusap rahang Charles dan mengecupnya.


"Percayalah, aku tidak akan nakal," aku mengerlingkan mataku padanya.


"Ara..." pria itu mendekatkan wajahnya dan memangut bibirku. Aku menyambut ciuman manis dengan melingkarkan tanganku pada lehernya.


Cukup lama kami saling bertukar saliva dan membelit lidah. Wajahku memerah karena hampir kehabisan nafas. Charles menarik hidungku gemas.


"Bernafaslah, jangan ditahan," godanya membuatku malu. Aku mengerucutkan bibir kesal.


Charles mengecup keningku lama dan Berbisik. "Aku pergi," aku mengangguk.


Aku melambaikan tangan melepas kepergiannya. Aku kembali memasuki rumah saat mobil Charles sudah tidak terlihat.


Di tengah perjalananku menuju kamar, ponselku berdering. Aku melihat sebuah pesan di sana.


[Aku menunggumu di Cafe ***]


Aku berdecak, Ares itu rajin sekali. Jam segini sudah sampai di tempat pertemuan yang kami sepakati. Aku bergegas menuju kamar untuk bersiap-siap. Bukan kebiasaanku membuat orang lain menunggu lama.


Martha menyiapkan pakaian untukku, dia melihat kalung yang aku geletakkan di meja rias. Matanya takjub karena keindahan kalung tersebut.


"Nyonya, tidak baik menaruh barang berharga seperti ini sembarangan," serunya membuatku melongok dari kamar mandi.


"Oh, iya aku lupa. Tolong masukkan kalung itu ke dalam kotak lalu simpan di dalam tas ku," pintaku pada Martha.


Martha mengeryit bingung, mengapa kalungnya tidak di pakai?


"Nyonya tidak memakainya?"


Aku berjalan ke arah sisi ranjang dan meraih baju yang telah disiapkan Martha. "Tidak... aku ingin mengembalikannya pada Ares," aku memasang giwang safir di telingaku.


"Tuan Ares?"


Aku menghela nafas, Martha tidak akan berhenti sebelum aku menjawab semuanya, dan semakin aku menjawab... semakin banyak pertanyaan yang ia berikan.


"Dengar baik-baik dan jangan bertanya lagi. Itu kalung pemberian Ares sebelum kami bercerai, aku berniat mengembalikan kalung itu demi menjaga perasaan Charles," jelasku panjang lebar.


Martha membulatkan mulutnya ber oh ria. "Oo... begitu," ujarnya. "Nyonya akan pergi sendiri? Bagaimana jika Nyonya ditemani oleh Tuan Sebastian" saran Martha.


Aku setuju dengan sarannya dan kemudian aku meminta Sebastian menjemputku.


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


aku ketiduran... terserah reader deh mau bilang apa... yg jelas aku gk boong. 😗😗😗