A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 48



Author POV


Sophie meringkuk merintih menahan sakit akibat pukulan yang diberikan Bobi selama pria itu menggagahinya. Tampak memar di sudut bibir wanita itu, Bobi beranjak dari ranjang dan menyambar celananya. Dengan santai ia memakai pakaian tanpa memperdulikan wanita yang baru saja ditidurinya.


Tangis Sophie pecah ketika pria itu meninggalkan kamar, dia tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Diperkosa oleh orang suruhan Ares, suaminya. Begitu menyakitkan, isaknya semakin menjadi kala bayangan sikap lembut Ares padanya terngiang.


“Kenapa Tuan… kenapa Tuan memperlakukanku seperti ini?” gumamnya lirih sambil meratapi nasibnya nanti.


Wanita itu hanya bisa menitikkan air mata hingga tertidur karena kelelahan.


🍁🍁🍁


BYUR!


Romi terjaga karena siraman air ke wajahnya. “Bangun pemalas!” hardik anak buah Bobi.


Salah satu temannya melempar asal piring berisi makanan ke dalam Sel Romi hingga berserakan di lantai. “Makanlah, jika kau ingin tetap bertahan hidup. Setidaknya kau masih diberikan makan,” ledeknya.


Romi meremas makanan itu dan melemparkannya kepada anak buah Bobi. “Kau saja yang makan! Aku bukan sampah seperti kalian!” ucapnya dengan amarah.


Anak buah Bobi mengetatkan rahang. “Kurang ajar! Dikasih hati malah minta jantung, kita hajar dia!”


“Ayo!” sahut temannya.


Akhirnya anak buah Bobi menghajar Romi hingga babak belur, pria itu tersungkur dengan wajah yang penuh memar. Dari mulutnya keluar darah segar, Romi memegangi perutnya yang sakit akibat pukulan dan tendangan yang diterimanya.


“Sudah! Kalau orang ini mati, Bos akan marah,” bujuk salah satu anak buah Bobi melerai temannya agar berhenti memukuli Romi.


Pria itu meludah meremehkan, dan pergi meninggalkan Romi seorang diri.


Romi melirik sosok yang pergi meninggalkannya, sambil mengepalkan tangan dia mengerang dan mengutuk. “Awas kau Ares, aku akan membalas perbuatanmu! Akan ku buat hidupmu tak tenang!”


🍁🍁🍁


Keesokan harinya Ares mendatangi tempat Bobi dengan membawa berkas perceraian antara dirinya dengan Sophie.


“Selamat pagi menjelang siang, Tuan Ares!” sapa Bobi menyambut kedatangan Ares.


Ares tidak bergeming. Dia malah mengeluarkan selembar kertas dan duduk di sofa. “Panggil wanita itu, ada yang harus dia tanda tangani,” titah Ares pada Bobi.


Bobi pun menurut, dia menyuruh anak buahnya untuk membawa Sophie ke hadapan Ares.


Wanita itu tampak lusuh dengan pakaian yang masih sama dengan kemarin. Memar yang menghiasi wajahnya semakin tampak mengerikan. Ares hanya menatap datar wanita yang masih berstatus istrinya.


“Bagaimana harimu? Apa Bobi melayanimu sama seperti para tamu mu dulu?” tanya Ares membuat manik Sophie berkaca-kaca.


Pria yang selalu perhatian dan lembut itu kini berubah menjadi sosok dingin dengan lidah yang sangat tajam. Air mata Sophie kembali berderai, dengan memelas ia bersujud dan mengiba di kaki Ares.


“Maafkan aku Tuan, aku tau aku salah! Aku mohon belas kasihmu,” wanita itu meratap seperti biasa. Pemandangan yang memuakkan bagi Ares.


Ares berdecih. “Kau tau kesalahanmu apa?”


Sophie terdiam, dia menatap nanar pada Ares yang tidak berekspresi. “Aku… aku membohongi mu, tentang masa laluku. Tapi itu dulu, sekarang aku benar-benar sudah tidak berprofesi seperti itu lagi, aku hanya setia padamu,” wanita itu menggeleng meyakinkan Ares.


“Kau benar-benar tidak sadar akan kesalahanmu sama sekali, kau adalah wanita paling jahat yang pernah aku temui!” Ares mengepalkan tangannya. “Siapa ayah dari Hades? Katakan!”


Wanita itu terperanjat dengan pertanyaan Ares. Ares telah mengetahui status Hades yang bukan anaknya, bagaimana bisa? Sophie sibuk dengan pertanyaan di kepalanya membuat Ares geram.


“KATAKAN! SIAPA DIA?” Ares berteriak mengejutkan semua orang di dalam ruangan itu.


Sophie yang tidak bisa lagi mengelak hanya bisa menunduk sambil berkata pelan. “Hades… anak Romi,”


Ares tergelak menggelegar, suaranya memenuhi ruangan dan membuat ciut semua orang. Karena tawa itu bukanlah tawa gembira, melainkan tawa kekecewaan.


“HAHAHAHA, Gila… aku benar-benar di tipu mentah-mentah oleh pasangan ini, luar biasa!” sarkasnya. Ares menunjuk ke arah kertas di meja dan berkata. “Tanda tangani surat perceraian ini, aku rasa sudah tidak ada alasan lagi kau berada di sekitarku,” pria itu menyodorkan pena pada Sophie yang terlihat kacau.


“Tidak Tuan, aku tidak mau bercerai!” Sophie menggeleng keras.


Saat itu juga Bobi mencekal tangan Sophie untuk diberikan tinta, Sophie berontak berusaha menahan Bobi.


“Lepas! Aku mohon jangan Tuan, jangan ceraikan aku!” ucapnya semakin histeris saat Bobi berhasil memberikan cap ibu jarinya pada lembar surat perceraian.


Ares mengambil kertas itu dan memberikannya pada Deni. “Aku akan mengurus hak asuh Hades, bagaimana pun dia hanya seorang anak tanpa dosa yang memiliki orang tua seperti kalian,”


“Aku ibunya, kau tidak bisa memisahkan aku!” Sophie menahan langkah Ares namun, bodyguard Ares segera melepaskan tangan wanita itu.


“Ibu yang dengan sengaja menjatuhkan diri ketika mengandung dirinya, seorang ibu yang ingin melenyapkan dirinya… apa kau ingin aku menyampaikan hal itu padanya?” Ares seketika membuat Sophie bungkam seribu bahasa. “Sebaiknya kau tidak mengganggu hidupku dan Hades! Jika tidak, aku tidak menjamin kau tidak berakhir membusuk di jeruji besi,” ancam Ares sebelum akhirnya pria itu meninggalkan tempat Bobi.


🍁🍁🍁


Elara POV


Kediaman Evans Scoot


“Nyonya! Anda harus melihat ini!”


Martha tampak berlari tergopoh-gopoh hingga nafasnya memburu.


Aku menggeleng melihat tingkah gadis itu.


“Kau begitu bersemangat, apa yang harus aku lihat?” sahutku santai sambil menyesap teh camomile buatan Ibu Widi, mertuaku.


Martha memberikan tabnya padaku, aku memperhatikannya dengan seksama. Sebuah berita utama yang terpampang jelas membuatku melebarkan mata. Berita tentang skandal Sophie yang tertangkap basah tengah berselingkuh dengan… Romi?


Mereka berdua tercyduk di dalam sebuah kamar hotel dalam keadaan tanpa busana, ini merupakan aib besar. Bagaimana keadaan pria itu? Apa Ares baik-baik saja? Pasti akan berdampak pada perusahaannya. Aku menggigiti jariku resah. Sejujurnya aku tidak tenang, aku mengharapkan pria itu baik-baik saja. Dengan begitu Atmaja pun akan sama baiknya. Aku meraih ponselku, dengan sekali tekan aku menghubungi Ares.


Lama panggilanku tidak tersambung menambah rasa khawatir. Hingga panggilan ke-tiga Ares baru mengangkatnya.


[Halo,] Suara Ares di seberang sana.


[Halo, Ares… ini aku Elara. Apa kau baik-baik saja?] tanyaku cemas.


[Aku tau, nomormu tidak pernah ku hapus,] sahut Ares.


[Oh… ku pikir, hm… kau belum menjawab pertanyaanku,]


[Aku, baik-baik saja Ara,]


Aku terdiam, entah mengapa panggilan itu mengingatkanku pada masa kami masih bersama. Aku menepis pikiran anehku.


[Syukurlah jika kau baik-baik saja, kau pasti bisa melewati ini. Karena kau seorang Atmaja!] aku memberinya semangat. [Baiklah jika kau baik-baik saja, aku-]


[Ara… maaf…]


[Apa?]


[Maafkan aku atas semua sikap dan perkataanku yang selalu menyakitimu.]


Aku menghela nafas lega, setelah sekian lama… kata itu begitu menenangkan untukku. Mungkin karena aku telah merelakan dirinya dan memaafkan Ares jauh sebelum perceraian kami.


[Aku sudah memaafkanmu dari dulu, jangan dipikirkan.] aku melirik arlojiku. Sudah waktunya Charles pulang ke rumah. [Charles sebentar lagi pulang, aku harus menyambutnya. Maaf, mungkin lain waktu kita sambung lagi, Ares.]


[Ya, sampai jumpa.] Suara Ares terdengar getir namun, aku tidak mengindahkannya. Mungkin pria itu masih memikirkan istri tercintanya yang tega berselingkuh.


Hei, tidakkah posisi kami menjadi sama. Ares merasakan apa yang aku rasakan waktu itu.


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Selamat malam sabtuan semuanya... aku seh sibuk nyetrika... hahahahah!