
Author POV
Bobi menghubungi Ares untuk menanyakan bagaimana nasib Sophie dan Romi ke depan.
[Tuan Ares, apa yang sebaiknya saya lakukan dengan dua orang itu?]
[Terserah kau mau apakan, aku sudah tidak berurusan dengan mereka lagi, dan aku sekarang sudah pindah ke tempat yang sangat jauh jadi aku serahkan semua padamu.]
[Anda pindah? Kemana?]
[Rusia, aku memulai hidup baruku di sini bersama istriku.]
[Istri? Anda menikah lagi?]
[Tidak, sejak awal istriku hanya 1. Wanita yang bersamamu hanya simpananku, dan aku menyesalinya.]
[Maksud anda Nyonya Elara? Anda sekarang bersamanya?]
[Ya, kami akan menjadi keluarga utuh kembali. Bersama anak-anak kami.]
[Selamat Tuan, saya senang mendengarnya!]
[Terima kasih, aku akan menutup sambungan. Sisa pembayaranmu akan ku transfer dari sini.]
[Siap Tuan!]
Di balik dinding Sophie menguping pembicaraan Bobi dengan Ares. Tangan wanita itu gemetar menahan amarah. Ares kini hidup bahagia dengan mantan istrinya, hati Sophie terkoyak saat mendengar Ares hidup bahagia dengan anak-anak mereka. Termasuk Hades?
Sophie tidak rela, anaknya diasuh oleh wanita yang hingga kini dibencinya. Tidak akan pernah… tidak akan dia biarkan Elara kembali merenggut miliknya. Ares beserta Hades hanya untuknya.
Sophie segera memasuki kamar saat Bobi berjalan menuju dirinya berdiri saat ini. Tidak lama Bobi memasuki kamar di mana Sophie pura-pura tertidur. Pria itu membuka brankas berisikan buntalan uang dolar disana, Sophie mengintip dari balik selimut, berusaha mengingat kombinasi angka brangkas milik Bobi. Wanita itu mengatur rencana di dalam kepalanya untuk membalas semua yang telah dialaminya.
🍁🍁🍁
Malam itu Sophie menemani Bobi untuk mabuk bersamanya, mengalihkan para anak buah Bobi bahwa dia sedang bersenang-senang dengan Bosnya. Sophie menahan semua minuman di dalam mulutnya dengan lidahnya dan memuntahkannya ke wastafel saat dia ijin ke kamar mandi pada Bobi. Ketika pria itu mabuk parah Sophie segera menikam dada Bobi dengan pisau buah yang diambilnya tadi pagi.
JLEB
“HHPPPMM!!!”
Sophie membekap mulut Bobi dengan bantal. Bobi berusaha berontak namun, karena kehabisan nafas ditambah tikaman yang mengenai jantung membuatnya mati seketika. Darah segar menguar membasahi bantal dan tangan Sophie.
Wanita itu baru tersadar akan perbuatannya kala tubuh Bobi terbujur kaku. Tangan wanita itu gemetar, dengan kalut dia menggelengkan kepala.
“A-apa yang aku lakukan?”
Tidak berapa lama suara notifikasi dari ponsel Bobi terdengar, beruntung ponselnya tidak dikunci sehingga Sophie dapat melihat pesan itu. Sebuah pesan bertambahnya sejumlah uang pada rekening pria itu.
“Ini pasti dari Ares,” gumamnya sambil melirik Bobi yang tidak bergerak, perasaan takut kembali menyelimuti dirinya.
“Bagaimana sekarang?” Sophie menjambak rambutnya frustrasi.
Detik kemudian sekelebat ingatan terlintas. Dia pasti bisa membantunya, siapa lagi kalau bukan Romi? Ya, Romi pasti akan membantunya! Toh pria itu pun pasti tidak ingin berada di dalam penjara bawah tanah milik Bobi seumur hidup.
Sophie menekan rasa takut dan bersalahnya. Dengan tangan bergetar disertai jantung yang berdegup kencang wanita itu memindahkan tubuh Bobi ke atas ranjang. Menyelimuti tubuh Bobi dengan selimut. Menghilangkan jejak darah yang bertebaran di mana-mana. Menaruh bantal yang terdapat noda darah ke kamar mandi. Peluh keringat membasahi pelipisnya.
“Dengan begini anak buahnya tidak akan tau jika dia sudah mati,” monolognya.
Sophie meraih tas ransel yang ada di sudut kamar dan berjalan mendekati brankas milik Bobi. Mengingat kembali kombinasi angka yang ditekan oleh pria itu. Bunyi jika kodenya benar membuat Sophie tersenyum sumringah. Dibukanya brankas berisi banyak buntalan uang dolar di sana, memasukkan uang itu ke dalam ransel hingga tidak bersisa.
Rasa takut dan bersalahnya seolah sirna dengan rasa senang sekaligus amarah akan dendam. Ekor matanya melirik ke arah ponsel Bobi, Sophie mengetikkan sesuatu di sana. Tidak lama, sebuah deru kendaraan terdengar dari jauh.
Ternyata Sophie menghubungi para anak buah Bobi agar pergi mencari sesuatu untuk pria itu. Hari ini anak buah Bobi yang berugas hanya tiga orang, merasa sudah aman. Wanita itu bergegas pergi menuju ruang bawah tanah.
Terlihat sesosok pria yang meringkuk di atas lantai dingin tanpa alas sedang tertidur. Tampilannya sangat lusuh dan penuh lebam. Sikap pemberontaknya membuat anak buah Bobi selalu menyiksanya, dengan tergesa Sophie menggoyang dan memanggil pria itu.
“Romi! Bangun!”
“Aku akan mengeluarkanmu dari sini, cepat bangun!”
Pria itu mengerjap saat terjaga, dengan sinis menatap wanita yang sering menghangatkan ranjangnya itu. “Baru sekarang kau mengingatku, bukankah kau senang bisa melayani Tuan barumu?”
“Aku sudah membunuh Bobi,” ucap Sophie berhasil membuat mata Romi membelalak sempurna. Seringai tipis diberikannya.
“Kau memang wanita berbahaya.”
Sophie yang merasa tersinggung langsung beranjak berdiri. “Sepertinya kau tidak ingin keluar dari sini, baiklah… aku akan pergi sendiri!”
“Hei… hei.. hei… jangan marah! Maafkan aku,” ucap Romi panic.
“Tidak semudah itu,” sahut Sophie. “Apa kau bisa melacak keberadaan seseorang lewat no.rekeningnya?”
“Jika kau memiliki no. ponselnya, itu akan lebih mudah,” terangnya.
Sophie berpikir sejenak, pasti ada kontak Ares di dalam ponsel Bobi yang dibawanya saat ini. “Sepertinya ada,” jawab Sophie cepat.
“Siapa yang ingin kau lacak?”
“Ares,” Romi menajamkan matanya kala nama musuhnya disebutkan.
“Kau masih mengharapkan pria yang membuatmu begini? Membiarkanmu diperkosa oleh orang lain, dan mencampakkanmu?”
Sophie terdiam, mulutnya kelu saat mengingat kejadian buruk itu. Dirinya sudah diceraikan dan selama hampir beberapa bulan menjadi pemuas nafsu Bobi.
“Sadarlah, Ares tidak pernah mencintaimu. Jika kau mau, kita bisa membalaskan apa yang telah pria itu perbuat. Dan… mengambil Hades, kau ingin merawat anak kita, bukan?”
“Hades? Anak kita? Kau mengakuinya?”
“Ya, tentu saja…” Romi meraih tangan Sophie dan menggenggamnya. “Sekarang statusmu adalah seorang pembunuh, apa kau mau masuk penjara?”
Sophie menggeleng ketakutan. Romi mengusap rambut wanita itu lembut. “Kita akan pergi jauh setelah merebut Hades, aku berjanji akan berubah menjadi suami yang baik… aku akan merawat kalian, lupakan Ares!”
🍁🍁🍁
"Charles... kemari..."
"Ara..." pria itu mengejar istrinya yang melambaikan tangan sambil berlari.
Wanita cantik itu mengenakan baju putih terusan berenda. Rambutnya yang panjang bergoyang-goyang mengikuti gerakannya ke sana ke mari.
"Ara... kembali," Charles terus mengejar namun, seolah langkahnya tidak bergerak. Jarak mereka tidak kunjung mendekat.
"Charles..."
DOOORR!!!
Suara sebuah senjata menggema membuat langkah Elara terhenti. Terlihat rembesan berwarna merah menyeruak dari perut wanita itu.
Mata Charles membelalak, istrinya terkena peluru. "Ara... tidak... ARAAA!" Teriaknya histeris.
Charles tersentak dengan nafas memburu, keringat menbasahi keningnya padahal ruangan itu dingin ber AC. Barusan hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang sangat buruk yang berhasil membuat hatinya gundah khawatir.
"Ara... di mana kau sekarang?" Bisik pria itu merintih dengan rasa sesak karena sakit tidak kasat mata.
Charles tidak baik-baik saja tanpa istrinya tercinta, hatinya terasa hampa dan ngilu bila mengingat kebersamaan mereka yang baru sebentar.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Sabar ya reader... Ara pasti ketemu kok sama bang Charles... 🥰