A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 59



Author POV


Romi mendatangi kenalannya yang dapat membuat identitas palsu dalam waktu singkat. Hanya seminggu Romi telah mengantongi paspor beserta kartu identitas dengan nama orang lain. Setelah itu, kenalannya itu berusaha melacak keberadaan Ares dengan berbekal nomor ponselnya. Berpura-pura sebagai telepon nyasar, titik koordinat posisi Ares pun di genggamannya.


"Bagian Selatan Rusia, dekat perbatasanΒ Georgia," orang itu mengeryit. "Sepertinya ini di daerah pegunungan, kau punya kenalan di sana?"


Romi tidak menjawab, dia segera pergi setelah mengetahui letak Ares bersembunyi.


"Ke lubang semut pun aku akan mengejarmu, Ares!" gumamnya sepanjang jalan.


Romi telah merubah penampilannya, dia mewarnai rambutnya yang coklat terang menjadi biru gelap, dengan sedikit pemanis ia merubah gaya rambutnya pula. Barangkali ada agensi model yang akan merekrutnya, othor hanya bisa berharap Romi tidak salah jalan karena mengenakan kacamata hitam di musim hujan seperti sekarang. Oh, othor lupa kalau dia mau ke Rusia... bukan ke Bogor, kota hujan.


Romi juga membawa sebuah senjata api dari pasar gelap yang diketahuinya. Mengenal Bobi yang notabene sebagai pembunuh bayaran, membuatnya tau akan seluk-beluk dunia hitam. Dengan tekad bermodal dendam seolah setan memberikannya jalan, pria itu dengan mudah melewati pemeriksaan di bandara dan kini duduk manis di kabin pesawat kelas bisnis.


🍁🍁🍁


Apartemen Januar


Januar berhasil mendekati Rachel, adik Isac. Dalam kurun waktu 1 minggu, wanita itu sudah jatuh dalam pesona Januar. Bahkan saat ini mereka sedang memadu kasih di atas ranjang apartement pria itu.


Peluh keringat menghiasi tubuh polos Rachel yang sedang menari di atas tubuh Januar. Wanita itu memejamkan mata menikmati milik Januar yang membuatnya merintih keenakan.


"Aaahh... Simon..." desahnya tertahan.


"Kenapa?" Bisik Januar.


"Aku... tidak ku..at..." Rachel menggigit bibir bawahnya.


Pria itu menyeringai, tangannya menekan pinggul Rachel agar semakin merapat dengannya.


"Tahan... aku yang akan bergerak," kembali Januar berbisik.


Rachel patuh tanpa perlawanan, di waktu yang sama wanita itu memekik karena hujaman cepat dari Januar.


"Aaahh... aaahh... Simon... oohhh...!"


Januar membungkam Rachel dengan ciuman panas, membuat wanita itu hanya bisa bersuara tertahan.


"Hhhmmpp... mmmmpp..."


Januar tidak berhenti bergerak memompa milik Rachel hingga wanita itu melepas ciuman. Permainan Januar terlalu nikmat, Rachel terus mendesah dan meracau memanggil nama samaran pria itu.


"Simoonnn... ohhh... aku mau keluar..."


"Berikan padaku, honey..." pinta Januar menyambut remasan pada miliknya. "Hmmm... kau nikmat..."


Tidak lama, Januar pun mencapai puncaknya. Pria itu mengeluarkannya di luar, mencegah kemungkinan generasi baru terbentuk.


Mereka saling berciuman setelah sama-sama menuntaskan hasrat. Rachel menatap memuja pada Januar yang masih mengatur nafas.


"Tadi itu... luar biasa," ucapnya sambil mengusap dada bidang Januar.


Pria itu tersenyum dan membawa Rachel ke dalam pelukan. Wanita itu menyenderkan kepalanya di dada Januar.


"Aku ingin bertanya sesuatu," Januar mengecup kening Rachel.


"Apa itu?"


"Aku dengar, jika perusahaanmu sebelumnya adalah Gloomy Corporation."


Rachel terdiam, haruskah dia memberitahu Januar selaku pacar barunya itu?


"Kenapa kau ingin tau?"


"Hanya bertanya, kau tidak perlu menjawabnya jika tidak mau," perkataan Januar mengusik Rachel.


Wanita itu memandang Januar yang tersenyum. Mungkin tidak apa-apa jika dia mengatakannya pada Januar. Itu sebenarnya rahasia dirinya bersama kakaknya, Isac.


"Tidak," sahut Januar cepat. "Lagipula hal itu sudah ramai di khalayak, aku hanya ingin meyakinkan kebenaran yang selama ini ku dengar lewat katanya," pungkas pria itu.


Rachel tampak manut-manut mengerti. Ya, itu bukan rahasia lagi, jika Lukoil adalah Glommy Corporation di masa lalu.


Januar hendak beranjak dari ranjang untuk membersihkan diri namun, Rachel menahannya.


"Aku akan menceritakan sesuatu, aku harap kau dapat merahasiakannya pada siapapun," Rachel berkata dengan serius.


Januar mengangguk dengan senyum menawan.


🍁🍁🍁


"Kakak memiliki rekan bisnis saat dirinya berada di Jerman beberapa waktu yang lalu, entah bagaimana Kakak bisa dekat dengan pria yang bernama Tuan Ares itu. Padahal Kakakku bukan orang yang mudah bersosialisasi," Januar mendengarkan dengan seksama.


Rachel memainkan jari Januar sambil kembali bercerita. "Singkat cerita, Tuan Ares menawarkan sesuatu. Beliau meminta Kakak untuk mengelola perusahaannya selama pria itu pergi bersama istrinya."


"Maksudmu? Gloomy belum diakuisisi?" tampak Januar terkejut mendengar cerita Rachel.


Rachel mengangguk. "Ya, kami hanya merubah namanya untuk sementara," jelasnya.


Januar berkecamuk, jika bukan karena Rachel mungkin sampai saat ini pria itu tidak mengetahui kebenarannya. Ares berhasil membohongi semua orang, agar jejaknya tidak terlacak dan media tidak mengejarnya.


"Lalu... kemana Tuan Ares dan istrinya pergi?"


"Ke Rusia, mereka sekarang tinggal di kastil keluarga kami."


"Jadi... kalian saling barter?"


Rachel tersenyum. "Ya, sejenis itu... Tuan Ares menyerahkan penuh kekuasaan di perusahaan pada Kakak, termasuk laba yang dihasilkan. Sebagai gantinya, Kakak menyerahkan kastil keluarga kami."


"Hm... aku jadi penasaran dengan kastilmu, apa mungkin aku bisa ke sana?" pancing Januar.


"Kastil kami memang sangat indah, Kakekku sengaja membangunnya di daerah pegunungan. Aku juga baru satu kali ke sana saat usiaku 18 tahun," ucapnya bangga.


"Pegunungan Himalaya?" tanya Januar asal dan berhasil membuat Rachel keceplosan.


"Tentu saja bukan! Kastil kami di kaki gunung Elbrus," Januar tersenyum senang. Akhirnya misinya selesai, dia telah mengetahui di mana adiknya berada.


"Sepertinya aku akan ke sana," ucap Januar seraya bangkit dari ranjang. Pria itu meraih pakaiannya tanpa hendak membersihkan diri terlebih dahulu.


Rachel tampak menatap Januar dengan heran, apa maksud dari ucapannya tadi?


Sebelum pergi Januar menoleh dan melontar kata yang membuat mata Rachel membulat sempurna.


"Aku adalah Kakak dari yang kau bilang istri Ares. Nyatanya, mereka telah bercerai. Adikku telah menikah lagi, dan Ares menculiknya. Aku mendekatimu hanya untuk mengetahui keberadaannya,"


"A-apa?"


"Maaf, dan namaku bukan Simon... tapi Januar, Januar Nasution."


Pria itu segera pergi meninggalkan Rachel yang termangu membisu. Kenyataan yang sukses membuatnya nyaris tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.


"Simon... bukan... Januar?" Rachel menggeleng. "Tidak... bagaimana ini? Kakak pasti membunuhku jika keberadaan Tuan Ares terungkap," wanita itu menyambar ponselnya namun, urung.


"Apa yang harus aku lakukan?" Rachel lebih memikirkan nasibnya nanti di tangan Kakaknya dibandingkan nasib hubungannya dengan Januar.


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Bagaimana2? Siapa yang duluan sampe hayo? Mulai ikut tegang gak?


Aku tegang, tegang banget karena ikut merasakan yang Januar rasakan... eh... πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ