
Author POV
Bandara, Semarang
Charles memutuskan untuk kembali ke kediamannya. Andai dia tau akan begini akhirnya, Charles tidak akan membiarkan istrinya menemui Ares seorang diri. Meski 10 pabriknya terbakar habis… dia tidak akan peduli.
Sebelum memasuki pesawat dia sempat menghubungi Kakak Iparnya yaitu Januar. Charles meminta bantuan Januar untuk membajak seluruh CCTV yang ada di Bandara tanah air termasuk landasan pribadi.
[Kau tenang saja, aku tidak akan membiarkan adikku dibawa lari pria brengsek itu!] suara di seberang sana terdengar tertahan karena emosi.
[Aku sangat berharap Ara baik-baik saja,] Charles menyugar rambutnya dengan raut wajah khawatir.
[Bersabarlah,] hibur Januar.
Charles hanya bisa mengangguk meski hatinya tidak henti bergemuruh antara sedih dan kesal karena gagal menjaga istrinya. Pria itu menutup panggilan, tangannya masih gemetaran karena belum bisa menerima kabar istrinya yang menghilang.
“Ya Tuhan… Ara…” ucapnya lirih.
“Tuan,” panggil Ardan yang tidak kalah khawatirnya.
Pria itu lebih memikirkan keadaan Tuannya yang terlihat sangat terpukul.
“Aku akan menguliti pria itu jika dia berani-berani menyentuh Araku!” gumamnya namun, masih bisa terdengar oleh Ardan.
“Kita sebaliknya segera berangkat, agar Tuan bisa menemui Nyonya,” Ardan memotivasi Charles.
“Benar! Aku harus mengejar Ara,” pria itu pun memasuki pesawat.
🍁🍁🍁
Café***
Sebastian tidak tinggal diam, pria itu langsung menyelidiki sebab Nyonya-nya dapat dibawa pergi oleh Ares. Dengan berbekal sebuah rekaman CCTV, dia mengetahui jika Nyonya-nya telah dibius lewat minuman yang dipesannya.
“Sialan!” geramnya.
Sebastian mencari pelayan yang melayani Nyonya-nya tadi namun, dia tidak menemukannya. Sudah bisa dipastikan jika pelayan itu kabur bersama rombongan Ares. Tanpa buang waktu Sebastian segera pergi menuju kediaman Ares, dengan harapan besar pria itu memacu laju kendaraannya.
Sampai di sana Sebastian melihat kediaman Ares yang sangat lengang, dengan hati berdebar dia bertanya pada security yang bertugas.
“Pak, apa Tuan Ares ada?”
Security itu memperhatikan Sebastian yang tidak asing untuknya, karena sebelum Tuannya bercerai, Sebastian selalu mengantar jemput mantan majikannya, Elara.
“Mas Sebastian, apa kabar?”
“Baik Pak! Saya ingin bertemu dengan Tuan Ares,”
“Wah, sudah tiga hari Tuan Ares tidak pulang,” ucapan security tersebut membuat Sebastian terkejut.
“Apa? Sudah tiga hari tidak pulang?”
“Iya, kabarnya beliau ingin pindah rumah.”
Perasaan Sebastian kian tidak menentu, tidak menyangka mantan majikannya akan melakukan hal sejauh ini. membawa lari Nyonya-nya.
“Kalau boleh tau, kemana Tuan Ares pindah?”
“Saya kurang tau Mas, saya juga menanyakan ke semua pelayan tapi mereka juga tidak tau kemana Tuan Ares pindah.”
Dengan bahu merosot Sebastian seolah kehilangan gairah. Sebastian tersenyum kecut dan pamit kepada security tersebut. Dengan langkah gontai pria itu mendekati mobil.
“Dimana anda, Nyonya?” ucapnya lirih.
Namun pria itu tidak menyerah, terlintas sebuah tujuan yang mungkin dapat dia sambangi. Gloomy Corporation, pria itu pasti akan kembali ke kantornya. Dia akan mencari informasi kemana Nyonya-nya dibawa pergi.
Tiba di Gloomy Corporation Sebastian dikejutkan akan kenyataan jika perusahaan tersebut telah di akuisisi oleh perusahaan lain asal Rusia, perusahaan sebesar Gloomy Corporation telah menjadi perusahaan lain dalam waktu 1 minggu. Sebastian tidak percaya dan terus mendesak untuk menemui Direktur perusahaan baru tersebut.
“Jangan bercanda! Kamu pikir saya bodoh? Mana mungkin Gloomy Corp. bisa berubah dalam waktu satu minggu tanpa kabar berita!” Sebastian berteriak di depan resepsionis.
“Tuan Sebastian, saya mohon maaf… tapi memang itu kenyataannya. Sekarang ini bukan Gloomy lagi, tapi Lukoil.”
“Lukoil?”
Sebastian tau LUKOIL adalah perusahaan yang bergerak di bidang energy seperti pertambangan minyak. Sejak kapan Gloomy mengarah ke bidang itu? Dan Lukoil termasuk dari 250 perusahaan paling top di dunia.
“Ada apa ini ribut-ribut?” (anggap saja dia memakai bahasa Rusia, othor udah pernah diprotes masalah translate)
Sebastian menoleh pada seorang pria asing berperawakan tinggi dengan manik coklat dan surai yang berwarna senada. Sebastian tidak mengerti dengan bahasa yang digunakan pria itu, tapi Sebastian tau jika itu adalah bahasa Rusia. Sebastian meminta resepsionis mengartikan apa yang pria asing tersebut katakan, dan meminta kembali agar resepsionis itu menyampaikan perkataan Sebastian.
“Benar, saya telah mangakuisisi perusahaan Atmaja menjadi Lukoil,” sahutnya jelas.
Sebastian memejamkan mata karena merasa mulai pening. Dengan penuh harap dia kembali bertanya.
“Apa anda tau kemana Tuan Ares pergi? dia… dia membawa kabur Nyonya Elara. Istri dari Tuan Charles Scoot!” Sebastian sengaja membawa nama suami Nyonya-nya berharap dengan begitu dapat menggertak pria asing itu namun, ternyata hal itu tidak berpengaruh sama sekali.
Isac hanya tersenyum tipis lalu kemudian memutar tubuhnya hendak pergi. tanpa menjawab pertanyaan Sebastian. Sebastian berusaha mengejarnya namun, terhalang oleh beberapa bodyguard yang mengelilinginya.
“Tuan Isac! Jika anda berhubungan dengan menghilangnya Nyonya Elara, anda akan menyesal!” seru Sebastian di tengah rontaannya.
“Aku tidak tau dan tidak mau tau,” ucap Isac kemudian pergi.
BRUG
Sebastian dilempar keluar dari perusahaan dengan kasar, pria itu bangkit meski hatinya miris. Beginikah jika tidak memiliki kekuasaan? Sebastian merasa menjadi manusia yang sangat tidak berguna.
“Aku tidak bisa mengatasinya sendiri, cepatlah pulang Tuan Charles!” sesal Sebastian.
🍁🍁🍁
Elara POV
Suatu Tempat
Aku tersadar dari tidurku yang rasanya sangat panjang. Kepalaku terasa sakit, lama aku terdiam hingga akhirnya aku bangkit dari ranjang dengan terburu-buru. Aku mengingat kejadian terakhir yang menimpaku. Aku berada di sebuah Café, dan sekarang mengapa akau berada di dalam sebuah kamar mewah? Aku mengedarkan pandangan mencari sesuatu hal yang penting. Tas ku, di sana terdapat ponselku.
Aku harus menghubungi Charles!
Di tengah kesibukan ku mengelilingi ruangan mencari barang tersebut, suara pintu menarik perhatianku. Aku membulatkan mata sempurna saat tau siapa yang masuk ke dalam ruangan.
“Ares?”
“Pagi, Ara… kau sudah bangun? Aku bawakan kamu sarapan,” Ares berjalan dengan sebuah nampan di tangannya. Pria itu menaruhnya di atas meja di samping ranjang.
Aku yang keheranan lalu bertanya. “Apa yang kau lakukan di sini? Dan di mana ini?” aku membuka gorden, aku melihat sekeliling hamparan luas rumput hijau dan tidak jauh terdapat hutan belantara.
“Ini rumah kita Ara, kau pasti suka… di sini tenang tanpa ada hiruk pikuk ibu kota yang menyesakkan. Aku sudah menyiapkan sebuah kamar untuk anak kita nanti,” aku menoleh mendengar perkataan yang menurutku gila.
“Maksudmu? Rumah kita? Anak? Ares kau menculikku?” aku menaikkan nadaku 1 oktaf.
Ares berjalan mendekatiku, dan anehnya aku langsung melangkah mundur untuk menjauhinya. Entah mengapa aku menjadi takut dengannya.
“Ara… tenang. Jangan menghindariku, aku tidak mungkin menyakitimu,” ucapnya lembut.
Aku menggeleng, Ares sudah tidak waras. Apa sebenarnya yang dia inginkan dariku?
“Berhenti! Jangan mendekat!”
“Ara…”
“Bawa aku pulang! Ares… kita sudah berpisah, aku istri Charles sekarang dan aku sedang mengandung anaknya,” tubuhku bergetar karena emosi tertahan .
“Tidak! Kau Nyonya Atmaja, anakmu adalah anakku juga… aku akan menerimanya, Ara…. Aku akan menyayanginya, kita akan hidup bahagia seperti dulu,” Ares semakin dekat membuat perutku mual.
“Kau gila! Berhenti kataku, jangan mendekat!” desisku sambil memegangi perutku yang serasa melilit.
Sakit sekali!
Aku merintih dengan keringat membasahi pelipisku.
“Ara… kau kenapa?”
“Berhenti… kumohon Ares… pulangkan ak-”
BRUGH
“ARAAA!!!” suara Ares memanggilku yang terakhir aku dengar.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Hem... yg like semakin sedikit... pada kemana ya? Jadi gak semangat... 😟