A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 40



Author POV


"Hai Ares... sedang apa?"


"Ara, kemarilah... aku sedang menyusun puzzle," Ares menuntun Elara memasuki kamarnya. Dengan wajah serius Elara ikut membantu Ares menyusun puzzle yang belum terselesaikan. Tidak memakan waktu lama puzzle pun terpasang rapi.


"Kau memang selalu bisa diandalkan," puji Ares pada Elara.


"Karena itulah tujuan hidupku," jawab Elara dengan senyuman.


Mereka tertawa bersama, tawa lepas tanpa beban. Mereka sangat kompak diwaktu kecil, di mana ada Ares pasti ada Elara di sampingnya.


Kilasan masa lalu berputar di kepala Ares, pria itu meremas kertas yang ada di tangannya.


"Tidak... ini tidak mungkin," bibirnya kelu bahkan hanya sekedar untuk bergumam.


Tubuhnya lemas bagai tidak bertulang, hingga luruh bersimpuh di atas lantai. Ares merasakan nyeri di dada hingga membuatnya sesak, sulit untuk bernafas. Di tengah rintihannya dia mengingat setiap kata yang telah ia lontarkan kepada mantan istrinya, Elara... setiap kata yang hanya menyakiti dan merendahkan wanita itu. Wanita yang dikiranya memiliki kekurangan, wanita yang telah menemani hidupnya selama ini.


"Inilah yang membuatku jenuh, kau terlalu kaku. Aku seperti menikahi robot! Berbeda dengan dirinya yang lemah lembut dan manja,"


"Apa maksudmu? Jelas jelas jika rahimmu tidak subur, aku mendengar semuanya dari Romi tentang hasil lab tempo hari. Kau diam saja, sengaja menyembunyikan kecacatanmu."


"Dia penerus Atmaja, yang tidak bisa kau berikan padaku!"


"Ternyata keputusanku menceraikanmu adalah yang paling tepat, kita memang tidak cocok."


Ares mengerang sambil menggeleng, berusaha menyangkal kenyataan yang akhirnya ia ketahui. Membaca kembali lembaran itu lebih seksama. Selama ini bukan Elara yang cacat, tapi dirinya... dirinya sendiri yang ternyata tidak bisa memiliki keturunan. Dirinya lah yang mandul...


🍁🍁🍁


Rumah sakit ***


Langkahnya tidak beraturan, berjalan dengan tergesa namun tidak tentu arah. Ares memilih untuk ke rumah sakit, dia ingin memastikan kembali apa yang ada dalam surat keterangan itu. Surat itu dibuat oleh Dokter Gilang, sayangnya Dokter itu telah meninggal dunia seminggu setelah hasil tes keluar. Ares merasakan hal yang tidak wajar, jadi ia akan mencoba menghubungi Dokter Marni sebagai pengganti Dokter Gilang.


"Selamat Siang Tuan Ares, ada yang bisa saya bantu?" Sapa Dokter Marni ketika Ares datang.


"Siang Dokter, saya ingin melakukan tes," jawab Ares.


Dokter itu menaikkan alisnya. "Anda ingin melakukan tes apa, Tuan?"


"Tes kesuburan," jelasnya singkat. Ares mengamati raut muka Dokter di hadapannya ini.


Tampak Dokter wanita itu terkesiap, sedikit terkejut dengan niat Ares yang ingin melakukan tes kesuburan.


"Hm... kalau boleh tau, untuk apa anda melakukan tes itu? Bukankah sudah jelas jawabannya, karena anda telah memiliki putra," tanya Dokter Marni dengan ekspresi aneh.


"Saya rasa, saya berhak melakukan apa saja dengan tubuh saya sendiri. Anda tidak berhak mengatur saya," ucap Ares penuh penekanan. "Saya ingin hasil tes hari ini juga, jangan coba-coba mengelabui saya... karena anda akan tau akibatnya," ancam Ares membuat wajah Dokter Marni pias.


Buliran keringat menghiasi kening dan pelipis Dokter Marni, Ares dapat melihat ketakutan di mata Dokter wanita itu. Ares hendak memasuki ruang laboratorium namun, tertahan oleh suara Dokter Marni.


"Ampun Tuan, saya tidak tau apa-apa! Saya hanya membantu Nyonya Sophie saat beliau mengaku kesakitan waktu itu. Padahal perut dan janinnya baik-baik saja, saya memberikan keterangan palsu... saya tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Dokter Gilang. Maafkan saya Tuan, tolong jangan pecat saya... saya butuh uang," Dokter Marni berkata panjang lebar dengan wajah memelas, air matanya pun mengalir membasahi pipinya.


Ares membelalakkan matanya tidak percaya, selama ini dia dibohongi bagai kerbau dicocok hidungnya. "Jadi selama ini kau membohongiku? Tidak... lebih tepatnya kalian, kalian bersekongkol membodohiku, brengsek!" Ares menggeram.


Dokter Marni langsung bersimpuh, wanita itu mengiba memohon ampun pada Ares yang diliputi amarah memuncak. "Saya terpaksa Tuan, saya mohon ampun," Ares mengepalkan tangan, jika di hadapannya bukan seorang wanita mungkin sudah dia hadiahi bogeman mentah secara bertubi-tubi.


Ares mengeluarkan lembaran kertas keterangan dokter yang dibawanya, melemparnya di hadapan Dokter Marni. "Katakan, apa semua yang tertulis di sana adalah benar?"


Dokter Marni meraihnya dengan tubuh bergetar. Bukannya menjawab, Dokter Marni malah terisak sampai tersedu-sedu. Ares yang melihat itu sudah tidak bisa menahan emosi lagi.


"KATAKAN!!!" teriak Ares membuat Dokter Marni tersentak. Dengan cepat Dokter itu mengangguk. Dia tidak tau jika jawabannya langsung menghancurkan hati Ares.


Ares menengadahkan kepala sambil terkikik geli. Dia menertawakan dirinya yang menyedihkan. Dokter Marni beringsut berusaha menjauhi Ares yang terlihat mengerikan.


"Hihihi... kalian benar-benar berhasil membodohiku yang dungu lebih daripada keledai, selamat... kalian berhasil menghancurkan hidupku!" serunya dengan seringai. Detik kemudian mata pria itu berkilat.


Masuklah beberapa bodyguard ke ruangan Dokter Marni. Ares memberikan kode agar bodyguard membawa Dokter Marni dari sana. Wanita itu ketakutan, dia berusaha melepaskan cekalan yang di terimanya.


Ares tidak mendengarkan hingga sosok Dokter itu tidak terlihat. Saat ruangan kosong, Ares menunduk dengan air mata yang menguar di sudut matanya.


"Ara..."


Ares kini harus menerima kenyataan akan semua kecerobohannya, kebodohannya yang tidak pernah mau mendengarkan Elara. Malah mempercayai orang yang dirinya anggap sebagai penyelamat hidup, nyatanya malah menusuknya dari belakang.


"Ara..."


Ares berulang-ulang memanggil nama mantan istrinya yang sudah bukan miliknya, wanita yang berkali-kali disakitinya. Kini Ares merasakan sakit yang sama atau mungkin tidak setimpal dengan yang Elara rasakan, ditambah penyesalan tiada tara yang mencekiknya.


Deni baru saja datang menghampiri Ares yang sedang berjalan di lobby Rumah Sakit dengan tatapan kosong. Pria itu terpaku pada sebuah televisi yang menayangkan berita tentang mantan istrinya, Elara.


[Kabar mengejutkan dari pasangan Elara Nasution dan Charles Scoot yang baru-baru ini tertangkap keluar dari rumah sakit, salah satu tim kami berhasil mewawancarai mereka.


"Sedang apa pasangan pengantin baru ini berada di Rumah sakit?" tanya salah satu wartawan pada Charles yang merangkul Elara istrinya.


"Do'akan kami yang terbaik, istriku sedang kepayahan karena mabuk," ucapnya dengan senyum merekah. Terlihat wajah Elara yang merah karena malu.


"Mabuk, apakah Nyonya Elara sedang hamil?" Sahut wartawan antusias.


Charles mengangguk. "Ya, baru 4 minggu... sudah ya... istriku butuh istirahat," pria itu pun melenggang pergi meninggalkan wartawan.


"Ya dapat di pastikan apa yang sudah saya tanyakan dan pemirsa dengar langsung dari Tuan Charles tentang istrinya, yang sedang berbadan dua, kita do'akan agar ibu hamil sehat hingga melahirkan nanti."


Kabar ini menjadi tranding topik hampir satu hari-]


Suara pembawa acara berita mengabur di telinga Ares. Semuanya semakin sempurna untuknya.


"Tuan..." Deni memanggil Tuannya yang terdiam.


Tidak lama tubuh Ares pun limbung, ambruk dihadapan asistennya. Ares tidak sadarkan diri. Deni yang terkejut segera membopong tubuh Ares.


"TUAN!!!" teriak Deni, pria itu pun meminta bantuan pada orang-orang yang berlalu lalang.


Suster datang dengan bangsal dan membawa Ares memasuki IGD.


🍁🍁🍁


Kediaman Ares Dawson Atmaja


Keesokan harinya Sophie gemetar kala melihat infotaiment yang menayangkan tentang mantan istri suaminya yang tengah mengandung. Ini tidak baik, Ares pasti akan curiga dan mencari kebenaran yang telah Romi dan dirinya tutupi.


Wanita itu segera menghampiri Hades yang tertidur di dalam box bayi. Dia menatap kesal pada bayi itu.


"Jika saja kau mengambil semua gen ku, ayahmu tidak akan menaruh curiga sedikit pun! Mengapa kau harus membawa gen pria sialan itu?" Gerutunya.


Ditengah kekalutannya, salah satu pelayan datang mengabarkan jika Ares tidak sadarkan diri di rumah sakit.


"Mona, aku titip Hades. Aku mau melihat suamiku di Rumah Sakit," terangnya sambil menyambar mantel di lemari.


"Tapi Nyonya belum pulih benar, anda belum melewati masa nifas... tidak baik jika keluar rumah dan terlalu banyak bergerak," sergah Mona.


"Aku yang lebih tau mengenai tubuhku, sebaiknya kau tidak perlu itu campur! Jaga Hades dengan benar!" Ketusnya pada Mona.


Padahal pelayan itu mengingatkan untuk kebaikan majikannya. Tapi sudah sifat Sophie tidak suka menerima nasehat dari orang lain, dia merasa semua yang dilakukannya adalah benar. Keegoisan yang sama seperti yang dimiliki Ares, sungguh pasangan yang cocok.


Tbc.


Please vote, rate dan likenya yach!


Sertakan commentnya agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Maafkan aku reader sayang, ingin hati double up tapi apa daya kemampuanku hanya bisa up 1 dalam 1 hari, itu pun tidak tentu jamnya. Mohon di maklum, dan teruslah berharap agar aku bisa up lebih, siapa tau di kabulkan... hehehe... cemungud terus ya... love you all...